Kamu begitu bersemangat. Sepertinya kamu telah berhasil menemukan akhir dari pencarianmu selama ini: standar rasa menurut levelmu. Dan kali ini, kamu sangat yakin telah benar-benar siap untuk menikah.

Sepanjang perjalanan dari kantor menuju rumah, pikiranmu menelisik kembali satu per satu petualangan yang sempat terlewat bersama para kekasihmu. Banyak. Jadi bukan hal berlebih jika memang hanya beberapa saja yang berhasil meninggalkan kesan di  hidupmu.

K adalah pacar yang pertama kali membuatmu seperti terbang di atas awan, hanya dengan berciuman saja. Menurutmu, K seorang pencium andal. Bahkan, demi ciuman yang menurutmu sangat memabukkan itu, kamu rela setiap pekan melipat jarak Surabaya-Bali. Kebiasaan itu terhenti saat tanpa sengaja kamu melihat K mencium perempuan lain: di bandara, saat menjemputmu, di depan orang banyak yang denganmu saja belum pernah dilakukannya. Detik itu juga, kamu memutuskan kembali pulang ke Surabaya tanpa menemuinya.

Kita putus. Dua kata melengkapi keterangan di bawah foto yang sempat kamu ambil saat memergoki mereka, sebelum akhirnya menekan simbol pesawat kertas di ponselmu. Sejak saat itu, K sudah kamu anggap mati. Ratusan pesan dan panggilan darinya sudah tak pernah kamu hiraukan lagi. Termasuk saat ia datang menemuimu.

Lelaki berikutnya tanpa nama. Meski begitu, kamu sangat ingat betapa teduh wajahnya. Ada tahi lalat cukup besar di atas dagu. Namun, suara bas ketika meminta maaf padamu, adalah hal yang paling tidak bisa kamu lupakan.

Kamu bertemu dengannya di diskotek. Entah siapa yang mulai, pada akhirnya kamu terlibat pada cinta semalam. Kamu tak begitu ingat betapa dahsyat persetubuhanmu dengannya, hingga saat terbangun di pagi hari, kamu dapati ranjang telah berantakan serupa wujudmu. Kelembutan pria itu berhasil memikatmu. Berulang kali ia memohon maaf terhadapmu atas apa yang terjadi, berulang kali juga kamu berharap jika kalimat itu berubah menjadi permohonan untuk bertemu kembali.

“Semalam aku hanya ingin santai sebentar,” lelaki itu memungut gaun milikmu dari lantai, “tapi sepertinya aku terlalu banyak minum,” lanjutnya menyesal, sembari menyerahkannya padamu.

Tak ada pembicaraan yang mengarah pada apa yang terlanjur terjadi, apalagi rencana pertemuan berikutnya. Jangankan bertukar nomor ponsel, bertukar nama pun semacam hal yang mungkin tabu.

“Aku juga mabuk, jadi bukan salahmu. Aku harus pulang sekarang.” Kamu meraih gaun dan bergegas masuk ke kamar mandi. Sebelum kamu benar-benar pergi meninggalkan lelaki itu, kamu sempat berpamitan dengan menghapus sisa lipstik di krah kemejanya. Lelaki itu terdiam. Sekilas kamu melihatnya meraba cincin di jari manis dengan penuh kecemasan. Detik itu kamu sadar. Kamu merasa tak perlu berharap lagi. Dan hari itu, memang menjadi awal serta akhir perjumpaan kalian.

Petualangan cintamu selanjutnya, hanya berkisar urusan ranjang. Bagimu, komitmen sudah tak penting lagi. Kamu pacaran dengan M, tapi sepanjang itu, kamu pun bisa bercinta dengan teman priamu yang lain. Menurutmu itu bukan sebuah kesalahan. Kamu sudah bosan, sedangkan M tak mau putus. Salah siapa?

Lamunanmu terhenti usai sadar jika kendaraan sudah sampai di halaman rumah. Kamu tak bisa menutupi kebahagiaan saat melihat sosok yang kini tengah berdiri menyambutmu. Dialah N, pria berusia hampir tiga per empat abad yang saat ini begitu kamu cintai. Kamu selalu merasa seperti diratukan olehnya. Pria itu mungkin tak sempurna, tapi bagimu, penerimaan apa adanya terhadap dirimu sudah berhasil mengambil seluruh jiwa dan kehidupanmu, termasuk masa depan.

“Kau tahu aku benci menunggu,” keluh N sembari memelukmu. Kamu membalas pelukannya dengan lebih erat.

“Aku menyukainya,” jawabmu.

“Senang membuatku menunggu atau senang aku memelukmu?”

Tak ada jawaban. Pikiranmu melayang pada kisah masa kecil dulu. Di rumah yang tak begitu luas, kamu hidup bersama ibu yang memilih sibuk bekerja. Ayah kandungmu mati akibat kecelakaan, sebelum kamu sempat mengenalnya. Selain tinggal dengan ibu, ada pamanmu juga yang seorang pengangguran. Salah satu keuntungan bagi ibumu adalah, ia tak perlu cemas ketika pekerjaan membuatnya harus meninggalkanmu di rumah. Kamu tak sendirian.

Di matamu, pamanmu adalah orang baik. Ia sering mengelus kepalamu saat sedang belajar. Menghapus air mata dan memelukmu saat kamu mengadu diganggu teman di sekolah. Bahkan, waktu kamu sakit dan badanmu lemah, pamanmu juga yang merawat serta memandikanmu. Kamu merasa dilindungi. Saking dekatnya hubungan kalian, ketika ibumu lebih sering berada di luar rumah, kamu tak malu memohon pada pamanmu untuk menemanimu tidur.

“Aku lapar,” suara N membuyarkan lamunanmu. Kamu melepas pelukan dan mengajaknya masuk ke rumah. Menuju meja makan. N tahu kamu tak pandai memasak. Kali ini ia sudah membawa sate maranggi kesukaanmu. Kalian menikmati makan malam sembari mengobrol tentang apa pun. Tentang anak pertama N yang sebentar lagi melahirkan. Anak kedua N yang memutuskan menetap di luar negeri. Juga anak ketiga N yang baru saja diterima di salah satu kampus ternama di Jogja. Sedangkan kamu, paling-paling hanya menceritakan hal remeh yang terjadi di kantormu hari itu.

Kamu senang mendengar N bercerita. Kamu pun senang, karena sejak bersamamu, N tak pernah lagi membahas tentang istrinya. Betapa N berusaha menjaga perasaanmu, meski sebenarnya kamu sudah pasrah menerima kekalahan karena hadir jauh di akhir.

“Aku merindukanmu,” bisik N, saat mendekat dan duduk di sampingmu. Satu kecupan N mendarat di pipi dan puncak kepalamu. Kamu yang saat itu fokus mengganti saluran TV, memilih melepas remote dan menghambur di pelukan N.

Kamu memang tidak menjawab dengan kalimat, tapi reaksi tubuhmu sudah menjelaskan segalanya. Malam itu, kamu berniat menyerahkan dirimu. N terlihat ragu. Kamu menyadarinya.

“Aku menginginkanmu,” katamu, lalu membimbing tangan N menuju ruang paling rahasia di dirimu. Kamu tak lagi menuntut hal yang menggebu. Bagimu, keberadaan N di sisimu sudah cukup. Membayangkan jika kamu mungkin saja bisa hidup bersama N, sudah membuat tubuhmu hampir meledak. Lalu ketika pada akhirnya jari-jari N mengantarkanmu pada kebahagiaan dan kenyamanan tak terperi, sekelebat kamu teringat lagi pada peristiwa masa kecil dulu.

“Tenang, aku menyayangimu. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Percayalah,” kata pamanmu, sesaat sebelum melepas seluruh pakaianmu, lalu menggagahimu, di kamar mandi, saat ibumu pergi ke luar kota.***

____________________

Septi Rusdiyana. Ibu rumah tangga, yang tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen.