
Senja berlalu tanpa sempat melihat perubahan wajah langit. Malam itu datang saat jumlah lampu menyala makin bertambah. Ruangan-ruangan yang terang, yang menandakan gelaran berjudul malam.
Di atas sepeda motor, aku dan Ahmad meningalkan masjid megah di Solo. Jalanan cukup ramai. Di pinggir jalan, ratusan warung makan menantikan kedatangan kaum lapar. Kami tidak mampir, tak ada kewajiban makan. Malam dan makan yang membuat kota meriah dan penuh pemujaan selera. Kami bukan berpikiran makanan. Di jalan, obrolan kami bersinggung sejarah, tokoh, dan buku.
Di Mesen, Solo, kami berhenti di suatu tempat yang memiliki papan penuh logo. Di situ, logo pemerintah dan logo-logo mengartikan usaha-usaha besar di Indonesia. Aku berada di tempat yang diresmikan dengan logo-logo. Aku belum sempat memikirkannya, tidak ada keinginan memotret untuk suatu hari membuat tulisan mengenai pemerintah dan logo. Malam itu aku datang bukan untuk pembicaraan logo tapi puisi.
Kamis, 7 Desember 2023, hari untuk puisi. Kedatanganku dengan buku puisi berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2003). Beberapa hari lalu, buku itu dikhatamkan. Di tempat dengan lampu-lampu remang, aku duduk bersama tas berisi buku puisi dan kaki tanpa sandal atau sepatu. Aku menikmati malam dengan cekeran. Kaki yang lama terbiasa bersandal jepit merasakan sedikit sakit saat berjalan di atas kerikil-kerikil. Kaki yang manja, tibas saatnya bertelanjang untuk kembali mengenali tanah, tidak selalu lantai. Telapak kaki itu bertemu tanah dan rumput.
Obrolan sebentar bersama teman-teman: dari tema seni (tradisi) sampai sekolah. Salaman dan percakapan menandakan kami tidak ingin malam membisu atau sepi. Di atas meja, asbak digunakan teman-teman suka merokok. Mataku memandingi asap yang puitis. Suguhan kopi cukup nikmat meski tidak dilengkapi gorengan. Aku minum kopi dan bercakap sambil melihat kesibukan orang-orang mau mengadakan diskusi atau obrolan sastra.
Yang dinantikan datang: Saut Situmorang (Jogjakarta). Kedatangan saat malam bertambah malam. Lelaki gendut berambut panjang itu datang bersema Idrian Koto, bos JBS yang menerbitkan (ulang) saut kecil bicara pada tuhan (2023). Setahuku, dulu buku itu diterbitkan oleh Bentang. Aku membaca ketika masih kuliah, membuatku berani mengundang Saut Situmorang ke kampus (UMS) untuk diskusi sastra. Buku yang pernah ikut memberi pengaruh dalam pengenalan puisi-puisi abad XXI.
Pada malam yang berasap oleh rokok-rokok beragam merek, aku mulai kembali ke puisi-puisi pernah terbaca, sekian tahun lalu. Kursi-kursi sudah diduduki beberapa orang. Empat kursi di depan masih kosong. Aku melihat belum ada tanda-tanda acara bakal dimulai. Angka 8 sudah terlewati. Malam yang bagi orang-orang belum perlu tergesa. Namun, aku memberanikan diri duduk di kursi tanpa ada panggilan dari panitia. Aku mengajak Indra Agusta untuk turut duduk di sampingku agar orang-orang mengetahui dikusi dimulai.
Pembaca acara memegang mikrofon, mengeluarkan kata-kata berkaitan diskusi dalam seri Tilikan. Kerja komunitas seni yang mengajak orang-orang bertemu dan bicara. Aku belum pernah ikut seri Tilikan. Malam itu bagiku kehormatan bisa hadir bersama mereka yang masih terus menggerakkan seni di Solo.
Di samping, perempuan berdiri membaca puisi. Ia terbiasa membaca puisi di panggung dan lomba. Di hadapan orang-orang, ia membaca puisi gubahan Saut Situmorang dengan apik. Ia diganjar tepuk tangan dan pemotretan.
Beri Hanna berperan menjadi moderator. Di depan, Saut Situmorang pun sudah duduk. Kami tidak mengetahui situasi obrolan bakal seru atau sendu. Meja di depan kami agak penuh. Yang terlihat beberapa botol minuman bermineral. Ada tiga potong roti. Anggur di piring kecil. Yang menakjubkan ada botol-botol kecil berisi air bening. Aku yakin itu minuman istimewa. Di meja, ada juga beberapa buku Saut Situmorang yang menanti pembeli.
Indra Agusta mulai memberi kata-kata. Pembicaraan yang berat. Puisi-puisi Saut Siumorang berkaitan dengan hal-hal yang mengacu iman, adat, pengembaraan, dan lain-lain. Puisi-puisi yang berani dalam urusan bahasa. Hal terpenting adalah penulisan “Mu”. Penggunaan huruf kapital itu membuat pembaca sulit dalam kepastian dalam usaha mengerti manusia dan Tuhan. Saut Situmorang justru menulis “tuhan” menggunakan huruf kecil, bukan “T”.
