
Sebelum lanjut mengulik perihal menulis, bahasan ini menarik kita simak lebih dulu. Konon, menjadi penulis yang sudah punya nama adalah karunia dari semesta. Segala pintu katanya akan terbuka otomatis. Lomba? Ah, sudah pasti menang. Kirim ke media? Tinggal kirim, redaksi langsung pasang, tanpa tedeng aling-aling. Hidup para penulis ternama seperti naik becak antigravitasi, melaju tanpa goyangan, bebas dari lubang, dan tentu saja, bebas ongkos.
Padahal, realitasnya tak seindah mitos-mitos urban yang berseliweran di grup-grup penulis. Justru di balik nama yang disebut-sebut, ada tekanan, ada beban, dan tentu saja ada stigma yang nyaris tak bisa dinegosiasi. “Kamu kan sudah terkenal, masa kalah?” atau, “Kamu sih enak, tinggal kirim pasti dimuat.” Yang tak banyak tahu, kadang si penulis ‘besar’ itu telah mengirim naskah ke media bahkan sampai malas menghitung karena saking banyaknya yang ditolak, tapi karena tak mengaduh di linimasa, semua orang mengira ia sedang berpesta pora.
Masalahnya bukan semata pada penilaian yang keliru. Masalahnya ada pada cara kita meletakkan makna nama dalam lanskap kesusastraan kita. Kita terlalu tergoda untuk percaya bahwa nama adalah jimat. Nama adalah kekuatan gaib. Nama adalah jalan pintas. Lalu kita pun, sadar atau tidak, mulai menggeser perhatian dari karya ke pencitraan, dari tulisan ke popularitas.
Dunia menulis, sayangnya, mulai meniru dunia politik. Kita membenci dinasti, tapi diam-diam kita bangun dinasti nama. Kita hujat politisi yang hanya menang karena trah keluarga, tapi kita taburkan pujian pada penulis yang menang karena sudah langganan. Di sinilah tragedi kecil itu bermula, ketika kualitas dikalahkan oleh asosiasi. Ketika naskah yang tulus harus bersaing dengan mitos personal yang dibentuk oleh puja-puji massal.
Kita sedang melatih generasi penulis untuk takut, bukan untuk tumbuh. Takut ikut lomba karena takut bersaing dengan yang suhu. Takut mengirim ke media karena merasa tak punya peluang jika belum punya nama. Bahkan, lebih parah, kita memelihara kecurigaan yang absurd, bahwa redaksi itu hanya memuat tulisan teman-teman sendiri. Bahwa juri hanya akan memilih karya dari lingkaran dalam. Bahwa semuanya sudah diatur dari awal, dan menulis hanyalah formalitas kecil untuk mengisi panggung pertunjukan yang sudah punya pemenang sejak lampu belum dinyalakan.
Kecurigaan ini menular. Menginfeksi semangat. Mengikis etos. Kita berhenti menulis karena merasa sistem sudah berat sebelah. Lalu kita ikut menyebar narasi: percuma, kalau bukan si anu, ya nggak bakal dimuat. Kita jadi generasi penulis yang belum menulis, tapi sudah menyerah. Belum ikut, sudah putus asa. Kita kehilangan satu hal yang membuat dunia menulis istimewa, yaitu kemungkinan.
Sementara itu, penulis yang dianggap sudah punya nama pun tak kalah sial. Mereka terpaksa hidup dalam ekspektasi orang lain. Ketika menang, mereka dituduh curang. Ketika kalah, mereka dicibir: “Wah, sudah habis masa jayanya.” Ketika mengirim karya ke media kecil, mereka dianggap mencuri lahan. Ketika tak muncul lama, mereka disebut sombong dan lupa komunitas. Dunia ini, kadang, kejam dalam bentuk yang halus, yakni label.
Dan dari semua itu, satu yang paling menyakitkan adalah ketika karya tidak lagi dipandang sebagai karya, tapi sebagai atribut. Tulisan bukan lagi ruang ekspresi, tapi hanya menjadi efek dari “siapa yang menulis”. Seolah nama lebih penting dari narasi. Seolah yang kita cari bukan apa yang ditulis, tapi siapa yang menulis.
Padahal dunia menulis tidak (dan tidak boleh) bekerja seperti itu. Dunia menulis bukan parlemen yang dipenuhi jatah kursi. Ia adalah ruang bebas di mana semua orang bisa hadir dengan gagasan, rasa, dan suaranya. Penulis pemula punya peluang yang sama besarnya dengan penulis mapan. Karya yang jujur, kuat, dan pas sasaran bisa menembus siapa pun, dari mana pun. Bahkan jika tak dimuat hari ini, tak menang pekan ini, ia akan menemukan jalannya sendiri.
Dan inilah paradoks yang patut kita syukuri: dunia menulis tidak pernah stabil. Ia selalu cair, selalu berubah. Hari ini seseorang bisa tak dikenal, besok karyanya bisa viral karena menyentuh begitu banyak hati. Hari ini seseorang bisa disanjung, besok ia ditinggal karena terlalu nyaman dengan pujian.
Jadi, untuk para penulis yang merasa belum punya nama: tak perlu minder. Tak perlu takut. Tak perlu sibuk mengukur peluang dengan kaca mata ketakutan. Satu-satunya yang perlu kamu lakukan adalah menulis sebaik mungkin, sesering mungkin, dan sebisa mungkin tanpa prasangka pada hasilnya. Dunia literasi tidak sedang mencari selebritas, ia sedang mencari suara-suara baru yang tulus dan menggugah.
Dan untuk para penulis yang katanya sudah punya nama: bersabarlah. Jangan cepat lelah dengan ekspektasi. Jangan menyerah hanya karena ditolak berkali-kali. Nama besarmu bukan jaminan, tapi juga bukan kutukan. Ia hanya bagian kecil dari perjalanan. Yang penting tetap menulis, tetap bergairah, tetap merunduk di hadapan kata-kata.
Karena pada akhirnya, yang akan bertahan bukanlah nama, tapi karya. Nama bisa memudar, tapi tulisan yang menyentuh hati akan tetap dibaca meski penulisnya sudah tiada. Maka mari kita jaga dunia menulis ini tetap bening, jujur, dan menyenangkan. Bukan arena saling curiga, tapi ruang saling tumbuh. Bukan ladang perebutan posisi, tapi taman untuk saling menyiram harapan. Dan biarlah nama, jika memang harus tumbuh, tapi tumbuh dari karya. Bukan sebaliknya. [] Redaksi
