
Hari-hari tidak sama. Nama-namanya berbeda. Rasanya pasti berbeda. Apakah warna hari-hari pun berbeda? Aku tidak tahu jawabannya. Jika menghitung: berapa jumlah Rabu yang aku miliki, sejak lahir sampai sekarang? Bagi yang belajar, Rabu itu sekolah. Bagi yang mencari nafkah, Rabu itu hari kerja. Aku belum bisa memastikan Rabu yang sering aku alami memiliki makna atau klise.
Rabu, 20 November 2024, aku bukan pemenang hidup. Hari yang anggaplah tetap “sama” bagi orang yang terbebani masa lalu buruk, penyesalan, dan menyeret sekarung kutukan. Rabu yang datang rasanya biasa saja. Yang sedikit membedakan saat siang terlalu benderang dan membara.
Yang masih mungkin dilakukan adalah melihat Alun-Alun Utara (Keraton Surakarta Hadiningrat) dan memandang kesibukan para pedagang pakaian di sekitarnya. Tidak lupa, mengamati para pedagang mi ayam, tahu kupat, es teh, soto, dan lain-lain. Mereka yang merayakan Rabu dengan berdagang. Rabu yang jual-beli, berhitung laba dan kepuasan.
Aku tidak bisa menjadi pedagang mi ayam, hanya dapat menikmati mi ayam. Hari yang ditunggu belum tiba. Yang aku inginkan adalah makan mi ayam dengan cara ditraktir pengarang kondang, yang beberapa hari lalu pergi ke Jakarta untuk menerima anugerah besar. Membayangkan makan mi ayam dan berbagi cerita. Aku sekadar ingin terhubung dengan situasi sastra mutakhir, yang teristimewa novel. Aku masih membaca novel tapi pengalaman dan pengetahuanku justru makin surut.
Duduk di bawah pohon beringin. Di sampingku, pemuda yang biasa berkeliling kota naik sepeda onthel. Ia membaca lembaran-lembaran yang memuat huruf-huruf Arab. Yang terdengar: ia sedang mengaji. Di dekatku, ada juga lelaki tua yang tangannya memegang buku primbon. Pengetahuan lama yang masih terbaca saat berteduh dari sinar matahari. Telingaku mendengar orang membaca kitab suci. Mataku tergoda kesibukan lelaki yang bereferensi primbon.
Sebenarnya, aku ingin menikmati siang yang lambat. Bergerak menuju belakang deretan kios yang berjualan buku. Duduk lama untuk memandangi buku-buku di rak dan tumpukan buku, yang tidak rapi. Beberapa tangan telah membuatnya agak berantakan. Aku kadang berharap dapat kejutan: melihat sampul buku dan menginginkannya tanpa berpikir 3 detik.

Jadi, aku tidak mau terlalu menyibukkan tangan dengan menggeser atau mengubah posisi buku. Percaya mata saja. Melihat! Menemukan! Pengalaman yang terwujud. Mataku melihat sampul buku yang anggun. Judul buku: Seni Hidup Bersahaja. Gambar yang dipasang adalah bangku dan sandal. Apa maksudnya benda-benda di sampul buku? Aku yakin bukan buku petunjuk duduk yang benar atau cara-cara menggunakan sandal.
Buku ditulis oleh Shunmyo Masuno. Nama khas Jepang. Pastinya ia berasal dari Jepang. Buku dibuka halaman-halamannya, dibaca di lorong mendapat embusan angin. Yang disampaikan penulis Jepang: “Daripada mengernyitkan dahi untuk memahami gagasan Zen, cobalah berdiri di depan salah satu taman. Ini dapat menyegarkan pikiran dan semangat kita. Celotehan dan riak pikiran tiba-tiba menjadi diam dan hening. Saya menemukan bahwa pertemuan dengan sebuah taman Zen akan bisa menyampaikan lebih banyak tentang konsep-konsep Zen daripada membaca buku-buku yang menjelaskan falsafahnya.”
Kalimat-kalimat cukup berat. Di dekatku, yang terlihat alun-alun, bukan taman. Setahuku, taman-taman di Jepang itu unik dan indah. Tempat kadang kecil tapi kemuliaan dan keanggunan terasakan. Konon, “seni” taman di sana sulit ditandingi meski aku kada membaca taman-taman dalam novel-novel Eropa dan Amerika Serikat.

