
Siang belum tergusur, masih ada beberapa jam. Aku mencuci pakaian dengan jadwal berubah: memilih siang ketimbang sore. Siang yang mau berakhir inginku semua pekerjaan rampung. Mencuci pakaian dilanjutkan mencuci piring dan gelas. Akhirnya, semua selesai dengan acara penutup: menyapu. Yang membingungkan: mandi di akhir siang. Mandi yang rasanya sia-sia jika keringat mudah mengalir setelah handuk dijemur. Tubuh yang telah mandi tetap berada dalam siang yang berkeringat. Sejenak menaruh tubuhku di depan kipas angin.
Pada menit-menit menjelang sore, aku dan Ahmad ikut keramaian di jalan. Yang ingin kami datangi adalah masjid. Sore bukan untuk hiburan tapi kesadaran menuju tempat ibadah.
Kami berada di jalan menjelang azan terdengar. Beberapa menit yang kami rasakan dengan percakapan tentang sejarah Indonesia. Yang kami sebut adalah nama-nama asing: Kahin, Anderson, Holt, Feith, Liddle, dan lain-lain. Mereka menulis sejarah Indonesia. Kami yang membaca melalui buku-buku edisi terjemahan bahasa Indonesia. Perjalanan ke tempat ibadah di Solo tapi ketagihan omongan sejarah.
Kamis, 7 Desember 2023, bukan hari bersejarah dalam hidupku. Aku mengajak teman untuk berada di Masjid Sheikh Zayed (Solo). Di sana, ada diskusi yang aku ketahui dari pengumuman beredar di media sosial, dua hari sebelumnya. Kedatangan ke masjid mula-mula berhasil ikut shalat asar berjamaah, telat satu rekaat. Pengumuman diskusi terdengar dari mikrofon masjid. Diskusi yang mungkin penting setelah ibadah. Sore yang indah di masjid yang berlampu tidak terlalu terang, tidak seterang matahari yang berada di luar.
Kami menuju menara: naik tangga. Yang aku inginkan di pinggiran tangga adalah buku-buku. Di atas, perpustakaan. Seharusnya, sejak di bawah ada buku-buku atau gambar-gambar mengisahkan buku. Jadi, saat kaki naik tangga ada doa-doa perbukuan. Mata yang melihat buku-buku, mata yang akan melupakan lelah. Yang naik tangga akan berimajinasi naik ke menara buku.
Pintu itu terbuka. Perpustakaan terbuka untuk umum. Aku segera masuk ingin berada di depan rak-rak. Mataku tak sabar melihat buku-buku, yang dimulai dengan punggung-punggung buku. Beberapa detak saja kenikmatan di depan rak buku. Pejabat di masjid itu memanggilku. Ia memintaku masuk ke ruangan berkaca. Mengikuti perintah dan petunjuk meski gagal bersilahturahmi ke buku-buku.
Salaman dengan Yessita dan Afthonul Afif. Di Solo, aku masih sering bertemu dan bersama Yessita. Salaman yang berbeda dengan Afif. Lelaki ganteng dari kudus. Aku mengakuinya sebagai “manusia kudus” atau “manusia suci”. Artinya, salaman itu tidak biasa setelah sepuluhan tahun tak bertemu dan tiada percakapan. Dulu, kami pernah dekat dengan predikat penulis di Koran Tempo dan Kompas. Masa lalu yang memberi arah berbeda untuk ditempuhi. Pada suatu masa, ia menjadi intelektual penting di Indonesia. Aku hanya bergembira menjadi bapak rumah tangga.
Obrolan-obrolan cepat memberat. Sekali lagi, obrolan kami berkaitan sejarah di Jawa (Nusantara). Kami cuma bisa omong sepenggal-sepenggal tentang sejarah di Jawa, kolonialisme, Islam, sekolah, penerbitan, pesantren, kitab suci, pabrik gula, kebatinan, dan lain-lain. Di atas meja, aku memperoleh pisang dan anggur. Di menara, sejarah ingin dijatuhkan dari “ketinggian”. Obrolan yang tidak memungkinkan debat.
Diskusi bertema “Sehat Mental Ala Jawa” dimulai dengan kehadiran 20-an orang. Jumlah yang sedikit tapi membuat ruangan longgar. Ramai dan sesak mungkin tidak enak bagi mataku yang mulai mengantuk. Di depan, Yessita memberi awalan. Afif memberi keterangan panjang mengenai kesehatan mental.
Dua sosok yang menggunakan waktu untuk kata-kata. Yang terlihat: Afif mengenakan jam tangan di sebelah kiri dan Yessita mengenakan jam tangan di sebelah kanan. Di atas, aku tidak melihat jam dinding. Perpustakaan tidak memerlukan jam. Para pengunjung dianggap mudah mengerti tentang jam buka dan jam tutup. Mereka tidak menuntut adanya jam dinding.
Aku mendengarkan dengan berdebar. Banyak masalah-masalah ruwet masa sekarang, yang mengakibatkan depresi dan bunuh diri. Orang-orang yang meminta perhatian. Kegagalan mendapat pujian menimbulkan rasa bersalah. Akhirnya, pamrih-pamrih minta dikasihani malah diumumkan secara terbuka.
Aku menyimak omongan-omongan Afif sambil mengutuki diri. Diskusi yang bakal berisi masalah-masalah dan salah-salah. Contoh-contoh yang diajukan Afif menunjukkan manusia masa sekarang sulit “waras”. Mereka bernafsu bahagia tapi gagal. Mereka ketagihan dolan-dolan tanpa kepikiran jawaban atas masalah-masalah hidup. Yang merepotkan adalah pengalaman bahagia, bukan pengakuan yang manipulatif atau bermutu rendahan.
Mataku melihat dua rak buku yang menjadi batas panggung bagi moderator dan pembicara. Di situ, ada tempelan kertas dengan tulisan: “harap tenang”. Mengapa kertas itu tidak dilepas? Jika tidak dilepas mendingan kata-kata diganti menjadi “harap bahagia”. Aku malah tergoda “harap makan”. Di depanku, ada suguhan berupa panganan rebusan: jagung, ketela, kacang, singkong, dan lain-lain. Aku juga menikmati segelas teh hangat, tak lupa dua iris jadah.
Afif yang bicara lama mulai menyebut nama-nama dan masa. Aku lekas teringat buku-buku kesehatan mental garapan Zakiah Daradjat masa 1980-an. Dulu, masalah itu sudah melanda Indonesia tapi tidak segawat masa sekarang. Afif memilih menggunakan referensi-referensi asing dan mutakhir. Aku sedikit memahaminya. Namun, yang berbobot adalah pengutipan dari Ki Ageng Suryomentara,, yang lahir dan tumbuh di Jawa.
Afif telah menjelajah jauh dalam persoalan bahagia dan sehat mental. Ia menulis banyak buku. Yang terkeren adalah buku-buku mengenai Ki Ageng Suryomentaram. Di Indonesia, ia adalah pakar. Aku mengenalnya setelah membaca buku-buku kajian Ki Ageng Suryomentaram, terutama Psikologi Jawa yang ditulis Darmanto Jatman.
Sore itu kami masih berada di bumi seribu masalah. Kami tidak bisa memesan bumi yang berbeda. Kami pun menantikan langit menurunkan jawaban-jawaban tapi bumi sedang gersang untuk menerimanya.
Sore itu seharusnya dihadirkan satu pembicara lagi yang bisa omong tentang sastra atau film. Tentu berkaitan erat dengan kesehatan mental. Konon, penerbitan buku-buku dan film-film terbaru ada urusannya dengan kesehatan mental. Buku-buku berisi kutipan-kutipan pendek dan bergaya bijak sedang laris. Buku-buku filsafat klasik dijadikan pegangan bagi yang memburu bahagia.
Yang membuatku menantikan kehadiran orang omong sastra adalah terbitnya novel-novel terjemahan yang menceritakan masalah-masalah mental abad XXI. Aku ingat novel berjudul Vegetarian gubahan Han Kang. Aku pun pernah khatam novel Perpustakaan Malam (Matt Haig). Ada beberapa novel lagi yang membuatku sebagai pembaca mudah murung. Dunia sedang amburadul. Para tokoh dikutuk seribu masalah. Aku yang membaca juga memiliki salah-salah untuk memasuki cerita bergelimang masalah.
Di perpustakaan, aku mau mencari novel-novel yang membahagiakan agar diskusi tidak memberat. Namun, keinginan itu gagal diwujudkan. Tubuhku lungkrah dan mengantuk. Beruntung ada peserta-peserta mengajukan beragam pertanyaan yang mampu membuatku tidak menuruti nafsu tidur. Ikut berpikir lagi. Afin menjadi juru jawab yang sanggup menjelaskan mirip kiai tapi ia menolak disebut kiai.
Acara itu selesai. Di atas kepalaku, berputar novel-novel yang ikut merayakan pedih, depresi, bunuh diri, lara abad XXI. Yang menanggungkan masalah bukan cuma orang-orang Indonesia tapi sedunia. Aku tidak mengira bakal datang kiamat. Inginku menata novel-novel yang turtu “bertanggung jawab” dalam perayaan masalah-masalah yang menyedihkan, traumatik, dan menghancurkan. Aku ingin menebus salah-salah dengan khatam novel-novel. Persembahan fiksi yang melampaui kenyataan-kenyataan yang ditanggungkan. Pembaca novel-novel mutakhir bisa mudah menjadi yang bersalah atau menanggungkan salah di atas salah untuk hidupnya dan pergaulannya dengan orang lain.
Di jelang akhir diskusi, Yessita berulang mengucap terima kasih dan minta maaf. Pengulangan itu justru membuat aku sadar tema diskusi. Jika masalah terima kasih dan minta maaf diajukan sejak awal pasti diskusi bakal seru. Jadi, Yessita berperan ganda sebagai moderator dan pembicara. Dugaanku, ia mampu menjelaskan dua masalah itu berkaitan kesehatan mental. Aku berusaha mengerti terima kasih dan minta maaf yang menentukan kewarasan, kebahagiaan, dan kebersemaan, selain mengurangi siksa kesalahan dan kutukan hidup.
Rampung diskusi, aku ingin segera turun menghindari bayang-bayang buruk mengacu kesehatan mental. Keinginan yang gagal setelah ada lelaki yang menyapa. Kami mula-mula dalam tanya-jawab pendek. Akhirnya, kebablasan serius bercakap tema pendidikan. Tema yang agak menyelamatkanku dari sisa-sia diskusi.
Percakapan itu tetap mengingatkan novel, tidak sekadar kebijakan-kebijakan pemerintah dan usaha-usaha komunitas belajar. Aku malah tergoda lagi omong sejarah, dari masa kolonial sampai Orde Baru. Aku menambahi dengan perkamusan pendidikan beragam bahasa.
Azan magrib terdengar, kami memutuskan turun dari perpustakaan. Kami ingin beribadah meski mengetahui telat tiga rekaat. Mikrofon digunakan imam sudah terdengar zikir dan doa setelah shalat. [] Kabut
