Dunia Buku, Dunia Menulis

Kumcer Tak Laku?

Kita mulai dari sebuah fakta kecil tapi menyayat, kumpulan cerpen seringkali seperti undangan pernikahan mantan, dicetak indah, dibagikan luas, tapi tak banyak yang peduli. Bukunya dipajang manis di toko, tapi yang datang cuma angin lewat. Yang ngelirik cuma lalat nyasar, dan yang baca paling banter si penulis sendiri. Kadang, bahkan si penulis pun tak yakin sudah membacanya sampai habis.

Lalu kenapa buku kumcer bisa begitu tragis nasibnya? Pertama-tama, mari kita hadapi satu ironi paling absurd dalam dunia perbukuan kita, cerpen adalah genre yang paling rajin dilombakan, tapi paling malas dibeli. Setiap bulan ada saja lomba cerpen tema hujan, tema mantan, tema luka masa kecil, tema ibu yang memasak sambil menangis. Penulis-penulis muda (dan tua yang muda semangatnya) berbondong-bondong ikut. Tapi setelah menang? Cerpennya dibukukan. Kumcer pun lahir. Dan di sinilah tragedi klasik dimulai, tak ada yang mau beli buku pemenang lomba yang mereka tak ikut.

Kenapa begitu? Karena banyak orang ingin menang, bukan membaca. Mau ikut pesta, tapi ogah cuci piring. Pembaca kita lebih suka jadi penulis. Dan penulis kita? Kadang lebih suka difoto bareng buku ketimbang dibaca bukunya.

Kedua, kita sering terjebak dalam kutukan ekspektasi. Penulis berharap buku pasti laku, isinya bagus, menang lomba pula. Penerbit berharap, minimal balik modal.  Pembaca berharap, Murah, tebal, full color, dan ending-nya bikin mewek! Tapi nyatanya? Bukunya jadi penghuni tetap kardus gudang. Diobral pun tak kunjung pindah tangan. Akhirnya dibagikan gratis. Ironisnya, saat gratis pun masih banyak yang jawab, “Nanti aja, lagi sibuk.”

Ada juga soal bentuk. Kumcer bukan novel. Ia seperti makanan pembuka, beragam, menggoda, tapi tak semua orang kenyang hanya dengan itu. Pembaca kita, sebagian besar, suka keterikatan emosional yang panjang. Mereka ingin jatuh cinta berlembar-lembar, bukan cuma digoda sepintas lalu. Cerpen itu seperti mantan gebetan yang cerdas tapi tak mau diajak nikah, mengesankan, tapi bikin frustrasi.

Lalu ada persoalan tampilan. Banyak buku kumcer tampil seadanya. Cover-nya seperti tugas seni rupa anak SD. Judulnya terlalu puitis sampai tak bisa dipahami. Blurb-nya? Entah menjelaskan isi atau justru menyesatkan. Misal, judulnya: Di Balik Embun yang Retak, tapi isinya tentang percakapan absurd antara kucing dan sandal jepit.

Belum lagi gaya penulisan. Beberapa cerpen memang bagus, tajam, dalam, memukau. Tapi tak sedikit juga yang terlalu ingin jadi sastra, padahal nyasar. Kalimatnya melingkar seperti benang kusut, padahal mau bilang: Aku kangen kamu. Jadi ditulis, Kesunyian malam yang menggema pada kenangan berbentuk siluet kerinduan. Lah? Pembaca bukan Google Translate.

Sementara itu, di sisi lain, penulis kumcer adalah makhluk paling tabah sejagat. Ia tahu bukunya tak laku, tapi tetap menulis. Ia tahu penerbitnya megap-megap jualan, tapi tetap berharap. Ia tahu pembacanya mungkin cuma dua,  dirinya sendiri dan redaktur koran minggu lalu. Tapi tetap semangat bikin status promosi pakai foto buku dan caption: Sudah baca cerpen terbaru saya? Belum, Kak. Maaf.

Tapi tunggu dulu. Ayo jangan terlalu getir. Ada pula sisi mengharukan dari dunia kumcer. Di balik penjualan yang sepi, ada tekad yang tetap menyala. Kumcer adalah bentuk cinta. Cinta yang tidak memaksa balasan. Cinta yang ditulis, dirakit, dan dikirim ke dunia, meski dunia sedang sibuk scroll TikTok.

Ada harapan juga, bahwa suatu hari, seseorang yang patah hati membaca cerpen tentang kehilangan dan merasa terobati. Bahwa di tengah tumpukan buku motivasi dan kisah cinta anak sultan, ada satu buku kumcer tipis yang membuat seseorang merasa dimengerti.

Mungkin itulah esensi kumcer, ia bukan untuk semua orang. Tapi untuk seseorang. Ia seperti hujan kecil di tengah musim kemarau. Tak cukup buat banjir, tapi cukup buat basahi hati yang kering.

Jadi, kenapa kumcer kita tak laku? Mungkin karena dunia terlalu cepat, dan cerpen terlalu pelan. Mungkin karena pasar suka cerita viral, bukan cerita yang mengendap. Atau mungkin, karena kita belum cukup sabar menjadikan buku cerpen bukan sekadar cetakan, tapi teman perjalanan.

Maka, kalau kau bertanya: “Apa kumcer masih perlu diterbitkan?” Aku jawab: ya. Dengan segala ironi, dengan segala tawa getirnya. Karena di antara banyak hal tak laku di dunia ini, kebaikan, kejujuran, dan cerpen adalah yang paling layak terus diperjuangkan. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *