Dunia Buku

Negara dalam Halaman yang Hilang

Pagi ini, aku terbangun dengan satu pikiran yang mengganggu: aku ingin membaca buku X. Entah kenapa, keinginan itu begitu kuat seakan-akan ada yang berbisik dalam mimpiku, “Cari buku itu. Bacalah.” Aku yakin aku memilikinya. Aku bahkan bisa mengingat dengan jelas sampulnya, letaknya di rak, bahkan aroma khas kertasnya yang mulai menua

Tapi saat aku mencarinya, buku itu tidak ada di tempat yang seharusnya. Pencarianku berubah menjadi ekspedisi yang melelahkan. Rak buku dibongkar, tumpukan dibalik, lemari digeledah. Hingga sore hari, ketika aku hampir menyerah, akhirnya aku menemukannya, terjepit di antara dua buku lain seakan malu-malu ingin ditemukan.

Aku membuka halaman pertama. Kata-kata di dalamnya langsung membawaku ke dunia lain, membuatku lupa waktu. Hingga sampailah aku di halaman 64. Aku menghela napas, bersiap untuk lanjut ke halaman 65, dan di sanalah kemarahanku meledak. Halaman 65 dan 66 hilang. Lenyap!

Sekian jam aku mencari buku ini, hanya untuk menemukan bahwa ada bagian yang hilang. Kenapa aku tidak mengeceknya sejak awal? Kenapa aku harus tahu setelah aku sudah tenggelam dalam cerita? Kenapa, dari semua halaman yang bisa hilang, justru halaman yang mungkin penting?

Dan inilah ironi yang menyakitkan: hilangnya beberapa halaman buku ini terasa begitu akrab. Ini bukan sekadar kelalaian penerbit atau kesalahan percetakan. Ini adalah metafora dari negeri ini, di mana ada bagian-bagian yang hilang secara misterius.

Halaman yang hilang dalam sejarah. Bukankah banyak kejadian dalam sejarah bangsa ini yang seperti halaman 65 dan 66 itu? Hilang tanpa jejak, atau sengaja dihilangkan? Kita diajari sejarah di sekolah, tetapi hanya sebagian. Banyak yang disensor, dibelokkan, atau ditutupi. Generasi muda tumbuh dengan pengetahuan yang setengah-setengah, ibarat halaman yang hilang itu tidak pernah ada. Kasus pembantaian, peristiwa kelam, rekayasa politik, semuanya seperti lembaran buku yang sudah dicabut sebelum sempat dibaca. Ketika kita bertanya, jawabannya selalu sama: “Itu tidak penting.” Atau lebih parah: “Itu tidak pernah terjadi.”

Halaman yang hilang dalam kehidupan petani. Di sawah-sawah, petani kita juga hidup dengan halaman yang hilang. Mereka menanam padi, tetapi hasilnya tidak mereka nikmati. Harga gabah anjlok, pupuk sulit didapat, tanah semakin sempit. Mereka tahu cara bertani, tapi halaman tentang bagaimana menikmati hasilnya telah dihapus dari buku kehidupan mereka. Pemerintah? Ah, mereka hanya membaca halaman-halaman yang menguntungkan mereka sendiri.

Halaman yang hilang dalam pemerintahan. Setiap kali pemerintah bicara soal pembangunan dan kemajuan, ada bab yang hilang dalam narasi mereka. Bab tentang rakyat kecil yang tidak pernah diundang dalam pesta kemajuan. Bab tentang janji-janji yang hanya sebatas suara kampanye. Bab tentang dana bantuan yang raib sebelum sampai ke tangan yang membutuhkan.

Kita membaca laporan keberhasilan pemerintah, tapi halaman tentang utang negara yang menumpuk? Hilang. Kita membaca berita tentang investasi besar-besaran, tapi halaman tentang tanah rakyat yang digusur? Hilang. Kita membaca tentang pembangunan infrastruktur, tapi halaman tentang siapa yang benar-benar menikmatinya? Hilang.

Hidup dengan halaman yang hilang. Kehidupan kita, pada dasarnya, seperti buku yang kehilangan beberapa halaman penting. Kita hanya bisa membaca sebagian, memahami sebagian, dan sisanya adalah spekulasi. Kita bertanya, tapi tidak ada yang mau memberi jawaban. Kita mencari, tapi yang kita temukan hanya lubang kosong di antara kata-kata.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya pasrah menerima buku dengan halaman yang hilang. Mungkin sudah saatnya kita menulis ulang bagian yang hilang itu. Atau lebih radikal lagi: mungkin sudah saatnya kita merobek buku lama dan menulis buku baru, buku yang lebih jujur, lebih lengkap, dan lebih berpihak pada mereka yang selama ini hanya jadi catatan kaki dalam sejarah. Atau kita bisa diam saja. Seperti buku X ini, yang tetap kubiarkan terbuka di halaman 64, tanpa niat mencari halaman berikutnya. Toh, begitulah kita diajarkan: menerima saja, meski ada bagian yang hilang. [] Redaksi

2 thoughts on “Negara dalam Halaman yang Hilang”

  1. Redaktur memiliki ruang yang begitu luas dan dalam. Mampu menyadari akan hal-hal yang hilang tidak hanya dalam sebuah buku, tapi dalam keadilan di negeri ini. Terima kasih telah membuka mataku lebih lebar dari kaca mata yang kugunakan. Selalu menunggu tulisan selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *