Ada seorang wanita bangsawan yang elok parasnya, terlahir dengan segala keistimewaan priyayi, namun ia merasa tidak memiliki wahyu keprabon atau keberuntungan. Ia menikah atas dasar cinta, namun cinta itu lambat laun berubah menjadi abu di tengah himpitan feodalisme kolonial. Ia dikaruniai anak-anak yang elok, namun ia merasa buah hatinya itu seolah dititipkan begitu saja, hingga ia gagal menumbuhkan rasa kasih sayang yang tulus. Mereka memandangnya dengan dingin, seakan tengah mencari-cari cacat tersembunyi di balik keanggunannya. Dan dengan tergesa ia merasa harus menutupi cacat itu, meski ia sendiri tidak pernah tahu apa yang salah. Kendati demikian, setiap kali anak-anaknya berada di dekatnya, ia selalu merasa bagian tengah hatinya mengeras bagaikan batu karang. Hal itu membuatnya gelisah, sehingga dalam perangainya ia justru tampil jauh lebih lemah lembut dan penuh perhatian kepada anak-anaknya, seolah-olah ia seorang ibu yang amat mencintai mereka. Hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa di lubuk hatinya yang paling dalam terdapat ruang hampa yang dingin—tidak mampu meresapi rasa cinta kasih, bahkan kepada darah dagingnya sendiri. Orang-orang di lingkungan loji dan kepatihan berkata tentang dirinya: “Ia adalah ibu yang begitu luhur budi. Ia sangat memuja anak-anaknya.” Hanya dirinya sendiri, dan anak-anaknya, yang tahu bahwa kenyataannya tidaklah demikian. Mereka membaca kehampaan itu di dalam sorot mata masing-masing.
Keluarga kecil itu dikaruniai seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan. Mereka tinggal di sebuah loji kolonial yang asri di kawasan Langenarjan, Surakarta, lengkap dengan halaman yang ditumbuhi pohon sawo kecik, para abdi dalem yang setia menjaga rahasia, serta kebanggaan trah ningrat yang dijaga ketat di hadapan masyarakat sekitar.
Meskipun mereka hidup dalam kemewahan gaya priyayi, selalu ada kecemasan yang merayap di dalam rumah itu. Uang belanja tidak pernah mencukupi. Sang ibu menerima sedikit uang pensiun dari kerabat dalem, dan sang ayah—seorang pegawai administrasi di Karesidenan Surakarta—memiliki gaji bulanan yang tipis, jauh dari kata cukup untuk mempertahankan prestise sosial gaya kolonial yang harus mereka pamerkan di hadapan para pejabat Belanda (pangreh praja). Sang ayah berangkat setiap pagi menaiki kereta kuda (delman) menuju kantor keresidenan. Namun, betapapun bagus prospek kariernya di bawah telunjuk Hindia Belanda, impian kenaikan pangkat itu tidak pernah terwujud. Selalu ada rasa tertekan yang menggerogoti akibat krisis finansial, sementara gaya hidup mewah tetap harus ditegakkan demi menjaga kehormatan semu.
Pada suatu hari, sang ibu berkata dengan dahi berkerut: “Aku akan mencoba merintis usaha kerajinan batik tulis halus atau jamu keraton.” Namun ia bingung harus memulai dari mana. Ia memutar otak, mencoba berbagai macam usaha dagang rempah dan tekstil, tetapi tak satupun membuahkan hasil. Kegagalan demi kegagalan itu meninggalkan guratan kerutan yang dalam di wajahnya yang ayu. Anak-anaknya semakin besar dan kelak harus disekolahkan ke HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang. Harus ada lebih banyak uang! Harus ada lebih banyak uang! Sang ayah, yang selalu berpenampilan gagah dengan setelan jas gaya Eropa dan hobi merokok tembakau Deli pilihan, tampak tak pernah becus melakukan hal yang produktif. Dan sang ibu, yang memiliki ego kebangsawanan yang tinggi, gagal menyaingi kesuksesan para nyonya Belanda di loji-loji besar, sementara selera belanja barang-barang impor Eropanya tetap tinggi.
Maka rumah itu pun seolah-olah dihantui oleh bisikan tanpa wujud yang terus berkelebat: “Kudu ana dhuwit luwih akeh! Harus ada lebih banyak uang!” Anak-anak dapat mendengarkan bisikan itu setiap detik, meski tak seorang pun pernah melafalkannya secara terang-terangan. Mereka mendengarnya tatkala perayaan malam Selikuran atau hari raya tiba, manakala mainan tradisional kayu berukir dan boneka kulit pewayangan memenuhi balai-balai. Di balik patung kuda-kudaan kayu jati berukir gaya Jepara yang mengkilap, di balik miniatur pendopo keraton dari kayu nangka, sebuah suara halus mulai berbisik: “Kudu ana dhuwit luwih akeh! Harus ada lebih banyak uang!” Dan anak-anak itu sontak menghentikan permainan mereka untuk mendengarkan sejenak. Mereka saling menatap mata saudara-saudara mereka, memastikan apakah mereka semua mendengar hal yang sama. Dan masing-masing mendapati di dalam mata saudaranya bahwa mereka pun mendengar bisikan gaib itu.
Bisikan itu berhembus dari pasak-pasak kayu kuda-kudaan yang masih bergoyang pelan, bahkan kuda mainan berukir kepala megah itu turut mendengarnya. Wayang golek purwa berwajah anggun yang duduk di dalam kotak mahoni pun seolah mendengarnya dengan jelas, tersenyum simpul penuh rahasia. Anak anjing peliharaan di beranda yang bertingkah lucu pun tampak kebingungan tanpa sebab lain selain karena ia ikut merasakan getaran bisikan rahasia itu ke seluruh penjuru rumah.
Namun tak seorang pun pernah mengucapkannya dengan suara keras. Bisikan itu ada di mana-mana, melekat seperti udara yang dihirup.
Suatu hari, sang bocah lelaki bernama Raden Mas Rian bertanya kepada ibunya: “Ibu, mengapa kita tidak memiliki bendi atau mobil Ford sendiri seperti Kanjeng Pangeran?Mengapa kita selalu menumpang kereta sewaan atau mobil milik Paman Djojonegoro?”
“Karena kita adalah kerabat priyayi yang kekurangan, Ngger,” jawab sang ibu dengan nada meratapi nasib.
“Tapi mengapa kita bisa kekurangan, Ibu?”
“Ya, aku rasa,” jawab sang ibu perlahan dengan nada getir, “itu karena ayahmu tidak memiliki wahyu keprabon atau keberuntungan hidup.”
Bocah itu terdiam cukup lama merenungkan kata-kata itu. “Apakah keberuntungan itu berupa uang, Ibu?” tanyanya ragu-ragu.
“Bukan, Rian. Bukan sekadar uang. Keberuntungan adalah daya gaib yang mendatangkan limpahan rezeki ke dalam hidupmu.” “
Oh!” kata Rian kebingungan. “Kira-kira, ketika Paman Djojonegoro menyebut kata bandha dhuwit, apakah itu artinya kekayaan?”
“Ya, itu harta benda,” jawab ibunya. “Tetapi itu harta kasat mata, bukan wahyu keberuntungan.”
“Lalu, apa sebenarnya keberuntungan itu, Ibu?”
“Itulah daya luhur yang membuatmu selalu dianugerahi kecukupan. Jika kamu beruntung, uang akan datang sendiri kepadamu. Itulah sebabnya orang Jawa bilang, lebih baik terlahir kabur katiban wahyu daripada sekadar kaya raya warisan. Kekayaan bisa habis dirampas zaman, tetapi jika kamu memiliki keberuntungan, rezeki akan selalu mengalir.”
“Oh! Kalau begitu, apakah Ayah seorang yang tidak beruntung?”
“Sangat tidak beruntung, bisa dibilang begitu,” ujar ibunya getir.
Bocah itu mengamatinya dengan tatapan mata yang lekat. “Mengapa bisa begitu?”
“Entahlah. Tak seorang pun di dunia ini yang tahu mengapa ada manusia yang dianugerahi mujur dan ada pula yang selalu sial.” “
Apakah Gusti Allah mengetahuinya?”
“Mungkin. Tapi Dia tidak pernah membocorkannya.”
“Seharusnya Dia memberitahu kita, ya. Lalu, apakah Ibu juga bernasib malang?”
“Aku tadinya mengira aku beruntung sebelum menikah. Namun setelah menikah dengan ayahmu, aku merasa sangat malang.” Anak itu menatap bibir ibunya yang terkatup rapat, menyadari bahwa ibunya sedang menyembunyikan beban batin yang teramat berat.
“Ah, sudahlah,” kata Rian dengan mantap. “Kalau begitu, aku adalah anak yang beruntung.”
Ibunya tertawa kecil, namun terdengar getir. “Wah, dari mana kamu tahu, Nak?”
Anak itu menatap lurus. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia berucap demikian. “Gusti Allah yang membisikannya kepadaku,” jawabnya bersiteguh.
“Syukurlah kalau begitu, Ngger,” sahut ibunya setengah mengejek.
Rian merasa jengkel karena ibunya menganggap sepele kata-katanya. Ia lantas pergi menyendiri ke kamar tidurnya di loteng loji, mencari-cari makna hakiki dari kata ‘keberuntungan’. Dengan penuh keasyikan batin, ia menaiki patung kuda-kudaan kayu jati tua miliknya, menggoyang-goyangkannya dengan kencang seolah tengah menerobos keheningan malam dalam laku prihatin. Rambut ikalnya tergerai, matanya memancarkan nyala yang ganjil.
Ketika ia selesai melakukan meditasi gerak penunggang kuda itu, ia turun dan berdiri tegak menatap lekat-lekat kepala kuda kayu berukir tersebut. Di atas meja kerjanya terletak tumpukan riset naskah kuno serta lembar telaah sastra Jawa berkat bantuan Ki Sastro, seorang abdi dalem pengrawit dan perawat pusaka keraton yang cedera kaki kanannya akibat peristiwa huru-hara masa lalu dan kini bekerja sebagai tukang kebun di loji mereka atas rekomendasi Paman Djojonegoro.
Ki Sastro adalah seorang pakar dalam dunia sastra pedalangan dan primbon perhitungan hari baik (weton/pawukon). Ia hidup dalam napas kebudayaan keraton, dan bocah lelaki Rian kerap berguru kepadanya secara sembunyi-sembunyi.
Suatu sore, Paman Djojonegoro mengajak Rian berkeliling menaiki mobil lambung panjang buatan Eropa menyusuri jalanan pedesaan menuju loji peristirahatan di kaki Gunung Lawu. Di tengah perjalanan, sang paman bertanya: “Rian, keponakanku, apakah kamu sering berdiskusi tentang perhitungan primbon dan naskah kuno dengan Ki Sastro?”
Rian menatap pamannya dengan waspada. “Apakah Paman menganggap aku tidak boleh melakukannya?”
“Tentu saja boleh! Aku justru ingin tahu ramalan naskah babad mana yang sedang kalian bedah untuk peruntungan sandang pangan bulan ini.”
“Aku hanya meyakini wangsit dari leluhur, Paman,” jawab Rian lirih.
Di tempat terpisah, Ki Sastro menjelaskan kepada Paman Djojonegoro ihwal ketekunan Raden Mas Rian yang kerap menelaah naskah-naskah kuno berupa serat piwulang dan ramalan siklus zaman (Jangka Jayabaya) untuk memetakan dinamika harga sandang dan pangan di pasaran pribumi. Berdasarkan riset naskah kuno yang dicocokkan dengan perhitungan lintang dan wuku, Rian kerap menemukan ketepatan luar biasa tatkala menebak komoditas rempah atau kain batik mana yang akan melonjak harganya di loji-loji perdagangan Surakarta.
Dengan modal awal beberapa kepeng perak peninggalan Paman Djojonegoro yang diputar melalui perantara terpercaya di pasar tradisional Klewer, Rian dan Ki Sastro berhasil meraup keuntungan berlipat-lipat dari hasil telaah riset naskah kuno perdagangan komoditas lokal—seperti beras ketan hitam kualitas super, getah perca, dan batik tulis motif klasik. Uang hasil keuntungan itu disimpan rapat-rapat oleh Ki Sastro di dalam peti besi tersembunyi.
Rian berpesan kepada pamannya: “Paman, mohon jangan katakan hal ini kepada Ibu. Jika Ibu tahu aku berhasil mendatangkan banyak uang melalui riset naskah dan perdagangan ini, ia pasti akan melarangku, karena ia mengira aku bermain judi atau hal-hal terlarang.”
“Baiklah, Ngger. Kita jaga rahasia ini bertiga: aku, kamu, dan Ki Sastro,” ujar Paman Djojonegoro tersenyum.
Seiring berjalannya waktu, pundi-pundi kekayaan hasil riset naskah dan telaah budaya itu kian bertambah hingga mencapai ribuan gulden. Paman Djojonegoro lantas mengatur agar dana tersebut diserahkan secara bertahap melalui notaris keluarga bangsawan kepada ibu Rian bertepatan dengan hari ulang tahunnya, seolah-olah dana itu adalah warisan leluhur kerabat jauh yang cair setiap tahun selama lima tahun berturut-turut.
Tibalah bulan November, bertepatan dengan hari kelahiran sang ibu. Di ruang makan loji yang megah, tersaji hidangan istimewa bernuansa tradisi Jawa ningrat: Tumpeng Nasi Kuning Royal lengkap dengan lauk-pauk autentik berupa Ayam Ingkung Lebaran yang dimasak dengan bumbu gurih santan kental, Urap Pakis segar dengan taburan kelapa parut sangrai beraroma jeruk purut, Sate Lilit Bandeng khas pesisir Jawa, serta sajian penutup berupa Jajan Pasar Tradisional (mulai dari Kue Klepon yang manis lumer di mulut, Serabi Solo berkuah santan kental manis, hingga segelas hangat Wedang Secang rempah kerajaan yang menghangatkan jiwa).
Di tengah suasana jamuan makan yang dihiasi aroma wangi pandan dan rempah wedang, sang ibu membaca sepemberitahuan dari notaris keraton perihal pencairan dana hibah sebesar lima ribu gulden dari kerabat jauh. Wajahnya yang semula dingin dan kaku mendadak menegang. Ada garis-garis kelegaan bercampur ambisi terselubung di sudut bibirnya. Ia menyembunyikan surat itu di bawah serbet linen, tanpa mengucapkan sepatah kata pun rasa terima kasih kepada keluarganya.
Meskipun masalah utang-piutang ibunya telah terselesaikan seketika, bisikan gaib di dalam rumah itu justru semakin menjadi-jadi, bergemuruh bagaikan suara ribuan katak di sawah tatkala musim penghujan tiba. Perabotan kayu jati di rumah itu diperbarui, dan Rian didatangkan seorang guru privat sastra klasik untuk persiapannya masuk ke sekolah tinggi khusus para ningrat (OSVIA/KWEEKSCHOOL). Namun di balik dekorasi bunga melati dan wangi dupa cendana di sudut-sudut ruangan, suara-suara bisikan itu kian melengking nyaring: “Kudu ana dhuwit luwih akeh! Jek durung cukup! Harus ada lebih banyak uang! Lebih banyak lagi!”
Batin Rian tersiksa hebat. Ia jatuh sakit, jiwanya terguncang keletihan akibat siang malam memforsir pikiran menelaah naskah-naskah kuno dan mencari kepastian wangsit demi menghentikan jeritan rumah tersebut.
Dua malam menjelang perhelatan akbar pameran kebudayaan dan pasar malam tahunan di alun-alun keraton, sang ibu yang tengah menghadiri jamuan malam di loji Residen tiba-tiba dilanda rasa cemas yang teramat sangat terhadap anak sulungnya. Ia memutuskan pulang lebih awal dengan kereta kuda sewaan.
Setibanya di rumah loji pada pukul satu malam, suasana tampak sunyi senyap. Dengan langkah senyap, ia menaiki tangga kayu menuju lantai atas, mengikuti sebuah suara ketukan berirama ritmis yang terdengar ganjil namun bertenaga dari arah kamar tidur Rian. Suara derit kayu bergesek konstan, bagaikan derap langkah pasukan berkuda agung di medan laga masa silam.
Dengan tangan bergetar diliputi rasa takut, ia memutar gagang pintu kamar putranya.
Kamar itu temaram. Di dekat jendela yang menghadap ke arah halaman berpagar rindang, ia melihat sesosok bayangan kecil berpiyama tidur sedang meronta-ronta dengan liar di atas punggung kuda-kudaan kayu jati tua. Kilau lampu minyak cempor seketika menerangi ruangan itu—memperlihatkan sang bocah yang berteriak histeris dengan mata membelalak liar, serta sang ibu yang berdiri terpaku dengan balutan kebaya sutra hijau muda bertabur sulaman manik-manik emas di ambang pintu.
“Rian!” serunya tertahan. “Apa yang sedang kaulakukan?!”
“Ini Kanjeng Kyai Malabar!” jerit Rian dengan suara parau bernada tinggi. “Ini penembus wangsit babad babak akhir! Aku sudah menemukannya, Ibu!”
Seketika itu pula, sorot mata bocah lelaki itu meredup, kehilangan kesadaran. Ia jatuh terpental ke lantai kayu dengan benturan keras. Sang ibu bergegas menyergap tubuh anaknya dengan segenap kasih sayang keibuannya yang telat menyapa.
Rian terbaring lemah di atas ranjang peraduannya, terserang demam panas tinggi yang mengacaukan kesadarannya (delirium). Ia terus mengigau meracau menyebut nama-nama naskah kuno, sandi riset pasar, dan wangsit Kanjeng Kyai Malabar.
Menjelang senja di hari ketiga, Ki Sastro diizinkan masuk menengok ke dalam kamar peraduannya. Dengan langkah pincang berbalut kain iket kepala batik, sang abdi dalem berbisik di dekat telinga bocah yang sekarat itu: “Ndoro Rian… ramalan naskah kuno kita tepat menembus sasaran. Perdagangan komoditas rempah dan naskah babad tembus di pasaran agung. Ndoro kini mendulang laba bersih lebih dari delapan puluh ribu gulden. Jerih payah Ndoro tidak sia-sia…”
Rian membuka matanya sesaat, menatap ibunya dengan tatapan nanar penuh kelegaan yang dingin. “Ibu… apakah aku ini seorang anak yang beruntung? Aku sudah membuktikannya pada dunia… Lebih dari delapan puluh ribu gulden… Aku tahu wangsit itu benar, bukan, Ibu? Kalau seseorang menekuni laku batinnya sampai benar-benar yakin… ia pasti menemukan jalan keselamatan…”
Namun takdir berkata lain. Menjelang larut malam di bawah naungan rembulan tanah Jawa, napas bocah lelaki itu terhenti untuk selamanya.
Di sisi jenazah putranya yang terbujur kaku, Paman Djojonegoro merangkul saudari perempuannya yang terpukul bathinnya, sambil berbisik lirih penuh iba: “Ya Allah, Hesti… engkau kini memegang warisan lebih dari delapan puluh ribu gulden di tanganmu, namun engkau harus kehilangan seorang anak lelaki berhati suci yang terlampau dini menanggung beban dunia. Duh, bocah malang… sungguh ia lebih tenang beristirahat, lepas dari kehidupan penuh kepalsuan di mana ia harus menunggangi kuda-kudaan kayu demi mencari secercah arti keberuntungan hidup.”
Catatan: Kajeng Jaran, secara filosofis bisa diartikan sebagai kendali kehendak.
____________________
Aditiya Widodo Putra. Penulis lintas bidang berusia 18 tahun dari Kota Semarang, kota yang mengajarkan bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan dalam satu pandangan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada. Pemilik akun Instagram @adit_widodoputra.
Cerpen ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen Inggris klasik yang berjudul ‘The Monkey’s Paw’. Ceritanya si ibu ingin punya uang banyak, dia membuat keinginan pada benda sihir yang didapatkan tamunya dari India. Setelah mengucapkan keinginan di depan benda sihir itu, anaknya mengalami kecelakaan kerja. Dan uang ganti rugi itu jumlahnya sama persis dengan yang diinginkan si ibu itu. Ironis.
Tapi cerpen ini lebih menarik. Sarat budaya Jawa, dan mengambil setting kolonial. Keren.
Terima kasih yang sebesar-besarnya atas apresiasi mendalam dan ulasan kritis yang sangat mencerahkan. Semoga karya gubahan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga meninggalkan renungan tentang kerapuhan jiwa manusia di tengah pusaran duniawi.