Tangisan histeris meledak di rumah yang lagi ramai itu. Pak Jonatan, ayah Arsen yang melihatku baru datang langsung memelukku melampiaskan kedukaannya yang begitu dalam. Setelah ia pernah menyaksikan bagaimana aku memperlakukan Arsen di depan kepala sekolah, ia kagum padaku. Ia tahu aku seorang guru yang tidak melihat setiap murid dari sisi kejelekannya saja. Ia tahu aku begitu mengasihi murid-muridku di sekolah, termasuk Arsen anaknya yang nakal. Aku siap melakukan apa saja asal Arsen mau berubah. Ia berharap padaku mendoakan anaknya lepas dari siksa kubur. Sepertinya ia tak percaya doaku terkabul pada anaknya yang mati bunuh diri itu. Ia mempererat pelukannya, airmatanya berjatuhan. Suara tangisnya semakin kuat. Sejurus kemudian ia melepas pelukannya, memukul-mukul tembok, menghentak-hentakkan kepalanya seakan berputus asa dengan keputusan Tuhan yang sudah tergores. Aku yang terdiam bercucuran keringat. Cuaca begitu panas. Kasihan aku melihat bapak tua itu. Sudah berapa lama ia sendirian mengasuh Arsen setelah kepergian istrinya tercinta. Setelah punggungnya bersandar ke tembok, ia terjatuh sempoyongan, aku pun menyambutnya dibantu  beberapa orang. Untung ia tak sampai pingsan.

“Sabar Pak, ini sudah takdir dari Tuhan,” ucapku, walaupun aku yakin bukan kalimat seperti itu yang ingin ia dengar. Katanya, kakinya yang bergetar serasa digigit berjuta semut. Aku suruh ia luruskan ke depan. Mengenai anaknya yang mati bunuh diri, dan kekal di neraka seperti kepercayaan orang-orang di kampung ini, itu bukan urusan manusia. Semata-mata Tuhan yang bisa memutuskan.

“Sekarang aku tidak percaya lagi Tuhan itu ada.” Semua orang yang mendengar merasa ngeri dengan kata-katanya yang baru meluncur seperti bara api membakar jiwa pendengarnya. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menasihati orang yang kalah dalam kehidupan seperti dia. Ku akui sejujur hatiku, jika aku di posisi dia, belum tentu juga aku sanggup menanggung beban seberat itu. Aku seperti habis pikiran. Aku melongo seperti orang bodoh. Aku terbisu seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Untung saja seorang kiai kampung, lulusan Madrasah Aliyah baru saja datang menerobos masuk. Setelah ia berbincang-bincang sebentar dengan Pak Jonatan. Ia menyuruh Pak Jonatan mengucap istigfar. Ia seorang kiai yang begitu disegani di daerah ini. Sampai-sampai mereka yang ilmu pengetahuan dan akidahnya dangkal hampir-hampir mempertuhankan kiai itu tanpa mereka sadari. Banyak yang bersalaman dengannya, mencium tangannya, kemudian bersujud di bawah kakinya menyerupai sembah. Hati nuraniku tidak mengizinkan aku melakukan itu. Kesalahan mereka sama seperti yang dilakukan teman-temanku waktu mondok di pesantren, terlalu berlebih-lebihan menghormati kiai sebagai guru mereka. Sehingga ia lupa ia juga punya kemampuan dan kelebihan sendiri. Anehnya ada juga guruku di pesantren yang bangga dielu-elukan muridnya berlebih-lebihan, sampai mereka lupa berpesan pada muridnya, jadilah dirimu sendiri Nak, jangan sampai merubah dirimu jadi orang lain. Karena itu adalah sebodoh-bodohnya orang. Kau juga punya kehebatan yang tidak dimiliki siapapun.

Aku memperhatikan kiai yang baru tersenyum itu. Ia menepuk-nepuk pundak Pak Jonatan menenangkannya, seolah masalah yang dihadapi bukan masalah pelik. Ia begitu tenang menghadapi seseorang yang putus asa, tidak sepertiku terlihat panik. Aku yang lulusan pesantren, dan sudah dapat gelar kesarjanaan mulai membaca diriku. Menelusuri jejakku langkah demi langkah. Hari ini aku benar-benar mengalah di depannya tanpa sepatah kata.

“Kepada pihak keluarga, terutama Pak Jonatan, ikhlaskanlah ini semua. Keputusan Tuhan tidak bisa  diganggu gugat. Ajal seseorang tidak bisa kita percepat, dan tidak bisa kita undur sedetik pun. Jauh hari sebelumnya sudah tertulis di lauhul makhfus.” Kalau berkata-kata seperti itu aku juga bisa, bahkan lebih indah dari itu aku sanggup. Tapi kata-kata Pak Kiai didengar orang-orang. Bisa membuat Pak Jonatan tenang, sementara aku tidak sanggup melakukan itu.

Aku yang belum sempat melihat wajah Arsen setelah kepergiannya bergegas membuka kain putih itu, airmataku jatuh berderai. Aku tak tahan dengan kepiluan ini. Setelah tetesan airmata bercucuran dari mataku, aku memeluknya yang sudah mati. Aku menangis bukan seperti tangisan seorang yang tidak terpelajar. Walaupun airmataku banyak menetes, tapi itu murni airmata kesedihan. Bukan airmata karena merasa kesal dengan keputusan Tuhan. Aku tidak mau menangis berlebih-lebihan, apalagi setelah  melihat kematian seorang yang disayangi. Aku tidak mau sampai merobek-robek dinding, lalu mencakar-cakar wajah. Itu bukan ajaran Tuhan, dan bisa membuat nabi bersedih kalau melihat umatnya melakukan hal konyol seperti itu.

***    

Setelah mayat dikubur, para pelayat pergi satu persatu termasuk Pak Kiai. Tinggal aku, Pak Jonatan dan beberapa keluarganya.

“Aku sedih karena anakku mati seperti ini ustaz.” Ia mengungkapkan kegelisahan yang marasuki hatinya. Dan aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan beliau, penyakit mengeluhnya kambuh lagi.

“Jujur Nak Asnul, kalau seandainya dapat memilih, lebih baik Arsen mati dalam keadaan mabuk, daripada mati bunuh diri menggantung dirinya di pohon.” Beliau yang berandai-andai terduduk lesu di atas tanah pekuburan itu. Perkataannya yang sudah melewati garis finis membuatku geleng-geleng kepala.

“Bagaimana sih hukumnya orang Islam yang mati bunuh diri. Ia masih pantas disalatkan seperti tadi? Bukankah mati bunuh diri itu mati dalam keadaan kafir. Kekal dalam neraka selamanya?” Aku tertarik menjawab pertanyaannya. Ini memang bagianku. Ia terus ngerocos seakan mendesakku. Aku menjawabnya hati-hati, sampai tuntas. Beberapa kitab, karangan ulama-ulama besar melayang-layang di depan mataku. Aku melihat wajahnya tidak kusut lagi seperti tadi. Dari cara ia memandangku, aku menarik kesimpulan sendiri ia puas dengan penjelasanku yang merujuk dari pendapat jumhur ulama. Wajah kegelisahan yang terpampang di keningnya tiba-tiba menghilang. Aku merasa berhasil menyingkirkan kegelisahannya.

Kiai tadi saja belum tentu bisa menjawab dan mengupas dari berbagai kitab sepertiku. Walaupun bisa mungkin hanya sekilas. Tapi kali ini aku tidak membanggakan diriku seperti tadi. Setitikpun tidak ada lagi kesombongan yang bergelayut dalam hati ini. Ia harus pergi dan menguap dalam diriku. Ia telah lenyap seperti embun yang menempel pada rerumputan ketika muncul wajah matahari yang menyegat waktu pagi. Ia harus sirna dan tak boleh tersisa. Aku telah mendapatkan ilmu berharga dari pengalamanku sendiri setelah bertemu kiai itu. Mungkin dari segi pengetahuan agama aku lebih banyak tahu daripada kiai itu. Tapi dari segi akhlak beliau lebih berperan, karena itu aku yakin orang-orang di sini lebih tunduk pada pendapatnya daripada penjelasanku walaupun langsung merujuk dari berbagai kitab, menyebut halamannya, dan menjelaskan pendapat empat mashaf sekaligus. Bukankah hal yang menerorku seperti ini pernah terjadi di kampung halamanku. Kenapa aku begitu mudah melupakan pengalaman yang mendidik nuraniku itu. Seharusnya aku bisa mengambil pelajaran dari kejadian itu.

Hari itu kelompok ibu-ibu  yasinan datang ke rumahku. Mereka bertanya. Apa hukumnya membangun masjid di tanah ulayat? Aku yang sudah tahu jawabannya membentang tikar menyuruh mereka duduk sebagai penghormatan. Kemudian aku pergi ke kamar membuka lemari, sengaja mengambil beberapa kitab kuning dari berbagai mazhab biar kelihatan keren. Aku membacanya fasih, menterjemahkan ke bahasa sehari-hari di kampungku, dan aku simpulkan, membangun masjid di tanah ulayat hukumnya boleh jika diberi izin. Mereka mengangguk-anggukkan kepala memandangku. Setelah melihat gerak mata yang saling pandang, aku menemukan wajah ketidak puasan. Akhirnya mereka memutuskan menemui ustaz Wasirman, ustaz kampung yang baik akhlaknya. Mereka melempar pertanyaan yang sama. Apa hukumnya membangun masjid di tanah ulayat? Beliau menjawab, boleh jika dapat izin dari pemangku adat dan masyarakat setempat pemilik ulayat tersebut..

“Oh…oh.” Mereka langsung percaya, tanpa menuntut mana dalilnya. Sepotong dalil yang konkrit tidak terlalu perlu bagi orang-orang seperti itu. Aku yang mulutnya sudah berbusa membaca kitab masih saja diragukan pendapatnya. Begitulah kekuatan akhlak. Bisa dipercayai seutuhnya oleh banyak orang daripada sekadar kecerdasan semata. Mereka yang cuma memiliki ilmu pengetahuan, tapi tidak beradab belum tentu dipercayai orang-orang. Mereka  yang punya ilmu pengetahuan tanpa akhlak percuma saja. Dan aku baru sadar diri, aku masih di bawah itu, orang yang punya pengetahuan sedikit, tapi belum punya akhlak. Aku harus giat belajar untuk mendapatkan ilmu tertinggi itu.

Bukankah guru-guruku di pesantren sering berpesan, tawaduklah jadi orang, jangan sombong. Tunjukkan akhlak yang baik di mana pun kamu berada, meskipun kondisimu saat-saat genting. Untuk apa aku menyombongkan diri menjawab deretan pertanyaan Pak Jonatan tadi, seputar hukum tentang menyolatkan orang mati yang bunuh diri. Mereka yang memiliki moral yang tinggi saja tidak sombong, lalu apa aku yang entah memiliki moral entah tidak  harus mengenakan pakaian yang pernah dipakai setan keparat itu, takpantas dong. Aku membaca basmalah, mengucap istigfar berkali-kali, minta ampun pada Tuhan penguasa jagad. Aku tak boleh mengukur diri seseorang dari sudut diriku sendiri. Hatiku yang terbakar api neraka apinya mulai padam.

____________________

Depri Ajopan. Penulis dan guru asal Pasaman Barat (Sumbar) Sekarang tinggal di Rokan Hulu, Riau.