
Ada buku yang bersih, disampul plastik bening, berjilid rapi, disusun simetris di rak kaca dengan pengharum ruangan aroma kayu manis. Dan ada buku yang bercak, sudut halamannya keriput, ujung kertasnya menggulung, tintanya memudar terkena air, atau lebih brutal lagi, bercak kecokelatan yang tak sanggup kita yakini berasal dari kopi atau kotoran adik. Ironisnya, sering kali buku yang paling bercak itu justru yang paling hidup.
Mari kita mulai dari bercak paling populer: kopi. Membekas bundar di halaman 47 novel murahan yang dibaca di warung saat menunggu hujan reda. Jejak cangkir itu tampak seperti stempel resmi dari waktu, pengukuhan bahwa buku ini telah dibaca dengan tergesa tapi penuh harap. Ini bukan sekadar tumpahan. Ini bukti bahwa pengetahuan, cerita, bahkan cinta, bisa tumbuh di tengah kebisingan tukang parkir dan isak hujan di atap seng.
Kita pernah punya buku pelajaran bersampul kalender bekas, dengan bercak saus tomat dari nasi bungkus makan siang. Anak-anak sekolah dari keluarga pas-pasan tahu betul, belajar dan lapar itu dua sisi dari satu koin yang dilempar secara sembrono. Dan ketika saus itu menodai halaman, itu bukan kecelakaan. Itu pernyataan, pengetahuan tidak tumbuh di ruang steril, tapi di sela-sela perut keroncongan dan PR yang dikerjakan sambil jaga warung.
Lalu ada bercak lumpur. Buku korban banjir. Yang kertasnya merekah seperti luka lama yang terbuka lagi. Bau busuk lembabnya seperti nostalgia yang basi, tentang negara yang tak pernah belajar menata drainase, tapi selalu sibuk menata narasi keberhasilan. Buku-buku itu disusun ulang di emper rumah, dijemur di bawah matahari yang malas, dan tetap dibaca, meski huruf-hurufnya kabur, seperti janji kampanye yang mencair bersama air comberan.
Namun, bercak paling menyakitkan adalah kotoran adik. Simbol kekacauan yang tak bisa disensor. Bayi itu tidak tahu bahwa ia menodai halaman cerpen Pramoedya yang sedang kita baca diam-diam di kolong ranjang. Tapi justru di sanalah letak puisi sejatinya, saat sastra agung dan feses domestik bersatu dalam satu halaman. Bukankah hidup juga begitu? Harapan dan kehancuran berdempetan, saling mencemari. Kadang cinta juga begitu, mulia dan jorok dalam napas yang sama.
Lucunya, para pejabat negeri ini lebih takut pada bercak sejarah ketimbang bercak saus. Mereka cuci tangan dari lembar-lembar masa lalu, menyelipkan revisi di kurikulum, dan menyemprotkan parfum pembangunan di arsip yang berjamur. Tapi tak pernah sungguh membersihkan kebenaran. Mereka ingin kita membaca buku sejarah yang bersih, tapi tak pernah menjelaskan mengapa darah petani dan tinta jurnalis menodai catatan-catatan itu. Mereka takut pada bercak karena bercak mengingatkan, ada yang pernah salah, dan belum ditebus. Padahal, bercak adalah pengingat bahwa kita hidup. Bahwa kita menyentuh sesuatu, bahwa sesuatu menyentuh balik.
Dan di titik ini, mari kita bicara tentang bercak yang lebih halus, lebih personal, lebih kejam, bercak cinta. Ada satu buku, novel usang yang kamu beli di pasar loak. Di halaman 23, ada bekas lipstik. Sudutnya terlipat. Entah siapa yang meninggalkannya, tapi kamu tahu: buku itu pernah menjadi alat rayu. Atau medan perang. Mungkin ada seseorang yang diam-diam menyelipkan buku itu ke tas kekasihnya, berharap satu paragraf dari kisah fiksi itu bisa menggantikan keberanian yang tak pernah ia miliki.
Lalu ada bercak yang lebih basah, bekas air mata. Air mata yang jatuh di halaman surat terakhir dari tokoh utama. Mungkin itu air mata kekasih yang sedang membaca di halte, menunggu seseorang yang tak pernah datang. Atau air mata seorang istri yang menemukan puisi tentang perpisahan di halaman buku suaminya yang telah lama dingin. Buku itu menjadi saksi yang tak pernah dipanggil ke pengadilan rumah tangga. Cinta itu jorok, kata orang yang pernah patah hati. Tapi justru di situlah ia bersenyawa dengan buku: dua-duanya menyimpan bercak. Dan bercak itu abadi, meski orangnya sudah lama pergi.
Dan kita belum bicara soal cinta yang gagal. Buku yang dikembalikan dalam keadaan hancur, sampul terkelupas, halaman penuh coretan, ada bekas nama yang disilang pakai spidol hitam. Itulah cinta yang berubah menjadi dendam literer. Tapi tetap saja, buku itu disimpan. Karena kadang kita lebih takut kehilangan kenangan buruk ketimbang tak punya kenangan sama sekali.
Kita hidup di zaman di mana cinta ingin dituliskan dalam format PDF, dikirim lewat emoji, ditandai dengan centang biru. Tapi cinta yang membekas, yang betulan mengubah hidup masih ada dalam buku-buku bercak itu. Yang kertasnya mengerut karena pernah basah. Yang baunya tengik karena disimpan terlalu dekat dengan bantal. Yang tulisannya pudar, tapi kenangannya tajam.
Karena cinta yang paling jujur tidak hadir dalam kalimat sempurna. Ia hadir dalam bercak. Yang diam-diam bertahan. Yang tak bisa dijelaskan. Tapi juga tak bisa dilupakan. [] Redaksi
