Setelah media cetak banyak yang gulung tikar, aku sebagai wartawan memilih berhenti dari salah satu media beralih propesi sebagai guru di sekolah Yayasan Insan Utama, dan sudah berjalan beberapa bulan. Dari SD-SMA Sekolah Insan Utama satu naungan. Kelasnya tak berjarak jauh, walaupun tidak saling berhadapan seperti sekolah Muhammadiyah Sumatera Barat di kampungku. Aku homebase MA. Hari ini, setelah anak-anak pulang sekolah, aku dapat informasi dari kawan, untuk semester depan kemungkinan aku mengajar di SD beberapa kelas, dan belum diberi kesempatan megajar di SMP seperti yang kuharapkan. Ia bilang, Ustazah Sofy kepala  sekolah SD yang berucap seperti itu. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala tak berkomentar seolah pasrah.Keesokan harinya, seperti biasa, sebelum pintu kantor dibuka, aku datang pagi sekali. Aku duduk di bawah pohon besar sambil mencicipi buku Bumi Manusia, ditulis Pramoedya Ananta Toer. Tatapanku fokus pada kertas. Aku terharu cara pengarang yang piawai ketika mempertemukan Minke dengan Annelies dan seorang gundik yang bijaksana bernama Nyai Ontosoroh. Aku juga merasa lega, ketika Annelies jatuh sakit, kehadiran Minke jadi obat baginya yang terbaring lemas. Dokter Martinet bilang pada Minke, Annelies perempuan berkulit lembut itu bukan pasienku lagi, tapi pasienmu Minke. Aku berpikir sesaat, adakah perempuan yang bisa mencintaiku sedalam itu, dan aku bisa jadi dokter bagi perempuan itu? Kenyataannya aku yang tersakiti disingkirkan, dan terkapar sendirian. Aku menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya lega. Tiba-tiba seseorang datang menggangguku, melumpuhkan konsentrasiku, membuatku  kesal.

“Selalu kau yang datang duluan Asnul. Benar-benar kau seorang guru profesional.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau Pak Jawad, pemilik sekolah tahu, pasti dia bangga. Kau seorang guru paling disiplin di sekolah ini Nul. Kau telah menunjukkan kedisiplinan itu pada muridmu-muridmu. Aku yakin kau seorang yang taat dan alim.” Pujian yang berlebihan.

Aku menyimpan kata-kata itu dalam kepalaku. Mereka yang tahu warna kehidupanku yang sesungguhnya, tidak akan mau memujiku, bisikku dalam hati yang berdenyut. Aku memperhatikan wajahnya yang selalu ceria. Perempuan itu seorang Ibu berusia kira-kira  di atas 45 tahun. Ia salah satu petugas kebersihan di sekolah ini. Ia yang merepet memberi pujian tak menghentikan aktivitasnya menyapu daun-daun kering yang jatuh dari pohon.

Matahari terus naik.

“Coba kalau aku punya anak gadis, pasti aku jodohkan denganmu, karena kau lelaki disiplin. Kalau sudah disiplin, pasti alim.” Setelah meletak sapu ke tembok, ia yang berkeringat duduk sebentar di dekatku.

Aku mencium bau keringatnya yang amis. Kemudian aku sengaja berdehem, dan batuk yang dibuat-buat. Mataku yang fokus menatap kertas seolah tak berkedip. Aku sudah mereka ke mana arah pembicaraan Ibu itu, aku tak harus melayaninya. Terlalu jauh ia berintervensi tentang hidupku. Kalau ia terus menjodoh-jodohkan aku dengan pilihannya yang menurutnya perempuan baik, seperti yang pernah ia lakukan, itu karena ia belum mengenalku lebih jauh. Ia belum tahu sekeruh apa hatiku yang rapuh ini. Kalau ia tahu kebobrokanku, pasti ia tidak mau menyatukan aku dengan perempuan mana pun di dunia ini yang ia kenal. Warna keimananku bukan putih, bukan hitam, bukan abu-abu seperti warna baju, tapi belang-belang yang mencolok, dan berbau busuk, menjijikkan sekali. Hanya orang-orang pilihan yang bisa menciumnya.

“Makanya kau dekati saja ustazah Silvia itu.” Ia bertingkah lagi seperti biasa. “InsyaAllah dia perempuan salihah, cocok untukmu ustaz. Memang sedikit dia agak pemalu, tapi yang penting dia tidak suka marah-marah.” Ia terkekeh menutup mulut seolah ada yang lucu di matanya.

Setiap pagi ia sering berbicara tentang perempuan itu di depanku, dan mendekatkanku dengannya seakan aku ini seorang pria yang tak bisa berbuat apa-apa untuk cinta, dan sudah lama tak laku-laku. Setelah berlari kembali mengejar cinta ke setiap penjuru, selalu menemukan penolakan.

Ah, persetan dengan cinta yang pernah membuatku hampir mati,  bisikku dalam hati.   

“Kalau kau tidak berani, terus terang saja. Biar aku yang bertugas mencuri hatinya untukmu, sampai ia terkubur di bawah hatimu. Setelah itu kau sendiri yang memetiknya.” Sok puitis ia yang tak bisa diam di depanku.

Wajahku yang cemberut menggunakan bahasa isyarat, menandakan tak tertarik dengan obrolannya, tetap membuat ia  tak mengerti. Aku ingin ia segera mematikan obrolan itu, dan tak etis jika aku tiba-tiba bergegas pergi. Kicauannya yang menggerutu, membuatku semakin risih di sini.

“Aku yakin dia pasti suka padamu. Soalnya dia sering cerita tentangmu.”

Dia sering cerita tentangku, pikirku. Dia cerita mengenai apa saja tentang diriku. Kali ini aku merasa diserang.  Platuk senjata baru ditekan. Sebutir peluru menghunjam ke dadaku. Aku yang berdarah terbisu. Aku tidak merasa dia menyukaiku hanya dengan alasan dia sering cerita  tentangku. Lagian siapa tahu Ibu itu sedang membual. Aku yakin, ia hanya mengada-ada dan ingin mengerjaiku saja, aku tak harus mempercayai ceritanya. Selama ini aku tak bisa membaca gerak Silvia untukku. Bukan aku yang kurang peka, aku sendiri tak pernah memperhatikannya.

Aku belum menutup buku, tapi meletaknya di atas pangkuanku setelah merapatkan kedua kakiku, menggoyang-goyangnya. Sesekali pandanganku tertumbuk pada orang-orang yang melintas di jalanan, kemudian menatap lagi pada kertas. Aku ingin tahu tentang kelanjutan drama ini.  

“Kenapa ia sering cerita tentangku?” Aku mendadak menutup buku, ujung telunjukku sengaja kuselipkan ke dalam buku sebagai pembatas bacaanku.    

“Kau pasti ingin tahu cerita selanjutnya, kan?” Ia mengalihkan pandang sesaat, tak lagi menatapku. “Ayok, ngaku kau, ngaku.” Ia yang melempar senyum menatapku lagi, aku tersipu malu.

“Kau punya kesempatan emas Asnul untuk merayunya, tapi kau harus sabar. Kau tahu sendiri dia seorang gadis pemalu.”

Aku menenggelamkan diri dalam pembicaraan ini bukan karena tertarik dengan gadis itu, walaupun ada mungkin hanya segenggam. Ah, tidak mungkin. Jangankan segenggam, setitik pun tidak. Aku tidak boleh semudah itu jatuh hati pada seseorang sebelum menelusuri jejaknya lebih jauh.

“Kalau kau datangi dia secara perlahan-lahan. Terus kau ketuk hatinya dengan sinaran cinta yang terik, yakinlah dia sendiri yang akan merangkulmu.” Pintar sekali ia bermain kata-kata, aku pun tertawa kecil.

Naluriku bergumam, ia memang seorang Ibu yang puitis. Aku punya firasat sendiri, masa muda ia termasuk gadis yang nakal dalam bermain kata-kata. Mungkin suaminya yang bekerja serabutan itu, sering terseret arus kata-katanya yang menyihir. Kalau nggak, bagimana mungkin seorang bapak yang gagah perkasa jatuh hati pada Ibu Maisarah, perempuan berwajah sederhana. Entah apa dulu pekerjaan Ibu itu sebelum berpijak di sini. Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Aku tak tahu, apakah dulu ia pernah terombang-ambing dipermainkan gelombang kehidupan sepertiku? Yang jelas, sekarang ia jadi tukang sapu di sekolah. Aku tidak bermaksud merendahkan pekerjaan perempuan itu. Tukang sapu di sekolah atau di jalanan bukan pekerjaan menjijikkan. Mereka jauh lebih mulia daripada koruptor ulung di kantor.

“Aku yakin, kau pasti pintar merayu perempuan. Oh, kau kan guru sastra, tak perlu diragukan lagi.”

Aku belum menemukan cara untuk memilih pergi, takut ia tersinggung. Aku menghormatinya sebagai seorang Ibu. Juga menghargainya sebagai tukang sapu di sekolah. Aku tak bisa bayangkan kalau tukang sapu seperti dia tidak ada di negeri ini. Setiap pekarangan di kantor, di sekolah, penuh dedaunan kering yang beterbangan diterjang angin saling kejar-kejaran mengotori ruangan.

“Aku ingin kau jujur. Kau suka pada Ustazah Silvia Asnul?” Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku setelah melihat kiri kanan, mewanti-wanti apa ada orang melintas.

Suaranya yang serak menyerupai bisikan pertanda ini adalah rahasia kami berdua. Kau seorang Ibu yang tertipu. Tuduhanmu terhadapku, aku menyukai perempuan itu tidak benar. Seharusnya kau cepat-cepat pergi dari sini, hatiku berdetak lagi. Kalau saja ia dengar perkataan hatiku yang sesaat, walaupun begitu singkat dan sederhana, tapi bisa menusuk kalbu Ibu itu yang baru saja menghapus bekas keringat di keningnya. Ia merasa terpojok, lalu jatuh dalam jurang yang curam dengan kata-kataku yang kejam. Seharusnya, aku yang sudah sarjana, tak mungkin melakukan itu terang-terangan, juga dalam hati. Pendidikan tak pernah mengajarkan itu. Seorang sarjana harus bijak dalam perbuatan, dan bijak dalam perkataan. Aku yang mendongkol, lebih banyak memilih diam, menunjukkan ketidaksukaanku dalam dialog yang mengguncang nuraniku ini. Aku menampakkan raut wajah yang kurang bersahabat. Aku harap ia mengerti denganku, dan tetap menjaga jangan sampai ia tersinggung. Semoga ia mengerti tafsiran perbuatanku yang membolak-balik kertas, menutupnya kembali, berjalan beberapa langkah, kemudian meletak buku itu di atas meja kecil, kembali lagi tanpa buku. 

Tadi Ibu bilang, kalau punya anak gadis, pasti menjodohkannya denganku karena aku disiplin. Ibu juga bilang, orang disiplin pasti alim.

Buku bersampul biru itu marah. Aku meliriknya, dan aku mendengar kata hati sebuah buku, bergelayut masuk lewat gendang telingaku. Kenapa kau meletakku di sini Asnul? Kau tak mempedulikan aku lagi, gara-gara seorang Ibu itu? Dalam bayanganku buku itu melonjak-lonjak marah, menampar keras kedua pipiku. Kau lebih memilih mengobrol yang tidak berarti, daripada mencicipiku. Kau tahu sendiri aku teman sejati untukmu. Meskipun kau campakkan aku, ilmu yang kau petik dariku tidak pernah sirna, dan tidak akan pernah aku minta. Aku tidak pernah menuntut pengetahuaanmu yang kau dapat dariku seperti penagih utang. Aku tidak pernah meminta kembali pemberianku untukmu sebagai ganti rugi. Tapi hari ini kau tega membuatku lenyap. Walaupun kau letakkan aku di sini sebentar, aku merasa terbuang. Kau dengar baik-baik Asnul kata-kataku ini! Kalau kau tidak menyentuhku, dan bercumbu lagi denganku, baik siang ataupun malam, kau sendiri yang akan rugi, tersesat jadi golongan orang-orang bodoh.

Aku terpaksa menjawab kicauan sebuah buku yang memercik dengan bahasa hati. Kau tenang saja, jika aku memilih pergi darimu, berarti aku telah memasukkan segudang kebodohan dalam pikiranku. Aku lebih memilihmu daripada perempuan-perempuan jelita di dunia ini. Aku tak akan menyingkirkanmu dari hidupku, apalagi karena seorang Ibu cerewet di depanku ini. Kau jauh lebih berharga dari mutiara dan marjan wahai bukuku. Tanpa kau, nilai sastraku akan runtuh seruntuh-runtuhnya. Aku melirik buku itu, ia tersenyum simpul padaku.

“Apa aku salah ustaz, menilaimu disiplin seperti itu?” Kembali lagi nada seorang Ibu yang bergema. Aku yang risih, terpaksa melayaninya biar selesai.

“Tidak ada salahnya,”

“Terus.”

“Kesalahan Ibu satu, menilai seseorang dari kepribadian yang sekilas.”

“Maksudmu?”

Saatnya aku beraksi memberi komentar panjang lebar memberi penjelasan. “Kalau Ibu hanya menilai dari kedisiplinan, lalu menyebut orang disiplin itu pasti alim, dan langsung tertarik pada orang itu, sampai ingin menjodohkan dia dengan putri sendiri, atau dengan perempuan lain. Tentu Ibu telah melakukan kekeliruan besar. Artinya, Ibu telah tertipu.”

Ia terdiam. Cara ia menatapku menununjukkan ia telah setia menunggu penjelasanku berikutnya. Aku yang sudah punya bahan dan menyimpan dalam memoriku bergairah memaparkannya.

“Kalau ia disiplin dalam waktu, belum tentu juga ia menunjukkan seorang yang alim. Sebaliknya kalau ia alim di mata orang-orang, belum tentu ia menunjukkan sikap yang disiplin. Kalau tidak, mana ada ceritanya guru-guru agama di beberapa sekolah yang dianggap alim oleh orang lain sering terlambat datang ke sekolah, alias tidak disiplin.”

Dari cara ia menganggukkan kepala, aku bisa meraba ia mengerti penjelasanku. Aku ingin mengatakan padanya sejujur hatiku. Banyak yang mengaku walaupun dengan ungkapan tersembunyi dalam hati, bahwa dirinya alim karena merasa sudah melakukan kewajiban diri pada Tuhan, seperti sembahyang, puasa, baca kitab suci, tahajud di tengah malam yang sunyi dan sepi. Selalu pergi ke tempat ibadah, masjid atau gereja bagi mereka non muslim. Tapi ia tidak melakukan tanggung jawab lain di sekitarnya.

Ia terus kenyang sementara piring tetangganya berdenting minta makanan. Perutnya yang keroncongan sudah histeris minta diisi. Ia merasa cukup dengan pekerjaannya yang berbau religius. Ia sibuk sendirian setiap hari bertasbih memuji Tuhan. Tapi ia takpernah peduli pada lingkungan sekitar. Di mata orang-orang buta ia seorang alim, tapi sesungguhnya tidak. Di mata Tuhan ia tidak punya nilai sama sekali. Terlalu cepat kau menyimpulkan seseorang itu baik karena ia terlalu sibuk memikirkan akhirat. Atau setelah mendengar suaranya yang merdu dan mendayu-dayu ketika melantunkan ayat-ayat suci, sehingga mata batinmu buta mengikuti jejaknya yang keruh lebih lanjut. Mereka memang lupa pada keindahan dunia yang menyerupai bayang-bayang. Bukankah dunia ini tempat bercocok tanam untuk negeri akhirat?

“Jadi, bagaimana menurutmu ukuran seorang alim itu Nul?” Ia semakin mempercayai deretan kata-kataku.

Dari raut wajahnya aku menduga ia masih ingin melempar banyak pertanyaan. Apa ia tahu aku lulusan pondok pesantren sebelum masuk perguruan tinggi. Tujuh tahun aku mondok di Pesantren Musthafawiyah, tepatnya di Mandailng Natal Sumatera Utara. Tinggal di gubuk kecil, dan kami menyebutnya, istana suci tanpa permaisuri.

“Tidak ada seorang pun yang bisa mengukur kealiman seseorang. Cuma kita bisa menilai dari luar. Sukur-sukur kalau itu benar, dan takjarang penilaian itu meleset.”

“Masa iya, begitu Nul.” Aku yang bangkit dari tempat duduk, tak memberi jawaban, hanya melempar senyum. Mohon pamit pada Ibu itu menutup obrolan yang hampir jadi perdebatan.

____________________

Depri Ajopan: Penulis dan guru asal Pasaman Barat (Sumbar) Sekarang tinggal di Rokan Hulu, Riau.