Puisi Risa Fauziah
Kau lupa cangkir itu kosong Untuk apa kembali meminta Sedang kopi yang kusuguh hilang Menjelma langkah detik yang…
Kau lupa cangkir itu kosong Untuk apa kembali meminta Sedang kopi yang kusuguh hilang Menjelma langkah detik yang…
Kucing jantan berbulu oranye itu mengeong-ngeong keras menyerupai gertakan. Cakarnya menggapai-gapai udara dengan bola mata bening mengilat tajam.…
Semanggi; kepalanya sudah lepas dari tadi. Air mata dan sengguk pun sudah lenyap dari tadi. Namun tangisan dan…
Lorong kenangan menyibak setumpuk aksara Menuntaskan tarian mata di puncak sukma Sebelum kau benar-benar tiada dalam penantian Sebelum…
Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping…
Temanku pernah bercerita tentang kekasihnya dan sebuah puisi, Baruna. Bukan kekasihnya–seorang penyair–yang membuat aku tak bisa melupakan cerita…
Mestinya aku tidak mempersembahkan puisi ini untukmu Sedangkan sepasang mata yang lain akan cemburu Jika mengetahuinya
Madura sebagai sebuah daerah yang memiliki beban berat kebudayaan, nyatanya hingga saat ini—meskipun arah angin seolah sedang menuju…
Gelisah membuntuti Ibu. Mengikutinya sepanjang ia menjalani hari. Berserak di wajahnya yang kusam. Pagi tadi, gelisah hadir ketika…
kaki-kaki menelan tanah sawah sepanjang usia ibu hijau-kuning menakar tubuh keriput di antara senyum itu ada denyut yang…