Jangan terlalu berharap kepada siapa pun. Sekali pun pada orang tua, keluarga, apalagi Tuhan. Karena itu akan buat hidupmu tak tenang, selalu dibayangi oleh pengharapan-pengharapan yang tak kunjung ditunaikan oleh sang penabur janji. Kalau saja kau tak percaya, tentu kau boleh mencobanya.

Usiaku tak lagi muda. Meskipun tua, tubuhku masih lincah bergerak, kuat pula mengangkat barang. Orang-orang di kedai kopi tempatku biasa lepas penat setelah ke sawah, berkata, sungguh beruntung dirimu Jalak, di usia yang sudah seabad lebih madih memiliki tenaga layaknya anak muda yang berusia tiga puluhan. Coba kau bagi rahasiamu itu. Terkembang kemudian senyumku, abai dengan ucapannya, lanjutku menyeruput kopi. Batinku, kalian hanya peduli dengan umur panjangku. Tidak dengan apa yang sebenarnya kualami fi sepanjang hidupku.

Kalian hanya melihatnya dari kedua mata saja. Kalau saja tidak tahu sebenarnya, pasti akan sepakat dengan Imah, perawan tua yang rumahnya bersampingan denganku. Kata Imah, aku berumur panjang karena tulah. Akibat aku yang tak bertanggung jawab dengan kelima anakku yang hidup di seberang pulau yang aku sendiri tak tahu bagaimana tentang kabar mereka semua. Entah apa mereka masih hidup semua, atau tersisa tiga orang saja. Aku enggan mencari kabar, mencarinya pun tak mungkin kurasa.

“Itu hukuman dari Tuhan, untuk menebus dosa-dosa semasa hidupnya. Kalau kalian tanya tentang Jalak, aku tahu semuanya! Aku sejak kecil mengenal Jalak dengan baik, meskipun aku lebih muda empat puluh tahun darinya.” Selalu dia berkata seperti itu, tiap kali ada orang-orang di luar desa kami yang penasaran dengan diriku.

Tentu saja aku tahu dari Luminto anak teman baikku, Samiran. Semua cerita buruk tentangku yang diucap oleh siapa pun di desa kami, Luminto, selalu memberitahuku. Sedangkan cerita baik tentangku, hanya tiga kali kurasa yang dia sampaikan, sisanya tidak pernah disampaikannya padaku. Entah, bagaimana laki-laki itu bisa tahu banyak tentang baik buruk orang-orang di desa kami. Tahu mereka, malah melebihi perempuan-perempuan.

Aku pernah mendengar rumor dari Imah ketika aku duduk di teras rumah. Suaranya yang keras itu terdengar olehku dengan jelas.  Kalau di zaman sekarang ini, laki-laki maupun perempuan sama saja perannya kalau di tongkrongan. Kalau tidak guyonan, paling ya …, barter berita-berita kemudian dijajakan ke mana-mana. Katanya lagi, sebelum dijajakan, laki-laki itu, akan membumbui beraneka ragam bumbu, kadang juga dijadikan pelipur lelah yang paling renyah untuk kemudian disantap bersama-sama dengan gelak tawa riuh yang saling sahut-bersahutan yang lalu disambut oleh lengkingan teriak riuh gembira. Mendengar itu, aku menggeleng-geleng.

“Tidak ada rahasia.” Akhirnya aku berucap setelah tiga orang mendesakku untuk menjawabnya. “Kalau kau mau tahu, apa untungnya? Apa ingin juga berumur panjang sepertiku?”

“Kalau aku tentu saja ingin, Pak Dhe Jalak,” kata Luminto yang usianya terpaut lima puluh tahun lebih muda dariku. “Aku ingin menikmati dunia ini lebih lama. Masih ingin melihat anak-anakku berhasil dengan niat dan tujuan yang berkali-kali dibicarakan di hadapanku dengan istriku.”

Aku mengangguk, mengembuskan rokok.

Lanjutnya. “Katanya dia akan membahagiakanku dengan istriku. Mengajakku ke mana pun ingin kami sebagai orang tuanya. Kalau perlu setahun sekali nanti, naik pesawat. Menikmati musim salju dan musim semi.” Dengan sangat percaya diri, Luminto bercerita. Tidak peduli orang-orang di sekitarnya tertawa masam.

“Bagaimana semisal janji yang ditawarkan oleh anakmu itu diingkari olehnya?” tanya laki-laki bertopi yang duduk di sebelah Luminto.

“Tidak mungkin. Anakku, sudah pasti memegang janjinya dengan baik. Aku lebih tahu bagaimana anakku.” Luminto berkacak pinggang. Isap embuskan asap rokok dari mulutnya. Tampak binar kedua bola matanya. Amat dia yakin dengan janji yang dijanjikan oleh anak semata wayangnya.

“Kau benar-benar yakin?” ejek laki-laki bertopi.

“Tentu aku yakin!” jawab Luminto yakin. “Anakku tidak seperti anak-anak pak dhe Jalak. Benar, kan, Pak Dhe?” Saat berkata itu, lengan Luminto disenggol dengan sikut laki-laki bertopi.

Aku tersenyum sebentar, kemudian berucap, “Anggaplah yang dianggap semua orang tentangku dan anak-anakku suatu kebenaran. Bukan begitu ‘kan, Mas?” tanyaku pada laki-laki bertopi. Laki-laki itu tidak menjawab sepatah kata pun, melainkan dengan sedikit menggerakkan tubuhnya, lalu meringis tipis ke arahku.

“Kurasa Luminto sudah menemukan cara hidup berumur panjang sepertiku.” Kusesap kopiku, lalu rokok kunyalakan lagi.

“Aku?” Luminto menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. “Aku? Aku benar-benar tidak tahu soal itu, Pak Dhe. Kalau tahu, jelas aku tidak akan bertanya. Sungguh!”

“Hiduplah dengan pengharapan. Jaga dan pupuk janji-janji besar yang dititipkan, diletakkan di tubuhmu. Baik itu, janji keluargamu, orang lain, pun Tuhan,” terangku.

“Bercanda sekali rupanya Pak Dhe Jalak ini.”

“Kau pernah menjajalnya?”

“Bapakku, dia mati duluan sebelum aku menunaikan janjiku padanya.”

“Bapakmu tak sabar menunggu pengharapannya itu. Atau mungkin, dia anggap janjimu tak sungguhan. Lihatlah, terbukti bukan, kurasa sampai sekarang pun kau pasti tak mampu membayar lunas janjimu itu.”

“Setidaknya, biar nanti anakku yang bantu membayar pengharapan bapakku, Pak Dhe, kalau aku tidak bisa membayarnya.”

“Bagaimana kau bisa berumur panjang. Tentu kau akan sama seperti bapakmu, tak panjang umur seperti inginmu.” Aku melirik ke arah Luminto, kudapati dia mengangguk dengan melebarkan senyumnya. Seakan dia telah menemukan cara tentang bagaimana berumur panjang. Apa yang kukatakan pada Luminto, sungguh benar kenyataan begitu.

 Kupertegas lagi, kenyataannya memang benar-benar begitu. Percaya atau pun tidak, aku tak mempermasalahkannya kalau pun kau tak mempercayainya. Aku …, benar-benar menaruh banyak pengharapan di tubuhku. Di antaranya, pengharapan akan janji anak-anakku yang berada di luar pulau, dekat dengan rumah kakeknya, bapak mertuaku. Kelimanya ikut dengan mantan istriku di sana. Si sulung dan si bungsu, pernah berucap kalau mereka berdua, pasti akan selalu ingat padaku sampai kapan pun, meskipun mungkin saat dewasa nanti keduanya bekerja jauh, begitu ucap keduanya saat keluarga kami baik-baik saja saat itu. Namun, kenyataan berkata lain, kami dipisahkan oleh jarak, bukan soal pekerjaan. Melainkan karena perpisahanku dengan istriku. Soal janji keduanya, aku masih mempercayainya dan menjaganya dengan baik. Dan aku, tetap terus menunggunya sampai keduanya datang ke rumah kami, rumah masa kecilnya saat bercanda gurau denganku.

Mungkin bagi orang tua lainnya, lebih baik jasad yang ditinggalkan ruh itu, disambangi anak-anaknya yang bepergian jauh tak juga kunjung lekas-lekas pulang, sebelum kemudian dikebumikan jasadnya. Aku? Jelas aku tidak mau seperti itu. Kutunggu janji mereka semasa kecil dulu itu. Aku ingin melihatnya dengan binar mata bahagia, memeluk tubuhnya, mencium aroma tubuh dan kisahnya selama dia bepergian jauh dariku amat lama.

Bagi sebagian orang, akan sepakat dengan ujar Imah. Kau pun boleh mempercayai Imah, tidak perlu mempercayai kataku, kalau aku sungguh bertanggung jawab kepada kelima anakku. Setiap bulan aku mengirimkan uang ke mereka sampai mereka benar-benar dewasa di usia tujuh belas tahun. Setelahnya, aku berhenti tak kirimkan uang. Kurasa, mereka sudah mampu mencari uang sendiri. Kedua, aku butuh menghidupi diriku sendiri. Untuk apa juga aku mengirimkan uang terus-menerus sampai mungkin mereka berusia kepala tiga. Itu sungguh tidak mungkin,

Terkadang aku merasa kalau mereka, layaknya anak-anak burung yang ‘tlah lupa dan tak akan pernah kembali pulang ke sarangnya, tempat asal mereka dilahirkan, tempat mula mereka berkembang dan tumbuh.

Meskipun begitu, lagi dan lagi, aku masih tetap memegang erat janji-janji mereka semasa kecil. Siapa tahu, mereka ingat suatu hari nanti.

Siapa tahu, Tuhan membantuku, mengetuk pintu hati mereka untuk lalu ingatkan janji-janji mereka, saat mungkin mereka sedang merenungi masa-masa kecilnya saat bersamaku. Tuhan pasti membantuku, Dia pernah berfirman, Dia akan selalu membersamai, dan akan membantu manusia-manusiaNya yang sabar menanti doa-doa yang belum diiyakan olehNya. Aku mempercayai itu. Meskipun …, terkadang …, kepercayaanku pada Tuhan berkali-kali runtuh akibat doaku yang itu-itu, tak kunjung jelma jadi nyata segera.

Keruntuhan itu pun salah satunya juga akibat obrolanku bersama Samiran, seminggu sebelum dia mengembuskan napas terakhirnya.

“Jangan terlalu berharap kepada siapa pun. Sekali pun pada orang tua, keluarga, apalagi Tuhan. Karena itu akan buat hidupmu tak tenang, selalu dibayangi oleh pengharapan-pengharapan yang tak kunjung ditunaikan oleh sang penabur janji.”

“Mana mungkin, Tuhan tidak akan pernah mengkhianati janji-Nya sendiri.”

“Janji yang bagaimana?”

“Siapa pun yang berdoa pada-Nya, segala macam apa pun yang menjadi bagian doa itu, pasti akan dikabulkannya.”

“Ngibul!” seru Samiran. “Kau akan menunggu sampai berapa lama lagi, menunggu doamu itu terkabul?”

“Kalau perlu, aku menunggunya sampai seabad, dua abad, tak akan jadi masalah.”

Samiran menertawaiku seraya kembali berkata. “Kau yakin? Tubuh, fisikmu tak akan kuat, seperti sebagaimana kuatnya pengharapanmu! Jelas kau akan terkapar di atas kasur, tak mampu jalan, tak mampu menyesap nikmatnya kopi pahit yang ditemani oleh isapan embusan rokok dengan sangat nikmat seperti di usia kita yang sudah berkepala lima ini. Kalau sudah begitu, apa kau tak menderita? Aku yang membayangkannya saja, merasa kasihan sekali padamu.”

“Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Aku percaya, Tuhan akan terus membuat fisikku tetap bugar dan kuat, meskipun usiaku berabad-abad, sampai pengharapanku pada-Nya dijadikan nyata oleh-Nya.” Aku menjawab dengan yakin yang paling mantap. Lirih kataku dalam hati, itu doaku kepada Tuhan, sebelum aku tidur, atau pun saat aku terbangun, pun saat masih terjaga di tengah malam.

Samiran kemudian berkelakar lagi. “Baiklah, kalau saja kau tak percaya, tentu kau boleh mencobanya.”***

____________________

Drew Andre A. Martin. Mmemiliki buku solo kumpulan cerita pendek yang berjudul Virama Dvasasa. Juga memiliki buku antologi bersama. Diantaranya antologi cerpen yang berjudul, Mbah Gareng Suronatha Tedhak Sinten Karomah & Cerpen-Cerpen Wayang Lainnya, yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga yang bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sidoarjo, di tahun 2023; antologi puisi yang berjudul, Semesta Ingatan Trauma dan Imaji Kebebasan, yang diselenggarakan oleh yang diselenggarakan oleh Forum Sastra Timur Jawa dalam Temu Karya Serumpun 2025. Dan masih banyak lagi antologi cerpen dan puisi bersamanya dengan penulis-penulis lainnya. Selain sebagai penulis dan pengarang, dia juga sebagai sebagai cartomancer dan numerologist. Instagram & TikTok: @drewandreamartin Blog: drewandreamartin.blogspot.com