Dunia Menulis

Nama-Nama yang Diingat

Dalam dunia menulis, ada satu kebiasaan kecil yang diam-diam sering terjadi tapi jarang dibahas serius, menyisipkan nama teman ke dalam tulisan. Entah sebagai penghormatan, candaan, atau balas dendam terselubung. Praktik ini lumayan umum, bahkan kadang jadi semacam ritual rahasia antarpenulis.

Di balik layar monitor yang menyala dan kopi dingin, ada nama Rina yang tiba-tiba muncul sebagai tukang tipu, atau Andi yang jadi maling ayam paling dicari se-kecamatan. Padahal, Rina dan Andi asli sedang sibuk kerja kantoran dan tak tahu soal nasib mereka dalam fiksi.

Latar belakangnya beragam, ada yang tulus, usil, dan absurd. Mari kita bahas satu per satu, dengan santai, tapi tetap kita buka lebar keran agar mengalir tajam dan jernih.

Penulis memasukkan nama teman dalam cerita karena penghormatan. Sahabatan sejak TK, ditulis jadi dokter di cerpen. Sentimental, manis, kadang bikin haru. Ceritanya tragis dan tokohnya meninggal dengan gagah di akhir cerita, ada semacam rasa abadi dalam kenangan. Tapi ya, tetap saja, kadang si teman kaget. “Lho, kok aku mati ditabrak truk? Kan kita tadi bareng makan bakso?”

Fenomena ini menunjukkan bahwa penulis kadang lebih mesra dengan karakter imajiner daripada dengan teman sendiri. Ironis memang, karena hubungan nyata bisa dingin, tapi di  fiksi, mereka hangat dan puitis. Dunia nyata, lupa ulang tahun. Di fiksi, rela mati di bab terakhir demi cinta.

Penulis memasukkan nama teman dalam cerita hanya karena iseng. Biar dia baca dan kaget. Maka muncullah karakter Arief, si penjaga toilet umum yang punya ambisi jadi pesulap. Atau Nina, si pemilik warung kelontong yang doyan gibah sambil ngitung duit receh.

Jenis penulis begini ibarat seniman graffiti yang coret-coret nama temannya di dinding tanpa izin. Bedanya, ini dilakukan di dinding sastra. Kadang lucu, kadang keterlaluan. Seorang teman pernah mengeluh, “Aku dijadikan karakter tukang tipu, padahal aku cuma nggak balas WA dua hari.” Lalu dijawab enteng, “Inspirasi datang dari sakit hati yang tak sempat diungkap.”

Nah, ini bagian yang agak licin. Penulis memakai nama teman karena dendam tak berbalas. Mungkin dulunya satu tongkrongan, terus dikhianati soal gebetan, atau utang pulsa tak kembali. Maka penulis membuat karakter si teman jadi tokoh antagonis paling menyebalkan. Di dunia nyata tidak bisa mengutuk, tapi di fiksi, karma bisa diberlakukan.

Tentu ini bukan tindakan bijak, tapi kadang jadi obsesi yang sulit ditolak. Di luar, penulis senyum-senyum. Di dalam, ada karakter bernama Fajar yang berkhianat, ketahuan selingkuh, lalu dihukum gantung di ending. Dan saat ditanya, “Ini tokohnya kayak kenal,” penulis menjawab tenang, “Kebetulan aja.”

Penulis juga kadang memakai nama teman karena malas mikir nama. Nama yang akrab di kepala langsung disulap jadi nama karakter. Dan inilah awal mula kekacauan, karakter Indra yang di dunia nyata penjual sate, kini jadi vampir vegetarian. “Tapi aku makan daging tiap hari, bro!” protes Indra yang asli.

Salah satu contoh menggelitik yang pernah terjadi, ada cerpen berjudul: Yulia dan Kenangan yang Hilang. Yulia yang asli membaca dan mewek karena merasa kisahnya diceritakan. Kata penulis, “Lho, aku pakai nama itu karena nama mantan guru matematika, bukan kamu.”

Bahkan kadang nama teman dipakai untuk tokoh hewan peliharaan. “Anjingnya aku kasih nama Bayu, lucu kan?” Lalu Bayu yang asli membaca ceritanya, dan menyeringai. Antara pengin tertawa atau lapor polisi.

Uniknya, meski kadang mengganggu, banyak teman justru bangga namanya dipakai di cerita. Ada rasa bangga yang aneh, seperti mendapat plakat tak resmi: Namaku hidup dalam cerita orang. Bahkan meski karakter itu minor atau aneh, tetap ada kebahagiaan. Sebab dalam dunia yang penuh noise, bisa diabadikan dalam tulisan, meski jadi tukang parkir, itu bentuk eksistensi yang tak semua orang dapat.

Tapi tetap saja, ini menjadi pengingat bahwa menulis bukan hanya soal imajinasi, tapi juga tanggung jawab. Sebab nama bukan sekadar rangkaian huruf. Ia membawa sejarah, identitas, dan kadang utang.

Memakai nama teman dalam tulisan bisa jadi lucu, sentimental, atau menegangkan. Tergantung niat penulis dan nasib si nama. Fenomena ini menunjukkan betapa tipis batas antara dunia nyata dan fiksi, dan betapa kadang fiksi bisa lebih jujur dari kenyataan.

Jadi, buat para penulis, kalau ingin pakai nama teman, pastikan niatnya benar. Jangan sampai tulisanmu jadi alat balas dendam. Dan buat para teman, kalau menemukan namamu di cerpen, tersenyumlah. Apa pun alasan penulis, setidaknya kamu diingat. Dalam cerita. Dan itu kadang lebih abadi daripada janji temu yang tak pernah terjadi. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *