Sitapung Gadang, Oktober 2002

Hari ini, saat yang membanggakan bagi Eti dan tetangganya sekampung. Sudah lama mereka tak didatangi orang kota, apalagi mahasiswa dari pelbagai penjuru wilayah Indonesia. Saking gembiranya, orang kampung beranggapan sanak kerabat Barisan Penyelamat telah sudi menjelma turun dari Galundi Nan Baselo[1], hendak membantu mereka menghapus keterbelakangan di Lawang Mandahiling. Eti bercerita, duabelas tahun lalu pernah merasakan kebahagiaan serupa, ketika datang serombongan tentara, mengajari mereka berpikiran lebih maju agar hidup kian beradab dan sejahtera.

“Kakak kenal Teuku Syafei, datuk kami? Dia beranikan diri mendekati Gilang di sela-sela perjamuan makan malam kala itu.

“Pak Syafei? Oh tentu, beliau orang penting di Jakarta.” Kepala Gilang manggut-manggut dengan tatapan mata dibuat-buat, berusaha menutupi kebohongannya. Eti terkesima dengan jawaban itu, semakin percaya dengan siapa kini ia bicara.

Bunyi saluang[2] merobek malam yang biasa lengang, terdengar di telinga Gilang mirip ratapan perempuan ditinggal pergi kekasihnya. Ia masih belum percaya, mulai malam ini akan tinggal sementara waktu bersama orang-orang pelosok kampung, tanpa listrik, suara teve, apalagi sinyal telepon. Ibarat pasukan, ia merasa sudah terlucuti dulu sebelum maju ke medan perang.

Perjamuan malam baru saja usai, namun Gilang bersama duapuluh orang mahasiswa lainnya masih harus duduk bersila di barisan paling depan. Petuah tetua kampung terasa melekatkan kedatangan tamu dari tanah seberang, “duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang.”[3] Di hadapan mereka, seorang penyanyi perempuan berpakaian adat seperti sedang mendongengkan kisah-kisah lucu. Gilang sama sekali tak mengerti jalan ceritanya, kecuali derai tawa penduduk setiap kali perempuan itu menyelesaikan kalimat demi kalimatnya. Alunan bunyi melankoli berpadu suara penyanyi itu seolah berisi tuah, memandu irama tawa dan senyap sekehendaknya. Konyol di hati Gilang, ikut tertawa namun tak tahu sedikitpun maksudnya karena perbedaan bahasa.

Di balik kebahagiaan orang-orang pada malam itu, mereka tak tahu bahwa Gilang sedang berusaha menenangkan keresahan sejak awal datang, melawan pedihnya suara saluang yang terasa menusuk sesuatu di dadanya. Oleh sebab itu, tanpa sadar ia kerap terbayang wajah Eti, sembari berpikir betapa terpencilnya kampung ini.

Gilang teringat, tiga batang kretek ia habiskan sekedar untuk melewati jalan setapak dihimpit semak dan pepohonan, sepanjang perjalanan kaki dari aspal terakhir hingga sampai ke kampung ini. Untuk pertama kalinya ia saksikan keberadaan Rumah Bagonjong[4] di depan mata, selain tentu saja perempuan muda yang banyak tanya tadi. Tiang penyangga lapuk, dinding kayu kusam, dan susunan atap dari seng berkarat yang mirip tanduk kerbau berlumpur, serupa kemuraman yang telanjang di mata Gilang. Hanya wajah Eti yang bersolek harapan, setidaknya untuk dia, paling tidak selama di kampung itu. Perempuan itu serupa sumpit[5], menghujaninya dengan keingintahuan pada setiap tiupan, diam-diam mematikan. Terlebih ketika siang tadi Eti berkali-kali meminta pendapat tentang sederet judul roman dan cerita yang pernah ia baca.

“Eti sudah baca semua?” tanya Gilang keheranan.

“Sudah, tapi satupun tak ada Eti punya bukunya, Kak.” Pengakuan polos Eti dengan senyum dan sorot mata antara merajuk dan bangga, ditambah pipi semu merah, mengingatkan Gilang pada ranum buah pohon andalas tersisa satu-satunya di kampung itu.

Belum usai keresahan Gilang menjadi-jadi, sebuah tepukan dari belakang sontak mengagetkannya.

“Kak Gilang!” Lantang suara Eti meminta.

“Ya?” muka Gilang bertanya.

“Boleh tak, sebentar Eti minta tolong?”

Pada malam itu juga, Gilang mulai terhanyut oleh genangan perih yang dirasakan warga, tidak hanya terngiang suara lembut Eti, wajah manikam dan solek mata rembulan. Semua itu berawal ketika seorang lelaki paruh baya—yang dipanggil abak[6] oleh Eti, menunjukkan sebungkus pusaka tinggalan ABRI[7] Masuk Desa. Lelaki itu katakan warga kampung sudah tak sabar pengin menghidupkan televisi yang masih terbungkus kain dekil, senyampang ada listrik selama mahasiswa mengabdi di kampung terpencil.

“Tapi ini baru, Kak,” Eti meyakinkan.

“Kok begini?” Gilang berusaha menunjukkan keadaan yang mengenaskan.

“Kena banjir, tumpahan atap bocor,” jelas abak dengan wajah kosong.

“Jadi tak berguna ya?” tambah Eti, terlihat kecewa.

Gilang terimpit, tak sanggup membayangkan sumbangsih apa yang dapat ia berikan untuk kampung itu, terlebih untuk menemu cara agar kisah pengabdiannya tampak menawan di mata Eti. Otaknya seketika buntu, rasa tahunya beku, segala pemikiran yang ia persiapkan sebelumnya menemui jalan buntu, seperti juga banyak hal yang ingin ia ketahui dari Eti.

“Nan sakik kato, nan malu tampak,[8] Kak,” tutur Eti pada kesempatan berikutnya, yang justru tak kenal payah menyemangati Gilang dengan segenap pepatah orang rantau, membuatnya kembali merasa berguna.

Dalam waktu sepekan, Gilang dan teman-temannya bergotong-royong membantu warga kampung, menata jalan tanjakan, merapikan perigi, membangun saluran, lalu dengan terpaksa meninggalkan segala hal terkait perkuliahan. Termasuk ketika ia dan mahasiswa lainnya ramai-ramai bersama warga mengangkat sebuah surau bersejarah yang harus dipindahkan, sebab tanahnya semula akan dipakai lapangan olahraga oleh para pemuda. Gilang seketika merasa kuliahnya tak berguna. Ia hanya sanggup mengambil waktu terlihat sesering mungkin, tidak hanya di depan warga kampung, tetapi juga Eti yang di akhir pertemuan dia lihat berkerudung, hingga detik terakhir masa pengabdian.

“Kakak nak pulang sekarang?” terlontar kalimat perpisahan, dan sesuatu pun tertinggal.

***

Kentingan, Oktober 2005

Hari ini begitu membanggakan, setidaknya untukku dan ratusan mahasiswa yang telah menjalani prosesi wisuda pagi tadi. Selepas kepulangan orangtuaku, tak bisa kutunda keinginan mengawali kisah baru. Masa depan benderang kurasa dekat sekali, semenjak surat lamaranku mendapat balasan dari perusahaan. Di sudut kamar, sepatu baruku seperti tak sabar menemani hari pertama besok. Tumpukan buku kuliah, bundelan arsip kegiatan dan berkardus-kardus barang, satu persatu kupindahkah ke luar. Puluhan surat dari pacar dan teman dekat mulai kusisihkan, sampai kusadari beberapa amplop masih utuh sampulnya, belum terbuka. Tertera nama perempuan Minang yang seingatku sudah berulang kali mengirimiku, entah apa isinya. Baiklah, hari ini tak ada salahnya kubaca.

Kak, bahagia sekali rasanya kampung Eti sekarang sudah ada kemajuan. Selepas pembangunan jalan dari simpang empat sampai ke tempat mandi, perbaikan jalan ke masjid di kampung bawah mulai bulan Mei besok. Orang-orang merasa bangga sekali, termasuk Eti. Tetapi tanpa melihat kakak dan yang lain, sedihlah rasanya hati. Mudah-mudahan kakak tak lupa dengan Eti.

Kurasakan getir meruap kembali. Ada ikatan rasa yang membuatku terjerat, serupa kumbang tertangkap jaring laba-laba. Sedangkan sebagai aktivis kampus, aku telah kenyang dengan kebebasan diri yang berbeda dari masa sebelumnya. Terlebih sejak hidup merantau dan membiayai kuliah sendiri, seolah tak ada lagi bayangan orangtua. Aku jadi mengerti betul bagaimana menggunakan statusku itu untuk menyiasati kerumitan hidup. Mulai dari urusan akademis, pergaulan teman, hingga perkara mendapatkan hati perempuan, kupikir mudah diatasi dengan menempelkan status mahasiswa, segalanya jadi beres. Apalagi belum lama kusandang gelar sarjana, tak ada lagi kekhawatiranku terkait orangtua. Namun semua itu nyaris kandas sejak kubaca kalimat-kalimat Eti di surat berikutnya.

Eti tak akan melupakan kakak-kakak yang Eti kenal, apalagi kakak yang sangat lucu, suka bergurau, cakap mengaji pula. Nyaman hati ini sama kakak, dekat rasanya karena Eti tak punya kakak. Eti titip salam ya kak buat kakak lainnya, ya kalau kakak ketemu. Tapi kalau tak ketemu, ya lewat telepon saja. Eti mau kirim surat buat kakak semua. Tapi nasib Eti yang malang, dompet dan alamat Eti diambil orang di atas kapal dan juga uang Eti. Beruntunglah Eti, alamat kakak masih tersimpan di kepala.

Napasku sejenak tertahan, berpikir tentang perkara menyimpan yang memang butuh ketekunan, sedangkan aku paling tak bisa melakukannya jika menurutku tak perlu. Terlebih sudah kuputuskan berpindah kos-kosan tak lama lagi, setidaknya ke rumah kontrakan yang lebih nyaman, demi mendapatkan gairah baru menyambut hariku selanjutnya. Setahuku, kenangan memang tak sampai bikin mati seseorang, tetapi bisa jadi mendatangkan kutukan sebab dihantui mimpi buruk berkepanjangan. Belum selesai pikiranku melaju, dering ponsel mengagetkan.

“Tiketnya jam 4 lho ya.” Sekalimat pesan di layar, mengingatkan janji tentang perayaan kecil sore ini: nonton Film Gie di bioskop dekat balai kota, lalu menikmati kuliner malam di seputaran Pasar Gede setelahnya.

 Ah sudahlah, aku tak mau ada beban. Aku tak mau jadi pohon bambu, aku mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.[9] Beberapa sisa amplop tak kulanjutkan, kujadikan satu dalam plastik bersama yang lain, kumasukkan karung sembari menunggu tukang sampah datang.

***

Tanjung Balai, Oktober 2005

Ia tak habis pikir dengan kebiasaan terbangun yang masih saja mendera puncak malam-malamnya, terlebih di kota ini. Kalau sudah begitu, ia hanya bisa melanjutkan kebiasaan di kampung, menulis surat untuk seseorang. Inilah kali pertama ia menulis surat di tempat lain, bukan di kamarnya sendiri. Terbersit haru karena ada perasaan yang berbeda.

Cahaya lampu kamar memantul di sudut pipinya yang basah. Walau mimpinya bekerja di Jawa tak kesampaian—agar sekolah adik-adiknya tak putus di tengah jalan seperti dia, setidaknya malam ini ia bisa terhibur dengan bercerita perihal kehidupan barunya.

Kak, tidak apa kakak tak pernah balas surat dari Eti. Mungkin kakak sibuk. Sedangkan Eti hanya bisa meminta maaf jika mengganggu kakak. Tetapi Eti senang sudah dibolehkan cerita lewat surat seperti sekarang.

Oiya, Kak. Eti tak di kampung lagi sekarang. Eti sudah ikut sepupu ke Riau, dekat Batam dan Malaysia. Semalam bundo telepon, sedang Eti bikin surat buat kakak. Eti bilang, Eti sedang buat surat. Bundo tanya buat siapa. Eti bilang buat Kak Gilang. Bundo dan abak titip salam buat kakak. Sudah dulu ya kak. Semakin Eti teruskan, semakin banyak air mata keluar.

“Maaf ya, Kak, tulisannya jelek. Eti sedih, soalnya,” tulisnya menutup kalimat, sembari berbisik dengan genangan di mata yang berusaha ditahan.***

____________________

Catatan: Naskah ini pernah mendapat Juara V dan termaktub dalam Buku Antologi Pemenang Lomba Menulis Cerpen Air Mata (Takanta.id), namun belum pernah terbit di media mana pun.

____________________

Ian Hasan. Bapak dua anak, lahir di Ponorogo, berkebun puisi dan cerita di Sanggar Pamongan, Karanganyar. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Biasa disapa lewat akun Instagram @ian_hasan.


[1] Asal-usul peradaban dalam hikayat Minang

[2] Saluang= alat musik tradisional khas Minangkabau, mirip seruling

[3] Pepatah Minang yang berarti “duduk sendiri bersempit-sempit, duduk bersama-berlapang-lapang.”

[4] Rumah Bagonjong atau Rumah Baanjuang = nama lain Rumah Gadang, biasa disebut oleh masyarakat setempat

[5] Sumpit = senjata tradisional Minangkabau yang digunakan untuk berburu ataupun dalam pertempuran terbuka, sebagai senjata rahasia untuk pembunuhan diam-diam

[6] Abak= sebutan ayah dalam bahasa Minang

[7] ABRI= Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (sekarang TNI)

[8] Pepatah Minang, berartikan ‘”Yang sakit adalah kata-kata, yang memalukan adalah yang kelihatan.”

[9] Kutipan kata-kata Soe Hok Gie, dengan mengganti kata ‘saya’ menjadi ‘aku.’