Pukul lima pagi, kabut tebal masih menyelimuti pekarangan rumah dinas. Dua pohon trembesi di halaman depan berdiri anggun seperti raksasa yang tertidur. Daun-daunnya yang rapat meneteskan embun dingin dari ujung dahan ke atas tanah berkerikil.
Adrian de Boer duduk di kursi kayu jati teras depan. Ia mengenakan kemeja katun tipis dan celana panjang tanpa jas. Di atas meja kayu bundar di hadapannya, tersaji secangkir kopi hitam panas yang baru dituang. Asap tipis mengepul dari bibir cangkir seng itu. Di samping cangkir, tergeletak sekuntum bunga melati yang mulai layu, bunga yang semalam ia ambil dari atas batu kali di tepi saluran irigasi.
Udara pagi terasa sangat dingin di kulit. Adrian menyesap kopinya sedikit. Rasa pahit yang pekat menyengat lidahnya, namun rasa perih di telapak tangannya yang terbalut kain kasa masih lebih tajam.
Suara langkah kaki bertelanjang menyeret lantai terdengar dari arah samping rumah. Pak Kerto berjalan memegang sapu lidi raksasa dari pelepah kelapa. Ia memakai sarung kusam dan baju lurik yang sudah pudar warnanya. Lelaki tua itu bersiap membersihkan guguran daun trembesi yang memenuhi halaman.
“Kerto,” panggil Adrian pelan dalam bahasa Melayu kaku.
Pak Kerto mendadak menghentikan langkahnya. Ia meletakkan sapunya di dinding bata, lalu berjalan mendekati teras sambil membungkukkan punggungnya rendah-rendah. Matanya yang pudar menatap lurus ke ubin batu di dekat kaki Adrian.
“Inggih, Meneer,” sahut Pak Kerto, suaranya serak dan tenang.
Adrian menatap cangkir kopinya sesaat. Ia meraba tepi meja jati yang dingin. Ia menunjuk ke arah bunga melati kecil yang tergeletak di samping cangkir.
“Gadis yang membawa keranjang bambu, adik dari pemuda yang terluka di pabrik,” kata Adrian. Ia berusaha menyusun kata-kata Melayu dengan hati-hati. “Kau tahu siapa dia?”
Pak Kerto tidak langsung menjawab. Jemari tangannya yang keriput dan kaku saling bertaut di depan kain sarungnya. Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa detik. Hanya ada desir angin pagi yang menggoyangkan dahan trembesi dan cicit burung liar di atas atap sirap.
“Gadis pembawa keranjang?” ulang Pak Kerto pelan.
“Ya. Yang sering berdiri di dekat stasiun dan selokan irigasi,” tambah Adrian. “Siapa namanya? Di mana rumahnya?”
Pak Kerto menghela napas halus. Kerutan di dahinya yang berwarna cokelat gelap bertambah dalam. Ia menatap sekilas ke arah bunga melati di meja, lalu kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Naminipun... Marni, Meneer,” jawab Pak Kerto akhirnya. “Siti Marni.”
Adrian mengulang nama itu di dalam hatinya. Siti Marni. Sebuah nama yang singkat, sederhana, namun terasa sangat pas dengan keheningan yang menyelimuti sosoknya.
“Marni,” ujar Adrian pelan. “Siapa kakaknya? Dan di mana mereka tinggal?”
Pak Kerto menggeser posisi berdirinya. Tangannya yang gemetar merogoh saku baju luriknya, mengeluarkan sebatang keretek lintingan sendiri yang dibungkus daun jagung kering. Ia tidak menyulutnya, hanya memegangnya di jemari sebagai cara menenangkan diri di hadapan tuan Belandanya.
“Kakaknya nami Kasiman, Meneer,” jelas Pak Kerto. “Kuli pabrik di bagian semen. Tiyang dusun dari Desa Gatak, di timur rel kereta api. Bapak mereka rumiyin mantan kuli tebu, sampun pejah ditanduk kerbau angkutan.”
Pak Kerto memindahkan tatapannya ke arah deretan pohon pisang di samping rumah. Nada bicaranya berubah menjadi sangat lembut, seperti sebuah peringatan terselubung yang disampaikan dengan halus.
“Mereka tiyang alit, Meneer,” lanjut Pak Kerto. “Orang kecil. Marni pendak enjing mendhak tempe dan beras ke stasiun. Panten… Marni mboten gadhah gangguan kalihan pabrik.”
Adrian memperhatikan raut wajah Pak Kerto. Ada kecemasan samar di mata tua itu—ketakutan khas rakyat kecil yang khawatir jika perhatian seorang pejabat Eropa akan membawa kesulitan atau bencana bagi orang-orang di desanya.
“Saya tidak berniat menyusahkannya, Kerto,” kata Adrian tegas. Ia berusaha menenangkan pelayan tuanya. “Kakaknya terluka karena kesalahan balok kayu di pabrik. Saya hanya ingin memastikan keadaan mereka.”
Pak Kerto mengangguk pelan, meski pandangan matanya tetap menyiratkan keraguan yang dalam. “Inggih, Meneer. Marni lare sae. Anak baik-baik. Mboten nate macam-macam.”
Adrian terdiam sejenak. Ia mengingat pandangan mata gadis itu di tepi saluran irigasi semalam. Mata yang besar, dalam, dan tidak menunjukkan ketakutan seperti kuli-kuli di galian fondasi.
“Apakah dia bisa membaca?” tanya Adrian tiba-tiba. Sebuah pertanyaan rasional yang keluar begitu saja dari benak insinyur mudanya.
Pak Kerto tersenyum tipis, sebuah senyuman langka yang memperlihatkan deretan giginya yang hitam akibat mengunyah sirih. “Mboten, Meneer. Lare desa mboten nate sekolah. Namung saged ngetang sensen kangge sabun kalihan garam.”
Adrian menatap bunga melati di meja. Di Rotterdam, wanita seusia Marni mungkin sedang duduk di bangku sekolah, membaca buku sastra, atau belajar memainkan piano di ruang keluarga yang hangat. Di tempat ini, di bawah naungan cerobong Suikerfabriek Delanggoe, hidup seorang gadis diukur dari berapa sen hasil jualan tempe dan seberapa kuat kakinya berjalan menelusuri galengan sawah tanpa alas kaki.
“Berapa jauh Desa Gatak dari sini?” tanya Adrian lagi.
“Mboten tebih, Meneer,” jawab Pak Kerto. “Mung melintasi jalan kereta api, menyusuri saluran air di timur. Tapi di sana hanya ada pondok-pondok bambu dan jalan lumpur.”
Adrian mengangguk pelan. “Terima kasih, Kerto. Kembalilah bekerja.”
Pak Kerto membungkuk dalam-dalam. “Matur nuwun, Meneer.”
Lelaki tua itu kembali mengambil sapu lidinya dan mulai menyapu daun-daun kering di halaman. Bunyi srok-srok dari sapu lidi yang bergesekan dengan tanah berkerikil menjadi satu-satunya suara yang memecah hening fajar di rumah dinas itu.
Adrian berdiri. Ia mengambil cangkir kopinya yang mulai dingin, lalu melangkah masuk ke dalam salon utama.
Ruangan besar berlantai ubin batu itu masih gelap. Cahaya matahari pagi baru menembus kisi-kisi jendela kayu yang tinggi. Adrian berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi gulungan kertas kalkir, mistar kuningan, dan botol tinta Cina. Di sudut meja, tergeletak sepucuk surat dari Elisabeth yang belum sempat ia balasi sejak dua hari lalu.
Ia meletakkan cangkir kopinya di tepi meja. Lalu, ia menarik kursi jati dan duduk. Adrian mengambil pulpen emasnya, membuka tutupnya, dan mencelupkan mata pena ke dalam cairan tinta hitam. Ia menarik lembaran kertas putih tebal yang dibawanya dari Rotterdam.
Elisabeth yang baik,
Ia menulis kalimat pertama itu dalam bahasa Belanda yang rapi dan teratur. Namun, jemarinya mendadak kaku di atas kertas. Mata penanya menggantung di udara, meneteskan setitik tinta hitam kecil yang langsung meresap ke dalam serat kertas putih.
Bayangan Marni yang berdiri tegak di tepi saluran irigasi semalam, dengan mata gelap yang tenang dan bunga melati basah di tangannya, hadir begitu jelas di dalam pikiran Adrian. Aroma wangi melati seolah masih tertinggal di ujung jemarinya yang terbalut kain kasa.
Di luar jendela, suara tiang besi pabrik yang dipukul mulai terdengar berdentang tiga kali. Tanda bahwa jam kerja kuli pagi hari telah dimulai. Kereta-kereta sorong dari besi kembali berderit di sepanjang jalan tanah.
Adrian menghembuskan napas berat. Ia menatap titik tinta hitam yang merusak kerapian kertas suratnya.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi jati yang keras. Di tanah yang asing ini, di mana batas antara bangsa penakluk dan yang ditaklukan terbentang kaku bagai garis baja rel kereta api, sebuah nama sederhana, Siti Marni, telah menyusup masuk dan merusak ketenangan logika tekniknya.
Adrian meletakkan pulpennya kembali ke tempatnya. Ia melipat kertas surat yang baru terisi satu kalimat itu, lalu memasukkannya ke dalam laci meja kerja yang terkunci.
Ia berdiri, mengambil jas linennya dari sandaran kursi, dan memastikannya terpasang rapi di bahunya. Hari baru di Suikerfabriek Delanggoe telah dimulai, dan cerobong bata merah di kejauhan telah menunggunya kembali.
____________________
Erna Surya. Penulis dan guru di Klaten.


0 Komentar