
Apakah kamu pernah mengalami, sesaat setelah membeli buku, niat hati ingin langsung membaca tapi malah tangan mendadak tremor yang akhirnya membuat buku terlepas dari genggaman, lalu jatuh ke lantai basah? Jika pernah, kamu tidak sendiri. Pastilah ada gerutu, sebal, dan sedikit penyesalan. Kesan terhadap buku yang ada di angan-angan mendadak kabur. Tapi hidup itu memang penuh kejutan, kok. Selalu ada pelajaran dari setiap kejadian. Selalu ada pasang usai surut. Dan semakin cepat kamu move-on, maka semakin cepat pula kamu bisa menertawakan kebodohanmu. Ibarat diputusin pacar sepihak karena ia sudah bosan. Jangan sedih. Dalam sebuah kesuksesan, selalu ada mantan yang menyesal. Kamu akan bersinar pada waktunya.
Kembali ke masalah buku basah. Tulisannya memang tetap masih bisa terbaca, tapi secara estetika nilainya sudah menurun. Coba bayangkan jika genangan airnya berasal dari tumpahan kopi, tentu nodanya akan semakin pekat. Mau dikeringkan di bawah matahari langsung, bisa-bisa kertasnya garing macam rempeyek. Mau dibiarkan saja di suhu ruang, akan lama sekali kering, padahal aslinya sudah kebelet baca. Alhasil biasanya cukup dengan dikeringkan menggunakan tisu, diangin-anginkan sebentar, lalu mulai dinikmati. Begitu masuk paragraf pertama, niscaya kamu akan segera lupa dengan tragedi sebelumnya.
Tapi lain halnya jika noda di buku berasal dari cairan kental yang tidak bisa hilang. Seperti kecap, saus, madu, atau susu kental manis. Mungkin sedikit merepotkan. Karena jika tidak benar-benar bersih dan kering, bukan hanya bercak noda yang tertinggal, semut-semut juga akan menggerayangi. Sesungguhnya semut-semut itu bermaksud baik: membantu menghabiskan sisa-sisa cairan. Hanya saja, jika tidak diawasi, bisa-bisa mereka mendadak berubah menjadi para penambang pasir yang terus saja menggali tanpa henti. Kertas bisa semakin tipis, hurufnya tak lagi terbaca. Parahnya, bolong dan rusak di mana-mana. Mood membaca bisa jadi hancur seketika.
Ada lagi noda yang bisa cukup mengganggu. Yaitu ketika buku benar-benar basah seluruhnya. Bisa akibat bencana banjir, atau sekadar lupa membawa mantol saat hujan. Biasanya setelah kering, akan meninggalkan bekas seperti kerutan di wajah karena termakan usia. Sudah tidak menarik lagi. Jangankan untuk dibaca, sekadar disentuh saja sudah hilang selera.
Tapi sebenarnya, noda pada buku bukan lagi masalah jika niat dari awal untuk membaca sudah kuat. Tak peduli bercak-bercak serupa pulau yang tersebar di nusantara. Atau kertas yang sudah keriput dan kaku seperti kakek-nenek. Atau ada aroma tidak sedap yang mungkin saja masih tertinggal. Semua hanya tampak seperti jerawat kecil. Tidak penting! Kalau sudah cinta, semua halangan hanya terasa seperti sudutan rokok: kaget, berbekas, tapi tidak akan membunuhmu.
Jadi teruslah membaca. Buku lawas, buku yang ternoda, bahkan buku yang beberapa halamannya hampir lepas. Karena sejatinya, buku yang mungkin terlihat buruk rupa, menyimpan kisah dan cerita yang mampu mengubah hidup. Ibarat kisah romantis seorang Cinta dan Rangga. Meski pada awalnya gengsi, lama-lama bisa berubah menjadi suka, bukan? Begitu pun buku yang tampak tak lagi sempurna. Semakin kamu mau memahami isinya, kamu akan bisa dibuat jatuh cinta. [] Redaksi
