
Coba kita duduk sejenak. Pegang buku yang sedang dibaca, buka halamannya, dan lihat benda mungil yang diam di sana. Ya, pembatas buku. Kecil, sederhana, kadang cuma sobekan kuitansi parkir lusuh, tapi tahu tugasnya. Ia tidak memaksa jadi sorotan, hanya menjaga, agar kita tahu di mana berhenti dan bisa kembali tanpa tersesat.
Sementara, di luar halaman-halaman buku, kita lihat orang-orang yang katanya penting, berdasi mengilap, jargon keterlibatan meluncur dari mulutnya, sibuk menonjolkan diri. Mereka bukan pembatas buku. Mereka lebih mirip stabilo norak yang justru mengotori teks, atau lebih parah, jadi sobekan tangan sendiri yang menyelip tanpa izin, merusak alur, bahkan mengganggu kenikmatan membaca karena kesombongannya.
Pembatas buku tidak pernah mengklaim diri sebagai pahlawan. Tak ada kampanye, tak ada baliho, tak ada stiker wajah di lampu merah. Tapi ia konsisten. Kecil, tapi fungsinya tak tergantikan. Bandingkan dengan mereka yang suka mendeklarasikan jasa sejarah, padahal seringnya cuma bikin sistem makin kisruh.
Kita bisa belajar dari yang sederhana. Rakyat kecil, yang bangun pagi, kerja banting tulang, antre BPJS, bayar pajak, dan masih disuruh sabar demi kemajuan bersama, mirip sekali dengan pembatas buku. Selalu ada, tapi jarang dianggap penting. Padahal merekalah penopang utama narasi negeri.
Sementara mereka yang di atas, dengan segala bacot dan proyek pencitraan, sibuk menyisipkan diri ke dalam cerita. Buku bangsa jadi penuh catatan kaki egoistik. Mereka ingin jadi penentu arah, padahal bikin kita tersesat dalam labirin birokrasi.
Pembatas buku, justru karena ia tahu batas, jadi penjaga ritme. Ia tak mengambil hak halaman lain. Ia tak memonopoli ruang cerita. Maka ketika kita bicara tentang siapa yang seharusnya dihormati, bukan mereka yang hobi tampil, tapi yang tetap setia di tempatnya, seperti pembatas buku.
Kepada yang merasa penting, coba lihat pembatas buku. Ia diam, tapi bekerja. Sederhana, tapi berarti. Tak butuh tepuk tangan. Mungkin kalau kalian mau belajar darinya, kalian tak perlu jadi bahan meme mingguan karena kebijakan absurd. Dan tak perlu menambal reputasi dengan pencitraan murahan. Percayalah, tiket nonton lawas yang dijadikan pembatas buku punya integritas lebih tinggi daripada kalian yang terus berdalih yang katamu demi kepentingan bersama.
Dan kalau kalian merasa tersindir, mungkin memang pantas. Diamlah sebentar. Belajarlah dari pembatas buku. Tanpa banyak cingcong, tapi nyata kerjanya.
Sekarang mari kita buka satu bahasan tambahan. Karena pembatas buku juga menyimpan kisah yang lebih sunyi: cinta. Pernahkah kamu menemukan pembatas buku yang bukan milikmu? Terselip di halaman 127, mungkin peninggalan seseorang yang dulu duduk di sampingmu di kafe. Atau mantan kekasih yang tak sempat pamit. Pembatas buku kadang membawa aroma, coretan kecil, atau hanya titik tiga… pertanda ada yang ingin dikatakan, tapi tak sempat diucap.
Cinta, seperti pembatas buku, tak menuntut jadi tokoh utama. Ia hanya ingin kamu kembali ke halaman yang membuatmu tersenyum. Ia tahu kapan diam, kapan pergi. Dan yang paling pilu: saat pembatas itu ditinggal di tengah buku, padahal cerita sudah selesai. Ia menunggu, diam-diam, berharap kamu kembali membuka halaman lama. Tapi di situlah romantikanya. Cinta sejati tak memaksa. Ia berkata pelan: kalau kau ingin kembali, aku di sini. Menandai di mana hatimu pernah berhenti.
Jadi, lain kali saat kamu temukan pembatas buku lama, jangan langsung buang. Mungkin di sana ada perasaan yang belum selesai. Atau kenangan yang masih ingin dipeluk. Karena cinta, seperti pembatas buku, tak perlu banyak suara. Cukup tahu di mana harus berhenti. Dan tetap ada saat kamu butuh arah pulang. [] Redaksi
