Hujan di Telinga
seseorang, yang kalah dengan nikmat Tuhan
melewati kebosanan demi kebosanan
dengan cara mengudara
lewat kata-kata
yang hidup dan berkembang biak
di jantung telepon genggam
kemudian muncul hantu
yang menari di tengah hujan
sembunyi di balik ramainya bunyi atap
dan pekikan udara
aku menyaksikan semua itu sambil merokok
dan menulis sebuah puisi iseng
di dalam telinga, muncul bunga bunga
2019
Ke Tenggara Jiwa
menangkal kesepian demi kesepian
yang diam di sarkofagus tepi jiwa
aku berjoget di udara
bersamamu, melewati banyak lagu burung
di awan tinggi
kita menikahi hujan dan membasahi banyak rumah
yang selalu berdoa
terus berdoa
agar senantiasa kaya
di atas sana
malaikat bercahaya putih suci bersih
sebagai peracik ulung kebahagiaan
berencana membakar sebuah mall
agar seluruh orang yang cari duit di sana
pulang, dan meminta
menangis
dan memeluk
agar ibu
selalu mau melepas diri dari keterpojokan
dan selalu tinggal
di rumah
menyapu banyak masalah
2019
Obat Gila
dengan segala hormat, puisi
dengan segala takut, segala sisi formal,
segala aturan
agar arus bawah tetap di bawah
agar purna akal tetap di langit tinggi
kepadamu puisi
kugali huruf-huruf
tegang badan sendiri bak kaktus di tengah
hutan
tiada matahari tiada angin
tiada apa pun
yang ada hanya cahaya samar
menembus hingga ke tulang
dan ketika pulang
hai puisi, hai umur panjang
kupulangkan segala kenang
agar purna harapan
yang diam di tepi tangis
panjang
oh doa doa
oh apa saja
lekas pulangkan segera
obat bagi jiwa
2019
Beku
siluman berkepala nabi
mendaftarkan diri masuk pegawai negeri
agar candala demi candala
di lebat hujan sana
tiada meminta apa
bikini gadis itu tersangkut di tepian pulau
ketika salju menampar mukanya
di sisi terakota
lelakinya, namanya topik
sedang memasak es batu
dan menanak banyak embun
untuk perempuan salju tadi
dua gelas sirup rasa jambu muda
tersedia begitu saja
setelah badai salju ribuan daya
menenggelamkan tubuh-tubuh penuh
elektron
dan, mati juga akhirnya
kala topik bertanya,
“pranata itu apa, hai kekasihku yang sudah
tiada?”
2019
Bertahan
seekor sapi dari dalam kitab suci,
sejak 14 abad lalu, mencoba
muncul ke dalam pinggan nasimu
tapi gagal, selalu gagal
sebab, ayam-ayam di kampus
dan ayam kampus di pusat perbelanjaan
menawarkan nubuat gurih nikmat
ke dalam tubuhmu yang universal
dirimu, dan sekularisme yang sering main
di celana
menjadi juri bagi dirimu sendiri
kau bertahan, selalu bertahan
agar lepas segala beban
agar pergi ingatan
akan tetapi, kau selalu menolak
kedatangan sapi dari kitab suci, ke dalam
pinggan nasi
yang kau upayakan diri tanggungmu
mampu menahan isak ribuan tahun
ragamu, dan asa kemerdekaan
bertahan, bertahan, bertahan
demi ayam-ayam amerika di restoran
kenamaan
dan seragam sekolah anakmu
kau menarik kembali sapi di kitab suci
dan memasak sebuah sup
kau menangisi kuahnya
sebab
itu kuah air matamu
itu kuah pedih sembilu
2019
Ruang Tulis
hai
ke mana seluruh isi bumi?
aku ingin menitipkan lara ini
untuk teman segala kenang
untuk hidup!
apa? apa aku harus tiap hari di sini
sendiri di balik sepi
apa? kau tak mendengarku?
oh baiklah
akan kutelan sendiri hidupku
aku tak akan mati-mati
tak akan pernah kalah!
lihat saja!
2019
Ruang Tulis /2/
sungguh, aku ingin menemukan diriku
di kedalaman sendiri
di tepi apa pun
tidak ada suara
tidak apa pun
bahkan diriku pun tak
kunjung kutemukan
aku terus menulis
dan menulis
hingga letihku
penuh seluruh
2019
Ruang Tidur
di gelap hebat ini, kekasih
aku tertidur, dan terbangun
satu jam kemudian.
tidak ada apa-apa di sini
kecuali doa
doa-doa panjang
yang kutulis, kurangkai, kudiamkan,
menjadi seekor puisi yang
mudah-mudahan kau mau
mudah-mudahan kau
lelap bersamanya
dan membangunkanku lagi
satu jam kemudian
2019
Ruang Tidur /2/
kubikinkan ruang tidur untukmu
biar kau tak butuh lagi pelukan,
kening yang telah dikecup,
atau sentuhan ngilu ke jantung
besok senin, kekasih
dan kau masih terbang di udara?
tidak, sesekali jangan begitu
kewarasan orang kota akan menelanjangimu
2019
Tidur
di lagu terakhir ini
telah kuhempas badan
kuhempas apa saja!
aku ingin ke sana, Rabbi
ke sudut jauh
memulangkan segala ingin
menafikan semua mau
rebah aku dalam tiap sujud
tunduk, aku patuh
tolonglah, tolong aku
mengenal yang namanya istirah
2019
Ruangan Ini Beku dan Dingin
salju masih menembus rumah
dinginnya ke jantung
kecut badan remuk di tulang
kunyalakan ponsel pintar
kutarik orang-orang
untuk menerjemahkan hidup pelik ini
menerjemahkan peta
tapi, seorang pun tidak
mengetuk pintu
mengucap salam, atau apa pun
Padang, 10 Januari 2019

Maulidan Rahman Siregar, sekarang lebih suka bikin arsip. Belum giat membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.
