Curhat Septi Rusdiyana

Kadang, ada saja hal unik yang kita jumpai di sekitar. Entah itu terjadi pada diri sendiri, atau bisa juga menimpa orang lain. Kali ini aku ingin berbagi kisah saat aku menjadi saksi percakapan seorang penjual gorengan, dengan salah satu pelanggan perempuannya. Saat itu aku sedang istirahat di tengah bersepeda. Sebenarnya aku duduk cukup jauh dari keduanya, tapi jarak itu masih memungkinkan bisa mendengar dengan jelas percakapan yang terjadi. Untuk memudahkan, mari kita beri nama pelanggan perempuan itu dengan sebutan P, lalu penjual gorengan dengan H. Ayo mulai saja.

P datang di saat sudah ada 4 antrean pelanggan lain di sekitar H. Saat tiba giliran P, H menanyakan kebutuhan pesanan. P menyebutkan aneka gorengan dan jumlah masing-masingnya, tapi yang membuat menarik, P mengatakan jika pesanannya disiapkan nanti-nanti saja, karena ia masih menunggu teman. H menyerahkan kursi plastik untuk P agar bisa menunggu dengan nyaman. Saat ada pelanggan lain datang, H melayani.

P mengambil sebuah buku dari tas. Sepintas aku bisa mengenali judul novel itu dari ketebalan dan warna sampulnya. Pengantin-pengantin Loki Tua, karya Yusi Alvianto Pareanom. P tampak membuka pada halaman tertentu, dan mulai membaca. Ia sama sekali tak terganggu dengan deru kendaraan di sepanjang jalan, pun oleh pelanggan-pelanggan lain yang terus bergonta-ganti. Ia seperti menikmati dunianya sendiri.

“Mbak, mau disiapkan sekarang?” tanya H tampak ragu, mungkin ia takut dianggap mengganggu. P menutup buku dengan jarinya sebagai pembatas halaman. Ia juga sempat melihat pada jam yang melingkar di pergelangan tangan.

“Boleh, mungkin sebentar lagi teman saya datang,” jawab P, lalu kembali membuka buku dan meneruskan membaca.

H terlihat mengajak ngobrol, mungkin lebih cocok dikatakan membual, karena ia seperti bicara sendiri. H mengungkapkan kekagumannya pada P, yang masih mau membaca buku saat menunggu. Menurutnya, di zaman sekarang ini, orang-orang cenderung sibuk dengan gawai. Reels-reels entah dari Tik-tok, Instagram, bahkan Youtube berseliweran. H juga tak malu mengakui kalau dirinya juga melakukannya.

“Mbaknya pasti pinter,” puji H terang-terangan. P hanya tersenyum dan justru bertanya berapa harga gorengan yang sudah disiapkan itu. Tak lama, seorang perempuan yang rupanya teman P, menghentikan motor matic-nya di pinggir jalan. P menyerahkan bungkusan plastik padanya, lalu keduanya berlalu usai P menyerahkan uang pada H.

Aku ingat saat menangkap ekspresi tidak nyaman P waktu H mengomentari apa yang dilakukannya. Kadang, seseorang itu butuh waktu untuk membaca: sendirian. Tak peduli di tengah keramaian, atau bahkan di bawah pohon rindang yang sepi. Itu bukan masalah, yang penting adalah ada waktu intim berduaan dengan buku dan halaman-halamannya. Sombong. Sok fokus. Sok Pintar. Kutu buku. Predikat-predikat itu sesekali melipir.   Entah. Padahal, mereka membaca bukan untuk pamer, apalagi untuk mengharap pujian, melainkan memang pada dasarnya suka melakukannya: membaca.

H mungkin tak sepenuhnya salah, barangkali ia tak kuasa menahan hasrat memuji P. Tapi P juga tak bisa disalahkan atas sikap dinginnya. Bukankah seseorang tidak harus selalu berterima kasih untuk sebuah pujian? Karena, bagi seseorang, empati paling tinggi justru bisa diperlihatkan dengan memberikan privasi seutuhnya. Meskipun, yang tampak kadang seperti sikap tak peduli.

Bisa jadi, P sebenarnya ingin menuntaskan rasa penasaran untuk menyelami kisah di novel, berharap di jeda waktu penantiannya dijemput teman, ia bisa sedikit memperoleh klue. Sayang, imajinasi  yang seharusnya mengalir, pada akhirnya terdistraksi dengan celoteh dan pujian dari H. Bukannya itu cukup mengesalkan.

Kesimpulan dari pengalaman hari ini, mungkin kita tidak perlu sok akrab, sok asyik, dan sok-sok yang lain. Bukan untuk membunuh keramah-tamahan yang terpatri sebagai warga negara Indonesia, hanya sekadar mengingatkan kembali, bahwa tidak semua kepedulian itu harus menjadi ekspresi. Karena ekspresi paling ekspresif, biasanya justru muncul dari sikap tak acuh.***

____________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta.