
Ada satu sore yang begitu indah. Matahari menggantung sempurna di jendela, secangkir kopi mengepul di sisi laptop, dan kepala penulis sedang penuh ide yang siap dituang. Ia sudah mandi, sudah makan, sudah menghindari medsos sejak pagi demi menjaga kemurnian inspirasi. Sore itu waktunya menulis. Menulis dengan sungguh-sungguh. Menulis seperti sedang berdamai dengan dunia yang porak-poranda. Tapi, pada detik pertama jari-jarinya menyentuh keyboard, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Nama pengirimnya seorang teman.
Bro, bisa pinjam dua juta nggak? Lagi urgent banget.
Penulis mengernyit. Ia tahu teman itu. Orangnya dikenal mapan, sering pergi-pergi, punya televisi dinding, punya mobil besar, dan tidak pernah mengeluh tentang hidup. Tapi kini ia minta pinjam uang. Ke penulis. Yang bahkan saat itu sedang menulis untuk melupakan kenyataan bahwa saldo ATM-nya sudah tinggal serpih harapan dan niat suci.
Penulis terdiam. Sebentar. Bukan karena terguncang oleh nominalnya, melainkan oleh ironi yang menghantam seperti pasal-pasal undang-undang yang disalahgunakan: seseorang yang seharusnya bisa menolong malah meminta tolong. Dan yang dimintai tolong justru sedang menahan lapar sambil menulis tentang keadilan sosial.
Ada kejanggalan yang menusuk dalam peristiwa ini. Tapi juga ada luka sunyi yang tak enak untuk diucapkan. Penulis, yang selama ini hidup dari honor tulisan yang datangnya seperti pacar ghosting, tak jelas kapan dan tak pasti berapa, harus menanggapi permintaan dari seseorang yang tampaknya tinggal di rumah yang megah.
Haruskah penulis menolak? Tentu saja. Tapi bagaimana agar penolakannya tidak menjelma jadi luka di hati si teman? Di sinilah dilema itu menjadi karya sastra. Penolakan yang puitis, harus ditulis dengan kelembutan seorang penyair, tapi tegas seperti pasal terakhir dalam surat somasi.
Penulis membalas pesan itu pelan-pelan. Ia menulis ulang berkali-kali. Kalimat pertama terlalu ketus, kalimat kedua terlalu menyedihkan. Kalimat ketiga justru membuatnya tampak seperti pengemis spiritual. Akhirnya ia kirim:
Maaf banget, Bro. Lagi posisi seret juga, bahkan nulis ini sambil ngitung utang sama waktu. Tapi aku doain semoga kamu dapat jalan keluar yang baik.
Lalu ia diam. Menanti. Tak ada balasan. Hening seperti dinding grup WhatsApp alumni yang isinya cuma forward-an motivasi. Lalu rasa bersalah datang, seperti biasanya. Bukan karena menolak, tapi karena merasa tak cukup mampu membantu. Dan di sinilah letak kepedihan yang tidak bisa selalu diungkapkan: penulis itu sering dianggap punya waktu luang, punya tenaga menulis panjang , tapi sayangnya tidak dianggap punya kebutuhan yang setara dengan profesi lain yang lebih “berwibawa”.
Kita hidup dalam masyarakat yang lebih menghargai pekerjaan berbaju rapi daripada pekerjaan yang menghasilkan makna. Maka penulis pun kerap merasa berada di lapis bawah, tak terlihat, tapi tetap diminta pengertian. Masyarakat ingin karya, tapi enggan memahami proses berkarya. Dan teman-teman yang tak tahu bahwa menulis itu bukan sekadar memencet tombol, melainkan perjuangan melawan rasa lapar, rasa minder, rasa ditinggalkan oleh dunia yang berlomba kaya.
Apa yang harus dilakukan oleh penulis? Meratap? Tidak. Mengutuk nasib? Tidak perlu. Tersenyum saja. Karena itu lebih menyelamatkan akal sehat. Ada humor tipis yang bisa ditemukan di antara reruntuhan mimpi. Misalnya, bahwa penulis bisa jadi orang yang dianggap paling bisa membantu oleh teman kaya, yang hal itu sebetulnya suatu bentuk pengakuan. Ironis, tapi manis. Dan jangan lupa, satire terbaik adalah hidup itu sendiri.
Toh, dalam dunia di mana sarkas sudah jadi sarapan, penulis bisa memilih untuk tetap waras. Bukan dengan menuruti semua harapan orang lain, tapi dengan menjaga ruang batinnya agar tetap aman. Kemanusiaan bukan hanya soal memberi uang, tapi juga soal memahami batas. Dan batas itu penting, terutama ketika seseorang sedang mempertahankan kewarasannya lewat tulisan.
Penulis bukan ATM berjalan. Ia tak mencetak uang dari kata-kata. Kadang justru kata-kata yang menggerus tabungannya. Tapi ia bisa memberi hal lain yang tak kalah berharga: doa, empati, waktu mendengarkan, memberi cerita yang bisa menghibur di malam gelisah, bahkan mungkin bisa menyelamatkan jiwa seseorang.
Kita terlalu sering menilai sesuatu dari nominal, bukan dari niat. Padahal banyak penolakan yang disampaikan dengan perasaan. Banyak bantuan yang tak berbentuk transfer, tapi terasa seperti sebuah pelukan. Dan penulis, walau kadang dibilang pengangguran bersertifikat kreativitas, tetap berhak merasa cukup walau dompetnya kempes.
Tidak semua permintaan harus dikabulkan. Tidak semua penolakan harus dijelaskan panjang lebar. Tapi semua hal bisa dibingkai dengan kemanusiaan. Dan itu tugas penulis, mengubah kekecewaan jadi kedewasaan, dan kegelisahan jadi kejelasan.
Dan hari itu, meski ia gagal menulis cerpen yang sudah disiapkan, penulis merasa ia tetap menulis sesuatu. Menulis batas. Menulis ketegasan. Menulis bahwa ia, meski sedang kere, tetap manusia yang bisa memutuskan tanpa harus menampung semua drama.
Lucunya, setelah itu, inspirasi justru mengalir, dan ia menulis cerita tentang seorang pria kaya yang suka minta tolong ke teman-temannya yang miskin. Dan naskah itu, beberapa minggu kemudian, dimuat. Honornya? Bukan lantas bisa untuk membantu temannya, karena nominalnya hanya cukup untuk beli kopi tiga hari. Tapi cukuplah. Karena kali ini, penulis berhasil menertawakan hidupnya sendiri, bukan ditertawakan oleh hidup.
Senyum pun mengembang. Di antara ironi, satire, dan secuil harapan, penulis akhirnya menulis juga. Tidak untuk balas dendam, tapi untuk menyembuhkan diri. [] Redaksi

siapa yang menaruh bawang di sini 🙁
Tidak tahu. Tadi tiba-tiba ada orang menyelinap masuk, meninggalkan bawang di pojok kamar.