Yang ada di tanganku adalah buku mengenai ajaran Zen untuk panduan hidup. Nasihat yang terbaca: “Di setiap hari, yang kita butuhkan hanya sepuluh menit. Cobalah meluangkan waktu untuk kekosongan, untuk tidak memikirkan apa pun. Cobalah untuk membersihkan pikiran, dan tidak terperangkap dalam hal-hal di sekitar kita. Berbagai pikiran akan mengapung di benak kita, tetapi cobalah mengirimnya pergi, satu per satu…” Rabu bertemu nasihat. Siang yang berimajinasi taman dan keinginan tenang.
Aku sedang tidak menjadi pembantah atau pengejek nasihat. Rabu yang memerlukan kalimat-kalimat bukan berasal dari novel atau puisi. Akhirnya, buku itu menjadi pembelian yang wajar. Rabu itu buku. Aku mengalami Rabu yang buku. Rabu yang menerima nasihat-nasihat.
Berpindah ke kios lain. Aku melihat bapak yang semula memegang buku primbon berganti memegang buku tentang Tao. Selintas, aku melihat buku itu dibuat untuk menasihati orang-orang yang menanggung banyak masalah dan ingin harmonis dalam kehidupan. Aku belum tergoda memegang dan membelinya. Di tanganku, buku yang memuat ajaran-ajaran Zen.
Di tumpukan buku yang hampir jatuh, aku melihat punggung buku yang bertuliskan: Lentera Hati. Buku yang berulang aku baca saat resah dan ingat agama. Beberapa teman aku hadiahi buku yang dibuat Quraish Shihab meski dalam kondisi bekas. Buku memuat artikel-artikel pendek, berpijak agama. Aku mudah membaca dan menyukainya. Pada suatu hari, aku ingin meniru dengan membuat artikel-artikel pendek tapi tanpa keharusan bertema agama.

Buku berukuran kecil dan tebal terbitan Mizan. Di rumah, aku mungkin sudah punya 4 atau 5 eksemplar. Rabu itu aku membeli lagi. Aku segera membuka halaman-halamanya sambil diselingi mengarahkan mata ke Alun-Alun Utara. Tempat yang terang oleh matahari, bukan lentera.
Quraish Shihab memberi tafsir atas ayat dalam Al Quran: “Demikianlah, perintah membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yang dapat diberikan kepada manusia.” Kalimat yang memadai saat aku memiliki Rabu yang buku. Namun, aku belum pasti pembaca. Apa aku cuma penonton buku, pemegang buku, dan pembeli buku?
Konon, jumlah pembaca buku di Indonesia bertambah. Pemerintah mungkin senang. Yang aneh, toko buku di beberapa kota makin sepi dan tutup. Pasar buku bekas pun merana atau lesu. Di media sosial, para pedagang buku pamer keluhan ketimbang mendapat uang.
Hari mau sore, aku tidak bisa terlalu lama bersama buku dan majalah bekas di Gladag (Solo). Sebelum pergi dan pamitan, aku masih berhasil melihat setumpuk buku yang di sampulnya tampak logo perusahaan minuman. Aku mengambilnya dan membelinya tanpa menawar. Empat buku adalah “Ensiklopediku: Serial Pengetahuan Anak.” Yang terbawa adalah “sains di sekitar kita”, “tubuh manusia”, “bumi kita”, dan “burung”. Buku-buku tipis yang dulu diminati anak-anak. Mereka membava buku setelah minum Frisian Flag.
Lima buku dalam seri “Tokoh Inspirasiku”. Aku mendapatkan buku mengenai Louis Pasteur, Marie Curie, Alexander Graham Bell, Christopher Columbus, dan Thomas Alva Edison. Semua orang asing dari negara-negara yang jauh. Mereka yang mengubah dunia, yang memberi gairah peradaban manusia. Anak-anak di Indonesia menjadi pembaca dan kolektor buku, setelah memenuhi syarat minum Frisian Flag. Aku tidak ingin mengejek atau setor kritik. Aku mengangguk sebagai tanda maklum siasat industri dalam mencipta laris dan turut membentuk masyarakat-baca. Buku-buku itu siasat bisnis dan godaan keaksaraan.
Aku memiliki Rabu yang bermutu. Rabu itu buku. Rabu dengan bacaan-bacaan bergelimang nasihat. Aku pun menjadi pembaca mengandaikan seperti anak atau mengikuti definisi industri, yang menghendaki: jadilah konsumen, sebelum berlagak menjadi pembaca buku. Kabut
