Buku, Resensi

Catatan, Kisah, dan Pengakuan

Oleh Oscar Maulana

Pada tahun 1994, terbit sebuah buku berjudul Tempat-tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994) garapan Michael Pearson. Michael melakukan perlawatan ke dataran Amerika. Menjelajahi bentangan alam Amerika dengan tujuan menelisik, hal-hal apa saja yang memengaruhi sastrawan Amerika terhadap segala yang ditulis dan dikarangnya.

 Beberapa tokoh sastrawan Amerika fenomenal dan mendunia yang diteliti Michael, semacam William Chuthbert Faulkner (1897) bersama Mississippinya, Georgianya Mary Flannery O’connor (1925), Floridanya Ernest Miller Hemingway (1899), Californianya John Ernst Steinbeck (1920), sampai Missourinya Mark Twain (1835).

Dari beberapa yang ditulis dan dikaji Michael itu, kita patut menduga, para sastrawan moncer tidak bisa lepas dari imaji tempat mukim di sekelilingnya.Baik itu menyoal kota, sejarah, rasialisme, uang, rumah, dan sosial-masyarakat yang lekas dilihatnya. Perkara itu menjadi semacam ramuan yang patut diceritakan dalam sebuah karya, seperti cerita pendek dan novel.

Hal itulah, termaktub dalam novelnya John Steinbeck bertema asal Tortilla Flat (1935), dan diterjemahkan Djokolelono menjadi Dataran Tortilla (2009). Menarasikan rumah dan persahabatan sebagai pergumulan imajinasinya, Steinbeck dalam novel ini berbicara rumah Danny sebagai satu kesatuan manusia-manusia dengan pelbagai macam watak dan tingkah lakunya, kesatuan yang memancarkan kemanisan dan keriaan hidup, kedermawanan. Dan pada akhirnya—kesedihan penuh mistik.

Semacam itulah yang ada pada diri Mahfud Ikhwan. Ketika menulis, Mahfud tidak bisa lepas dari hal-hal yang melekat pada sekelilingnya. Membicarakan sosial masyarakat, desa, perkotaan (urbanisme) dan lingkunganya. Jejak perjalanan kepenulisan, pengakuan dan cerita-cerita yang dialaminya bisa kita tengok lewat buku bertajuk Cerita, Bualan, Kebenaran: Mahfud Ikhwan dan Cerita-cerita yang Ditulisnya.

Dan memang riwayat panjang perjalanan seseorang bisa berujung baik dan nestapa. Berliku, terjal, dan bergelombang. Pelbagai persoalan yang menyergapi diri manusia yang ringkih. Dari perkara bising semacam itu, manusia perlu segera mencari titik ketetapan jati diri (jalan hidup) yang akan ditempuh. Pelbagai macam profesi dewasa ini begitu bejibun banyaknya baik itu berkecimpung di dunia kesenian, menjadi intelektual, politisi, bahkan sastrawan itu sendiri.

Diteror oleh bisingnya deru kota, Mahfud memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang penulis. Kaya akan intrik dan penuh konflik, merajut benang-benang yang kusut dalam pikirannya. Dorongan menjadi seorang penulis, Mahfud mengakui karena rasa kegelisahan. Manakala ditanya kenapa Mahfud menjadi penulis, jawabanya selalu sama: karena saya gelisah. (halaman 7).

Faktor kegelisahan rupanya menjadi penanada awal perjalanan kepenulisannya. Gelisah menghadapi masa depan, gelisah tidak punya uang jajan kala kuliah di perantauan, dan kegelisahan lainya yang menyergap di benak. Dalam proses kegelisahan-kegelisahan yang tak berujung menentu itu, Mahfud berhasil menjadi seorang sastrawan yang cukup moncer dalam jajaran novelis dan cerpenis di Indonesia.

Karya novelnya berjudul kambing dan Hujan (2015) berhasil menyabet penghargaan prestisius sebagai Pemenang Sayembaya Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 lalu. Dan dalam buku terbarunya ini, Mahfud menceritakan proses kreatifnya ketika menulis novel tersebut.

Sama, seperti apa yang diteliti Michael Pearson dalam bukunya, bahwa seorang sastrawan tidak mungkin bisa lepas dari pengaruh lingkungan dalam proses kreatifnya. Pun apa yang dibawa pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini, selain terpengaruh keadaan sosial-kultural di kampung halamannya, juga tersihir oleh pengaruh sastrawan dan sejarawan Indonesia yaitu Kuntowijoyo.

Dalam proses pengerjaan novel Kambing dan Hujan, Mahfud mengakui karya Pak Kunto juga memberi kontribusi secara langsung, misalnya dalam cerpen Rumah yang Terbakar yang menarasikan persinggungan konflik horizontal dua komunitas santri dan kaum abangan, dan pula novel “Pasar” yang bercerita pertentangan halus namun subtil antara nilai-nilai Jawa lama lagi luhur yang diwakili sosok Pak Mantri dengan Kasan Ngali (halaman 68).

Tidak hanya sosok Kunto yang memengaruhi gaya cerita dari Mahfud ini, juga beberapa sastrawan lainya turut serta dalam pergumulan kreativitasnya. Seperti karya terjemahan sosok Koeslah Soebagyo Toer lebih dikagumi Mahfud daripada Pramoedya Ananta Toer (halaman 13), karya Bibhutibhushan Banerji berjudul Pater Pancali turut memengaruhi juga (halaman 14).

Tidak Hanya Kampung

Sitok Srengenge pernah menulis perihal kota. Tulisan itu bertajuk Kota Kata, perkara kata yang diserap menjadi kota. Bagi Sitok, kota-kota itu sebuah nama dipilih lantaran terkait dengan kenangan, tapi tak jarang juga sebagai harapan. Kota-kota semacam Yogyakarta berasal dari kata Ngajogjakarta yang berarti mematut kota atau membangun kota (Tempo, 21 Maret 2010).

Kenangan dan harapan menjadi kata yang pas bagi tercerminnya laku manusia kota. Tidak berbeda jauh dari kenangan-kenangan Mahfud Ikhwan. Dari kota, yang kemudian membesarkan namanya, dan bahkan menggebleng paradigma berfikir. Mahfud mengakui kepengarangannya berasal dari kota ketika membahas desa, bukan sebaliknya (halaman 30).

Kota acap kali mengejawantah lelaku manusianya menjadi urban. Hal itulah yang tercermin dari novelnya berjudul Ulid Tak Ingin ke Malaysia, (2009). Di Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud menggambarkan dan menarasikan tokoh utama novel itu, walaupun berlatar desa lantas tidak bisa lepas dari pengaruh kota. Kita lihat fragmen tokohnya begitu menggemari terhadap film kartun dan telenova di televisi (halaman 35).

Lahir dari desa pesisir utara Jawa Timur, Mahfud menyelami pelbagai persoalan yang hinggap pada dirinya. Menceritakan kegelisahan yang timbul manakala hidup di kota, melakoni hidup di kota Yogyakarta selama 20 tahun lebih. Pengalaman di kota turut membekalinya menceritakan kampung halaman, yang sarat akan makna dan peristiwa. Mungkin Mahfud Ikhwan mengikhtirakan semacam para sastrawan dunia dulu lakukan, mengisahkan desa, lingkungan, rumah dan perkara lainnya.


Oscar Maulana, mahasiswa IAIN Surakarta. Bergiat di Komunitas Serambi Kata. Tinggal di Solo, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *