Matahari pagi menembus celah-celah kisi kayu teras rumah dinas saat Adrian selesai membalut jarinya. Kain kasa putih yang dibawanya dari Rotterdam kini terikat rapi di sekitar jempol dan telunjuk kanannya, menutupi bekas goresan serat kayu  semalam. Rasa perihnya masih terasa setiap kali ia mengepalkan tangan, namun ia tidak peduli.

Pukul tujuh kurang seperempat, Adrian sudah berdiri di pelataran utama pabrik. Di sana, udara pagi yang segar beradu dengan bau minyak pelumas dan kayu jati basah. Tiga peti kayu raksasa berukuran tinggi dua meter lebih tergeletak di tengah halaman, dikelilingi belasan kuli. Peti-peti itu adalah jantung dari Suikerfabriek Delanggoe: pasangan silinder pemerah tebu buatan Stork & Co. dari Hengelo.

Jan Jansen berdiri di dekat peti pertama, menggenggam linggis besi tebal.

“Pukulan pertama untukmu, De Boer?” tanya Jansen sambil menyeringai tipis. Matanya yang merah menandakan pria itu sama sekali tidak tidur semalam.

Adrian menggeleng. “Buka saja, Jansen. Kita tidak punya waktu untuk seremonial.”

Jansen tertawa kecil, lalu memukulkan ujung linggisnya ke sela-sakelar kayu peti. Sound KREAK yang nyaring membelah udara pagi. Tiga kuli lainnya menyusul dengan palu besi besar. Papan-papan kayu pinus tebal pelindung mesin runtuh satu per satu, menyingkap bongkahan besi tempa berwarna hitam kelam yang diselimuti lapisan gemuk tebal berminyak.

Mesin itu tampak anggun sekaligus intimidatif. Roda-roda gigi berukuran raksasa bergerigi tebal memantulkan sinar matahari pagi. Di sisi sampingnya, empat lubang baut pengikat berdiameter lima inci menembus lempengan besi dasarnya.

“Siapkan katrol dan balok tumpuan!” teriak Jansen dalam bahasa Melayu kaku kepada para kuli.

Sebuah tiang derek dari rangka kayu jati tebal yang dilengkapi rantai-rantai besi raksasa dikerek mendekati peti. Puluhan buruh berbaris memegang tali tambang tebal yang terhubung ke kerekan rantai.

Di antara barisan buruh itu, Adrian melihat pemuda berbekas luka bakar di lengan kirinya, pemuda yang semalam tertimpa balok kayu. Kakinya yang kanan dibalut kain lusuh, dan ia berdiri agak bertumpu pada kaki kirinya. Wajahnya pucat, tetapi tangannya tetap memegang erat tambang manila yang kotor.

Adrian melangkah menghampiri mandor lokal yang berdiri memegang cemeti kulit di dekat barisan.

“Biarkan dia beristirahat hari ini,” kata Adrian sambil menunjuk ke arah pemuda itu.

Mandor berkumis tebal itu menoleh, memandang Adrian dengan kening berkerut. “Mboten saged, Meneer. Kurang tiang. Peti niki berat.”

“Saya bilang biarkan dia istirahat,” ulang Adrian, suaranya menurun setengah nada namun menjadi dingin. “Gantikan posisinya dengan kuli lain dari bagian batu.”

Mandor itu mendengus pelan, namun tidak berani menolak. Ia mengibaskan tangannya, menyuruh pemuda itu keluar dari barisan. Pemuda itu menatap Adrian sejenak, matanya yang redup memperlihatkan rasa heran yang campur aduk, sebelum akhirnya berjalan pincang menuju bawah naungan pohon asam di tepi jalan.

Jansen yang memperhatikan dari kejauhan melangkah mendekati Adrian sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Kau terlalu lembek pada mereka, De Boer,” gumam Jansen pelan agar tidak terdengar kuli lain. “Di sini, kalau kau beri mereka kelonggaran sejengkal, besok separuh dari mereka akan pura-pura sakit. Ini pabrik gula, bukan rumah piatu.”

“Dia terluka karena kayu lapuk milikmu yang patah semalam, Jansen,” jawab Adrian datar. Ia tidak menatap Jansen, melainkan memfokuskan pandangannya pada rantai besi katrol yang mulai menegang. “Lagi pula, kita butuh orang-orang yang bisa berdiri tegak saat memutar engsel katrol.”

Jansen hanya bergumam tak jelas lalu kembali berteriak memberi aba-aba.

“Tarik!”

Tambang manila berderit keras saat puluhan lengan kekar menariknya serentak. Suara rantai besi beradu berdentang-dentang memenuhi pelataran. Bongkahan besi gilingan berbobot ber-ton-ton itu perlahan terangkat dari lantai kayu petinya, menggantung di udara dua meter di atas tanah.

Seluruh tempat itu mendadak hening. Hanya ada derit gesekan kayu derek dan napas tertahan dari para buruh yang menahan beban di ujung tambang. Rangka kayu jati penopang katrol melengkung sedikit di bawah tekanan beban raksasa itu.

Besi gilingan itu diayunkan pelan menuju mulut lubang fondasi yang semalam diperbaiki. Adrian melangkah turun ke dalam lubang. Ia tidak memedulikan celananya yang kini kembali terkena debu semen kusam. Di dasar lubang, empat batang baut besi raksasa, masing-masing setebal lengan orang dewasa, menjulang tegak dari dalam lantai beton yang telah mengeras.

Inilah saat pembuktiannya. Jika perhitungan Adrian semalam meleset walau tiga milimeter saja, atau jika lantai beton miring akibat terburu-buru, lubang pada lempengan besi mesin tidak akan bisa masuk ke dalam empat baut tersebut. Dan jika itu terjadi, Mr. van Hoorn akan punya alasan untuk menendangnya kembali ke Rotterdam sebagai insinyur gagal.

“Perlahan! Turunkan perlahan!” teriak Adrian dari dasar lubang, tangannya menengadah mengarahkan posisi besi yang bergantung di atas kepalanya.

Bayangan besi raksasa itu menutupi seluruh cahaya matahari di dalam lubang, menenggelamkan Adrian dalam kegelapan dingin. Bau gemuk mesin yang pekat menyengat hidungnya.

Besi itu turun sentimeter demi sentimeter. Dua baut pertama di sisi selatan masuk dengan mulus ke dalam lubang lempengan mesin. Namun, saat bagian utara diturunkan, ujung baut ketiga bergeser sedikit dan menyangkut di tepi lubang besi.

“Tahan! Tahan di situ!” teriak Adrian.

Beban ton-tonan besi itu kini menggantung rapat tepat di atas jarinya. Jika rantai atau tambang di atas putus sekarang, tubuh Adrian akan remuk seketika di dasar beton.

Dari atas lubang, Jansen menunduk berteriak. “Ada apa, De Boer? Bautnya tidak pas?”

Adrian tidak menjawab. Ia berlutut di lantai semen yang dingin, menempelkan pipinya mendekati permukaan beton untuk melihat celah sempit itu. Baut besi itu hanya bergeser kurang dari dua milimeter karena terhalang oleh kerikil semen kusam yang mengering di pangkalnya.

Ia mengambil pahat besi kecil dari saku rompinya. Dengan tangan kanannya yang terbalut kain kasa perih, ia memukul pahat itu menggunakan batu kali kecil.

Tung. Tung. Tung.

Pecahan semen tipis itu terlepas. Adrian menyapu sisanya dengan jemarinya yang terluka hingga bersih.

“Dorong besi ke arah timur sedikit! Satu milimeter saja!” teriak Adrian ke atas.

Di atas lubang, para buruh menggeser batang kayu pengungkit. Mesin giling besi itu bergeser pelan.

KLANG!

Suara besi beradu dengan beton bergema keras. Baut ketiga dan keempat meluncur masuk dengan sempurna ke dalam lubang lempengan. Lempengan dasar mesin Stork & Co. duduk dengan presisi mutlak di atas fondasi beton yang disemen semalam. Tidak ada celah. Tidak ada kemiringan.

Suara desah napas lega terdengar dari para buruh di atas lubang. Adrian tetap berlutut di dasar lubang selama beberapa detik. Dahi dan lehernya dibasahi keringat dingin. Ia menyentuh permukaan besi hitam yang dingin itu dengan telapak tangannya yang terbalut kasa. Besi itu telah mapan di tempatnya. Logika fisika dan kerapian matematika dari Delft telah menang atas kegelapan dan kelelahan malam semalam.

Ia memanjat naik keluar dari lubang galian. Di atas, Jan Jansen menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa hormat yang enggan di dalam matanya saat ia menepuk bahu Adrian.

“Presisi yang luar biasa, De Boer,” kata Jansen pelan. “Van Hoorn tidak akan punya alasan untuk ngomel hari ini.”

Adrian tidak tersenyum. Ia menoleh ke arah jalan tanah di luar gerbang pabrik.

Di bawah rindangnya pohon asam Jawa, pemuda berbekas luka bakar itu sedang duduk di atas batu kali, memperhatikan kompleks pabrik dari jauh. Di sampingnya, berdiri seorang gadis muda bertelanjang kaki yang membawa keranjang bambu, gadis yang sama yang dilihat Adrian di stasiun saat pertama kali tiba di Delanggu.

Gadis itu sedang menyerahkan sebuah cangkir seng berisi air minum kepada pemuda itu.

Saat Adrian menatap ke arah mereka, gadis itu mendongak. Pandangan mata mereka bertemu melintasi jarak lima puluh meter, melintasi pagar kayu pabrik dan tumpukan peti-peti mesin. Tatapan gadis itu tetap sama seperti di stasiun: tenang, dalam, dan menyimpan keheningan yang tidak bisa diterjemahkan oleh rumus teknik mana pun.

Adrian menyentuh tepi topinya, lalu berbalik membelakangi mereka, berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil gulungan kertas kalkir berikutnya.

____________________

Erna Surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten.