
Lama, aku tidak membeli Kompas edisi Minggu. Pagi tapi terasa “siang”, aku begerak menuju perempatan jalan menuju arah Solo. Minggu, 19 November 2023, perutku sudah berisi nasi liwet saat sarapan bersama di Mushola Al Mubarokah. Sejam berlalu, aku mengikuti jalan-jalan warga kampung. Berjalan sekian menit, aku ikut makan bakso.
Yang terjadi: perutku sudah terisi dua kali. Yang belum: bacaan. Aku ingin “sarapan” koran dengan mengeluarkan duit tak sedikit. Sekarang, koran-koran mahal. Orang boleh memilih: semangkuk mi ayam atau Kompas. Pilihan lain: semangkuk nasi-soto atau Jawa Pos.
Hari itu aku berjanji tidak pelit. Aku harus beli koran. Bapak dan ibu pedagang menata koran-koran mau dibawa pulang. Pukul 8 pagi. Aku memilih koran, membaca beberapa koran. Mereka pernah bilang agar aku sering datang ke situ. Baca koran dan obrolan, tidak harus membeli koran.
Pagi rasa “siang” aku membeli dua Kompas: Sabtu dan Minggu. Masalah desa ada dalam edisi Sabtu. Cerita pendek, film, dan musik dalam edisi Minggu. Dua koran dalam tas bersamaku menuju rumah Sanie B Kuncoro di Fajar Indah.
Sepi. Sepeda motor diparkir, pintu dibuka sendiri. Sanie keluar menyambut dengan senyum. Aku salah waktu. Acara yang diselenggarakan Pawon dimulai pukul 09.30 WIB. Sejam aku datang lebih awal. Tertawa, tanda aku malu. Di situ, terlihat ada Artie. Dugaanku, kedatanganku mengganggu mereka yang sedang menikmati Minggu segera menjadi siang. Benar. Dua perempuan itu belum mandi dan berdandan.
Duduk di kursi: memandangi beragam tanaman diselingi membaca Kompas. Hari itu kenikmatan bersama kertas. Pengalaman yang berbeda ketimbang bergawai.
Aku mengajukan diri untuk mengurusi rumah. Sanie tidak membolehkan. Sanie mendorong kursi-kursi, membersihkan lantai, dan tikar-tikar digelar. Pengarang kondang tidak sedang bermain teater. Ia bertanggung jawab agar rumah tampak bersih dan rapi, yang nantinya menghormati kedatangan teman-teman. Aku membaca koran dan kadang-kadang melihat Sanie yang mengurusi rumah. Lelaki yang tidak punya malu.
Situasi agak berubah. Rampung mandi dan berdandan, Artie ikut duduk di teras. Kami bercakap macam-macam: dari bacaan anak sampai surat. Dua orang terlena nostalgia. Percakapan memang sastra tapi bergerak ke segala arah. Mengenang masa lalu isinya rindu-dendam. Di ujung percakapan pendek, aku usul agar diadakan seri belajar menulis surat mumpung orang-orang keranjingan bergawai.
Teman-teman mulai berdatangan. Perjumpaan dan salaman-salaman diimbuhi basa-basi. Suasana jadi meriah. Rumah itu kebersamaan. Kami duduk di tikar menghadapi sekardus Vit. Di piring dan kardus, mata melihat donat, sosis, serabi, kacang, dan lain-lain. Kami sedang berpesta makanan, sebelum omongan-omongan para pembaca buku.
Jumlah makanan dan buku yang dibicarakan tidak seimbang. Mata lebih mengarah ke makanan ketimbang buku. Namun, perjanjian hari Minggu itu buku. Aku harus menjaga kesadaran agar memikirkan buku, tidak gampang tergoda makanan. Mulutku tetap saja kedatangan serabi, sosis, gembukan, dan kacang. Teman-teman yang berada di situ memang bermufakat buku tapi sengaja berpesta makanan.
Ruangan yang terasa penuh atau sesak. Yudhi Herwibowo mulai memberi pengantar. Pertemuan yang telah direncanakan sejak lama. Terjadilah saat Minggu di rumah Sanie. Temu dan buku.
Buku-buku di atas tikar, di tangan, dan di pangkuan. Yang mengawali ulasan buku: Sanie B Kuncoro. Pengarang itu mengenakan pakaian kotak-kotak dengan warna lembut. Sosok yang anggun sedang menunjukkan novel berjudul Namaku Alam gubahan Leila S Chudori. Ia menerima novel dari pengarangnya. Keistimewaan yang sulit kami alami.
Novel mengandung sejarah, terutama 1965. Sanie mengisahkan isi buku secara runtut. Selingan adalah tafsir dan perbandingan dengan pengalaman. Aku sudah membaca Pulang dan Laut Bercerita. Namaku Alam, belum pernah ada di tanganku. Aku belum membeli atau meminjam untuk membacanya. Jadi, aku menikmati yang disampaikan Sanie. Beruntung kata-kata yang diucapkan tidak terbawa angin. Sanie duduk bersandar kursi sambil tangan menggerakkan kipas. Ia berkata dan mengundang angin agar terhindar dari sumuk.
Giliran berikutnya: Puitri. Ia dalam dandanan santun: muslimah. Sosok yang rajin ikut pengajian-pengajian. Aku menduga ia bakal membicarakan novel religius. Salah. Ia omong cukup tenang dan jelas. Novel berjudul Gemulung di tangan tidak bisa tenang. Jari-jari itu menggerakkan novel mengikuti gejolak kata dan imajinasi. Bagiku, omongan Putiri hari itu lancar, tidak seperti masa lalu. Apa ia sudah menjadi penceramah setelah bertahun-tahun ikut pengajian? Aku beharap ia memang penceramah tapi tak melulu masalah agama.
Novel yang ia baca ditulis oleh pengarang yang terbiasa menggarap cerita untuk film-televisi. Lumrah saja isi novel mendebarkan dan “mengejutkan”. Puitri bisa memberi penilaian mengenai penokohan dan latar. Aku kagum menyaksikan Puitri sebagai pembaca, bukan sekadar sebagai penggubah puisi atau cerita pendek.
Di sampingku, perempuan berpenampilan istimewa. Ia menjadi pengulas ketiga: Yessita. Sejak lama, aku melihat penampilannya mengesankan sadar mode dan bercitarasa muda. Sosok ibu yang suka bersepeda dan menulis cerita itu tampak mengenakan celana panjang dan baju dengan warna selaras. Kalung di leher. Jam tangan itu tetap mengabarkan waktu. Di kepala, topi terlihat dipasang dalam posisi terbalik.
Ia seru menceritakan arwah, sejarah, keluarga, kota, dan lain-lain. Pemicunya adalah novel berjudul Kereta Semar Lembu. Novel yang meraih penghargaan DKJ. Yessita membaca saat masa wabah. Ia sulit menganggap itu novel horor-mengerikan. Yang mengesankan adalah sejarah dan pengalaman kota-kota.
Aku yang di sampingnya merasakan takut. Novel isinya arwah dan kematian. Semestinya, Yessita menceritakan untuk edisi malem Jumat. Ketakutanku agak berkurang bila melihat es teh di depan Yessita. Teman-teman minum Vit tapi Yessita bergengsi: memamerkan es teh. Pemandangan yang menyegarkan.
Urutan selanjutnya: Yudi Agusta. Lelaki berkacamata yang akhir-akhir ini sakit-sakitan. Inginku ia waras-waras saja agar rajin menulis novel dan cerita pendek. Di tangannya, novel bercap DKJ. Setahuku, pengarang novel itu pernah terlibat dalam perdebatan ramai di media sosial, perdebatan tentang tulisan. Yudi tidak menyinggungnya tapi menyampaikan hasil percakapan dengan pengarang mengenai “pinjam-buku” atau “beli-buku”.
Cerita yang masih penuh kesedihan. Cerita bergerak dari Aceh, Medan, dan Jakarta. Aku merasa “sedih” menikmati sinopsis. Mataku memilih untuk melihat pengulas yang mengenakan kaus warna hitam. Aku membaca kata-kata di kaus sisi depan. Kalimat dikutip dari Rumi: “Wahai Tuhanku, jika kasih-Mu hanya layak bagi yang berhati suci, ke manakah para pendosa mencari perlindungan?” Aku menganggap kutipan sesuai sinopsis novel yang disampaikan Yudi.
Di samping Yudi, ada Ngadiyo. Gilirannya berbagi kesan setelah membaca buku berjudul Mimi Lemon. Buku yang dibeli gara-gara desain atau kemasan apik. Isinya pun apik. Ngadiyo mendapat kesan-kesan bahwa pengarangnya matang dalam menghasilkan cerita-cerita.
Aku belum pernah memegang atau membaca Mimi Lemon. Dulu, yang aku baca berulang kali adalah buku puisi CH. Setahuku, ia adalah penggubah puisi yang perhatiannya tentang anak atau keluarga. Ia ternyata menulis sekian cerita pendek. Pada suatu hari di Jogjakarta, aku pernah bertemu dan bercakap sebentar dengan CH. Yang kami obrolkan adalah sastra dan anak.
Yudhi sebagai pemandu acara akhirnya menjadi pihak yang membicarakan buku. Pilihannya novel berjudul Malam Seribu Jahanam gubahan IP. Yang pernah terbaca olehku Sihir Perempuan. Beberapa tahun lalu, aku membeli Gentayangan tapi belum berhasil khatam. Yudhi mengajak teman-teman masuk ke novel terbaru IP. Bagiku, pengulas terhebat hari itu Yudhi Herwibowo. Ia bermain sinopsis dan penilaian-penilaian.
Omongan bisa disalin menjadi tulisan. Aku tidak tahu, sadarkah Yudhi saat omong menggebu-gebu sebenarnya sedang “menulis” resensi untuk novel. Aku tertarik ingin membacanya. Berharap saja suatu hari menemukan edisi bekas di pasar buku Gladag atau media sosial. Yudhi berhasil membuatku memberi perhatian lebih untuk memuji novel Indonesia.
Jatah terakhir: Indah Darmastuti. Ia duduk di bawah televisi dan kipas angin yang agak berisik. Namun, tangan Indah tetap menggerakkan kipas, yang aku duga diperoleh dari kedatangannya ke hajatan pernikahan. Ia dalam penampilan anggun. Rambut yang rapi itu tampak elok saat terkena angin yang lembut.
Di tangannya, aku melihat novel Jatisaba. Aku membaca edisi awalnya, sebelum hadir di pasar oleh penerbit Grasindo. Dulu, aku sempat menyinggung novel itu saat acara di Salatiga. Acara diadakan para mahasiswa Semarang. Yang menjadi pembicara: aku dan pengarang Jatisaba. Dulu, kami bercakap biasa. Pada suatu masa, aku tidak menduga si pengarang kuliah di negara jauh dan pemikiran-pemikirannya bergerak jauh. Aku pasti mengaguminya.
Indah tak mau kalah dari Yudhi. Ia serius membicarakan novel. Yang tidak terlupa: omongannya menghasilkan tawa. Teman-teman terhibur oleh masalah keamburadulan demokrasi di desa. Novel terbit beberapa tahun lalu tapi dianggap Indah cocok dibicarakan menjelang 2024. Novel yang patut masuk daftar 100 “terpenting” dalam sastra Indonesia abad XXI.
Tujuh buku dibahas tujuh pembaca itu berakhir. Aneh, semuanya berakhir tanpa diikuti habisnya makanan-makanan di piring dan kardus. Padahal, ada 19 orang di ruangan, termasuk lelaki asal Australia. Teman-teman terlena cerita-cerita. Akibatnya, mereka lupa makan atau berkurang gairahnya untuk makan. Teman-teman sungguh kaum beriman sastra ketimbang kaum beriman makanan. [] Kabut
