Rumah dinas itu berdiri tak jauh dari pabrik gula. Bangunannya besar. Atap limasannya tinggi, ditutupi genteng tanah liat yang tebal. Dua pohon trembesi tumbuh di pinggir jalan depan. Daunnya rindang, menutupi halaman dari sengatan matahari sore.
Willem meletakkan koper cokelat milik Adrian di atas lantai ubin. Suara langkah sepatu mereka terdengar nyaring di dalam ruangan yang tinggi dan sepi.
“Ini tempat tinggalmu,” kata Willem. Ia menyeka lehernya dengan saputangan. “Seorang pelayan akan datang setiap pagi. Namanya Pak Kerto. Dia yang mengurus rumah ini.”
Adrian mengangguk. Ia melihat ke sekeliling ruang utama. Perabotnya sedikit. Hanya ada meja jati, beberapa kursi, dan sebuah dressoir panjang. Dinding batunya tebal bercat putih. Jendela-jendela kayu berukuran tinggi berjejer dengan jalusi kayu yang terbuka separuh.
“Siang hari di sini sangat panas,” ujar Willem lagi. “Bau tebu dari pabrik juga sering tercium. Tapi kau akan terbiasa.”
“Di mana kantor administrateur?” tanya Adrian.
“Mr. van Hoorn sedang ke Surakarta sampai besok sore. Ada urusan besi dan bahan bangunan. Hari ini kau bisa beristirahat.” Willem menepuk bahu Adrian. “Sampai jumpa besok pagi.”
Willem berjalan keluar. Suara langkahnya menghilang di atas tanah berkerikil. Setelah itu, delman terdengar bergerak menjauh.
Rumah menjadi hening. Adrian berdiri sendirian di tengah ruang tamu. Udara di dalam rumah terasa dingin pada kulitnya, namun udara di luar tetap membakar. Ia memandang berkeliling. Rumah ini terlampau luas untuk seorang lelaki yang datang sendirian dari negeri seberang. Dindingnya bercat putih tebal. Di beberapa tempat, cat itu mulai mengelupas akibat kelembapan tanah Hindia.
Ia berjalan ke dekat jendela. Dari balik kisi-kisi kayu, ia bisa melihat cerobong asap pabrik gula Delanggu. Cerobong bata merah itu belum selesai dibangun. Di sekitarnya, banyak pekerja memindahkan bahan bangunan dan mengaduk semen.
Kereta sorong dari besi terdengar berderit. Suaranya sampai ke teras rumah. Beberapa buruh bertelanjang dada mengangkut peti-peti mesin. Kulit mereka gelap ditimpa matahari. Adrian bisa melihat debu tanah terangkat setiap kali kaki-kaki telanjang itu melangkah di jalanan.
Udara terasa panas. Bau tanah basah bercampur dengan bau asap batu bara dari stasiun. Ada juga bau manis yang tipis. Bau tebu yang mulai membusuk di sudut saluran air.
Adrian melepas jasnya. Ia menyampirkannya di sandaran kursi jati. Lalu, ia mengeluarkan arloji dari saku rompi. Pukul sebelas lewat dua belas menit. Waktu terasa berjalan pelan. Lebih pelan daripada di Rotterdam. Di Delft, jam dinding di kampus selalu berdentang tepat pada waktunya. Di tempat ini, waktu seolah berhenti di antara derit roda kereta besi dan kepakan sayap burung di atas pohon trembesi.
Adrian berjalan ke meja. Ia membuka tabung kulit dan mengeluarkan gulungan kertas gambar. Garis-garis rancangan mesin giling buatan Stork terbentang di atas meja. Gambar itu rapi. Semua ukuran dan perhitungan roda gigi tertera dengan jelas. Ia mengambil mistar kayu dan pensil dari kotak alatnya. Adrian menyukai kerapian. Bagi dirinya, angka adalah hal yang pasti. Jika roda gigi dipasang sesuai ukuran, mesin akan berputar. Jika tekanan uap diatur tepat, roda akan menggilas tebu tanpa henti. Tidak ada teka-teki pada mesin. Mesin bekerja tanpa perasaan.
Namun, pikirannya kembali melayang kepada Elisabeth. Ia membayangkan istrinya sedang duduk di rumah mereka di Rotterdam. Suasana di sana dingin. Musim panas di Belanda tidak pernah membakar seperti ini. Elisabeth mungkin sedang menyeduh teh di dapur atau sedang menyiapkan pakaian untuk bayi mereka.
Adrian merogoh saku dalam jasnya yang ia gantung di kursi. Ia kembali mengambil surat itu. Kertasnya agak lembap oleh keringat. Ia membukanya pelan-pelan.
Dokter berkata aku harus lebih banyak beristirahat.
Jangan terlalu lama berada di Hindia. Anak kita akan membutuhkan ayahnya.
Adrian memejamkan mata. Ia membayangkan wajah istrinya. Wajah yang lembut dan selalu tenang. Ia teringat saat terakhir kali berdiri di pelabuhan Rotterdam. Elisabeth tersenyum, tetapi matanya basah. Adrian berjanji proyek ini tidak akan memakan waktu lama. Enam bulan. Atau mungkin delapan bulan. Begitu mesin giling dipasang dan pabrik berjalan, ia akan segera naik kapal pertama menuju tanah airnya. Ia melipat surat itu kembali. Memasukannya lagi ke saku jas dengan hati-hati.
Ketukan pelan terdengar dari pintu belakang dapur. Thok. Thok.
Adrian berhenti bergerak. Ia merapikan kertas gambarnya. Lalu, ia berjalan menuju bagian belakang rumah. Pintu belakang terbuat dari kayu jati tebal. Ketika Adrian memutar selot besi dan membukanya, sinar matahari yang menyengat langsung menerpa matanya.
Seorang lelaki tua berdiri di luar pintu. Ia memakai kain sarung dan baju lurik. Rambutnya putih. Wajahnya penuh kerut. Tangannya gemetar pelan saat memegang sesuatu.
“Meneer,” kata lelaki itu sambil membungkuk rendah. “Kerto.”
Lelaki itu membungkuk begitu dalam hingga matanya menatap ke ubin batu. Adrian merasa canggung. Di Belanda, tidak ada orang yang membungkuk sedalam itu hanya untuk menyapa seorang teknisi muda.
“Kerto?” tanya Adrian dengan bahasa Melayu kaku.
“Inggih, meneer.” Lelaki tua itu menyerahkan sebuah kendi tanah liat dan cangkir.
Adrian melihat kendi itu. Permukaannya basah oleh embun dingin.
“Terima kasih, Kerto,” jawab Adrian.
Lelaki tua itu mengangguk. Ia mundur tiga langkah tanpa membelakangi Adrian. Pandangannya tetap tertuju pada lantai. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan pelan menuju bangunan kecil di belakang halaman. Adrian memperhatikan Kerto sampai lelaki itu hilang di balik pohon pisang.
Di belakang halaman, ada sumur timba beratap kayu. Sebuah gentong batu besar berdiri di sampingnya. Di sana, kehidupan berjalan dalam keheningan yang asing bagi Adrian. Ia merasa seperti seorang penonton yang berdiri di tepi panggung pertunjukan yang tidak ia pahami jalannya.
Adrian membawa kendi dan cangkir itu kembali ke dalam. Ia meletakkannya di atas meja kayu. Ia mengambil cangkir, menuangkan air dari kendi, lalu meminumnya. Air itu terasa dingin dan berbau tanah segar. Tenggorokannya yang kering sejak dari stasiun terasa segar kembali.
Ia memandang keluar lewat jendela samping. Di seberang jalan tanah, beberapa anak kecil berjalan tanpa alas kaki. Mereka membawa pelepah pisang. Seorang perempuan berjalan di belakang mereka dengan bakul bambu di atas kepala. Pakaian mereka sederhana. Tidak ada yang memakai sepatu. Namun mereka berjalan dengan santai di bawah terik matahari yang menyengat.
Adrian kembali berjalan ke teras depan. Ia berdiri di antara tiang-tiang rumah yang tinggi. Tiang-tiang bata itu tebal dan dicat putih. Rumah ini dibangun untuk bertahan dari panas dan hujan tropis. Namun, bagi Adrian, rumah ini tetap terasa seperti sangkar yang asing. Matanya menatap ke arah jalan tanah di depan pabrik. Jalan itu kini sepi. Angin sore berembus pelan, menerbangkan debu tipis di bawah pohon asam.
Di kejauhan, Gunung Merapi berdiri gagah di balik kabut tipis. Puncaknya tidak terlihat jelas. Di kaki gunung itu, hamparan sawah dan ladang tebu hijau membentang tanpa batas.
Adrian teringat gadis yang ia lihat di stasiun tadi pagi. Gadis membawa keranjang bambu yang berdiri di bawah pohon asam. Mengapa gadis itu menatapnya seperti itu? Apakah ia takut? Atau ia hanya heran melihat seorang pria asing dengan jas tebal di tengah cuaca Delanggu yang membakar?
Adrian menggelengkan kepala. Ia tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak berguna. Tugasnya di sini jelas. Memasang mesin, memeriksa pipa uap, dan memastikan pabrik gula ini bisa berproduksi tepat waktu.
Ia melihat arloji sakunya sekali lagi. Pukul satu siang. Ia berjalan masuk ke dalam, mengambil pensilnya, dan kembali menatap kertas rancangan di atas meja. Angka-angka di atas kertas kalkir itu adalah satu-satunya hal yang ia kenal di tanah yang asing ini.
____________________
Erna Surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten


0 Komentar