Dunia Buku

Gengsi, Kuasa, dan Ilusi

Ada kepercayaan aneh di dunia buku, ukuran buku menentukan nasibnya. Katanya, buku terlalu besar jadi malas dibawa, yang terlalu kecil diremehkan. Kalau tebal dianggap berisi, kalau tipis dibilang kurang dalam. Sebuah logika yang entah datang dari mana, tapi dipercaya banyak orang, termasuk mereka yang sok intelek. Padahal, ukuran buku itu cuma perkara teknis. Harusnya tidak perlu jadi bahan perdebatan. Tapi, begitulah, hal sepele bisa jadi ajang unjuk kepintaran.

Kamu pernah ketemu orang beli buku cuma karena tebalnya? Mereka pikir semakin tebal, semakin cerdasnya terlihat. Maka mereka beli buku setebal bantal, difoto, diunggah ke medsos, lalu ditinggal berdebu di rak. Toh, tujuannya hanya pamer.

Sebaliknya, buku tipis sering dianggap ecek-ecek. “Ah, cuma 50 halaman? Pasti tidak berbobot.” Lucu, seakan jumlah halaman otomatis menentukan kedalaman isi. Manifesto revolusi bisa cuma 30 halaman, tapi isinya cukup mengguncang pemerintah. Sementara, ada biografi pejabat setebal kitab suci yang isinya cuma gombalan dan kisah hidup yang sengaja dibagus-bagusin.

Ukuran buku bukan cuma soal gengsi, tapi juga bisa jadi alat penguasa untuk mengontrol cara orang berpikir. Diktator tahu betul bahwa buku itu bahaya kalau ringkas dan mudah dibawa. Makanya, mereka takut sama buku kecil yang bisa masuk saku, gampang diselundupkan, dan lebih cepat menyebar. Buku-buku semacam ini sering jadi sasaran sensor karena berpotensi menyebarkan gagasan liar.

Di sisi lain, penguasa suka membuat buku biografi setebal batu bata tentang dirinya. Kenapa? Biar kelihatan monumental, seolah pemimpin itu manusia raksasa yang pantas dikagumi. Isinya? Ya, itu tadi, puja-puji membosankan yang hanya dibaca pegawai negeri yang terpaksa.

Ada juga buku yang sengaja dibuat raksasa biar tidak bisa dibaca sambil tiduran atau diangkut ke kafe. Harus dibaca serius di meja kerja. Seolah membaca itu harus jadi kegiatan berat, bukan sesuatu yang santai. Sebaliknya, ada buku yang dibuat sekecil mungkin, font mungil membuat mata perih. Mungkin biar orang kapok baca dan berhenti cari ilmu. Sebuah penghinaan halus, “Kalau kau benar mau belajar, ya tahan siksaan.”

Ukuran buku juga menciptakan kesenjangan sosial. Buku besar, hardcover, mahal, konsumsi kaum elite. Buku saku, kertas buram, murah, untuk rakyat jelata. Bahkan di dunia penerbitan, ukuran buku jadi semacam alat seleksi sosial, penulis pemula disuruh membuat buku tipis dulu, sementara penulis terkenal bisa mencetak buku setebal novel klasik Rusia.

Ironisnya, justru buku kecil yang sering membuat perubahan besar. Pamflet revolusi, manifesto bawah tanah, selebaran perlawanan, semuanya kecil, ringan, gampang dibawa, tapi dampaknya luar biasa. Revolusi sering kali lahir bukan dari buku megah yang dipajang di perpustakaan mewah, tapi dari secarik kertas yang bisa diselipkan di bawah pintu.

Ukuran buku, yang kelihatannya remeh, ternyata mencerminkan cara kita memperlakukan ilmu. Kalau kita masih percaya buku besar lebih penting dari buku kecil, berarti kita masih terjebak dalam mentalitas besar berwibawa.

Seorang pejabat yang membaca buku tebal belum tentu lebih cerdas dari seorang buruh yang membaca pamflet politik. Profesor dengan koleksi ensiklopedia belum tentu lebih tercerahkan dari seorang mahasiswa yang membaca selembar puisi kebebasan.

Dan bagaimana dengan kisah cinta terkait hal ini? Ah, juga tak lepas dari gengsi dan ilusi. Orang sering berpikir bahwa kisah cinta megah, penuh tragedi, dan berlembar-lembar seperti novel klasik adalah yang paling berharga. Seperti Romeo dan Juliet, roman yang tebal dengan kematian tragis di akhir. Tapi benarkah begitu?

Cinta tak selalu cerita panjang. Kadang, ia cukup jadi catatan kecil di buku harian, selembar puisi yang terselip di dompet, atau tulisan singkat di belakang tiket bioskop, pendek, padat, tapi menghujam dalam.

Tapi seperti biasa, ada yang suka terjebak gengsi. Mereka pikir kisah cinta panjang adalah paling berarti. Mereka ingin surat cinta yang berhalaman-halaman, bukan pesan singkat tapi penuh makna. Mereka ingin cerita yang bisa difilmkan, bukan momen sederhana di halte bus. Ironisnya, kisah cinta yang terlalu panjang sering membosankan. Seperti buku tebal yang isinya bertele-tele.

Jadi, ukuran buku dan cinta ternyata tak jauh beda. Yang besar belum tentu hebat, yang kecil belum tentu remeh. Pada akhirnya, yang penting bukan seberapa panjang, tapi seberapa dalam menetap di hati. Karena pada akhirnya, buku diukur bukan dari seberapa besar fisik, tapi seberapa besar dampaknya. Ada buku kecil yang bisa mengguncang dunia. Ada buku besar yang isinya cuma formalitas belaka. Jadi, kalau ada yang bilang ukuran buku menentukan nasibnya, tanya balik,  Apa yang sebenarnya menentukan, ukuran atau isi? [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *