Dunia Menulis

Biar Gaya Kamu Tetap Kamu

Ada banyak hal yang membuat penulis tumbang sebelum sempat berlari. Bukan karena kakinya patah, bukan pula karena laptopnya rusak. Tapi karena satu hal kecil yang diam-diam mematikan: membandingkan gaya menulis sendiri dengan gaya menulis orang lain.

Di dunia ini, tidak ada yang lebih kasihan daripada penulis yang tulisannya bagus, tapi tidak percaya diri. Ia seperti orang yang pandai berenang, tapi sibuk mengeluh karena tak bisa terbang. Padahal laut tak butuh burung, dan langit tak pernah menginginkan paus.

Tapi begitulah kenyataannya. Kita hidup di zaman ketika gaya dianggap segala. Ada yang menulis dengan gaya puitis, lalu dielu-elukan karena katanya menyihir pembaca dengan diksi. Maka penulis dengan gaya sederhana mulai merasa seperti tukang catatan rapat. Menulis dengan kalimat jernih dianggap kurang estetik, seolah tulisan harus berputar-putar dulu baru bisa disebut sastra.

Ada juga yang menulis absurd, dan pembacanya bilang, “Ini kelas berat!” Maka penulis realis merasa seperti mahasiswa salah kelas. Padahal mungkin ceritanya lebih mengena, lebih membumi, tapi tetap saja, yang dihargai adalah keruwetan, bukan keberartian.

Ironis, ya? Yang menulis dengan gaya satir minder karena tak seanggun penulis liris. Yang jenaka merasa tak cukup berbobot. Yang filosofis iri dengan yang populer. Yang populer ingin diakui sebagai serius. Akhirnya, semua saling iri dan semua saling lelah. Ini bukan kompetisi, tapi kok rasanya seperti lomba cermin, siapa yang paling pantas dipuja, siapa yang paling cantik atau paling tampan dalam kata.

Padahal gaya menulis itu bukan kompetisi busana. Kita bukan sedang berjalan di karpet merah sambil berharap tulisan kita disoraki “wah.” Gaya menulis adalah kendaraan, bukan destinasi. Esensinya adalah cerita itu sampai, pesan itu menyentuh, pembaca merasa ditemani. Entah dengan kata-kata megah atau kalimat secuil yang jujur, semua punya tempatnya masing-masing.

Kalau semua penulis harus menulis dengan gaya yang sama, sastra akan sekering laporan keuangan. Yang satu menulis seperti gunting yang tajam, yang lain seperti peluk yang lembut. Itu semua baik. Dunia justru butuh keragaman itu. Gaya yang kau anggap remeh bisa jadi adalah suara yang sedang dicari pembaca yang sekarat hatinya. Tapi karena terlalu sibuk membandingkan, tulisanmu tak jadi-jadi.

Kadang yang bikin tambah lucu dan ngenes adalah anggapan bahwa gaya menulis tertentu itu lebih unggul secara moral. Seolah-olah penulis yang melankolis lebih suci daripada yang jenaka. Atau yang menulis dengan istilah-istilah rumit lebih intelektual dibanding yang menulis seperti ngobrol di angkringan. Padahal bisa jadi, tulisan sederhana itulah yang bikin orang merenung di toilet sambil mikir, “Iya, ya, hidup gue kenapa gini amat.”

Tak sedikit tulisan yang berbau motivasi, digarap dengan gaya mentereng, tapi rasanya kayak brosur MLM. Sementara tulisan kecil, jujur, tanpa banyak embel-embel, justru bisa memeluk pembaca dengan diam-diam. Kita sering lupa, bahwa pembaca tidak hanya membaca dengan kepala. Mereka membaca dengan hati. Dan hati tak butuh gaya, ia butuh kejujuran.

Tak perlu kau jadikan tulisanmu seperti rumah mewah dengan pagar tinggi. Kadang yang paling nyaman justru rumah kecil yang pintunya terbuka. Tulisanmu tak harus tampil megah. Cukup hadir dan jujur. Sebab tulisan yang baik tak selalu membuat pembaca ternganga, tapi seringkali membuat mereka menghela napas, merasa dilihat, merasa tidak sendiri.

Yang perlu terus kau jaga adalah keberanian untuk jadi dirimu sendiri. Tak usah sibuk meniru gaya siapa pun. Kalau gayamu memang lucu dan nakal, ya tulislah seperti itu. Kalau lirih dan sunyi, ya teruskan. Jangan terlalu cepat menyerah karena gaya menulismu belum viral. Kadang yang diam-diam menunggu adalah mereka yang diam-diam juga terluka. Dan mereka tidak butuh tulisan spektakuler. Mereka butuh tulisan yang tulus.

Belajarlah dari siapa saja, itu penting. Asah gayamu, perlu. Tapi jangan pernah menghapus sidik jari dari tulisanmu sendiri. Dunia ini sudah terlalu banyak topeng, jangan kau ikut-ikutan. Biarlah tulisanmu menjadi wajahmu, dengan segala celah dan keindahannya.

Dan kalau suatu hari kau merasa lelah, merasa tak diakui, ingatlah bahwa beberapa surat cinta paling menyentuh ditulis dengan ejaan berantakan. Tapi isinya? Menembus hati. Tulisan tak harus sempurna untuk jadi berarti. Ia hanya perlu jujur dan hidup.

Jadi, wahai penulis yang kadang gelisah dan penuh tanya, jangan terlalu lama bercermin. Dunia menunggu tulisanmu, bukan pantulanmu. Menulislah, bukan untuk tampil hebat, tapi untuk hadir sepenuhnya. Biar gaya kamu tetap kamu, karena saat kamu menulis seperti dirimu sendiri, di situlah sastra sedang bernapas.[] Redaksi

2 thoughts on “Biar Gaya Kamu Tetap Kamu”

  1. Menarik sekali tulisan ini! Saya setuju bahwa membandingkan gaya menulis sendiri dengan orang lain hanya akan membuat kita kehilangan kepercayaan diri. Setiap penulis punya keunikan dan kekuatan masing-masing, dan itu yang seharusnya kita hargai. Tapi, apakah kita tidak bisa belajar dari gaya penulisan orang lain tanpa merasa minder? Saya rasa, kita bisa mengambil inspirasi tanpa harus kehilangan jati diri kita. Bagaimana menurutmu, apakah ada gaya penulisan yang lebih baik dari yang lain, atau semuanya sama-sama valid? Saya pikir, yang terpenting adalah pesan yang ingin disampaikan, bukan seberapa rumit atau indah kata-katanya. Tapi, bagaimana caranya agar kita bisa tetap percaya diri dengan gaya kita sendiri di tengah tekanan untuk mengikuti tren?

    1. Terima kasih sudah berkunjung, membaca, dan terlebih berkenan memberi tanggapan. Memang bukan perkara mudah kita tetap percaya diri dengan gaya tulisan sendiri di tengah tekanan untuk mengikuti tren. Namun menurut saya jika kita sungguh-sungguh mendalami dunia menulis dan konsisten, tulisan kita tetap akan berkembang dan menemukan pembaca. Demikian tanggapan saya. Sekali lagi terima kasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *