Dunia Menulis

Menulis dalam Diam, Mencintai dalam Sunyi

Konon, cinta yang paling murni adalah yang tidak diumbar. Ia tumbuh diam-diam, seperti bunga liar di lereng bukit, tak perlu tepuk tangan, tak perlu baliho. Hanya mekar, apa adanya, dan wangi. Begitu pula seharusnya cinta kepada dunia menulis.

Namun, belakangan ini, dunia menulis—termasuk menulis cerpen—mulai gaduh. Bukan gaduh karena banyak cerpen bermutu yang lahir, tapi karena para penulisnya kadang sudah ribut duluan sebelum satu paragraf sempat ditulis. Status demi status melayang di medsos: Tunggu karya terbaru saya yaa, ini bakal pecah banget. atau Sedang riset naskah yang akan mengguncang dunia literasi. Bahkan ada yang sudah membuat pengumuman rilis sebelum huruf pertama muncul di layar laptop.

Lucunya, kita belum tentu disuguhi karya, tapi sudah kenyang dengan kabar tentangnya. Karya itu akhirnya seperti kado yang dibungkus tujuh lapis kertas warna-warni dan pita emas, tapi saat dibuka, kosong. Bahkan suara krik jangkrik pun malu keluar.

Bukan berarti kita tidak boleh bicara tentang proses menulis. Bukan. Bukan pula kita anti sorot atau anti eksis. Tapi yang sedang dibicarakan di sini adalah kesadaran bahwa mencintai dunia menulis itu seharusnya tak butuh terompet. Ia lebih cocok berjalan dalam senyap. Seperti doa, seperti napas. Tak terdengar, tapi sungguh terasa.

Ada ironi menyayat yang jarang dibahas. Dunia menulis kita dipenuhi pengumuman ambisi, tapi sepi karya yang benar mengendap dalam jiwa pembaca. Banyak yang sibuk membangun persona, tapi lupa bahwa penulis itu ya seharusnya menulis. Ada yang sudah menyiapkan akun khusus untuk menampung puja-puji, padahal cerpen pertamanya masih bergelut dalam kegalauan judulnya apa ya?

Yang lebih lucu, kadang sudah ada yang merilis teaser kutipan cerpen yang belum selesai ditulis. Seperti warung yang lebih dulu pasang spanduk: Segera Buka, selama bertahun-tahun, tapi isinya masih puing dan kardus bekas. Ada juga yang tak pernah menulis apa-apa, tapi mengaku penulis konseptual. Konon katanya, tulisannya terlalu dalam hingga tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ah, sudahlah.

Padahal, menulis itu pekerjaan hening. Ia bukan panggung konser, melainkan semacam pertapaan. Kau duduk sendiri, kadang seperti orang linglung di depan layar, ditemani kopi yang dingin, dan kalimat yang tak kunjung benar. Tapi justru di sanalah cinta diuji. Kalau kau hanya bisa mencintai dunia menulis saat disorak, bisa jadi kau sedang mencintai perhatian, bukan menulis itu sendiri.

Cinta sejati kepada menulis tak terlalu perlu mengabarkan diri. Ia tahu bahwa pekerjaan menulis akan berbicara pada waktunya. Karyalah yang akan menyapa orang-orang, dengan lembut, kadang menyakitkan, kadang menghibur, tapi selalu jujur.

Bayangkan seorang pemahat yang bekerja di balik tembok sunyi, mengetuk batu dari pagi hingga senja, hanya demi membuat lekukan yang tak diperhatikan siapa-siapa. Tapi dia terus melakukannya, karena dia percaya, suatu saat akan ada satu pasang mata melihatnya, dan mengangguk dalam diam. Itulah cinta. Tak tergesa, tak sekadar untuk dikagumi.

Kesunyian bukan lawan dari eksistensi. Justru, dalam diam kita bisa betul-betul menyentuh akar dari kenapa kita menulis. Apakah untuk terkenal? Untuk dianggap keren? Atau karena memang ingin bercerita, ingin menyampaikan kegelisahan dengan jujur? Kalau jawabannya adalah cinta pada menulis, maka diam bukan bentuk kekalahan. Ia justru bentuk kematangan.

Ada banyak penulis hebat yang bekerja dalam sunyi. Mereka menulis dalam selipan waktu, tanpa satu pun gembar-gembor. Tapi begitu karya keluar, kita bisa rasakan seluruh tubuh seperti diraba. Kita menangis tanpa tahu kenapa, atau tertawa getir karena merasa sedang dikuliti oleh kata-kata. Itulah keindahan dari mereka yang mencintai dalam diam. Mereka tidak datang dengan bunyi, tapi meninggalkan gema.

Tentu, dunia sekarang memaksa kita untuk selalu eksis. Semua serba cepat, serba tampil dan kita berusaha mengikuti zaman itu tidak masalah, tapi menulis bukan lomba viral. Ia adalah proses perlahan, sepi, dan sabar. Bila kau terlalu sering bicara tentang tulisanmu sebelum menuliskannya, bisa-bisa energimu habis untuk kata-kata yang tak pernah masuk ke naskah. Kau kenyang sebelum panggung dibuka.

Sungguh, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menulis dengan khusyuk, dalam ruang pribadi yang tak terusik. Menyusun cerita bukan demi likes, tapi karena memang ada yang ingin kita bagi. Kalau kemudian karyamu dibaca banyak orang, itu bonus. Tapi jangan menulis karena ingin dibaca banyak orang. Itu jebakan. Nanti kau hanya akan menyesuaikan cerita demi selera, bukan demi suara hati.

Kadang kita memang perlu diingatkan, bahwa mencintai tidak perlu selalu diumumkan. Cukup tunjukkan lewat ketulusan dan konsistensi. Bekerjalah dalam diam. Karyamu akan datang sendiri membawa terompetnya.

Dan bila suatu hari cerpenmu dimuat, atau dibaca orang dan mereka terdiam setelahnya, maka itu adalah bentuk cinta yang sudah mekar dengan indah. Tidak berisik, tapi menyentuh.

Barangkali itulah esensi mencintai dunia menulis yang baik, tetap menulis meski tak ada yang tahu. Tetap mencatat, meski tak ada yang baca. Karena yang pertama kali perlu membaca tulisanmu adalah dirimu sendiri. Bila kau tergetar, orang lain pun bisa ikut tergetar. Bila kau jujur, orang lain akan percaya.

Jadi, bila hari ini kau belum punya karya untuk diumumkan, tak apa. Matikan notifikasi. Duduklah. Ambil napas. Dengarkan suara paling sunyi di kepalamu. Lalu menulislah. Tak perlu mengabarkan pada dunia. Dunia akan tahu pada waktunya. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *