Pukul 07:30 lonceng berdenting. Seluruh siswa berbaris di lapangan. Kepala sekolah memberikan arahan. Setelah itu siswa dibubarkan. Aku buru-buru masuk ke ruang kelas, duduk berpikir sambil meletak buku di atas meja. Pikiranku berdenyut mengingat-ingat yang tertulis pada kertas mempertajam ingatanku. Aku sudah menghafalnya, memasukkan inti-intinya ke dalam memoriku. Sebagai seorang guru, aku malu kalau sedang mengajar terlalu sering melihat teks. Apalagi sebagai guru Bahasa Indonesia. Aku melakukannya sesekali saja. Kalau terlalu sering melihat teks, aku takut digaris bawahi oleh mereka siswa-siswaku, merasa pengetahuanku yang sejengkal diukur mereka. Kalau sekarang aku lebih banyak tahu tentang sastra dari mereka, itu karena aku lebih dulu berproses. Bukan karena aku lebih pintar dari mereka. Suatu saat nanti mereka bisa lebih unggul dariku, dan memang itu yang kuharapkan. Jika mereka mau sungguh-sungguh dalam belajar, aku pasti bisa menyeret mereka menyentuh ilmu pengetahuan yang akan mereka jadikan perbuatan dalam kehidupan, bukan sekadar perhiasan hidup. Aku yakin, sebentar lagi mereka akan mendahuluiku, itulah yang aku harapkan. Aku dicatat sejarah sebagai guru yang berhasil, membuat hatiku berbunga.
Buku mapel aku buka. Beberapa teks yang aku ambil dari sumber lain tentang materi hari ini, aku letakkan di meja. Biar semua siswaku tahu, perkataanku benar-benar diambil dari sumber terpercaya. Dan tidak hanya mengandalkan yang ada di buku mapel. Aku harus menyelang-nyelingi materi mereka dengan diskusi dan memperbanyak presentasi untuk bekal mereka kuliah nanti apabila masuk perguruan tinggi.
Aku melirik kertas, memulai pelajaran. Pagi yang cerah itu aku membahas sastra kontemporer. Menuliskan ciri-ciri, dan jenis-jenisnya, menerangkannya pelan-pelan. Setelah itu, aku mempersilakan siswa bertanya. Awalnya aku mendapat pertanyaan yang sederhana, tapi semakin ke ujung semakin ruwet. Pertanyaan seperti itu menururtku setingkat mahasiswa, membuatku merasa tertantang, dan aku suka cara belajar seperti ini.
“Diksi atau gaya bahasa dalam tulisan itu pentingkan, Pak?”
Sepertinya ia mengujiku. Aku yang berdiri di depan menganggukkan kepala, menggenggam jemariku, siap-siap memberi jawaban yang memuaskan. Penampilanku seperti seorang ilmuan sastra yang rendah hati. Aku hanya menunjukkan sebuah kesopanan pada mereka muridku.
“Dalam menulis karya sastra, salah satu alat paling penting adalah bahasa yang menggunakan diksi yang tepat sebagai mediumnya untuk menyampaikan pesan, dan nilai estetis pada karya tersebut. Sehebat apa pun ia menyimpan cerita dalam kepala, konflik batin terjadi di dalamnya. Tapi kalau ia menyampaikan isi cerita di kertas dengan bahasa monoton atau berbelit-belit, cerita pasti membosankan, tidak akan hidup, jenuh membacanya. Bahasa yang tidak menggigit membuat cerita itu tidak menarik. Bukankah begitu, Pak?”
Aku mengangguk lagi. Seolah-olah dialah guruku dan aku muridnya. Sebuah buku Diksi dan Gaya Bahasa karangan Gorys Keraf muncul di depan mataku.
“Tulisan itukan ada karya ilmiah, ada dalam bentuk karya sastra. Bagaimana seorang penulis memasukkan diksi dalam karya sastra dan diksi dalam karya ilmiah? Terus apa perbedaannya Pak?”
Pertanyaan yang bagus, masih orang yang sama. Walaupun kesannya seperti menggurui, tapi aku suka cara seperti itu. Cara ia bertanya menunjukkan ia memang mengerti tentang diksi, materi yang aku ajarkan beberapa hari yang lalu. Walaupun ia belum bisa menyederhanakan pertanyaan itu, aku dapat maklumi. Aku mengerti maksud dari pertanyaannya. Dan aku harus mengisinya dengan jawaban yang tepat. Ia seorang murid yang kritis. Ia pernah menegurku karena terlalu buru-buru menjelaskan materi. Aku sebagai seorang guru tidak boleh merasa selalu benar. Walaupun hati ini mendidih sedikit mendengar ucapannya yang temperamen. Aku harus bisa cepat mengendalikan emosiku. Aku teringat perkataan Soe Hok Gie. Guru bukan dewa, dan selalu benar, dan murid bukan kerbau. Kalimat itulah yang mendinginkan hatiku.
Hatiku yang sudah tidak digenggam setan keparat berkata, dia memang benar dan aku yang salah. Dia yang berharap ketika aku menjelaskan materi jangan terlalu buru-buru, membuktikan dia tidak mau belajar denganku sia-sia. Aku harus membimbingnya dengan teguh, sampai ia benar-benar mencintai sastra sepenuh jiwa. Ia pernah menyodorkan selembar kertas yang sudah diketik padaku, ia menulis sebuah cerpen, Matahari Kupetik untuk Ibu. Ia minta tolong aku membaca isi cerita itu. Kemudian merevisi naskahnya. Walaupun bahasa yang ia gunakan masih banyak yang salah, termasuk penulisan huruf kapital, dan cara penyampaiannya agak bertele-tele, tapi aku suka cerita itu, dan meneteskan airmata ketika mencicipinya. Aku menemukan imajinasi yang kuat dalam cerita itu. Aku suruh ia mengirim ke media. Walaupun masih ditolak, paling tidak ia sudah menunjukkan kesungguhannya di depanku, dan aku senang melihat murid yang bergairah seperti itu. Untuk ukuran penulis kecil yang masih kelas bawahan seperti dia, tulisannya itu sudah menawan di mataku. Aku perhatikan lekat-lekat isi cerita itu, betapa tokoh utama mencintai seorang Ibu. Aku merasa ia telah menyinggungku. Seolah tulisan itu dipersembahkan khusus untukku seorang guru yang pernah durhaka pada orang tua. Itu terjadi gara-gara seorang gadis. Pikiranku pecah kembali, setelah mengingat masa lalu itu. Aku merasa roboh dan runtuh dijatuhi puing-puing. Pertanyaan siswaku tentang diksi itulah yang membuatku bergairah kembali. Aku bisa menyimpulkan pertanyaannya setelah banyak membaca buku sastra, juga buku-buku yang berbau karya ilmiah. Kerajinanku membacalah yang sangat berperan dan ikut membantu menjawab pertanyaan itu lewat opiniku. Sederhananya, aku harus tahu diksi dalam karya sastra dan diksi dalam karya ilmiah, dan bisa memberi contoh masing-masing.
“Aku tidak mau jawaban yang biasa-biasa, Pak. Kalau dalam buku pasti hanya membahas tentang pilihan kata yang tepat dan tidak tepat. Misalnya kata mati, meninggal, wafat. Diksinya pas kalau digunakan untuk manusia, tapi tidak untuk binatang. Misal seekor ayam wafat tadi pagi. Inikan tidak tepat sasaran sesuai diksi. Aku tidak ingin jawaban sesederhana itu, Pak.”
Aku senang dengan murid pemberani. Aku senang dengan murid yang sengaja menunjukkan pengetahuannya yang gemilang di depanku. Walau seandainya ia bermaksud sombong pada kawan-kawannya, merasa lebih pintar dari yang lain. Tugaskulah sebagai seorang guru yang akan meluruskan kesombongan itu agar ia menjadi seorang tawadhu. Aku harus menjawab pertanyaannya dengan pengetahuanku.
Kali ini suasana di ruang kelas betul-betul menyenangkan. Aku bisa meraba beberapa orang siswa di sudut sana yang tidak suka sastra, ikut-ikutan mendengar penjelasanku dengan hidmat. Apa kira-kira yang mereka rasakan sekarang? Aku ingin tahu lebih cepat, biar aku bisa memasuki jiwa mereka agar mereka bisa cinta pada sastra dengan tulus, seperti cintaku dulu pada perempuan itu, yang akhirnya melukaiku.
Aku melirik kiri kanan, satu pun tak ada yang bersuara. Apa mereka terkesima dengan keberanian seorang murid bernama Ahmad? Aku tidak bisa mengatakan tidak menyukai caranya yang tegas seperti itu. Sampai-sampai aku yang begitu serius baru sadar, ternyata Arsen tidak hadir. Gara-gara dia aku pernah bersiteru dengan kepala sekolah, agar ia tetap bisa bertahan, tidak diberhentikan. Di mana anak nakal itu? Apa ia sudah mengambil keputusan bulat berhenti dari sekolah ini.
Kalau keputusan itu yang diambilnya, aku merasa gagal menyeretnya pada dunia pendidikan, hatiku bergumam, dan tiba-tiba aku merasa terbelenggu. Kalau aku tidak bisa membuatnya berhasil, dan melawan terpaan gelombang yang menghanyutkan dirinya, sampai ia terseret arus kebodohan, berarti aku guru tak berguna. Bagaimana mungkin aku bisa membuatnya berhasil, membujuknya saja agar ia melewati jalan kesuksesan yang bernama pendidikan aku tidak mampu. Aku sendiri yang gagal membujuknya melintas pada gerbong kecerdasan. Mungkin suatu saat nanti, ia tidak memiliki masa depan, tidak bisa meraih puncak keberhaslilan seperti yang kuinginkan, akhirnya ia terkatung-katung.
Sekali lagi kutegaskan pada diri yang tercoreng ini. Kalau anak nakal bernama Arsen itu memilih berhenti, aku sebagai seorang guru merasa gagal total mendidik muridnya, memilih lengser dari sekolah ini. Aku takut karena kelemahanku dalam mendidik, ia jadi seorang murid yang tidak bisa mengambil sikap. Seandainya aku berhenti mengajar dari sekolah ini, walaupun ada kesempatan mengajar di tempat lain, kasus yang serupa bisa terulang lagi di kemudian hari dengan orang yang berbeda. Aku tidak mau meninggalkan jejak yang berduri di sini dan di mana pun. Sekarang aku harus fokus lagi dengan pertanyaan anak genius itu tentang diksi. Aku menjawab dengan pengetahuanku sendiri, dibantu buku-buku yang pernah aku baca, kalau perlu mengutip pendapat para ahli.
____________________
Depri Ajopan. Penulis dan guru asal Pasaman Barat (Sumbar) Sekarang tinggal di Rokan Hulu, Riau.


0 Komentar