Sejak kepalaku merasakan aspal panas, tersebab pukulan kendaraan dari arah kiri, sesaat setelah menerobos lampu merah di perempatan Anker, yang kata orang angker, detik itu juga aku  tidak mendengar lagi celoteh Bréin.

“Gas!” teriak Bréin sebelum kejadian nahas. Itu kata terakhir yang masih kuingat sebelum aku tersadar di ranjang IGD, ditemani Hert dan bau anyir darah menusuk hidung. Tidak terlihat batang hidung Bréin. Aku tidak peduli. Aku sungguh-sungguh menikmati ketenangan ini.

Tetapi beberapa tahun berselang, setelah kesadaranku kembali, Si Keparat Bréin kembali masuk ke kehidupanku.

***

Bréin dan Hert, begitu aku memanggil kedua temanku. Aku tidak tahu kapan persisnya kami memulai persahabatan ini. Mungkin sejak duduk di bangku sekolah atau mungkin juga sejak aku lahir. Entah. Tapi kehadirannya benar-benar baru terasa ketika usiaku menginjak kepala tiga, ketika permasalahan kehidupan semakin mendera. Kehidupan yang semakin sepi.

Saking dekatnya hubunganku dengan Bréin dan Hert, mereka selalu menemani ke mana pun aku pergi, termasuk di ruang dan waktu pribadiku. Bagiku dini hari adalah waktu yang melelahkan. Jika orang-orang pada umumnya telah menarik selimut dan bergumul dengan mimpi indah,  kami bertiga justru semakin riuh dengan berbagai hal. Baik hal yang telah terlewati, maupun yang belum terjadi. Dan bodohnya aku masyuk mengikuti arah pembicaraan mereka hingga azan subuh berkumandang. Satu persatu meninggalkanku sampai bangun di pagi hari dengan rasa pusing di kepala. Aku selalu sudah merasa lelah, sebelum memulai hari.

Sering kali aku didera kelelahan jika terus-menerus mengikuti jalan pikiran Bréin. Si Keparat itu meninggalku begitu saja, ketika aku terkapar lelah. Sedangkan Hert masih selalu setia menemaniku, meski aku selalu menyakitinya. Hert tekun mendengar keluh kesahku. Tidak banyak bicara. Tidak ada penghakiman. Ia baik. Sangat baik. Namun satu hal yang sering membuatku kesal: Hert jarang memberi solusi.

Jika dibandingkan mereka, cara berpikir Bréin terasa lebih logis. Isi kepalanya juga sangat liar, nakal, dan sangat kreatif. Dan aku suka itu. Ia bisa melompat-lompat dari satu waktu ke waktu lain, cepat memberikan solusi atas suatu masalah, dan memberikan motivasi. Sedangkan Hert terasa lebih bijak dan tenang dalam menyikapi keadaan. Selalu memberi pertimbangan atas kemungkinan-kemungkinan. Ia seperti menjadi alarm dalam hidupku. Pernah suatu kali aku mengambil keputusan yang menyebabkan penyesalan yang terus menghantui sampai detik ini. Meski waktu itu Hert sudah berulang kali mengingatkanku, namun tersebab dominasi Bréin, aku lebih memilih mengikuti perkataannya dari pada Hert.

“Kompor belum kamu matikan,” kata Bréin beberapa menit setelah roda Vespaku mengaspal meninggalkan halaman rumah.

“Sudah!” sanggah Hert untuk meyakinkanku untuk melanjutkan perjalanan.

“Belum! Apinya akan menyambar minyak dan rumahmu akan terbakar. Kamu tidak memiliki rumah untuk berteduh nanti malam,” hardik Bréin lagi.

“Sudah mati. Percayalah! Lanjutkan perjalanan.” Hert mulai kesal dengan kicauan Bréin.

Aku mengikuti keyakinan Hert, meski aku belum sepenuhnya percaya. Masih ada sedikit ganjalan dalam benakku.

“Eh, kayaknya pintu belakang belum dikunci. Aku lihat tadi masih tergantung di lubang kunci. Kali ini aku benar-benar melihat dengan mata dan kepalaku sendiri.” Bréin membawa masalah lain.

Tanpa pikir panjang, aku memutar laju kendaraanku kembali ke rumah. Alih-alih membuat mereka diam, aku juga ingin memastikan kembali rumah dalam kondisi aman ketika kutinggalkan. Hal sepele seperti itu sudah sering terjadi dan aku mungkin gegabah dalam melakukan hal-hal kecil. Karena tidak sedikit apa yang dikatakan Bréin itu benar.

“Lihat! Ayo kejar!” Bréin mengarahkan telunjuk tangannya.

Perempuan berambut kuning jagung, bertumit cerah, dan kaos putih ketat, menyalip kami. Aku lirik wajah Hert dari spion. Mukanya terlipat-lipat. Aku tahu, ia sebal atas kelakuan kami. Aku memelankan laju kendaraanku dan kembali ke rumah.

Perdebatan Bréin dan Hert dimulai sejak mataku terbuka dengan tubuh masih terkulai di ranjang dengan seprainya kusut seperti otakku. Aku sudah merasa lelah sebelum benar-benar menggerakkan tubuhku. Bréin selalu memunculkan prasangka-prasangka apa yang akan terjadi hari ini. Tersebab itu kecemasan selalu menghantuiku. Ia juga selalu mengganggu ketika aku sedang bekerja. Aku menjadi tidak fokus kepada pekerjaan di depan mataku. Sedangkan Hert, teman terbaikku itu, terus berusaha menenangkan dan mengembalikan perhatianku.

“Coba instagram barang sebentar. Hari masih panjang. Tenang saja semua pekerjaan hari ini pasti beres,” Bréin merajuk. Meski Hert melarang, aku tetap mengikuti keinginan Bréin. Belum ada lima gulir, Bréin membujuk untuk membuka Youtube. Sampai setengah hari aku menonton siniar artis terkenal. Pekerjaanku menjadi tak tersentuh seharian. Dan Hert begitu kecewa kepadaku. Dari sudut ruangan,  Bréin tertawa puas melihatku kacau.

Beberapa waktu belakangan aku mulai memperhatikan, kapan Bréin tidak bersama kami, yaitu ketika butiran-butiran hujan sedang meredam sengatan matahari. Mungkin Bréin lebih tertarik bergabung dengan mereka dari pada menikmati waktu bersama kami. Bréin sangat egois, tapi aku membiarkannya. Keberadaan Hert sudah lebih dari cukup menemaniku menikmati udara sejuk. Aku merebahkan badan di ranjang. Otakku berhenti. Menatap khusyuk jatuhan air hujan dari ujung genting. Dunia sepertinya sedang diam juga. Tidak ada hiruk pikuk di jalanan depan rumah.

“Hai, Pemalas!” Bréin membangunkan dari lamunanku.

Bangsat! batinku. Ia sama sekali tidak menghargai waktu orang lain. Suaranya seperti lengkingan petir di antara ritmis ketukan butiran hujan. Aku terhenyak, teringat ada janji yang terlewat. Bergegas kuambil ponsel, mengirimkan beribu-ribu alasan dengan kata permintaan maaf di akhir pesan.

“Kenapa kamu tidak mengingatkan?”gerutuku kepada Hert. Mulutnya menganga seperti ingin memberikan penjelas. Tetapi gegas aku memotongnya sebelum mulai bicara. Wajah polosnya membuatku terdiam. Aku mulai sadar bahwa hal itu itu murni keteledoranku. Bréin tertawa terpingkal-pingkal melihat kami. Aku melihatnya sinis. Bréin benar-benar tidak memiliki empati.

Ketika matahari mulai tenggelam, orang-orang mulai kembali ke peraduan melepas penat. Mereka menikmati waktu bercengkerama dengan keluarga atau teman-temannya. Tapi, bagiku momen itu menjadi detik-detik dimulainya penyiksaan. Di tempat-tempat lain juga di kedai kopi petang ini, Bréin dan Hert semakin aktif mengajakku berdiskusi, tentang hal-hal di luar kendaliku. Kepulan asap rokok dan secangkir kopi, menjagaku untuk tetap tekun mengikuti pembicaraan mereka.

“Kamu tidak konsekuen. Sudah mengecewakan orang,” Bréin memulai perdebatan mengungkit masalah tadi siang. “Coba bayangkan jika kamu berada di posisinya,” tambahnya mengusik kedamaian petang ini.

“Iya, aku sudah mengaku salah, tapi…”

“Tidak ada kata ‘tapi’. Janji adalah utang!” Bréin mulai memojokkanku.

“Tunggu. Itu manusiawi, Bréin,” Ucapan Hert terdengar cukup bijak, mencoba menengahi kami. “Kamu lupa, dia sudah sering melakukan hal benar selama ini. Kamu menghakiminya secara berlebihan untuk satu kesalahan kecil. Bukankah orang itu sudah memaklumi?” tambahnya.

“Oh, kamu anggap hal itu sepele? Laki-laki itu dipegang omongnya, Hert!” kata Bréin. Aku bertambah bingung, mereka memperdebatkan sesuatu hal yang sudah berlalu. “Sungguh kasihan orangtuamu. Sudah melahirkan manusia seperti kamu!” Bréin menunjuk mukaku. “Kamu mau jadi apa? Lihat dirimu sekarang! Seonggok pecundang!”

“Diam, Bréin!” ucap Hert. “Dunia tidak akan runtuh dengan satu kesalahan,” tambahnya.

Hert menguatkanku bahwa kegagalan hanyalah jejak-jejak kecil, dan jejak itu bisa tertutup kembali dengan jejak-jejak selanjutnya. Meski perkataannya adem, namun tidak cukup untuk mengguyur bara di dadaku. Celoteh Bréin sudah melewati batas. Meskipun sebenarnya aku juga merasa perkataan Bréin memang benar. Bahwa selama ini aku belum berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapi masa depan. Ucapan itu menusukku menembus relung-relung terdalam. Tameng kesabaranku sudah jebol. Kali ini aku sangat muak dengannya.

Syaraf-syaraf di otakku mulai berdenyut kencang. Aku menarik menarik rambutku dengan kuat. Dadaku semakin berdebar. Sisa ampas kopi, membuat tenggorokanku gatal. Aku terbatuk-batuk hingga mau muntah. Puntung-puntung rokok berserakan di bawah meja seperti semrawutnya rambutku. Ingatan hari nahas masa lalu menyelinap. Aku tahu di mana tempat untuk mengusir Bréin.

Gegas aku mengangkat pantatku dari kursi kayu kedai kopi. Mengayun langkah cepat menuju Vespaku. Bréin dan Hert sudah mendahului duduk di jok belakang, sebelum kendaraan menyala. Tarikan gagang gas cukup kuat, memaksa Vespaku melaju kencang.  Anjing! umpatku dalam hati mendengar mereka masih terus saja beradu mulut, meski angin membawa terbang teriakan mereka.

Di depan, papan baliho bir di atas atap Toko Pojok sudah tampak jelas. Lampu lalu lintas di perempatan Anker itu menyala kuning berkedip seperti pandangan mataku. Hanya ruangan IGD dan bau anyir darah yang ada di isi kepalaku. Senyum kecil tersimpul di bibirku.***

____________________

Kesit H. Setyadji. Tinggal di Sukoharjo. Aktif menulis di Yeka, ruang kecil untuk berkarya.