Rumah dinas administrateur berdiri di atas bukit kecil berjarak lima ratus meter dari kompleks pabrik. Bangunannya dirancang dengan gaya Indische Empire yang megah: delapan tiang beton bergaya Yunani menopang teras depan yang luas, dinding batunya dicat putih bersih, dan atap limasan raksasa menaungi seluruh pelataran.
Pukul tujuh malam, lentera-lentera porselen berukir menyala terang di sepanjang halaman gersang yang ditanami pohon palem raja.
Adrian de Boer melangkah menaiki tangga marmer bersama Jan Jansen. Adrian mengenakan jas linen terbaiknya yang berwarna kram, sepatu kulitnya mengilap tanpa setitik debu semen. Di sampingnya, Jansen mengapit topi pith helmet-nya, kemeja putihnya kaku oleh kanji.
Seorang pelayan bumiputra berpakaian lurik dan bertelanjang kaki membukakan pintu jati raksasa. Di dalam, ruang makan utama dikelilingi cermin-cermin besar bergaya Eropa. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu mahoni raksasa terbentang, dilapisi kain taplak putih bersih dari Rotterdam. Perangkat makan dari porselen Delft, sendok-garpu perak, dan gelas-gelas kristal tertata presisi di atas meja.
Mr. van Hoorn duduk di ujung meja. Ia mengenakan jas malam berwarna gelap. Di sampingnya, berdiri seorang wanita Eropa berusia empat puluhan berkulit pucat dengan gaun renda, Nyonya van Hoorn, dan dua pejabat teknis senior dari NV Klatensche Cultuur Maatschappij.
“Ah, De Boer! Jansen!” Van Hoorn berdiri, mengangkat gelas berisi cairan genever bening. “Selamat datang di rumah kami.”
Adrian membungkuk sopan. “Terima kasih atas undangannya, Mr. van Hoorn.”
Makan malam berlangsung dalam suasana yang kaku. Pelayan-pelayan pribumi bergerak cepat dan tanpa suara di belakang kursi para tamu. Mereka menuangkan anggur merah, menyajikan potong daging sapi impor dengan saus mentega, dan mengganti piring-piring kotor tanpa pernah menatap mata para tuan Eropa.
Suara dentang halus antara sendok perak dan porselen memenuhi ruangan, berselang-seling dengan gesekan piring.
“Presisi mesin gilinganmu luar biasa, De Boer,” kata Van Hoorn sambil mengunyah dagingnya. “Baut-baut Stork & Co. duduk sempurna. Direksi di Amsterdam sangat puas dengan laporan telegram yang saya kirim siang tadi.”
“Itu berkat kerja keras para kuli yang menahan beban rantai semalam, Tuan,” sahut Adrian pelan, menyapu sudut bibirnya dengan serbet kain.
Nyonya van Hoorn tertawa kecil, suara tawanya terdengar tajam bagai denting porselen pecah. “Oh, Meneer de Boer, kau masih baru di Hindia. Jangan terlalu memikirkan orang-orang itu. Mereka bekerja karena mereka butuh makan. Tanpa pabrik kita, mereka hanya pemakan beras di pinggir sawah.”
Adrian menahan jemarinya di tepi meja. Ia teringat jari-jari kasar buruh tua yang mengikis semen dua milimeter di dasar lubang yang dingin, dan pemuda yang kakinya tertimpa balok jati.
“Mereka memiliki ketahanan fisik yang tinggi, Nyonya,” balas Adrian datar. “Tanpa tangan-tangan mereka, mesin tercanggih dari Hengelo tidak akan pernah berdiri di atas tanah ini.”
Van Hoorn meneguk anggurnya hingga tandas, lalu menyandarkan punggungnya di kursi jati.
“Kau insinyur yang pintar, De Boer,” kata Van Hoorn, pandangannya berubah dingin. “Tapi ingat satu hal: besi dan semen adalah milik kita. Tanah ini milik kita. Tugasmu adalah memastikan gula keluar dari cerobong itu tepat waktu. Jangan biarkan rasa iba mengganggu perhitungan matematikamu.”
Adrian tidak menjawab. Ia menyesap air putih dari gelas kristalnya. Air itu terasa dingin, namun tidak sanggup membasahi kerongkongannya yang terasa kering oleh kepura-puraan di dalam ruangan bertiang megah itu.
Pukul sembilan lewat seperempat, dinner berakhir. Adrian menolak tumpangan delman dari Van Hoorn. Ia memilih berjalan kaki sendirian menyusuri jalan tanah menuju rumah dinasnya.
Malam terasa begitu pekat. Angin dingin dari arah sawah berhembus pelan, menerbangkan debu tipis di bawah remang cahaya bulan separuh. Bau wangi bunga melati dan tanah basah menggantikan aroma asap cerutu Van Hoorn yang menyengat.
Saat melintasi jembatan kayu kecil di atas saluran irigasi utama pabrik, Adrian mendengar gemercik air yang halus. Ia berhenti di tengah jembatan. Di tepi saluran air, di bawah naungan pohon asam jawa yang rindang, seorang gadis sedang berlutut. Ia mengenakan kain kemben batik kusam dan kebaya tipis berwarna kelam. Di sampingnya, tergeletak keranjang bambu yang biasa ia bawa.
Gadis itu sedang mencuci cangkir seng di dalam aliran air selokan yang jernih. Adrian memegang pegangan kayu jembatan. Suara langkah sepatunya di atas papan kayu membuat gadis itu terkejut. Gadis itu menoleh pelan.
Di bawah sinar bulan yang menembus sela-sela daun asam, Adrian bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas untuk pertama kalinya. Wajahnya oval halus dengan kulit cokelat langsat yang bersih. Matanya besar, gelap, dan tajam, memancarkan kejernihan yang membuat dada Adrian berdesir pelan. Hidungnya kecil, dan bibirnya yang tanpa gincu tampak sedikit terbuka karena terkejut. Rambut hitam pekatnya disanggul kaku secara sederhana di tengkuk, dengan beberapa helai anak rambut yang jatuh basah menempel di pipinya.
Gadis itu adalah adik dari pemuda yang terluka kemarin, gadis yang selalu menatapnya dari jauh di stasiun dan di pelataran pabrik.
Adrian tertegun. Di dalam jas linennya yang mahal dan kemewahan porselen meja Van Hoorn yang baru saja ia tinggalkan, kecantikan gadis di tepi saluran air ini terasa begitu nyata, polos, dan tanpa kepalsuan.
“Nona…” kata Adrian pelan, suaranya canggung dalam bahasa Melayu.
Gadis itu berdiri perlahan. Ia menarik keranjang bambunya, menggenggam cangkir seng yang basah di dadanya. Ia tidak melarikan diri, tetapi juga tidak menundukkan kepala sedalam Pak Kerto atau kuli-kuli pabrik. Ia berdiri tegak, menatap Adrian dengan pandangan lurus yang tenang.
“Meneer…” suara gadis itu halus dan rendah, bagai bisikan angin malam di antara tanaman tebu.
“Kakakmu bagaimana kakinya?” tanya Adrian, melangkah dua tapak mendekati tepi jembatan.
Gadis itu mengangguk pelan. “Sampun… pun rada sae, Meneer. Terima kasih.”
Ia menggunakan gabungan bahasa Jawa dan Melayu yang terbata-bata. Jemari tangannya yang halus menyentuh sekuntum bunga melati kecil yang terselip di keranjang bambunya. Dengan gerakan yang lambat dan penuh keraguan, gadis itu mengambil bunga melati itu, lalu meletakkannya di atas batu kali datar di pinggir jembatan.
Gadis itu membungkuk sedikit sebagai tanda hormat, lalu berbalik dan berjalan cepat menghilang di balik kegelapan kebun pisang di tepi jalan.
Adrian berdiri terpaku di atas jembatan kayu. Hening kembali menguasai malam Delanggu. Hanya ada suara derik jangkrik dan gemercik air irigasi yang mengalir tenang menuju ladang tebu.
Adrian melangkah mendekati batu kali itu. Ia berlutut, mengambil sekuntum bunga melati kecil yang masih basah oleh embun malam. Aroma wangi yang pekat dan manis segera memenuhi jemarinya, aroma yang sama sekali berbeda dengan bau gemuk mesin Stork & Co. atau bau anggur Van Hoorn.
Ia membawa bunga itu di dalam genggaman tangannya yang terbalut kasa perih, berjalan pelan menyusuri jalan tanah menuju rumah dinasnya yang sepi di bawah bayang-bayang pohon trembesi.
____________________
Erna Surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten.


0 Komentar