Cara membaca puisi dan menafsirkan puisi belum tersuguhkan. Indra Agusta sekadar mengingatkan usaha pembaca yang jarang mudah dalam memasuki puisi. Ia menemukan kemampuan Saut Situmorang dalam penggunaan beragam (sumber) bahasa untuk turut masuk dalam puisi. Jadi, yang dinikmati pembaca adalah puisi-puisi berbahasa Indonesia tapi judul kadang berbahasa asing. Di puisi, kata atau istilah asing pun turut hadir selain berasal dari bahasa daerah.
Aku berharapan Indra Agusta membuat resensi untuk buku Saut Sittumorang untuk dikirimkan ke Jawa Pos. Dugaanku, ia mahir membaca buku, tak mau hanya rampung saja. Sosok itu memiliki kekuatan meresensi, yang tidak membiarkan buku tertutup dan berdiam di rak.
Di depan, aku ikut omong masalah buku Saut Situmorang. Aku cuma membicarakan masalah matahari dan bulan. Puluhan puisi melulu mencantumkan matahari dan bulan. Bintang kadang ikut tapi tidak dijanjikan selalu hadir. Aku belum kepikiran masalah “tuhan” atau “Tuhan”. Yang terbaca selama beberapa hari adalah kebiasaan Saut Situmorang menulis matahari dan bulan. Aku menduga ia (tidak) menyadari bahwa matahari dan bulan terlalu “menentukan” puisi-puisinya, digubah sejak masa 1980-an.
Selanjutnya, Saut Situmorang membicarakan diri, puisi, situasi sastra Indonesia. Ia berbagi biografi. Puisi-puisi itu berkaitan biografi. Beberapa omongannya mengejutkan meski beberapa hal aku sudah mendengarnya sejak lama. Dulu, aku membaca esai-esainya yang keras. Malam itu Saut Situmorang tampil agak kalem tapi tidak mengurangi kesombongannya.
Malam yang diramaikan tepuk tangan. Pemicunya adalah Beri Hanna. Aku sering bingung dengan kebiasaan tepuk tangan dalam diskusi. Malam itu keseringan tepuk tangan. Berri Hanna yang menjadi moderator sengaja mementingkan tepuk tangan. Aku menunduk malu. Tepuk tangan mungkin mengusir sepi dan kemalasan. Aku tidak mau ikut tepuk tangan.
Aku telat mengetahui puisi-puisi gubahan Saut Situmorang itu akrab alam. Puisi-puisi yang religius ketimbang mengumbar lelucon atau “makian”. Di mataku, Saut Situmorang itu “pendakwah” yang menyamar. Ia fasih menyajikan kebijaksanaan-kebijaksaan melalui puisi. Hal berkebalikan dari kebiasannya membuat onar dan perdebatan. Malam itu aku menghormati Saut Situmorang yang sanggup menguak lakon bocah dan religiositas.
Yang membuatku sebal malam itu bukan tiga orang di sampingku yang menikmati air bening dalam botol-botol kecil. Aku terganggu dengan suara mesin air, yang terus bersuara saat kami bergantian omong. Mesin-mesin air berada di sebelah Beri Hanna. Kami bicara puisi bersaing dengan mesin air. Saut Situmorang tidak merasa terganggu mesin air tapi omong tentang mesin sebagai penyair atau penyair sebagai mesin. Aku tidak mengerti yang diomongkannya.
Obrolan perlahan bingung arah. Tepuk tangan tetap terdengar. Tubuhku mulai bermasalah. Aku sulit bertahan. Aku ingin pulang. Malam bertambah malam. Puisi selesai dulu. Aku ingin tidur.
Di akhir, aku ikut menjelaskan masalah sastra dan kelembangaan pendidikan di Indonesia, sejak masa kolonial sampai Orde Baru. Omongan sudah meninggalkan buku berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2023). Aku tidak sanggup lagi bersama orang-orang merayakan malam dengan kata, kopi, buku, rokok, dan lain-lain.
Aku sengaja berpamitan dan minta maaf tidak bisa terus duduk di situ. Aku pulang setelah menganggap selesai omong tentang (buku) puisi. Malam itu aku mendapat kebaikan dan kejutan. Seorang teman memberikan bingkisan dalam kresek hitam. Ada teman memberikan buku puisi terbaru Afrizal Malna. Aku pulang tetap tanpa alas kaki tapi membawa hadiah-hadiah terindah.
Di rumah, aku membuka kresek. Isinya sarung yang berwarna kalem. Yang memberi hadiah mungkin menginginkan diriku rajin beribadah. Sarung bisa digunakan dalam beragam acara, tidak cuma untuk ibadah. Ia mungkin berpesan bahwa aku jarang berpenampilan menarik saat menghadiri acara-acara. Aku mengerti sarung itu tanda pertemanan dan “peringatan”.
Pada saat berbaring, aku mulai membuka halaman-halaman buku Afrizal Malna. Pemberian yang menjawab keinginanku beberapa hari lalu. Aku sempat mengajak teman-teman yang sering dolan ke rumah untuk memesan buku baru terbitan JBS. Buku baru itu malah datang duluan.
Aku sudah berpisah dari acara sastra di Solo. Di atas kasur, aku menjadi cengeng. Malam yang lelah tapi mengesankan. Aku tidak lagi ingat puisi-puisi Saut Situmorang. Kecengenganku untuk kebaikan dua teman yang memberi sarung dan buku. Sebelum mata terpejam, aku mengganti masalah matahari dan bulan dengan sarung dan buku. Malam itu airmata. [] Kabut
