
Dini hari tanpa kopi. Hari telah Jumat, 10 November 2023. Mataku menatap lagi tumpukan buku yang bertema Jawa. Buku-buku yang semalam bersamaku, sebelum mata terpejam. Mereka dalam hening, sebelum tanganku menyentuh dan membukanya pelan-pelan. Yang membaca (lagi) tak minum kopi.
Kompor menganggur tanpa panci dan air. Aku gagal membuat kopi. Di lemari, tak menemukan bungkus kopi. Habis. Lupa membeli untuk kebahagiaan dini hari. Segelas air bening dianggap cukup untuk menuju “mata air” Jawa dalam buku-buku.
Pagi itu aku meninggalkan rumah, setelah berhasil membuat pameran jemuran pakaian. Mampir ke rumah tetangga: setor 12 ribu untuk bensin. Tujuanku adalah UNS. Di sana, ada Javanologi. Aku bersama sekardus buku, kresek berisi buku, dan tas besar berisi buku bergerak menuju UNS saat matahari memberi berlimpah sinar dan sumuk.
Di pendopo Javanologi, beberapa orang dalam penampilkan rapi. Meja bundar dan kursi-kursi. Aku bersalaman dengan orang-orang yang aku kenali. Mereka dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Pukul 8 pagi tapi masih sepi. Beberapa orang terus melanjutkan persiapan acara. Berdiri di dekat tiang, aku memandangi pendopo dengan suasana tak Jawa. Segala benda yang berada di pendopo sulit mengisahkan Jawa. Mataku mungkin salah. Pikiranku tentu sedang tak keruan. Pagi itu aku tetap belum minum kopi tapi malah terlibat percakapan-percakapan dengan beberapa orang.
Urusanku adalah menata buku-buku di atas meja. Kedatanganku mula-mula sebagai pedagang buku bekas. Puluhan buku ditaruh di meja. Aku mulai bercakap dengan dua orang mengenai buku, bahasa, sastra, tokoh, sejarah, dan lain-lain. Menit-menit berlalu, tetap belum berhasil minum kopi.
Aku diminta panitia berkumpul di ruangan bersama para pembicara dan moderator. Dugaanku diajak sarapan. Di ruangan kecil, kami disuguhi kardus-kardus. Isi: arem-arem dan botol. Mulutku seperti tak membolehkan arem-arem diam dalam waktu lama. Habislah arem-arem dalam hitungan detik. Minum air bening lagi. Ruangan tanpa kopi.
Dampak mulai terasakan. Omonganku sembarangan di hadapan profesor (Jogjakarta) dan pimpinan lembaga (Semarang). Kami lekas memasuki obrolan mengenai arem-arem, khotbah Jumat, humor, lingusitik, dan lain-lain. Ruangan itu tak cukup menampung ocehan dan tawa. Di hitungan menit, kami segera keluar untuk mulai acara dinamakan seminar.
Akhirnya, aku melihat termos di pendopo. Benarlah termos itu bertuliskan kopi. Gelas lekas terisi kopi. Duduk minum kopi. Acara seminar pun dimulai dengan urutan-urutan lazim. Para peserta sudah tampak duduk tenang dan memberi perhatian. Aku tetap memperhatikan kopi sambil memandangi buku pemberian panitia. Di sampul buku, aku membaca nama: Indah Darmastuti. Buku berjudul Tani Cilik, terbitan pemerintah. Akibatnya, buku tidak diperdagangkan. Buktinya di bagian atas: “Milik Negara”. Segelas kopi dan buku mengenai petani.
Duduk bersama peserta. Posisi kursiku tidak memungkinkan mataku melihat dua profesor dan moderator secara lurus. Meja bundar membuatku salah tingkah. Jadi, posisiku “menyamping”. Kepala harus menengok jika ingin berhadapan dua profesor (Solo dan Jogjakarta), yang bergantian menjelaskan naskah-naskah Jawa.
Hari menjelang siang, aku salah kursi dan bingung memperlakukan meja bundar. Panas mulai terasa. Aku mulai pindah ke belakang. Keputusanku adalah duduk dengan meja yang berisi daganganku. Aku sengaja membawa buku-buku mengenai Jawa. Beberapa buku adalah serat dan babad.
Di situ, aku bercakap dengan lelaki gemuk. Percakapan meninggalkan tema seminar. Yang kami obrolkan adalah sastra dalam jalinan Indonesia dan Amerika. Yang terpenting mengenai penerjemahan. Aku omong sembarangan berbekal bacaan-bacaanku. Hari itu bertambah sumuk gara-gara sering omong dan tertawa. Aku diambilkan segelas kopi. Minum lagi dan memandangi dua profesor memberi jawaban-jawaban tetap berpusat Jawa.
Jeda. Kami bergerak ke masjid di UNS untuk melaksanakan sholat Jumat. Duduk di lantai tanpa dilapisi tikar atau karpet, aku tidur. Mata terpejam saat khotbah. Seingatku, khotbah bukan mengenai Jawa. Masjid yang besar membuatku menjadi lelaki dalam kerumunan orang, lelaki yang sulit membuka mata dan mendengarkan khotbah secara serius. Kalah dengan tidur.
Kembali ke pendopo. Aku mengambil kardus. Konon, kardus itu mengesahkan makan siang. Aku membuka tergesa tapi meragu. Di meja bundar bersama teman-teman, aku memilih omong ketimbang serius dengan makan. Di kardus, ada nasi, sambal, telur, daging ayam, dan lain-lain. Aku sulit menikmatinya. Inginku malah nasi bungkus saja, bukan nasi dalam kardus. Hari itu aku menantikan pidato William Wongso di TIM, Jakarta. Ia bakal mengisahkan dan menjelaskan nasi bungkus. Pada saat makan kehilangan selera, aku mengajak teman-teman dalam obrolan mengenai Jawa. Obrolan singkat saja. Makananku tidak habis. Siang yang membuatku bertambah salah.
Duduk di depan, menghadapi para peserta. Di atas meja, aku menumpuk puluhan buku. Aku bersama moderator dan pembicara berambut gondrong bernama Rendra. Aku dan Rendra tidak bergelar profesor. Jadi, kami boleh omong tidak mutu.
Aku berdiri memegang mikrofon. Siang yang sumuk tapi aku memilih berdiri dan bergerak ketimbang duduk. Omonganku dilengkapi dengan tangan bergantian memegang buku agar tampak oleh para peserta. Petikan novel menjadi pembuka. Novel sudah aku baca tiga kali, terkutip dalam esai-esaiku. Novel itu mengenai Jawa dan Eropa. Aku pilih menjadi pembuka untuk mengetahui nasib naskah-naskah Jawa dalam pamrih kolonialisme dan “pembentukan” Jawa abad XIX dan XX.
Omonganku terus berantakan untuk membuka Jawa silam. Yang aku tampilkan adalah perempuan suka duduk lesehan. Perempuan berasal dari Amerika Serikat betah berada di Radya Pustaka, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegaran. Bertahun-tahun, ia mengurusi naskah-naskah. Risikonya, ia mudah bersin dan batuk. Paru-paru pun kotor. Namun, ia menghasilkan tulisan-tulisan ampuh.
Aku pun memamerkan katalog dan buku-buku berasal dari studi naskah. Buku-buku terbitan pemerintah yang diedarkan ke perpustakaan-perpustakaan. Selama puluhan tahun, buku-buku berasal dari kajian naskah-naskah itu diam dan sepi tanpa peminjam atau pembaca. Aku memperolehnya dari pasar buku bekas. Wajarlah bila naskah-naskah Jawa terbukti tak diminati orang-orang. Urusan yang rumit dan penuh teka teki. Aku menutup ocehan tak bermutu dengan mengutip dari novel gubahan pengarang Jepang. Novel mengenai toko buku bekas dan keimanan pembaca buku.
Di depan, aku merasa sumuk. Tisu-tisu aku gunakan untuk mengelap keringat. Seminar di pendopo tapi sumuk. Siang yang garang. Semula, aku senang mengetahui seminar diselenggarakan di pendopo terbuka, bukan di ruangan tertutup dengan pancaran lampu dan mesin pendingin udara. Sumuk justru diperoleh dan pemandangan yang tak akrab dengan kejawaan. Moderator di samping malam sempat berbisik: mengantuk. Dugaanku, ia mengantuk gara-gara ocehan dan bau keringatku.
Rendra berdiri sambil menunjuk layar. Omongan yang seru. Ia berbagi pengalaman naik gunung. Keputusan ratusan kali naik gunung bermisi bertemu naskah-naskah Jawa. Rendra mengetahui bahwa naskah-naskah Jawa tak selalu berada di museum atau keraton. Pencarian dan penemuan naskah-naskah di gunung-gunung itu ketakjuban.
Aku menikmati omongan yang menggairahkan. Raga, pikiran, dan imajinasi Rendra selalu bergerak tanpa lelah. Di ketinggian, ia berurusan naskah-naskah Jawa dari masa silam. Ia mengerti beragam hal. Aku menunduk malu. Seumur hidupku belum pernah naik gunung.
Siang itu ramai omongan. Para peserta bisa tertawa dan tepuk tangan. Mereka terhindar dari godaan tidur, melamun, dan bisik-bisik. Rendra tampil memberi “matahari” yang terang bagi orang-orang memasuki naskah-naskah Jawa.
Siang itu aku tidak minum kopi. Aku menghabiskan dua botol berisi air mineral. Siang perlahan menjadi sore. Di kejauhan, terdengar azan. Seminar segera diakhiri saat kaos basah dan wajah berkeringat.
Sore itu pulang. Hasrat terbesarku: mampir ke warung mi ayam. Aku ingin makan yang panas dan pedas. Di Colomadu, sepeda motor diparkir di pinggir jalan dan tubuhku diparkir di depan meja. Semangkuk mi ayam membuat keringat mengalir deras. Warung tanpa kipas angin. Segelas es jeruk lekas habis. Dua bungkus rambak mengurangi mulut yang kepedasan. Sore itu mi ayam, bukan masalah-masalah Jawa yang adiluhung atau picisan.[] Kabut
