Dunia Buku

Tidak Pulang

Pernahkah kau melihat ada bagian rak bukumu yang tiba-tiba kosong dan kau tahu betul siapa pelakunya? Bukan perampok. Bukan penjarah. Tapi temanmu sendiri. Iya, dia yang dengan wajah penuh harap dan bibir manis berkata, “Pinjem bukunya, ya. Cuma bentar kok. Minggu depan kubalikin.” Lalu minggu depan datang. Lalu bulan depan. Lalu tahun depan. Lalu lenyaplah buku itu bersama ikrar dan kenangan.

Meminjam buku dan tak mengembalikan adalah satu dari sekian banyak dosa sosial yang jarang masuk khotbah Jumat, tapi dampaknya menggerus iman literasi secara perlahan. Dan yang lebih menyakitkan, pelakunya sering kali adalah orang baik. Saking baiknya, dia bisa tertawa saat kita menagih bukunya kembali, seakan buku itu cuma pinset alis yang tertinggal di rumah mantan.

Ada keanehan kolektif yang layak dikaji para ahli, mengapa sebagian orang merasa bahwa meminjam buku berarti memiliki buku itu? Apakah karena buku tak bersuara saat digondol? Apakah karena ia tak menggonggong seperti anjing penjaga rumah?

Lucunya, mereka yang paling rajin meminjam buku justru yang paling sering memposting kutipan Paulo Coelho dan mengunggah foto cangkir kopi di samping buku yang mereka tak pernah beli. Mereka berkata, buku itu jendela dunia, tapi tak pernah beli daun jendelanya. Mereka mengaku hobi baca, tapi kalau disuruh kembalikan buku, mendadak amnesia.

Dan mari kita bicarakan hal yang lebih getir, kadang yang hilang bukan buku sembarangan. Bukan majalah gosip. Tapi buku yang kau simpan sejak SMA. Buku dengan catatan kecil di pinggir halaman. Buku dengan bekas tanganmu sendiri. Buku yang penuh sejarah, seperti mantan yang pernah kau perjuangkan, tapi kemudian disunting orang lain tanpa pamit. Sekarang buku itu entah di mana. Mungkin jadi tatakan panci. Mungkin ikut pindah rumah. Mungkin sedang dijual online oleh pelakunya dengan judul, Jarang dibaca, kondisi mulus.

Mungkin sudah waktunya ada lembaga sekelas KPK untuk urusan perbukuan. Komisi Pemberantasan Kehilangan Buku. Dengan pasukan berseragam yang menyita buku-buku yang tak pernah kembali ke pemiliknya. Setiap buku yang hilang diberi chip pelacak. Dan ketika buku itu dibuka oleh orang yang bukan pemilik, akan terdengar suara: “Kembalikan aku, Manis.”

Atau lebih ekstrem lagi, kita jadikan kasus ini masuk pidana ringan. Hukuman sosialnya? Wajib menulis satu cerpen tentang perasaan buku yang ditelantarkan.

Buku itu bukan sekadar kertas dan lem. Ia menyimpan waktu. Kadang saat kau membukanya lagi, kau teringat suasana hujan saat pertama membacanya. Atau bau warung kopi tempat kau menekuri satu bab yang menyentuh. Dan ketika buku itu tak kembali, bukan hanya fisik yang lenyap, tapi juga fragmen kecil dari hidupmu ikut raib.

Ini bukan soal pelit. Bukan tak rela berbagi. Tapi soal etika. Soal tanggung jawab. Buku itu bukan kado gratis dari semesta. Ia dibeli, dipilih, dan dirawat. Jadi ketika kau meminjam dan tak mengembalikan, kau sedang merampas lebih dari sekadar benda. Kau mengambil kenangan, kepercayaan, bahkan sebagian kecil rasa sayang.

Ada jenis peminjam yang lebih dramatis. Dia pinjam satu buku, lalu minta pinjam lagi yang lain. Saat kita tanyakan buku pertama, dia jawab, “Tenang aja, aman kok.” Kata aman itu seperti alarm merah, bisa berarti bukunya dipinjamkan ke orang lain tanpa sepengetahuan kita. Atau lebih parah, sudah tertimbun di balik lemari bersama sandal jepit hilang sebelah dan charger yang telah rusak.

Tapi anehnya, kita tetap meminjamkan buku. Entah karena berharap buku itu akan kembali. Entah karena kita terlalu baik. Atau entah karena kita tahu, setiap kehilangan punya cerita.

Bagi yang sering merasa sungkan menagih, percayalah, itu bukan kejahatan. Itu hakmu. Itu bukan dosa. Kau sedang menagih sesuatu yang memang kau punya. Bukan sedang mengejar utang cinta. Dan bagi yang merasa bangga bisa mengamankan buku orang lain selama bertahun-tahun, cobalah renung sejenak, jika bukumu sendiri yang diperlakukan begitu, masihkah kau bisa tersenyum?

Mungkin, kelak, kita akan bisa berdamai. Dengan kehilangan, dengan rak yang sunyi, dan dengan kenangan tentang buku-buku yang tidak pulang. Tapi untuk saat ini, mari kita sampaikan satu pesan kecil bagi para peminjam buku yang lupa ingatan: Kami tak minta kau kembalikan seluruh cinta. Tapi setidaknya, kembalikan buku itu. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *