
Di dunia buku ada dua jenis manusia, mereka yang berburu buku untuk dibaca dan mereka yang berburu buku bertanda tangan penulisnya. Yang pertama membeli karena haus isi, yang kedua membeli karena lapar prestise. Dua-duanya sah, tapi yang kedua lebih ribet.
Tanda tangan penulis di buku katanya seperti jimat. Seketika menaikkan kasta buku dari biasa menjadi yang limited edition. Harga melonjak, gengsi terangkat. Pemiliknya pun merasa istimewa. “Eh, bukuku ada tanda tangan penulisnya, loh!” katanya, dengan nada tak sekadar memberitahu, tapi menuntut dikagumi.
Dulu, tanda tangan punya magis. Ada ritualnya. Pembaca datang ke acara peluncuran, berdiri antre, tangan gemetar saat salaman dengan penulis, lalu menerima coretan itu dengan hati berbunga. Ada interaksi, ada momen yang bisa diceritakan. Tapi sekarang? Tinggal buka e-commerce, cari yang ada label signed copy, bayar lebih mahal, beres. Tidak ada interaksi, tidak ada cerita. Magisnya hilang, dan sekadar transaksi.
Lebih ironis, banyak yang membeli buku bertanda tangan bukan untuk dibaca, tapi dipajang. Mereka memperlakukannya seperti artefak museum, disimpan rapi di rak kaca, diberi penerangan khusus, dijaga dari debu dan tangan jahil. Mungkin nanti kalau butuh dana, bisa dijual. Kalau ditanya apa isi bukunya, mereka jawab, “Belum baca, sih. Tapi ini edisi spesial!”
Dan paling lucu di Indonesia, buku bertanda tangan dan tidak, sama saja. Di luar negeri, tanda tangan bisa melipatgandakan harga, meningkatnya aset koleksi seiring waktu. Di sini? Tetap bisa ditemukan di rak obral, bertumpuk dengan buku lain yang tidak laku. Kenapa? Karena di sini, buku bukan barang berharga. Literasi bukan investasi. Buku dianggap hobi mahal yang tidak memberi keuntungan.
Kita ini bangsa yang lebih menghargai tanda tangan di dokumen proyek ketimbang di halaman buku. Pejabat bisa menandatangani kontrak pengadaan fiktif, langsung cair miliaran. Tapi tanda tangan penulis di buku, tidak ada yang peduli. Mana yang lebih bernilai? Jelas yang bisa menghasilkan duit cepat.
Bicara soal tanda tangan pejabat, mereka adalah spesies yang paling gemar menandatangani sesuatu tanpa membaca. RUU? Teken. Anggaran? Teken. Surat keputusan? Teken. Tidak perlu repot memahami isinya. Yang penting ada tanda tangan, urusan selesai. Lalu rakyat disuruh rajin membaca, katanya demi meningkatkan kecerdasan bangsa. Ironi yang terlalu nyaring.
Lihatlah, buku yang serius, yang isinya membongkar kebusukan sistem, yang penuh dengan pemikiran kritis, justru sering tidak laku. Yang laris justru buku motivasi instan, buku self-help yang menjanjikan kesuksesan dengan cara cepat, atau buku yang viral di medsos karena sampulnya estetik. Tak heran, pejabat pun lebih gemar membaca laporan keuangan yang sudah dimanipulasi daripada membaca kebijakan yang disahkan sendiri.
Tapi mungkin memang begitulah dunia. Termasuk hal cinta. Ada yang benar mendalami dan memahami, ada yang hanya tertarik pada kemasan. Nikah tanpa cinta, sebatas tanda tangan di kertas. Sah hukum, tapi kosong rasa. Begitu juga buku, ada tanda tangan penulis, tapi tidak dibaca.
Dan lebih menggelikan, fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan pembaca biasa. Bahkan di dunia akademik pun, buku sekadar simbol status. Pernah melihat rak buku pejabat atau akademisi yang penuh dengan buku tebal dan serius? Terlihat mengesankan, sampai kamu sadar bahwa sebagian besar dari buku masih tersegel plastik. Tidak pernah dibuka, apalagi dibaca.
Jadi, mari kita buat lebih jujur. Apa yang sebenarnya kita cari dari buku bertanda tangan? Apa benar karena kita ingin menyimpan sesuatu yang berharga, atau hanya ingin menunjukkan bahwa kita memiliki sesuatu yang lebih dibanding orang lain?
Buku bertanda tangan tetaplah sebuah buku. Jika isinya tidak dibaca, tanda tangan itu tidak lebih dari sekadar coretan tak berarti. Sama seperti tanda tangan pejabat di proyek-proyek bodong, sah secara admin, tapi kosong makna.
Mungkin sudah waktunya kita kembali ke akar. Tidak perlu mengagungkan tanda tangan, tidak menjadikan buku sebagai aksesoris. Buatlah sememangnya, memberi makna bukan siapa yang menandatangani, tapi siapa yang membaca dan memahami. [] Redaksi

Wow keren…..kalau saya berburu buku untuk dinikmati isinya, dipahami makna dan pesan yang bermakna yang bisa diambil dari intisari isinya sebuah karya. Untuk tanda tangan penulis itu adalah bonusnya sebagai jalan tol untuk bertanya apa pesan moral yang tersirat di hasil karyanya.
Membaca itu adalah jendela dunia dan buku adalah teman duduk terbaik yang memberikan pencerahan untuk menambah wawasan. Terimakasih. Teruslah menjadi manusia yang berkarya dan bermanfaat. Sukses selalu 👍
Terima kasih, Kak Denis atas wawasan yang dapat melenturkan pemikiran. Adem bacanya. Salam
Terimakasih 👍
Terima kasih juga, Kak Denis. Salam.