Dunia Menulis

Sempurna = Penipuan

Kita semua ingin ada tokoh yang keren, gagah, cerdas, selalu punya jawaban atas setiap masalah, dan tampak luar biasa dalam situasi apa pun. Pokoknya, tipe yang kalau masuk ruangan, angin tiba-tiba bertiup dramatis, musik latar mengalun, dan semua kepala menoleh kepadanya. Tapi masalahnya, tokoh seperti itu membosankan. Iya, membosankan. Karena kesempurnaan itu kebohongan paling kejam.

Mari kita jujur. Dunia ini tidak dipenuhi oleh orang-orang jenius yang selalu tahu harus berkata apa. Tidak semua orang tampan atau cantik dengan tatapan penuh pesona. Tidak semua orang punya kekuatan super atau nasib yang selalu berpihak padanya. Faktanya, sebagian besar manusia, dan mungkin kita semua adalah orang-orang yang kadang menyebalkan, kadang tolol, kadang membuat keputusan buruk, dan sering kali tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Justru karena itulah kita harus menulis karakter yang biasa-biasa saja, dan jika perlu tokoh yang buruk. Karena tokoh yang buruk lebih hidup.

Bayangkan dua jenis karakter berikut:

1. Tokoh Sempurna: Seorang pria tampan, kaya, jenius, humoris, kuat, dan semua orang mencintainya.

2. Tokoh Buruk: Seorang pria biasa yang sering terlambat, suka menunda pekerjaan, kadang berbicara tanpa berpikir, dan punya kebiasaan buruk menggigiti kuku saat gugup.

Mana yang lebih menarik untuk diikuti? Tokoh pertama seperti robot. Tidak ada konflik yang nyata dalam hidupnya. Apa pun yang terjadi, dia selalu bisa menyelesaikan semuanya dengan sempurna. Membaca kisahnya seperti membaca brosur iklan tentang seseorang yang tidak benar-benar ada.

Sedangkan tokoh kedua? Dia manusiawi. Kita bisa melihat diri kita di dalamnya. Kita bisa frustrasi saat dia membuat keputusan bodoh, tapi juga bersimpati saat dia mencoba memperbaiki dirinya. Kita bisa berharap dia sukses, meskipun kita tahu jalannya akan penuh rintangan.

Kesalahan adalah bumbu karakter yang sedap. Coba ingat tokoh-tokoh terbaik dalam cerita yang kamu suka. Apakah mereka sempurna? Tidak. Justru karena mereka punya kelemahan dan kekurangan, kita bisa ikut merasakan perjalanan mereka.

Sherlock Holmes, jenius, tapi arogan dan sering kali tidak peka terhadap perasaan orang lain. Elizabeth Bennet, cerdas, tapi kadang terlalu cepat menghakimi. Tony Stark, kaya dan brilian, tapi egois dan punya masalah emosional yang serius. Cacat mereka justru membuat mereka menarik.

Jadi, kalau kamu sedang menciptakan karakter, jangan takut membuat mereka buruk. Buat mereka hina, buat malas, buat mereka gampang panik, buat mereka keras kepala. Bahkan kalau perlu, buat mereka menyebalkan. Asal satu hal, beri mereka sesuatu yang membuat pembaca tetap peduli. Bisa jadi mereka menyebalkan, tapi setia. Bisa jadi mereka pemalas, tapi berbakat. Bisa jadi mereka keras kepala, tapi penuh kasih sayang.

Kesempurnaan sama dengan kebodohan. Tokoh yang terlalu sempurna bukan cuma membosankan, tapi juga menyesatkan. Dia membuat kita percaya bahwa manusia harus selalu kuat, selalu benar, selalu siap menghadapi apa pun. Padahal, dalam dunia nyata, tidak ada yang seperti itu. Bahkan, tokoh sempurna bisa membuat kita bodoh. Kenapa? Karena dia tidak mengajarkan kita apa pun. Kalau ada seorang pahlawan yang selalu menang tanpa usaha, kita tidak belajar tentang perjuangan. Kalau ada seorang jenius yang selalu tahu jawabannya, kita tidak belajar tentang berpikir.

Sebaliknya, tokoh yang gagal, yang tersandung, yang melakukan kesalahan, justru mengajarkan kita tentang pertumbuhan. Kita belajar bahwa manusia bisa berubah. Bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya. Bahwa bahkan seseorang yang tampaknya buruk pun bisa menemukan sesuatu yang baik dalam dirinya.

Jadi, jika kamu ingin menulis karakter yang benar-benar menarik, lupakan kesempurnaan. Biarkan mereka berantakan. Biarkan mereka bodoh. Biarkan mereka melakukan kesalahan. Karena justru dari ketidaksempurnaan itulah, cerita hidup. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *