Cerpen Aditiya Widodo Putra
Sebuah rumpun pohon gondang (Ficus septica) atau semak liar tepi sungai yang besar dapat menyerap ribuan liter air irigasi per tahun demi pertumbuhannya yang rakus. Dengan upah dua ketip sehari (0,25 Gulden Hindia Belanda), ditambah premi premie-cultuur (bonus air untuk pembukaan lahan), Karta menebang dan meracik akar-akar liar gondang sepanjang musim penghujan hingga kemarau di daerah aliran Sungai Brantas hulu.
Sepuluh tahun yang lalu, itu adalah mata pencaharian yang terhormat. Kala itu, rumpun gondang dan pandan berduri masih berjejer di setiap tebing sungai di Daerah Aliran Sungai Brantas, bersanding dengan pohon kepuh, beringin, dan bambu apus. Dan kala itu, para lurah di wilayah Malang dan Kediri mengira air tanah dan mata air pegunungan masih bisa diperas tanpa batas untuk menghidupi sawah-sawah tebu loji.
Karta berdiri di tebing jurang Kali Konto, ditemani oleh si Blorok, kerbau jantan kesayangannya yang setia membawa perlengkapan. Ia menatap ke dasar lembah yang curam. Butuh waktu satu jam perjalanan menurun menyusuri jalan setapak batu padas. Ia menambatkan kerbaunya pada sebatang pohon sawo kecik, lalu mulai menuruni lereng dengan berpegangan pada akar-akar rotan. Beberapa rumpun rumput gajah tampak hijau segar di sela-sela sisa embun pagi pegunungan Anjasmoro. Di penghujung musim hujan, aliran sungai di bawah mulai menderas, sementara puncak-puncak gunung di atas masih diselimuti kabut tebal khas Priangan-Jawa Timur. Karta terpeleset di tanah lempung basah, ransel kulitnya yang berisi cairan belerang pemati tunggul bergemerincing di punggung. Parang dan linggis kecilnya tersangkut pada semak belukar. Perjalanan mendaki nanti sore akan sangat melelahkan. Namun, itulah letak keindahan tempat tersembunyi ini: aksesnya yang sulit membuat tebing-tebing sungainya luput dari pengawasan mandor loji.
Ini adalah jalan hidupnya; di saat banyak petani pribumi kehilangan hak atas tanahnya akibat perluasan cultuurstelsel (sistem tanam paksa) dan kekeringan berkala, ia tetap bertahan: seorang pemburu gulma air, pengabdi setia tanah tumpah darah. Orang-orang lain telah tersingkir dari tanah adat mereka, mengungsi ke perkebunan tembakau di Deli atau mencari penghidupan di pesisir utara di mana saluran irigasi masih mengalirkan sisa-sisa air untuk kelangsungan hidup rakyat jelata.
Akhirnya, Karta mencapai dasar jurang. Di bawah naungan rindangnya tebing batu, embun pagi membuat napasnya mengepul putih tipis.
Ia mengeluarkan kotak kamera pelat kaca (glasnegatief) buatan pabrik optik di Batavia untuk mendokumentasikan pekerjaannya. Algemeen Proefstation voor de Landbouwcultuur (Stasiun Percobaan Pertanian Umum) kini sangat ketat dalam hal laporan lapangan. Mereka menuntut foto dari berbagai sudut sebelum dan sesudah penebangan gulma air, seluruh proses wajib tercatat, diberi titik koordinat topografi kolonial, dan diserahkan langsung kepada kontrolir setempat sebelum insentif premi air dicairkan.
Namun, birokrasi kolonial yang rumit itu tidak luput dari akal licik Karta. Karta telah menemukan cara untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sebagai pemburu gulma. Tanpa sepengetahuan para insinyur irigasi kolonial dari Burgerlijke Openbare Werken (BOW), ia diam-diam menanam dan menyebarkan tunas-tunas baru di wilayah hulu yang terisolasi. Ia sengaja memindahkan bonggol akar yang sehat ke lembah-lembah tersembunyi sebagai “polis asuransi” demi menjamin kelangsungan pekerjaannya di tengah persaingan ketat dengan pemburu gulma lainnya.
Dokumentasi selesai, ia mengeluarkan gergaji lipat kecil, linggis pendek, serta botol cairan penangkal tumbuhan, lalu mengoleskan ramuan Garlon versi kolonial atau cairan pekat berbasis garam mineral pada tunggul-tunggul tersebut untuk mematikan akarnya hingga tuntas. Sebagian bonggol akar yang paling kuat sengaja disisihkan untuk ditanam kembali di tempat rahasia.
Dua ketip sehari, ditambah premi air.
Butuh waktu seminggu bagi langkah tenang si Blorok untuk kembali ke gubuk ladang Karta di lereng bukit. Mereka menyusuri tepian sungai, sesekali mendaki dataran tinggi vulkanik atau memutar melewati bekas-bekas desa agraris yang kini sunyi akibat kebijakan konsentrasi lahan perkebunan pemerintah kolonial. Patroli militer Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) kerap berpatroli menggunakan kuda atau kendaraan lapis baja ringan buatan pabrik Eropa, memantau setiap peladang liar atau kincir air tanpa izin (wilde wateronttrekking). Karta teringat masa-masa ketika para pejuang gerilya desa dulunya mempertahankan saluran air tradisional melawan monopoli irigasi pabrik gula kolonial.
Namun masa-masa perlawanan terbuka itu sudah lama berlalu. Kini, patroli KNIL melintas tanpa ada yang berani mengusik.
Karta melintasi punggung bukit dan menatap ke bawah ke arah reruntuhan sebuah desa tradisional yang telah digusur untuk perluasan perkebunan nila dan tebu, menyisakan jalan-jalan tanah yang sunyi di bawah terik matahari tropis. Di tepi perkebunan kolonial tersebut, deretan rumah petak pekerja dan loji pengolahan tua berdiri membisu di sebelah bekas saluran irigasi buatan gubernemen yang kini kering kerontang.
Ketika pemerintah kolonial mengeluarkan undang-undang agraria (Agrarische Wet 1870) yang memprioritaskan hak konsesi perkebunan besar Eropa, penduduk pribumi tidak langsung panik. Mula-mula, beberapa desa kehilangan hak atas mata air keramat mereka. Beberapa petani tradisional yang menolak beralih fungsi dari menanam padi sawah menjadi buruh tebu dipaksa meninggalkan ladang mereka. Tahun demi tahun, penjatahan air untuk ladang rakyat semakin dibatasi hingga hanya mengalir seminggu sekali. Pada akhirnya, warga desa terpaksa mengandalkan tempayan dan kendi penampung air hujan. Masalah utamanya bukanlah sekadar kemarau panjang, melainkan volume jutaan meter kubik air Sungai Brantas yang dialirkan secara eksklusif ke pabrik-pabrik gula milik pengusaha Belanda di dataran rendah.
Masyarakat pribumi dipaksa menonton air melimpah lewat begitu saja di depan mata mereka demi kepentingan Handelsvereeniging.
“Karta?”
Suara itu mengejutkannya. Si Blorok mendengus pelan dan menghentakkan kakinya ke tanah. Karta dengan cepat meraba golok di pinggangnya karena terkejut.
Sesosok wajah yang dikenalinya muncul dari balik rumpun bambu apus.
“Astaga, Karta!” Pria paruh baya itu merapikan iket kepala batiknya. “Kau mengagetkanku.”
“Untung saja aku tidak refleks mengayunkan golok!” seru Karta sambil menghela napas lega. “Kau membuatku jantungan, Sastrowardoyo.”
“Jangan terlalu tegang. Tidak ada siapa-siapa di sini selain kita sesama pengawas aliran air.”
“Itulah yang kukira saat aku singgah ke pasar loji di lembah kemarin. Aku hampir menabrak gerobak pos inspeksi yang parkir sembarangan di tengah jalan desa.”
“Tentara KNIL?”
“Entahlah. Aku tidak mau ambil pusing.”
Karta tersenyum lebar seraya menyambut kedatangan sahabat lamanya. Di tengah sunyinya perbukitan, kehadiran Sastrowardoyo mengobati rasa sepi. Sambil beristirahat, mereka membagikan bekal perjalanan berupa ngetes wedang jahe emprit hangat dari termos bambu dan menikmati jajanan pasar getuk lindri serta lemper gurih yang dibungkus daun pisang. Mereka bertukar cerita tentang kebijakan birokrasi BOW tanpa menyebutkan lokasi rahasia tempat mereka mencari nafkah dari pembersihan gulma air.
Menjelang senja, saat mereka selesai membakar singkong keju hangat di atas perapian kecil, Karta mengajukan pertanyaan yang mengganjal hatinya. “Kukarasa kau sedang bertugas di wilayah hilir dekat Surabaya?”
Sastrowardoyo menatap Karta sekilas, dan dari sorot matanya yang lelah, Karta tahu sahabatnya itu sedang menghadapi masa sulit. Sastrowardoyo tidak selicik Karta; ia tidak menyiapkan strategi jangka panjang atau “polis asuransi” tanaman. Kini ia merasakan beratnya tekanan ekonomi kolonial. Karta merasa iba. Ingin rasanya ia membagikan rahasia pelestarian tunas gulma air miliknya, namun risikonya terlalu besar. Pelanggaran terhadap aturan tata air pemerintah kolonial dapat berujung pada hukuman kerja paksa di proyek pembangunan jalan raya (heerendiensten).
Sastrowardoyo menghela napas. “Aku sempat memelihara beberapa ekor kambing etawa di sini, tapi semuanya hilang dicuri orang atau dimangsa hewan buas.”
“Jauh sekali tempat menggembalakan kambing di lereng gersang ini.”
“Ya, mau bagaimana lagi. Di wilayah bawah, rumput gajah pun mati karena pengaturan irigasi kolonial yang membatasi sumur rakyat.”
“Pihak perkebunan gula pasti menyita air dan lahan di sana.”
“Bangsa loji,” gerutu Sastrowardoyo pelan.
Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala barat, memancarkan warna jingga kemerahan di atas aliran sungai yang berkilau di kejauhan.
“Menurutmu, apakah masih ada rumpun gondang yang layak ditebang di hilir?” tanya Sastrowardoyo.
“Kau bisa turun dan memeriksanya sendiri. Tapi kurasa aku sudah membersihkannya tahun lalu.”
“Baiklah, besok pagi aku akan turun ke pasar distrik untuk mencari persediaan makanan.”
Pekarangan rumah Karta terletak di atas tanah vulkanik yang subur namun kering, sangat dekat dengan aliran anak sungai. Istrinya, Asih, sedang mencangkul di kebun sayur ketika Karta tiba di punggung bukit. Asih melambaikan tangan, menyambut kepulangan suaminya.
Karta tersenyum hangat melihat istrinya. Di saat banyak keluarga desa tercerai-berai akibat migrasi paksa tenaga kerja perkebunan, Asih tetap setia mendampinginya. Meskipun terkadang Asih merasa cemas jika mendengar deru kuda patroli KNIL melintas di kejauhan, keteguhan hatinya membuat Karta semakin bersemangat melindungi tanah kediaman mereka.
Karta menurunkan bawaan dari si Blorok, lalu mengambil ember untuk mengambil air dari sungai terdekat. Sumur tua di pekarangan mereka telah ditutup oleh pihak Controleur kolonial ketika permukaan air tanah menurun akibat eksploitasi besar-besaran perkebunan tebu. Kini, mereka menimba air langsung dari sungai secara diam-diam pada malam hari atau menampungnya ke dalam gentong tanah liat besar (pasu) di bawah lantai rumah panggung mereka.
Selepas merawat kerbaunya, Karta masuk ke dalam rumah dan meneguk wedang secang hangat dari kendi tanah liat. Suasana rumah berarsitektur tradisional Jawa berkerangka kayu jati itu terasa sejuk. Ia duduk di balai-balai bambu dan merapikan catatan laporan kerja hariannya.
Tidak lama kemudian, Asih masuk sambil menyeka peluh di dahinya dengan selendang batik lurik. “Jangan terlalu boros menggunakan air gentong, Kang,” pesan Asih. “Hari ini banyak serdadu KNIL berpatroli di dekat desa.”
“Apa yang mereka cari? Kita bahkan belum membuka saluran irigasi ladang.”
“Mereka mencari seseorang di sekitar sini.”
Karta tertegun sejenak. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Apakah mereka mengetahui aktivitas rahasianya menanam kembali tunas gondang di sepanjang sungai? Laporan klaim terakhirnya untuk wilayah ngarai telah dikirimkan, dan kini aparat kolonial mendatangi kediamannya.
Karta berusaha menenangkan diri. “Apakah mereka menyebutkan tujuannya?”
“Hanya ingin berbicara denganmu. Mereka datang menggunakan kendaraan lapis baja kecil milik militer.”
Karta menarik napas dalam-dalam. “Itu pasti urusan lain. Barangkali mereka memburu para pemuda desa yang dituduh melakukan pemberontakan agraria.”
“Itu mengingatkanku pada penggusuran di pabrik gula tempo hari,” ucap Asih cemas.
“Sudahlah, jangan khawatir,” bujuk Karta sambil tersenyum meyakinkan, meski hatinya bergemuruh.
Keesokan paginya, dua orang petugas pribumi berseragam dinas kolonial didampingi seorang perwira KNIL sudah menunggu di dekat pekarangan rumah Karta. Ketika Karta mendekat, mereka berdiri. Asih tampak sibuk di ladang, tidak mengetahui ketegangan yang sedang terjadi.
Perwira KNIL itu tersenyum tipis dan menyapa dalam bahasa Melayu pasar bercampur Jawa halus, “Pagi, Karta.”
Karta terkejut mengenali wajah di balik topi militer tersebut. Itu adalah Hardiman, teman masa kecilnya yang dulu sering bermain perang-perangan di ladang tebu sebelum memilih bergabung dengan dinas militer kolonial demi jaminan keamanan keluarga.
“Hardiman?” ucap Karta pelan. Ia mengurungkan niat untuk meraih golok di pinggangnya.
Hardiman tersenyum ramah. “Kau masih bertahan di tempat ini, Karta?”
“Apa yang membuatmu mengenakan seragam militer loji itu?”
Hardiman menunjuk lencana di kerah bajunya. Ia bertugas di bawah Resimen Militer Hindia Belanda, namun jauh di lubuk hatinya ia tetaplah anak pribumi. Sebagian besar pemuda desa memang memilih bergabung dengan dinas militer resmi demi menghindari kemiskinan ekstrem di pedesaan akibat monopoli agraria.
“Jadi, apa keperluan Tuan-tuan datang ke sini?” tanya Karta setelah suasana mencair.
Hardiman menghela napas. “Pemerintah kolonial memutuskan untuk mengubah kebijakan subsidi premi pembersihan gulma sungai. Seiring selesainya pembangunan jaringan terowongan air utama, anggaran untuk premi pembersihan manual dikurangi. Pemerintah kini memfokuskan dana pada pemeliharaan bendungan besar di hilir.”
Karta mengerutkan kening. “Lalu, bagaimana dengan mata pencaharian kami sebagai pemburu gulma sungai?”
Hardiman menyerahkan selembar surat keputusan resmi berlogo pemerintah kolonial. “Pemerintah menawarkan program kompensasi pensiun dini bagi para pengawas mandiri. Kau bisa menandatanganinya melalui pos wesel di kantor loji terdekat sebelum tanggal 15 April.”
“Berapa besar kompensasinya?” tanya Karta ragu-ragu.
“Lima puluh gulden perak,” jawab Hardiman pelan. “Cukup sebagai modal awal jika kau ingin pindah ke pemukiman baru di tanah seberang atau membuka usaha kecil.”
Karta menatap lembaran surat itu dalam keheningan. Di luar, aliran air Sungai Brantas terus mengalir deras menuju dataran rendah di mana pabrik-pabrik gula milik pengusaha Eropa menanti setiap tetes airnya. Karta mengepal surat tersebut, menyadari bahwa zaman telah berubah, namun semangat hidupnya untuk tetap berpijar di tanah kelahiran tidak akan pernah padam.***
Cacatan: “Pemburu Batang Gondang” awalnya dimuat dalam jurnal ilmiah kolonial Indisch Natuurwetenschappelijk Jaarboek (terbitan Weltevreden). Cerita ini terinspirasi dari satu-satunya hal yang paling diperebutkan di Pulau Jawa pada masa pendudukan Pemerintahan Hindia Belanda — air irigasi perkebunan dan sawah rakyat.
____________________
Aditiya Widodo Putra. Penulis lintas bidang berusia 18 tahun dari Kota Semarang, kota yang mengajarkan bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan dalam satu pandangan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada. Pemilik akun Instagram @adit_widodoputra.

0 Komentar