Dunia Buku

Ritual dan Surat dalam Botol

Sering kali kita anggap membaca merupakan sebuah ritual. Perlu mempersiapkan hati, pikiran, waktu, tempat dan sesaji khusus. Ribet pokoknya. Apalagi kalau sudah mengharuskan ada syarat: ingkung yang dimasak dengan air dari 7 sumber mata air dan bumbu rempah 17 macam. Berasal dari ayam kampung pejantan hitam dengan bobot di atas 1,7 kilogram, disembelih pakai pisau yang sudah direndam semalaman dengan air bunga 7 rupa. Wah, pokoknya spesifik dan harus dipenuhi. Jika ada hal terlewat 1 saja, maka ritual akan dianggap gagal dan harus diulang dari nol.

Padahal, membaca bisa dianggap hal paling sederhana. Sesederhana berkhayal bisa kaya raya tanpa kerja. Dapat pasangan hidup sempurna yang mau sehidup semati, seiya sekata, senasib sepenanggungan, menerima apa adanya, dan selalu awet muda. Lalu setelah mati sudah jaminan masuk surga. Pada intinya, pikiran kita sendiri yang membuat segalanya bisa menjadi mudah atau sulit.

Bahan bacaan sebenarnya ada di mana-mana, bahkan tetap akan ada meski tanpa buku dan gawai di tangan. Sewaktu sedang berkendara—saat berhenti menunggu lampu merah berganti warna hijau—pandangan kita tertuju pada tulisan di body truk “Lelaki sejati itu pecinta kilometer: hidup di jalan dan pantang pulang sebelum punya uang”. Atau stiker di helm pengendara “Ngopilah sebelum ngopi itu dilarang”. Juga coretan-coretan di tembok tentang iklan obat kuat, pijat urut dan jasa sedot WC. Bahkan, saat mlipir di pinggir jalan dan mampir beli gorengan, kadang jika masih beruntung, kertas bekas buku paket yang sudah jadi bungkus gorengan bisa dibaca sambil ngemil. Menikmati tulisan semacam itu sudah bisa dikatakan membaca. Tidak ada ritual tertentu. Tidak ada rahasia khusus untuk menikmati bacaan. Semua tergantung cara kita menyikapi hal-hal yang ada di sekeliling kita, termasuk hal yang dianggap sangat sepele.

Momen itu kita sendiri yang ciptakan. Walaupun pada akhirnya semesta yang mewujudkan. Seperti momen saat bermain air di pinggir pantai, lalu tanpa sengaja menemukan surat dalam botol. Isi surat itu bisa saja berisi permintaan tolong, perkenalan, atau malah peta harta karun. Apa pun terkait tulisan, selama bisa terbaca, maka itu adalah sumber bacaan.

Beragam emosi bisa segera dituntaskan dengan membaca. Tak perlu ribet menyiapkan ritual-ritual khusus. Nikmati saja apa yang tersaji di depan mata. Anggap itu semacam gombalan-gombalan dari pujaan saat masih pacaran: mumpung masih enak didengar, karena kalau sudah menikah belum tentu masih enak, kan?

Pada akhirnya selalu akan ada keinginan dan rasa penasaran yang perlu segera dituntaskan. Tidak harus hal-hal besar yang menghabiskan bergelas-gelas kopi dan energi untuk menyelesaikan buku berhalaman tebal dalam semalam. Membaca itu tidak terbatas. Segala hal tertulis yang bisa dibaca, sependek apa pun informasinya, adalah sumber bacaan yang bisa dinikmati. Jadi apakah kamu lebih suka membaca buku di kamar, atau justru menikmati surat dari dalam botol yang kamu temukan di pinggir pantai? [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *