Kantor administrateur berada di lantai dua bangunan utama pabrik yang lama. Tangga kayunya tebal dan lebar, berderit pelan setiap kali diinjak. Di sepanjang dinding lorong, terpasang foto-foto hitam-putih berbingkai kayu hitam: ladang tebu yang membentang luas, barisan deretan gerbong tebu yang ditarik lokomotif uap kecil, dan para pejabat pabrik berpose kaku dengan jas putih dan topi pith helmet.

Pukul empat sore, matahari Delanggu mulai condong ke barat, memancarkan cahaya kuning kemerahan yang menembus kaca jendela berdebu. Adrian de Boer mengetuk pintu kayu jati berselot kuningan di ujung lorong.

“Masuk,” suara berat berdengung dari dalam, menggunakan bahasa Belanda dengan aksen Hollands Selatan yang kental.

Adrian mendorong pintu. Ruangan itu luas dan harum oleh kombinasi aroma tembakau cerutu, minyak kayu jati, dan aroma manis alkohol dari gelas gin yang mengembun. Di belakang meja kerja raksasa yang diukir rumit, seorang pria bertubuh gempal berdiri menatap peta wilayah perkebunan tebu Delanggu yang terpaku di dinding.

Rambutnya tipis memutih, dipotong pendek kaku. Jas drill putih yang ia kenakan terbuka di bagian leher, memperlihatkan kulit lehernya yang kemerahan ditimpa sengatan matahari tropis bertahun-tahun.

“Ah, De Boer,” kata Mr. van Hoorn tanpa segera berbalik. Ia menyesap gin dari gelasnya, lalu berbalik perlahan. Matanya yang abu-abu menatap Adrian dari ujung kepala hingga ke sepatu boot-nya yang bernoda semen. “Selamat datang di Suikerfabriek Delanggoe.”

“Terima kasih, Mr. van Hoorn,” jawab Adrian sopan, melangkah masuk sambil menggenggam tabung gambarnya.

Van Hoorn berjalan mendekati mejanya, lalu menyandarkan pinggulnya di tepi meja. Ia menunjuk sebuah kursi kayu jati di hadapannya. “Duduklah.”

Adrian duduk. Kursi itu keras dan dingin.

“Saya baru saja kembali dari Surakarta,” kata Van Hoorn sambil meletakkan gelasnya dengan dentang halus. “Urusan pasokan besi dari Semarang dan izin perluasan rel tebu dari Mangkunegaran. Di Hindia, De Boer, besi saja tidak cukup. Kau harus berurusan dengan birokrasi, raja-raja lokal, dan cuaca yang tidak pernah bisa diramal.”

“Saya memahami hal itu, Tuan,” ujar Adrian datar. “Tetapi siang tadi saya sudah memeriksa fondasi untuk stoomketel dan silinder pemerah tebu. Saya menemukan beberapa ketidaksesuaian ukuran pada sudut siku-siku beton.”

Van Hoorn terkekeh pelan. Ia mengambil sebatang cerutu dari kotak kayu di mejanya, menyulutnya dengan pemantik kuningan, lalu menyemburkan asap tipis ke udara.

“Kau datang dari Delft, bukan? Tempat di mana segalanya diukur dengan milimeter dan mikrometer,” kata Van Hoorn, matanya memicing menembus asap. “Di laboratoriummu di Belanda, beton mengering sesuai tabel ilmiah. Di sini, di tanah Jawa ini, beton mengering di bawah keringat ratusan kuli yang tidak paham apa itu milimeter. Kapan kau bisa memasang roda gigi utamanya?”

Adrian membuka tabung kulitnya, mengeluarkan peta rancangan teknis, lalu menggelarnya di atas meja Van Hoorn. Ia menunjuk bagian tengah diagram.

“Jika kita ingin roda giling berputar tanpa merusak as utama, fondasi semen harus dipoles ulang sejauh lima milimeter di sisi timur,” jelas Adrian, suaranya tenang namun tegas. “Itu membutuhkan waktu setidaknya tiga sampai empat hari kerja sebelum peti mesin dari Stork & Co. bisa dibuka dan diturunkan.”

Van Hoorn menatap diagram kertas kalkir itu tanpa gairah. Jarinya yang tebal dan berbulu mengetuk-ngetuk tepi meja.

“Tiga sampai empat hari?” tanya Van Hoorn, nadanya mendadak dingin. “Meneer de Boer, musim giling tebu tidak akan menunggu kalkulasimu. Direksi NV Klatensche Cultuur Maatschappij di Amsterdam menginginkan uji coba pabrik ini dilakukan sebelum musim hujan tiba. Jika pemasangan mesin mundur empat hari, seluruh jadwal pemotongan tebu di sepuluh desa akan berantakan.”

“Tetapi jika dipaksakan sekarang, tekanan uap akan membuat as silinder retak dalam sebulan,” balas Adrian. “Biaya perbaikannya akan jauh lebih besar daripada keterlambatan empat hari.”

Van Hoorn condong ke depan. Wajahnya yang memerah berada hanya beberapa inci dari Adrian. Bau asap cerutu dan gin menguar kuat dari napasnya.

“Kau tahu berapa banyak kuli yang bekerja di bawah sana?” tanya Van Hoorn pelan, hampir berbisik. “Tiga ratus orang. Mereka bisa menggali, mengaduk semen, dan memikul batu siang dan malam jika saya perintahkan. Jika ada semen yang miring lima milimeter, perintahkan mereka meratakannya malam ini juga di bawah lampu petromaks. Besok pagi, peti mesin harus sudah diturunkan.”

Adrian menatap mata pria di hadapannya. Ada kekuasaan yang mutlak di mata itu, kekuasaan seorang raja kecil yang terbiasa memerintah di atas tanah jajahan. Bagi Van Hoorn, mesin dan manusia sama saja: alat yang bisa diperas hingga batas maksimal untuk menghasilkan tonan gula putih yang dikirim ke Eropa.

“Ini bukan soal jumlah kuli, Mr. van Hoorn,” kata Adrian pelan namun tidak bergeming. “Ini soal kepatuhan pada hukum fisika. Semen yang baru disiram tadi pagi belum mengeras sempurna. Jika diberi beban berat malam ini, betonnya akan retak di dalam. Kuli-kuli itu tidak bisa mengubah hukum alam.”

Hening merayap di dalam ruangan besar itu. Di luar jendela, suara pluit lokomotif barang dari Stasiun Delanggu terdengar melengking, disusul dentang tiang besi yang dipukul sebagai tanda pergantian jam kerja kuli.

Van Hoorn menatap Adrian cukup lama. Tawa kecil kembali keluar dari mulutnya, kali ini tanpa rasa humor.

“Kau mengingatkan saya pada diri saya sendiri dua belas tahun yang lalu,” kata Van Hoorn sambil menegakkan tubuhnya. Ia berjalan ke jendela, menatap ke arah cerobong pabrik yang menjulang di bawah langit sore. “Datang dari Eropa dengan buku-buku teori yang bersih, percaya bahwa dunia ini bisa diatur seperti jam tangan. Tapi kau akan belajar, De Boer. Tanah ini memiliki caranya sendiri untuk mematahkan kesombongan kita.”

Ia berbalik menatap Adrian.

“Dua hari,” kata Van Hoorn singkat. “Saya beri kau waktu dua hari untuk merapikan fondasi itu. Hari ketiga, peti Stork & Co. harus dibuka. Tidak ada tawar-menawar lagi.”

Adrian menyapu kertas gambarnya, merapikannya kembali dengan hati-hati, lalu memasukannya ke dalam tabung kulit.

“Dua hari,” jawab Adrian. “Saya akan mengawasi pengerjaannya sendiri.”

“Bagus,” ujar Van Hoorn. Ia kembali duduk di kursinya dan memegang pulpen emasnya, seolah keberadaan Adrian sudah tidak lagi penting. “Satu hal lagi, De Boer. Jangan terlalu dekat dengan para kuli atau mandor lokal. Mereka menghormati kita karena kita berbeda. Sekali kau menunjukkan keraguan di depan mereka, kau tidak akan pernah bisa memerintah mereka lagi.”

Adrian berdiri. Ia memegang tabung kulitnya erat-erat.

“Selamat sore, Mr. van Hoorn,” kata Adrian sambil membungkukkan kepala sedikit.

Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan. Pintu kayu tebal itu tertutup di belakangnya dengan bunyi dentum pelan.

Saat menyusuri lorong berlantai kayu, Adrian merasa dadanya makin sesak. Udara sore Delanggu yang lembap dan hangat seolah menyerap seluruh oksigen di sekitarnya. Di dinding, foto-foto pejabat kolonial berjas putih itu seolah menatapnya dengan dingin.

Ia turun kembali ke area proyek. Matahari hampir tenggelam, meninggalkan warna jingga keunguan di atas perancah bambu pabrik. Ratusan buruh mulai berjalan pulang beriringan di sepanjang jalan tanah, peci dan kain sarung mereka tertutup debu semen.

Adrian berjalan menuju lubang fondasi yang kini mulai ditinggalkan pekerja. Di dalam remang senja, lubang semen itu tampak seperti kuburan batu yang menganga, menunggu mesin besi raksasa turun ke dalamnya.

Ia berlutut di tepi lubang, menyentuh permukaan beton yang kaku. Beton itu masih menyimpan sisa panas matahari siang.

Di tempat ini, batas antara ketepatan mesin dan kehendak manusia mulai kabur. Adrian tahu, ia tidak hanya sedang berhadapan dengan besi dan semen, tetapi juga dengan keserakahan bangsanya sendiri dan ketundukan diam dari tanah yang sedang ia pijak.

____________________

Erna Surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten.