
Aku masih ingat betul buku pertamaku. Sampulnya tipis, kertasnya kasar, cetakannya murahan. Tapi di dalamnya, dunia terasa lebih lebar dari halaman-halaman buku pelajaran yang cuma pandai menyusun hafalan tanpa makna. Aku tak terlalu peduli kala itu siapa penulisnya, atau apakah ia masuk daftar kurikulum. Yang penting, buku itu membuatku merasa hidup di tempat lain. Di mana orang bisa bicara tanpa takut, mencintai tanpa izin, dan menertawakan dunia tanpa dipenjara. Itulah kebohongan pertamaku.
Dan kebohongan pertama, seperti cinta pertama, jarang bisa ditebus. Sejak buku pertama, aku percaya bahwa membaca bisa membebaskan. Bahwa kata-kata bisa menyelamatkan. Bahwa literasi adalah bentuk tertinggi dari perlawanan. Tapi keyakinan semacam itu ternyata hanya cocok dibagikan di seminar literasi bertema: Mencerdaskan Bangsa, bukan di pasar yang basah oleh caci-maki, bukan di desa tempat satu perpustakaan berbagi ruang dengan posyandu dan gudang beras bulog. Aku tumbuh dalam kesadaran yang getir, bahwa buku tak pernah benar-benar mampu mengubah kenyataan. Ia hanya memperindah luka.
Ironis, bagaimana buku pertama sering jadi simbol kebangkitan jiwa, padahal sejatinya adalah pengakuan halus bahwa kita sudah kalah dari hidup. Tak bisa melawan, kita memilih melarikan diri. Tak sanggup bicara, kita memilih membaca. Kita kehilangan dunia nyata, maka kita mendirikan dunia tandingan dalam fiksi. Buku pertama bukan gerbang kemenangan, melainkan pintu pelarian. Pintu kekalahan. Semacam cara halus untuk menerima bahwa realitas terlalu buruk untuk dihadapi jika tanpa bius.
Dan lihatlah, bagaimana negara kita memanfaatkan ilusi ini. Pemerintah tak perlu repot-repot menyediakan keadilan sosial; cukup promosikan minat baca dan adakan lomba resensi. Padahal bagaimana bisa membaca menjadi budaya kalau harga satu buku sama dengan dua liter minyak goreng? Mereka bicara soal literasi digital di panggung, tapi membiarkan perpustakaan sekolah jadi gudang rayap. Mereka anggarkan miliaran untuk proyek cetak buku yang tak pernah dibaca, lalu mengklaim rakyat makin cerdas.
Kita ditipu dengan cara yang sangat sastrawi. Yang lebih menyakitkan adalah bagaimana buku pertama sering jadi awal dari elitisme baru. Begitu seseorang mengenal Chairil atau Pram, mereka mulai bicara dengan diksi yang tak lagi bisa dimengerti oleh tetangganya. Membentuk lingkaran kecil, mengutip puisi seakan ia mantra, dan memandang dunia dari balik kacamata full frame. Literasi tak lagi soal pencerahan, tapi soal kasta. Yang belum baca, dianggap belum sadar. Yang tak paham Derrida, dianggap belum sampai. Lalu kita heran mengapa bangsa ini tetap tertinggal, padahal setiap tahun jumlah penerbit bertambah?
Kita memuja buku pertama sebagai mercusuar, padahal ia bisa jadi awal dari keterasingan panjang. Kita sibuk membangun rak buku, tapi lupa membangun empati. Kita menyebarkan kutipan tentang revolusi, tapi tak pernah turun ke jalan. Buku pertama yang seharusnya menjadi jembatan, malah berubah jadi menara gading. Kita menjadi pembaca yang angkuh, bukan manusia yang utuh.
Namun, seperti cinta pertama, buku pertama juga menyisakan sejumput rasa yang tak bisa sepenuhnya dibenci. Sebab di tengah semua ironi, ia tetap membawa sesuatu yang tulus. Mungkin bukan kebebasan, tapi secercah kemungkinan. Mungkin bukan jawaban, tapi semacam pelipur. Ketika dunia menolak kita, halaman-halaman itu membuka ruang. Ketika kita terlalu kecil untuk melawan, kata-kata itu menyelamatkan kita dari kehancuran total. Buku pertama mengajarkan satu hal: bahwa meskipun kenyataan menolak diubah, kita tetap punya hak untuk membayangkannya. Dan kadang, imajinasi adalah bentuk perlawanan paling halus, juga paling mematikan.
Jadi, mungkin aku telah tertipu oleh buku pertama. Tapi itu tipuan manis. Seperti ditinggal kekasih yang sempat membuat kita merasa dicintai, walau hanya sebentar. Ada rindu yang tak bisa dijelaskan, ada luka yang ingin diulang. Hahaha.
Karena meskipun dunia tetap kacau, meskipun hidup tak pernah jadi novel, aku tetap akan membaca. Bukan karena yakin buku bisa mengubah segalanya. Tapi karena di dalamnya, aku masih bisa percaya, walau cuma untuk sementara, bahwa segalanya mungkin untuk diubah. Dan itulah satu-satunya kekalahan yang masih bisa kuterima dengan senyuman. [] Redaksi
