
Bukan, Ganteng-Ganteng Serigala, melainkan Gemerlap, Gelap, dan Semu. Kita hidup di zaman ketika orang memilih buku bukan karena isinya, tapi karena siapa yang menerbitkan. Kalau dari penerbit besar, langsung dikira berkualitas. Kalau dari penerbit kecil, langsung dicurigai abal-abal. Ini mirip seperti melihat orang dari baju yang dipakai, padahal banyak orang berseragam rapi tapi pikirannya kusut.
Di rak-rak toko, buku berjejer dengan sampul gemerlap. Judul menggoda, desain mewah, promosi di mana-mana. Tapi begitu dibuka, isinya tak lebih dari daur ulang gagasan yang dikemas baru. Semu, seperti kue ultah mewah tapi rupanya hanya maket yang tak bisa diiris.
Penerbit besar punya modal besar. Bisa bayar editor, desainer, distributor. Buku-buku mereka mudah ditemukan, menjulang di etalase utama. Tapi di balik itu, ada yang sering lupa, mereka harus cari untung. Maka yang diterbitkan buku-buku aman. Aman bagi pasar, bagi selera, bagi siapa pun yang bisa tersinggung.
Lihatlah rak buku di toko-toko besar. Judul-judulnya mirip iklan motivasi: Jadi Kaya dalam 7 Hari, Rahasia Sukses Tanpa Usaha, atau Bertahan di Kantor dengan Senyum Palsu. Kalau bukan buku motivasi yang isinya pengulangan, ya buku selebriti yang baru terkenal seminggu. Isinya hanya curhat yang dibungkus dengan kata pengantar orang yang lebih terkenal.
Di sisi lain, penerbit kecil lebih bebas. Tidak dibebani target jual yang fantastis. Mereka bisa menerbitkan buku yang lebih tajam, lebih berani, lebih menggigit. Buku yang mungkin tidak mencolok di etalase, tapi menyala di pikiran. Tapi kebebasan ini kadang juga bumerang. Banyak yang berpikir, asal bisa cetak dan jual, itu cukup. Maka lahirlah buku tak disentuh editor, dengan tata bahasa berantakan, dan isi yang lebih mirip pesan panjang di grup WhatsApp keluarga.
Sialnya, masyarakat lebih sering tertarik gemerlap tampilan ketimbang isi. Buku dari penerbit besar, meski isinya cetek, tetap dipuja. Buku dari penerbit kecil, meski isinya luar biasa, tetap dicurigai. Begitulah cara kita memperlakukan sesuatu, lebih menghargai kemasan semu daripada esensinya.
Dan ini bukan cuma soal penerbit. Ini soal bagaimana kita memperlakukan buku.
Pejabat kita? Mereka lebih suka buku pujian. Kalau ada buku yang mengkritik kebijakan, mereka tidak baca, tapi berusaha menariknya. Tidak perlu jauh-jauh, lihat saja daftar buku yang dilarang negeri ini, kebanyakan buku yang terlalu banyak bertanya.
Pembaca kita? Banyak yang beli buku bukan untuk dibaca, tapi untuk dipajang. Lebih tepatnya, untuk difoto. Buku bukan lagi jendela, tapi properti. Mau buku berat atau ringan, yang penting bisa diletakkan di sebelah secangkir kopi dengan filter estetik. Pencitraan semu.
Dan yang lebih menggelikan: cinta pun ikut-ikut. Dulu, membaca buku tanda orang punya wawasan luas. Sekarang, baca buku jadi kriteria eksotis dalam mencari pasangan. “Kamu suka baca buku? Wah, langka banget!” Seakan-akan baca buku itu selevel dengan memelihara dinosaurus.
Jadi, apa yang sebenarnya membuat buku bagus? Bukan siapa yang menerbitkan. Tapi apakah buku itu bisa mengubah cara kita melihat dunia. Apakah ia bisa mengguncang, menggedor, atau setidaknya membuat kita berpikir ulang tentang sesuatu yang selama ini kita anggap biasa saja.
Karena gemerlap tampilan tak selalu sejalan dengan terang isi. Yang besar belum tentu bernilai, dan yang kecil belum tentu remeh. Yang beredar luas belum tentu sarat makna, yang sulit dicari belum tentu tak berharga. Tapi jika kita terus menilai buku hanya dari kemasannya, maka kita tak lebih dari sekadar pembaca kilau, bukan pencari cahaya. [] Redaksi
