Pada zaman penjajahan Hindia Belanda, tersebutlah kisah di kadipaten pesisir Jawa Tengah bernama Kadipaten Semarangan. Adipati yang bertahta kala itu, Kanjeng Raden Tumenggung Danurejo, sangat gandrung akan busana-busana mewah. Seluruh perbendaharaan kas kadipaten dan hasil bumi berupa cengkeh serta kopi terkuras hanya untuk memenuhi hasrat pribadinya membeli pakaian jahit halus. Beliau tidak peduli pada nasib para prajurit mataram yang berjaga di benteng, tidak pula berkenan menghadiri pentas wayang orang di bangsal keraton, kecuali jika acara tersebut menjadi ajang baginya untuk memamerkan baju terbarunya. Beliau memiliki busana berbeda untuk setiap jam. Jika pada penguasa lain rakyat biasa berkata, “Sang Adipati sedang memimpin rapat Sitinggil,” maka bagi Adipati Danurejo rakyat selalu berkata, “Kanjeng Raden sedang berada di dalam sanggar busana.”

Kehidupan berjalan meriah di kota praja tersebut. Pedagang VOC dan pendatang dari pelbagai penjuru nusantara hilir mudik setiap hari di alun-alun. Suatu hari, datanglah dua orang penipu yang mengaku sebagai penenun ulung asal wilayah pesisiran. Mereka menyebarkan kabar burung bahwa mereka menguasai teknik menenun kain tenun jepara dan lurik paling indah dengan motif parang dan kawung yang sangat rumit. Kain tersebut, ujar mereka, memiliki kesaktian ajaib: tidak akan bisa dilihat oleh siapa pun yang berniat jahat, tidak cakap dalam memegang jabatannya, atau yang amat bodoh akalnya.

“Sungguh kain yang tiada tandingannya!” pikir Adipati Danurejo. “Jika aku memiliki pakaian dari bahan itu, aku dapat seketika mengenali siapa saja pejabat kadipaten yang culas dan tidak layak atas jabatannya, serta membedakan orang yang alim nan bijaksana dari orang yang dungu! Kain ini harus ditenun untukku sekarang juga.” Beliau lantas memerintahkan bendahara kadipaten untuk menyerahkan kepingan uang gulden dan rupiah emas dalam jumlah besar kepada kedua penenun agar mereka segera memulai pekerjaan.

Kedua penipu itu pun memasang dua buah alat tenun bukan mesin (ATBM) di bangsal istana dan berpura-pura sibuk menenun, padahal tidak ada sehelai benang pun di sana. Mereka meminta pasokan benang sutra terbaik dari Cina dan benang emas murni. Semua perbekalan mahal itu mereka masukkan ke dalam kantong kain rahasia milik mereka sendiri, lalu melanjutkan kerja pura-pura di depan alat tenun kosong hingga larut malam.

“Aku ingin tahu sejauh mana kain pesananku telah ditenun,” gumam Adipati Danurejo setelah beberapa hari berlalu. Namun, hatinya agak bimbang ketika teringat akan syarat ajaib kain tersebut—bahwa orang dungu atau pejabat yang tidak cakap tak akan mampu melihatnya. Meskipun yakin pada kepemimpinannya, beliau merasa lebih bijak jika mengutus orang lain terlebih dahulu untuk melihat hasil kerja itu. Kabar tentang keajaiban kain tenun tersebut telah tersebar luas hingga ke warung-warung kopi dan tempat penumpukan rempah. Warga kota tidak sabar ingin mengetahu seberapa bijak atau bodohnya tetangga mereka.

“Aku akan mengutus Patih Kyai Notoenggo ke bangsal tenun,” kata Adipati Danurejo setelah beristikharah dan mempertimbangkannya. “Beliau adalah sesepuh yang alim, taat beribadah, cerdas, dan tidak ada pejabat yang lebih jujur serta cakap memangku jabatan selain dirinya.”

Maka berjalanlah Patih Notoenggo menuju bangsal kadipaten, tempat kedua penipu itu berpura-pura menenun sekuat tenaga pada rangka kayu yang kosong. “Subhanallah, apa artinya ini?” batin sang patih tua sambil membelalakkan matanya. “Aku tidak melihat sehelai benang pun terpasang pada alat tenun itu.” Namun, sebagai pejabat sepuh yang tenang, ia menahan diri dan tidak mengucapkannya keras-keras.

Kedua penipu itu menyapa sang patih dengan sangat santun dan mengucapkan salam, lalu meminta beliau mendekat ke rangka tenun. Mereka menanyakan apakah ragam hias motif parang rusak dan corak warnanya menyenangkan hati, seraya menunjuk ke arah kayu kosong. Patih Notoenggo memandang lekat-lekat melalui kacamata bacanya, tetapi ia tetap tidak melihat apa-apa—karena memang tidak ada benang sehelai pun di sana.

“Apakah mungkin aku seorang yang bodoh dan tidak cakap?” batin sang patih dengan cemas. “Selama ini aku memimpin rakyat dengan berpatokan pada kitab risalah kepemimpinan Nitisastradasa. Jangan sampai ada orang yang tahu jika aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak boleh mengaku bahwa aku tak sanggup melihat kain ini.”

“Bagaimana, Ki Patih yang bijaksana?” tanya salah satu penipu sambil terus memegang teropong tenun kosong. “Apakah corak tenunan kami memenuhi standar keindahan keraton?”

“Masya Allah, indah sekali!” sahut Patih Notoenggo cepat-cepat. “Pola kawung dan perpaduan warnanya sungguh elok. Ya, aku sendiri yang akan menyampaikan kepada Kanjeng Adipati betapa indahnya hasil karya kalian.”

“Kula nuwun, kami sangat berterima kasih,” ujar kedua penipu itu. Mereka lalu menyebutkan nama-nama pewarna alami seperti wedel indigo dan kulit kayu tingi, serta menjelaskan kerumitan motif yang sebenarnya khayalan belaka. Patih Notoenggo menyimak dengan cermat agar dapat menghafalnya untuk dilaporkan kepada Adipati. Setelah itu, kedua penipu kembali meminta pasokan benang sutra dan benang emas tambahan dengan alasan untuk menyelesaikan bagian tumpal. Semua bahan mewah itu kembali mereka sembunyikan ke dalam kantong pribadi.

Tak lama kemudian, Adipati Danurejo mengutus pejabat lain, yaitu Tumenggung Bahurekso, untuk memeriksa kemajuan tenunan. Kejadian yang sama terulang kembali. Tumenggung Bahurekso mengamati rangka kayu dari pelbagai sudut, tetapi tidak mendapati apa pun selain kayu kosong.

“Bukankah kain ini sama megahnya seperti yang disaksikan oleh Ki Patih Notoenggo?” tanya para penipu seraya memperagakan gerakan menenun halus.

“Aku tentu bukan orang dungu!” pikir Tumenggung Bahurekso. “Apakah aku tidak layak memegang jabatan Tumenggung yang terhormat ini? Ini sungguh aneh, namun jangan sampai ada seorang pun pelayan keraton yang mengetahuinya.” Maka ia pun memuji-muji kain ghaib tersebut dan menyatakan kekagumannya atas perpaduan warna dan kerumitan motifnya. “Duh Kanjeng Raden,” lapornya saat kembali ke kediaman Adipati, “kain tenun yang sedang dikerjakan itu sungguh tiada duanya di seluruh tanah Jawa.”

Seluruh penjuru kadipaten kini ramai membicarakan kain tenun megah yang dipesan oleh Adipati.

Hingga akhirnya, Adipati Danurejo sendiri berhasrat untuk menyaksikan karya berharga tersebut selagi masih di atas alat tenun. Dampingi oleh para pejabat teras, termasuk Patih Notoenggo dan Tumenggung Bahurekso, beliau berjalan menuju bangsal tenun. Mendengar kedatangan rombongan Adipati, kedua penipu berpura-pura bekerja semakin giat, meski tak sehelai benang pun melewati suri tenun.

“Bukankah mahakarya ini sangat agung, Kanjeng Raden?” tutur Patih Notoenggo dan Tumenggung Bahurekso seraya menunjuk ke rangka kosong. Mereka yakin orang lain di sekitarnya dapat melihat keindahan kain tersebut.

“Astagfirullah! Mengapa aku tidak melihat apa-apa?” bisik Adipati Danurejo di dalam hatinya dengan ketakutan luar biasa. “Apakah aku tergolong penguasa yang zalim dan tidak layak bertahta di Kadipaten Semarangan ini? Sungguh ini malapetaka besar!” Namun alih-alih mengaku, beliau tersenyum ramah dan berkata nyaring, “Sungguh elok! Kain ini mendapatkan restu penuh dariku.” Beliau mendekat dan memandang lekat-lekat kayu kosong itu. Para pengawal dan abdi dalem yang ikut serta turut membelalakkan mata, tetapi mereka pun tidak melihat apa-apa. Kendati demikian, demi menjaga kehormatan, mereka semua berseru serentak, “Alhamdulillah, betapa indahnya!” Mereka lantas menyarankan agar Adipati mengenakan baju dari kain tersebut pada perayaan Grebeg Maulud yang sudah dekat. Adipati Danurejo sangat puas, lalu menganugerahi kedua penipu itu piagam penghargaan kadipaten serta gelar kehormatan “Lurah Penenun Kadipaten”.

Semalam sebelum perayaan Grebeg Maulud digelar, kedua penipu itu sengaja tidak tidur dan menyalakan belasan obor minyak kelapa agar terlihat sangat tekun menyelesaikan busana sang penguasa. Mereka berpura-pura menggulung kain dari kerangka tenun, memotong udara dengan gunting tembaga, dan menjahit menggunakan jarum emas tanpa benang. “Alhamdulillah! Baju beskap dan jarik baru Kanjeng Adipati telah selesai!” seru mereka menjelang subuh.

Pagi harinya, Adipati Danurejo beserta para abdi dalem mendatangi bangsal. Kedua penipu mengangkat tangan mereka ke udara seolah memperagakan busana mutakhir. “Niki Kanjeng, ini celana linennya, ini kain jarik luriknya, dan ini baju beskap serta selendang batik kawungnya! Kain ini sangat ringan bagaikan helai benang sutra paling halus; siapa pun yang memakainya akan merasa seperti tidak mengenakan beban sama sekali. Itulah keutamaan serat ajaib ini.”

“Memang benar!” sahut para abdi dalem dan pejabat keraton, walau tak seorang pun dari mereka dapat melihat wujudnya.

“Jika Kanjeng Raden berkenan menanggalkan busana lama, kami akan membantu memakaikan setelan anyar ini di hadapan cermin ukir jepara.”

Adipati Danurejo menanggalkan pakaian luar beliau. Kedua penipu bertindak seolah-olah memakaikan busana satu per satu, sementara sang Adipati berputar-putar mematut diri di depan kaca besar.

“Betapa gagah dan anggun Kanjeng Raden dengan busana baru ini! Motifnya sungguh memancarkan wibawa keraton!” puji para hadirin yang hadir di ruangan.

“Kanjeng Raden, kereta kencana dan regu prajurit penunggang kuda sudah bersiap di alun-alun untuk mengawal iring-iringan Grebeg Maulud,” lapor Abdi Dalem Mimbar Keraton.

“Aku sudah siap,” jawab Adipati Danurejo sambil sekali lagi berputar di depan cermin, seolah-olah sedang mengamati kerapian jahitan beskapnya.

Para abdi dalem pembawa wiron yang bertugas memegang bagian belakang kain jarik Adipati membungkuk dan meraba-raba lantai, lalu berpura-pura memegang ujung kain yang melambai di udara. Mereka tidak berani menunjukkan sedikit pun tanda bahwa mereka tidak melihat apa-apa, sebab takut dianggap tidak patut memegang jabatan keraton.

Maka berjangkallah Adipati Danurejo di bawah naungan payung agung kebesaran di tengah iring-iringan pawai melintasi jalan-jalan utama kota. Di sepanjang jalan, rakyat yang berjejer di tepi jalan serta yang menyaksikan dari balik jendela rumah kayu berseru, “Subhanallah! Betapa indahnya busana baru Adipati kita! Lihatlah lengkungan jarik dan kibasan selendangnya yang begitu anggun!” Tidak ada satu orang pun yang berani mengaku bahwa mereka tidak melihat baju tersebut, sebab tak ingin dianggap bodoh atau culas.

Tiba-tiba, seorang anak kecil yang sedang digendong ayahnya di dekat gapura pintu masuk alun-alun menunjuk ke arah Adipati dan berteriak polos, “Lho, Kanjeng Adipati kok tidak memakai baju sama sekali!”

Ayah anak itu terkejut lalu berbisik cemas, “Ssst, dengarkan kepolosan anak kecil ini!” Namun, ucapan anak itu dengan cepat berbisik dari satu warga ke warga lainnya.

“Iya, Kanjeng Adipati tidak memakai baju sama sekali!” Akhirnya seluruh rakyat yang berkumpul di alun-alun berteriak bersamaan.

Hati Adipati Danurejo tercekat dan merasa sangat malu, sebab di dalam batinnya beliau tahu rakyatnya berkata jujur. Namun beliau berpikir, Prosesi adat Grebeg Maulud yang sakral ini harus tetap berjalan hingga selesai! Maka Adipati menegakkan dadanya dan melanjutkan jalannya dengan tenang, sementara para abdi dalem di belakangnya berjalan makin khidmat sambil terus berpura-pura memegang ujung kain jarik yang sebenarnya tidak pernah ada.

____________________

Aditiya Widodo Putra. Penulis lintas bidang berusia 18 tahun dari Kota Semarang, kota yang mengajarkan bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan dalam satu pandangan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada. Pemilik akun Instagram @adit_widodoputra.