Dunia Buku

Satu, dong!

Hari ketika penulis merilis buku barunya adalah hari sakral. Seperti petani panen padi. Seperti seniman buka pameran. Seperti mantan tiba-tiba minta maaf, sangat berarti, bermakna, dan agak getir. Tapi di tengah segala haru dan doa, datanglah satu fenomena klasik yang entah kenapa tak pernah punah, teman minta buku gratisan.

“Ih, selamat ya! Bagi bukunya dong satu!”

Kalimat itu manis. Sekilas seperti ucapan tulus. Tapi di telinga penulis, nadanya berubah seperti: “Selamat ya, traktir aku pakai hasil keringatmu, boleh?”

Dan anehnya, mereka bilang sambil tertawa. Seakan guyonan. Seolah ini lelucon lama yang masih layak tayang, seperti sinetron azab.

Coba perhatikan, teman yang tak pernah baca tulisan kita, tak pernah beli buku kita yang pertama, tak pernah share atau komen satu pun karya kita, adalah orang pertama yang minta gratisan saat kita rilis buku baru. Dan biasanya mereka bilang: “Kita kan temen.”

Kalimat itu, entah kenapa, langsung membuat udara sekitar jadi dingin. Kita mendadak ingat masa-masa begadang, revisi, deadline, naskah yang ditolak, honor ditunda. Kita ingat bahwa di negeri ini, penulis bukan profesi glamor. Bukan seperti selebgram endorse serum pencerah. Setiap buku terjual mungkin hanya menghasilkan royalti dua ribu sampai lima ribu rupiah. Satu kopi hitam kecil. Kalau teman minta satu buku gratis, itu sama dengan kehilangan royalti dari sepuluh buku. Artinya, temanmu barusan meminum sepuluh cangkir kopi kecil dari darah dan tinta keringatmu.

Lucunya, orang yang enggan beli buku, bahkan diskonan pun ogah, justru tak pernah keberatan beli kuota untuk nonton TikTok 3 jam sehari. Mereka bisa transfer 150 ribu buat beli skincare viral, tapi tak sanggup beli buku 60 ribu yang ditulis temannya sendiri.

Itu seperti datang ke warung tetangga dan bilang, “Wah, laris ya! Bagi mie instannya satu bungkus dong, gratis aja. Kita kan tetangga.”

Konyol? Ya. Tapi di dunia buku, kejadian ini nyata.

Ada teman yang akan bilang, “Ah masa temen nggak dikasih buku?” Tapi justru, teman sejati biasanya tak akan minta. Mereka tahu bahwa mendukung artinya membeli. Mendukung artinya menyebarkan. Mendukung artinya tidak menjadikan keringat orang lain sebagai hadiah gratisan.

Dan jika kau memang benar teman, kau tak akan membebani si penulis dengan kode-kode seperti, “Duh, pengen sih bukunya tapi dompet lagi kurus nih,” sambil melirik nanar. Karena penulis itu bukan dewa. Dia juga bayar listrik. Dia juga harus makan. Bahkan, kadang si penulis tak sanggup beli bukunya sendiri. Ironis, bukan? Penulis yang menciptakan buku, justru tak bisa mengakses hasilnya karena harga cetak dan royalti yang timpang.

Kalau memang harus gratisan, mungkin penulis perlu buat formulir permintaan buku gratis. Dengan pertanyaan seperti ini:

“Sudahkah Anda beli buku saya sebelumnya?”

“Pernahkah Anda membagikan info buku saya di media sosial?”

“Apakah Anda bersedia membayar buku ini dengan nasi goreng telur dan teh manis hangat minimal tiga kali?”

Atau mungkin penulis perlu mencetak buku edisi khusus, halaman kosong semua, cuma ada tulisan besar di depan: Ini buku gratisan, karena kamu minta, bukan karena kamu peduli.

Tapi di tengah geli dan perih itu, selalu ada kejutan manis, teman yang beli lebih dari satu eksemplar. Teman yang berkata, “Aku beli dua. Satu buatku, satu buat aku kasih ke orang.”

Dan percayalah, air mata penulis bisa menetes gara-gara hal itu. Bukan lebay. Tapi karena akhirnya ada juga yang mengerti, membeli buku teman adalah bentuk penghormatan. Bukan soal uangnya, tapi soal pengakuan atas kerja keras.

Jadi, jika temanmu merilis buku, jangan minta gratisan. Beli. Promosikan. Beri ulasan. Tunjukkan bahwa persahabatan itu bukan berarti minta jatah gratis, tapi memberi ruang untuk berkembang. Tak ada yang salah dengan ingin baca, tapi salah besar jika ingin gratis hanya karena merasa dekat.

Karena kedekatan yang membuatmu menuntut tanpa memberi, bukan kedekatan, itu keegoisan berjubah keakraban. Dan buku, sebagaimana cinta, pantas dihargai, bukan diminta tanpa usaha.

Akhir kata, mari kita akhiri tradisi “teman minta buku gratis” dan mulai budaya “teman beli buku teman.” Karena penulis bukan pabrik hadiah. Ia cuma manusia yang sedang berjuang, satu kata demi satu kata. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *