Sepuluh tahun lalu. Waktu itu aku masihlah wartawan magang pada sebuah media kecil di Jakarta. Berbarengan dengan kepulanganku ke kampung, aku punya rencana tulis sebuah feature news tentang illegal logging yang terjadi di kampungku. Di otakku masihlah erat rekaman tentang cerita-cerita kawan SMP-ku dulu yang bekerja di hutan. Dua orang kawan SMP-ku bekerja sebagai tukang sandang kayu yang baru ditebang di hutan. Mereka selalu memperlihatkan kepadaku bila telapak tangan mereka terkelupas karena mengangkut kayu.

Aku datang ke rumah mereka, dua orang kawan SMP-ku itu. Namun, aku tidak bertemu mereka. Orangtua mereka bilang, anaknya sudah pergi merantau.

Anto sahabat karibku di kampung. Aku bertanya padanya. Apakah di Nagari (Desa) Sukosanang masih banyak orang yang menebang kayu di hutan. Ia menjawabku dengan kasar.

“Tidak ada orang yang menebang kayu di sini. Kau ada-ada saja yang kau pikirkan,” katanya.

Hatiku langsung merasa iba. Bagaimana pun Anto adalah sahabatku dari kecil. Kami satu SD, satu SMP, dan satu SMA. Sebelum merantau ke Jawa, kuliah di universitas, hari-hariku di kampung sering bersama Anto. Pulang sekolah sering bareng. Malam harinya kami sering bercengkrama di palanta kedai tak jauh dari rumah Anto.

Sekarang, ia sudah berbohong padaku. Kutengok mukanya. Dari matanya aku melihat semburat curiga terhadapku.

Tiga hari sesudah aku menanyakan persoalan illegal logging pada Anto, ia mengajakku duduk di kedai tak jauh dari rumahnya. Kedai tempat kami dulu sering bercengkrama malam hari. Sekitar pukul delapan malam aku tiba di kedai itu.

Ternyata tidak Anto saja yang sedang menungguku di kedai itu. Terdapat tiga orang lagi, kawan-kawan Anto. Kesemuanya aku kenal tapi aku tidaklah akrab dengan mereka. Mereka masih sekampung denganku.

Aku segera duduk di palanta kedai. Dan Anto mempersilahkanku merokok. Ia juga memesan lima gelas kopi kepada penjaga kedai.

Setelah membakar rokok, dan kopi terhidang, Anto tidak ngobrol denganku. Ia ngobrol dengan kawan-kawannya yang lain. Mereka ngobrol sembari menyindirku. Sembari ngobrol dan menyindirku, mereka terkadang tertawa. Entah apa yang ditertawakan. Tidak ada yang lucu menurutku. Dari obrolan mereka, aku menangkap sinyal aku ini seperti seorang mata-mata.

“Lulus kuliah saja belum. Ingin memeriksa kampung orang pula,” kata Anto sembari menghembuskan asap rokoknya kencang ke udara.

Hatiku sungguh tak terima perlakuan Anto. Setahuku Anto dulunya anak baik. Tak pandai berlagak seperti preman, seperti malam itu. Ia ngobrol layaknya seorang preman dengan kawan-kawannya. Ah, waktu. Mungkin Anto yang sekarang bukanlah Anto yang dulu lagi. Atau, ia begitu hanya kali ini saja, harapku.

“Tidak kau saja yang kuliah ke Jawa. Itu anak Samsir juga kuliah di Jawa. Apa ya… nama universitasnya, aku lupa. Tapi ia tidak seperti kau,” kata kawan Anto sembari menghadapkan wajahnya pada Anto. “Apa yang mau dia diteliti Nto, Illegal Logging?”

“Iya. Dia cerita padaku ia ingin meliput, membuat berita, tentang pembalakan liar di kampung kita.”

“Ha… Ha… Ha… Ha…,” kawan Anto yang satu lagi tertawa.

“Bukan kau saja orang kampung sini yang merantau ke Jawa. Banyak orang kampung sini ke Jawa. Tapi pulang lagaknya tidak seperti kau. Mau meliput dan wawancara wali nagari pula aku dengar.”

“Pukat harimau ditanyakan pula itu padaku. Ha… Ha… Ha…,” Anto tertawa lepas, lantas menyesap kopinya.

Batinku, Anto, aku sungguh tak menyangka ia berbicara dengan kawan-kawannya untuk menyayat-sayat perasaanku. Tidak seharusnya ia mengejek-ejek aku. Mereka menertawaiku. Sungguh hatiku merintih malam itu. Aku berani mengatakan padanya ingin membuat berita tentang illegal logging di Nagari Sukosanang karena ia sahabatku. Aku percaya padanya, pembicaraanku dengannya tidak akan jadi bahan omongan pada hari-hari selanjutnya. Namun, malam itu, perlakuan Anto dan kawan-kawannya jauh dari dugaanku.

Kalau tidak ada Anto di kampung, aku tidak akan cerita pada siapa-siapa tentang keinginanku menulis feature news.

Malamnya, sepulang dari kedai sekitar pukul dua belas, di ranjang mataku tidak mau pejam. Aku lantas duduk dekat jendela. Kubuka jendela dan kunyalakan sebatang rokok. Hati kecilku benar-benar tersinggung. Perasaanku sudah diaduk-aduk. Dan aku merasakan diri hanyalah barang mainan di kedai itu.

Aku menceritakan pada Anto tentang rencanaku meliput. Eh, malah ia membocorkan rencanaku, dan menganggapku seperti sudah melanggar pantangan kampung mereka. Harga diriku terasa terinjak-injak.

Aku pun mulai dilanda bimbang. Apakah aku meneruskan rencanaku untuk menulis illegal logging di Nagari Sukosanang. Atau, aku batalkan saja.

                            ***

Besoknya Anto mengabarkan padaku, bahwa aku dipanggil Wali Nagari (Kepada Desa) ke kantor wali nagari. Ia mengajakku naik sepeda motornya dan langsung mengantarkanku ke kantor wali nagari.

Setelah turun dari sepeda motor, aku langsung mencari ruangan Wali Nagari.

Seorang yang berseragam mengatakan padaku. Bahwa Wali Nagari belum datang. Karena hari baru pukul sembilan. Dan, tak lama seorang yang berseragam pula mengajakku masuk ke ruangan yang lain. Ia mempersilahkanku duduk. Ia pun duduk, kami jadi berhadap-hadapan, dipisahkan sebuah meja.

“Kuliah di mana?” katanya setelah aku duduk dan mengambil napas.

“Di Jawa, Pak,” kataku.

“Di universitas mana?” katanya lagi dengan nada suara tak bersahabat.

“Universitas Manua.”

Ia mendehem. Lantas meminta kartu identitasku. Kuberikan KTM-ku dan ia menganguk-angguk sembari memelototi KTM-ku.

“Tidak ada masalah di nagari sini. Tidak ada itu yang namanya illegal logging atau pukat harimau,” katanya.

“Mengerti, Pak,” kataku.

Aku pulang dari kantor wali nagari dengan perasaan remuk. Rupanya salah, maksudku menulis sebuah feature tentang illegal logging di Nagari Sukosanang. Kuputuskan, cerita-cerita tentang kawanku yang bekerja menyandang kayu yang habis ditebang biarlah kusimpan saja dalam memori otakku. Keringat mereka dan jerih-payah mereka.

                              ***

Sekarang aku sudah bekerja di sebuah media online yang lumayan ternama di Jakarta. Kuterima kabar dari Anto. Setiap kali hujan lebat mengguyur, Nagari Sukosanang selalu dilanda banjir. Air sungai meluap. Sampai membajiri nagari sebelah. Juga, membanjiri jalan raya. Itu membuat macet kendaraan bila airnya sudah di atas lutut.

Hati kecilku berbisik, bukankah sekarang saatnya aku meliput tentang illegal logging di Nagari Sukosanang. Setahuku, selama aku tinggal di kampung dan kuliah di Jawa Nagari Sukusanang tidak pernah kebanjiran, selebat apa pun hujan.

“Begitu Imar, banyak kayu gelondongan terlihat hanyut ketika pertama kali terjadi banjir,” kata Anto di sambungan WA padaku.

Ia mengirimkan sebuah video banjir di Nagari Sukosanang. Kata Anto, ini banjir terbaru. Sebagai orang asli Sukosanang dan wartawan pula, katanya lagi, sudah saatnya aku pulang kampung, dan meliput kampung halamanku.

Lantas, aku mengingat-ingat perlakuan Anto padaku malam itu. Juga pihak kantor wali nagari. Terbesit hatiku untuk pulang kampung untuk meliput illegal logging di Nagari Sukosanang tapi karena ingat kedua hal itu, aku mengurungkan niatku. Lagi pula, rumah ibu dan adik-adikku bukan di sana lagi.

Aku duduk di kamar. Lagu Ebiet G. Ade, “Berita kepada Seorang Kawan”, terngiang-ngiang di telingaku: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita/ yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa/ atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita/ Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang//.

____________________

Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat.