Pukul 09:30 waktunya istirahat. Aku buka buku absen kelas XII, memanggil nama mereka satu persatu. Cuma Arsen yang tak hadir. Tak ada yang tahu keberadaan Arsen di mana. Aku keluar dari kelas. Kemudian diiringi murid-muridku. Seperti biasa mereka keluar berdesak-desakan seperti anak SD. Selesai salat dhuha, aku duduk termenung di kantor memikirkan segelintir kehidupan. Tiba-tiba, aku mendengar suara hentakan kaki yang menderu menginjak lantai seperti derap kaki kuda membuyarkan lamunanku. Seseorang yang baru datang itu berdiri di bibir pintu memanggilku, “Pak, Asnul….” suara perempuan itu menyerupai tangisan.
Kemudian ia melangkah terpatah-patah dengan airmata berlinang memasuki kantor guru tanpa mengucap salam. “Arsen, Pak.” Ia mengangguk.
Tubuh perempuan yang lesu itu terhempas di pangkuanku. Ia tak sadarkan diri. Menurut cerita yang beredar di sekoah ini, perempuan itu pacar Arsen. Ia yang sudah jatuh pingsan bersandar di pangkuanku. Laila nama perempuan itu, kelas XI. Perempuan yang penurut dan begitu sayang pada Arsen. Sehebat apa pun Laila memberikan ketulusan pada Arsen, aku menganggap kemesraan yang terjadi di antara mereka berdua sebuah cinta monyet. Aku tetap dalam prinsipku, cinta racun bagi pelajar seperti mereka, walaupun mahkota bagi kehidupan, itu buat orang lain. Falsafah ini berlaku juga untuk diriku.
Sejak lulus SD dan duduk di bangku pesantren. Aku termasuk anak yang rajin. Waktu kelas lima SD, aku sering meminta pada ibuku dibelikan buku-buku agama untuk aku cicipi. Sejak kecil ketertarikanku pada buku-buku sudah mulai nampak, dan semakin besar volumenya. Dan baru satu tahun di pesantren aku sudah membuat rak buku sendiri dari papan bekas. Kususun dengan rapi baik karya fiksi mau pun nonfiksi. Waktu itu majalah Sabili edisi lama dan baru satu peti di pondokku. Lalu kenapa aku hancur, kenapa aku bertemu dengan kesedihan yang perih, dan kenapa aku menderita dan terkadang bernasib seperti seorang pecundang. Walaupun tidak meninggalkan buku-buku sepenuhnya, minatku membaca volumenya pernah turun, jauh sekali. Aku bisa menebak sendiri, kenapa ini semua terjadi, gara-gara kegundahan sudah bersemadi dalam jiwaku, membuatku jadi malas. Aku sering bermenung sendirian ketika itu, dan aku belum banyak menuliskannya di atas kertas yang masih perawan, baru memulai menulis, itu pun sering tersendat-sendat. Aku berjalan seperti zombie melewati kerikil-kerikil tajam menusuk kalbuku. Aku yang lesu tidak punya kemampuan apa-apa untuk hidup. Aku dan semua orang di kampungku tahu, tidak ada rahasia yang tersembunyi di sini. Ini terjadi karena seorang perempuan, aku jatuh cinta waktu itu. Setelah itu aku ambruk.
Beberapa bulan setelah putus dengannya, baru aku melanjutkan kisahku di kertas. Aku menulis seperti robot. Mungkin aku sudah menulis lebih dari sejuta lembar sampai sekarang. Tapi sampai hari ini tulisanku yang menyerupai curahan hati itu belum bisa memulihkan rasa sakit hatiku waktu ditinggalkan seorang gadis yang diagungkan. Cinta itu tumbuh pada hatiku khusus untuk seseorang, sejak aku dan ia duduk di bangku sekolah setingkat SMP. Aku tidak ingin cinta di antara Arsen dan perempuan itu terus berlanjut sampai tak terbendung, akhirnya ada yang tersakiti dan merasa diiris-iris dengan sembilu sepertiku. Ketika aku diselimuti rasa sakit, aku cukup menuliskannya tanpa airmata. Orang yang rasa sakitnya terlalu dalam, matanya tidak akan basah karena menangis, cukup hatinya yang merintih mengingat-ingat kenangan yang sendu. Aku biasa disebut oleh teman-temanku seorang sastrawan kecil setelah menulis buku yang bercerita tentang kisahku, dan diterbitkan di penerbit indi. Tulisanku masih ditolak berbagai penerbit mayor waktu itu. Mengenai aku yang pernah kuliah di fakultas sastra. Prodi Sastra Indonesia, bukan jaminan naskahku akan lolos di penerbit mayor lewat seleksi yang super ketat. Begitu aku menulis tentang rasa sakit hatiku yang ditinggalkan seorang kekasih, baru beberapa ketukan di keyboard komputer, aku merasa lemah tak berdaya. Badanku yang tegar tiba-tiba jadi lesu karena gundah, seperti ada sejuta lintah menghisab darahku. Tapi aku memaksakan diri menyeleaikan tulisanku. Begitu naskahku dikirim ke penerbit, dan sampai di meja redaksi, aku dapat informasi disuruh menunggu 3-6 bulan. Aku bersabar menunggu, tapi masih saja ditolak. Itu terjadi tidak hanya sekali, sampai-sampai penolakan naskah itu suatu kenikmatan tersendiri bagiku sebagai penulisnya.
Penolakan itu bisa aku terima dengan tangan menjulur, dan aku bisa berlapang dada. Tak bisa dipungkiri, aku mulai menulis setelah aku jatuh hati, kemudian semangatku terus bertambah setelah patah hati. Mengenai jatuh hati, aku yakin kau juga pernah merasakannya kawan, lalu kau terpatahkan. Ayok, ngaku kawan! Kau juga pernah patah hati sepertiku bukan? Kau juga sudah merasakan sakitnya seperti ditusuk dengan sembilu tajam. Lalu kau berniat untuk putar haluan, tidak ingin jatuh hati lagi pada seseorang, dan mencap semua perempuan sama bejatnya. Atau barang kali kau sama sepertiku, menuliskannya di atas kertas, menjadikannya suatu cerita yang terukir. Begitu selesai kau kirim ke penerbit, ditolak. Kau perbaiki, terus dikirim lagi, di tolak lagi. Kau revisi lagi dengan sangat hati-hati, masih saja ditolak. Kalau begitu kau yang lelah berjuang sama sepertiku.
Nasihatku untukmu, kau jangan layu atau patah arang. Walaupun kau sendirian tanpa dorongan seorang kekasih seperti hidupmu dulu. Biar saja kau tersiksa dengan kesendirian yang menyepi diwaktu siang dan malam. Sampai kau lebih menyukai kesendirian itu daripada keramaian yang berisik merusak imajinasi. Mungkin mengenai kisah asmara ada kesamaan kau dan aku, paling tidak beda tipis. Aku mencintai Kartika dulu bukan saja dengan hati yang terlunta-lunta. Aku mencintainya seperti angin yang berhembus, kemudian menemukan kesejukan. Aku mencintainya seperti malam yang menemukan siang. Aku mencintainya seperti sekuntum bunga yang menebarkan keharuman. Aku mencintainya seperti kematian yang menyentuh kehidupan.Melihat ia menangis hatiku guncang. Aku ingin berontak melawan kesedihan yang tumbuh subur pada dirinya. Aku ingin mencopot kesedihan itu menempelkan dalam dadaku yang bidang. Biarkan saja aku histeris, asalkan ia nyaman dalam kehidupan yang menghimpit ini.
Suatu hari aku pernah mengambil keputusan setelah berpikir panjang. Aku harus berpisah dengan gadis itu dari pada ia menderita setiap waktu. Ia tidak menerima keputusanku. Aku masih ingat, waktu itu ia bilang padaku dengan airmata yang menetes jatuh ke pipi. “Saat ini penderitaan paling menyakitkan bagi diriku, bila kau memilih pergi dari sisiku. Aku tidak menginginkan apa pun. Aku hanya ingin kau selalu bersamaku maupun suka dan duka. Anggap saja ketidak restuan orang tua kita satu malapetaka yang baik untuk menguji ketulusan cinta yang kita genggam erat ini. Apakah masih bisa bertahan atau lepas begitu saja. Jika tidak ada kesulitan dalam bercinta ia hambar. Meskipun cinta telah lahir tapi tidak terasa tanpa diuji. Biar saja hati ini terbakar, aku dan kau terus merana. Namun tak ada kata berpisah di antara kita. Kerinduan tidak pernah lenyap dari hati kita masing-masing. Aku tidak ingin kau pergi dariku. Jika kau suruh aku melupakanmu, aku bukan saja merasa berat, tapi pasti aku tak mampu melakukan itu. Perjalanan kita masih panjang. Ibarat seseorang yang mengejar karir, sesungguhnya kau dan aku baru memulai. Lalu kenapa kau ingin memilih mundur. Bukankah kau sendiri yang pernah bilang padaku, kau suka menghadapi tantangan. Kau tidak suka cinta yang lurus dan mulus tanpa ada konflik. Tunjukkanlah ketulusanmu. Aku berjanji tidak akan pernah jenuh memberi cinta suciku untukmu. Ayok kita bersama-sama menelusuri jalan hidup ini. Kau tidak usah ragu, kau tidak usah bimbang. Melangkah dan teruslah melangkah walaupun duri terbentang di jalan. Jika telapak kakimu telah berdarah, sesungguhnya sekujur tubuhku juga telah berdarah mencintaimu.”
Aku luluh mendengar kata-kata itu. Serasa ada semacam magnet yang menarikku untuk harus memeluk tubuhnya. Aku tidak ingin ia pergi. Aku tidak ingin ia sedih sedetik saja. Aku bersumpah atas nama Tuhan tidak akan membuat ia terluka lagi. Aku berharap perasaan yang membludak ini terus mekar dan membara, bisa mengobati dahaga yang mencekik kehidupan. Aku akan memberi seluruh ketulusan yang utuh ini untuknya, karena memang miliknya. Tapi di akhir cerita, aku yang mengasihinya dilupakan begitu saja. Kalau aku sakit dan berbaring di tempat tidur, mungkin masih bisa pura-pura sembuh dengan penampilanku yang lusuh dan wajah yang tersenyum. Kalau mataku yang tertusuk menjadikannya buta, masih bisa pura-pura melihat. Kalau tubuhku pernah terbakar masih bisa hidup dengan kulit yang terkelupas. Tapi kalau hati yang mati, apa lagi yang bisa aku lakukan karena semuanya telah mati, termasuk tubuhku. Sesungguhnya hati yang mati lebih menyakitkan dari kematian itu sendiri. Aku mohon simaklah baik-baik kehidupanku yang mencekam ini. Ambil nilai moralnya. Catat jika ada yang diperlukan, jadikan catatan pokok dalam hidupmu biar lebih berbumbu.
Terkadang aku ingin mengatakan semua perempuan itu sama bobroknya. Aku yakin, kau pasti tidak setuju dengan ucapanku yang keceplosan, apalagi kaum perempuan. Aku hanya ingin bergumam, kenapa banyak perempuan yang dulu terdiam sendiri merenungi kesepiannya, ia berharap ia ditemani seorang pria. Begitu seorang pangeran datang menaburkan mimpi-mimpi indah, perempuan itu malah membunuh perasaan yang tumbuh. Untung saja aku bersandar pada Tuhan, bukan pada dinding yang robek, bukan pada kursi yang patah. Benar kata Profesor di kampusku, jika cinta itu menemukan jalannya, perkara yang sulit dalam hidup, berpisah dengan cinta itu sendiri. Bukan karena kemiskinan yang melilit dan bertali-tali yang membuat ruwet perjalanan cinta itu, tapi karena ada perubahan yang membelokkan hati ke arah lain. Dulu aku terlalu mempercayai kata-katanya yang terus mengajak ingin hidup bersama denganku. Aku tenggelam dalam perbuatannya yang setia. Sehingga aku lupa, kata-kata seorang insan bisa berubah seperti cuaca. Kalau ia simpati waktu itu, karena ia masih menemukan cinta dalam hatiku dan ia masih memerlukannya. Begitu ia berpaling, cinta di hatinya tetap ada untukku, tapi tinggal secercah. Saat seperti itulah ia memilih pergi mengejar seseorang yang lebih tinggi derajatnya. Ia menganggap ini perpalingan yang wajar dan mesti dilakukan.
Tuhan, kalau saja waktu bisa diundur, aku akan mengobrak-abriknya mengembalikannya pada pertemuan kami ketika aku mengajukan perpisahan, dan ketika ia menolak permintaanku. Aku tetap teguh dalam pendirianku yang keras memilih memutuskan dia. Aku harus melawan rasa kasihan yang bergelora, apalagi hanya karena aku pernah menyentuh tubuhnya. Dan perempuan bernama Kartika itu, beberapa hari yang lalu baru datang bergegas dari sudut kota. Meminta kesediaan dariku untuk bisa memafkan kesalahannya yang mungkir akan janji. Aku rasa tidak harus memaafkannya, juga tidak menyimpan rasa dendam pada perempuan itu. Cinta yang kami bina beberapa tahun yang lalu, ia sendiri yang merubuhkannya. Apakah karena kesalahan besar itu maka ia juga menjodoh-jodohkan aku dengan seseorang. Apa maksudnya melakukan hal bodoh seperti itu.
Apa karena ia yakin aku pasti menolaknya mentah-mentah jika ia memintaku kembali padanya yang bersalah. Atau hanya karena ingin ia menunjukkan penyesalan yang dalam padaku. Atau ia bersedia kembali hadir untukku yang sudah sering digenjot lelaki lain. Atau caranya seperti itu bermaksud minta maaf biar lebih sempurna. Aku tak harus memikirkannya. Untuk apa aku menerima ia kembali, setelah rambutnya dicabik-cabik lelaki lain. Bibirnya dikecup setiap malam sampai doer. Tubuhnya dipanenen dan dicicipi sesuka hati. Dengan ketukan hati yang membekas, aku masih mencintai Kartika yang dulu, dan merasa jijik melihat Kartika yang hadir sekarang. Sejak pengalaman pahit itu menimpa diriku. Aku berjanji tidak mau mencintai karena rasa kasihan. Tidak mau terseret melihat airmata seorang gadis yang bermohon-mohon untuk dicintai sepenuh hati. Tidak mau mencintai sepenuh jiwa dengan perasaan yang tenggelam dan tak terbendung.
Kalau aku mau bertemu dengan Kartika yang merengek-rengek waktu itu, yang banyak bercerita tentangku pada temannya Pretty, anak Pak Jawad pemilik yayasan Insan Utama. Itu karena ia seorang manusia dan aku menghargainya, bukan mencintainya lagi seperti dulu. Pretty adalah perempuan yang ia satukan denganku dan yang dekat denganku sekarang. Aku merasa kalah dari sandiwara Pretty ketika ia membujukku bertemu Kartika tanpa ada rasa cemburu di hatinya. Aku masih mempunyai seorang gadis, yang mendatangiku dan berkata jujur kepadaku, aku mencintaimu Asnul. Gadis itu adalah Pretty sendiri yang menyeretku menemui Kartika kawannya itu. Aku tidak memilih satupun di antara mereka. Aku sudah bosan memberi cinta untuk seorang perempuan. Aku risih dengan kehadiran gadis yang mengganggu pikiran juga aktivitasku terutama dalam menulis. Biar saja aku menyepi dalam kesendirianku yang menyiksa. Kalau bisa aku tidak usah menikah. Biar saja aku bercinta dan mendapatkan kemesraan dari tulisan-tulisanku, dan dari buku-buku yang selalu kukecup keningnya setiap hari.
Setelah merasakan rasa sakit karena cinta. Aku ingin melarang keras muridku-muridku berpacaran, walaupun aku yakin aku akan gagal. Dan lagi pula itu dilarang dalam agama. Dari geraknya Laila yang sesak dan tergopoh-gopoh, aku dapat melihat ia begitu mencintai Arsen. Setelah perempuan itu sadar, aku harus cepat-cepat menemui Arsen, bicara 4 mata. Menasihatinya, dan berkata, hati-hati kau dengan perempuan, bisa membuat hatimu mati, dan cita-citamu gagal sebagai seorang pelajar.
“Laila, Laila, bangun.” Aku menggoyang-goyang tubuhnya yang belum bergerak, dan menampar pipinya lembut disaksikan guru yang lain. Lalu menyuruh siswa memopongnya ke ruang kesehatan. Ia yang tergeletak di atas kasur masih tak sadarkan diri. Suasananya jadi heboh. Kepala sekolah yang sibuk menelpon dokter terdekat gelisah. “Tidak diangkatnya pula.” Masih dalam keadaan panik. Ia kelihatan kesal dan marah. Aku menyuruh seorang siswa membawakan air putih dalam gelas. Aku membaca tauz, mengucap basmalah, membaca ayat pengobatan seperti yang pernah aku pelajari di pondok pesantren dulu. Bukan sebuah mantra, tapi mengutip ayat pendek dari kitab suci. Air putih itu aku usap dibagian keningnya Laila, dan perut telapak tangannya. Cara tradisional seperti ini manjur sekali. Ada saatnya pengobotan secara tradisional lebih ampuh daripada cara modern. Perlahan-lahan mata Laila yang terpejam terbuka, dan ia terus menyebut nama Arsen. Aku kasihan pada perempuan itu. Sebesar apa sih ketulusannya pada Arsen? Apakah aku harus membantunya agar ia terus bisa bersama Arsen? Tidak, aku tidak boleh terkesima dan tunduk pada sebuah ketulusan yang belum tentu konsisten. Siapa tahu besok dia berubah secepat kilat. Kekasihku Kartika saja yang ketulusannya menembus langit, bisa meruntuhkan gunung-gunung, mengusir ombak yang menghiasi tepian pantai, ia bisa berubah. Apalagi masih cinta monyet seperti yang ia miliki pada Arsen.
“Arsen Pak, Arsen.” Ia menatapku seperti mengadu dengan mata setengah terpejam. Matanya yang sayu meminta pertolonganku. Ia tahu kedekatanku dengan anak nakal itu. Ia tahu juga ketulusanku mengasihi anak itu. Ia pernah lihat sendiri aku berdebat keras dengan kepala sekolah gara-gara Arsen memecahkan kaca waktu itu. Kepala sekolah langsung membentak, menyebut-nyebutnya anak kurangajar. Karena darah yang naik begitu tinggi, kepala sekolah tidak bisa mengontrol emosi. Ia langsung memukul keras Arsen. Menarik-nariknya kasar ke ruangan seperti binatang, sambil teriak-teriak menyumpah serapahi, menyuruh anak itu duduk di atas kursi secara paksa setelah menutup pintu kantor. Aku yang dapat cerita, cepat-cepat datang, mengetuk pintu, lalu menerobos masuk bermaksud menenangkan suasana yang gaduh, bukan bermaksud untuk membela siapapun. Aku tidak setuju dengan kelakuannya. Seorang murid tidak wajar diperlakukan kasar seperti itu. Siswa yang jadi penonton mengintip dari luar jendela.
Laila juga ada di situ. Ia gelisah, sejenak mondar-mandir. Dugaanku sebentar lagi ia ingin mengetuk pintu siap ikut campur mendaftarkan diri dalam perkara. Suasana di luar bising. Suaraku yang besar melawan kepala sekolah menyerupai hentakan halilintar menggunakan volume besar bukan karena aku marah. Aku ingin menunjukkan, aku tidak takut padanya, dan berani melawan suaranya yang keras dengan suara kerasku pula. Suaraku terdengar ke luar terbang terbawa angin. Apalagi suara kepala sekolah itu yang sudah meraung-raung gede seperti pesawat tempur yang baru melintas.
“Tenang Pak, kita hadapi dengan hati yang jernih.” Ingin rasanya aku menggerakkan tanganku meraba dada kepala sekolah itu, mendinginkan mesinnya yang semakin panas. Aku berbahasa lembut setelah menggunakan suara besar. “Kalau kita marah-marah terus, tidak akan membuatnya selesai, sebaliknya yang terjadi, semakin kacau dan runyam nanti.” Aku meraba hatiku juga. Aku memandang lekat kepala sekolah itu. Membayangkan hatinya yang panas kusiram dengan air sejuk dari surga. “Bagaimana bisa tenang menghadapi anak kurangajar seperti dia.” Aku tak suka dengan kata-katanya yang bisa jadi doa. Ia yang geram memukul meja, menatap tajam Arsen penuh dengan kebencian yang bergelora. Aku melihat anak itu tidak ada rasa takutya sedikit pun. Aku sudah mempelajari dan mendalami karakter Arsen. Hati yang ia miliki memang keras seperti batu. Dan aku harus mengerti, sekeras apapun batu kalau ditetesi air kelembutan terus menerus ia akan tembus paling tidak retak. Aku akan meretakkan kekerasannya dengan cara mendatanginya pelan-pelan menunjukkan seribu kelembutan.
____________________
Depri Ajopan: Penulis dan guru asal Pasaman Barat (Sumbar) Sekarang tinggal di Rokan Hulu, Riau.


0 Komentar