Aku duduk di samping anak itu. Menatapnya dengan pandangan cinta, memeluknya seperti adikku sendiri, menepuk-nepuk pundaknya menunjukkan kasih sayang yang gemilang. Aku mencium bau yang taksedap dari tubuhnya, keringatnya bercucuran. Aku berbisik ke telinganya yang basah dan mungil itu, “Aku yakin kau pasti anak yang baik. Berguna dan dibanggakan orang tuamu. Kau salah satu harapan mereka untuk mengharumkan nama keluargamu. Kau harus bisa mengangkat derajat dan nama baik orang tuamu.”
Ia tidak bisa diam, badannya berguncang-guncang seperti mau pergi. Jemarinya yang rapat saling genggam. Aku perhatikan ia ingin berontak. Tugasku sebagai seorang guru harus bijak menghadapi ini, dan tidak boleh terbawa emosi seperti kepala sekolah itu.
“Lebih baik kau berhenti saja dari sekolah ini. Kau tidak berguna.” Kepala sekolah yang berbicara seperti sengaja menggagalkan aksiku membuat damai. Cara kepala sekolah itu memperlakukan Arsen menyulitkanku menundukkkan hati anak itu. Ia masih keras dalam pendiriaannya, ingin memberangus mulut anak itu agar jangan sampai bicara. Sekarang Arsen menggigit bibir menunjukkan kemarahan, mengepalkan tinjunya siap melawan.
“Bapak itu telah salah menilaimu, Nak. Kau anak yang berguna.” Aku terpaksa melawan bentakan kepala sekolah bajingan itu, menepuk-nepuk pundak Arsen penuh kasih sayang. Sementara kepala sekolah yang hatinya dirogoh-rogoh setan keparat tidak mau diajak kerja sama untuk menggenggam anak ini lalu menyeretnya pada tempat yang sejuk. Rasanya lebih baik kepala sekolah itu diam. Kalau perlu ia keluar saja dari ruangan yang mengutuk dirinya ini. Aku tidak ingin ia berintervensi walaupun sedikit saja, hanya merusak suasana. Memang jabatannya lebih tinggi dari aku, dan tentu tanggung jawab yang ia emban jauh lebih besar. Kata-katanya yang kasar dan menyudutkan hanya merubuhkan jiwa yang tenang. Ia telah menunjukkan kepribadiannya yang cacat di depanku. Menururtku ia yang suka memperturutkan emosinya, tidak layak menjabat sebagai kepala sekolah.
“Kau menyesal dengan perbuatanmu yang sengaja memecahkan kaca sampai hancur berkeping-keping?”
Anak itu terdiam, tak menjawab pertanyaanku. Kepalanya yang tertunduk memandangi lantai yang licin. Beberapa lembar kertas HVS jatuh dari meja diseret angin yang tiba-tiba datang berhembus. Seandainya Arsen menjawab pertanyaanku dengan menggelengkan kepala, memberi jawaban tidak, aku percaya kejujurannya. Aku yakin ia menjawab seperti itu. Aku sudah punya solusi untuk mengatasi masalah ini. Yang jadi persoalan, dan membuatku ribet, jika kepala sekolah itu masih saja ikut campur. Memang ia berhak, dan punya kewajiban. Tapi untuk apa ia datang berintervensi kalau cuma buat gaduh keadaan. Ia tidak menununjukkan sebagai seorang pendidik yang baik. Aku tidak perlu tunduk menghormatinya. Aku juga tidak tahu bagaimana cara menyingkirkan ia dari perseteruan ini.
“Mana mungkin ia menyesal. Mana ada pebuatan yang salah dan disengaja melakukannya kemudian disesali, aplagi untuk anak nakal seperti dia.” Ia menunjuk Arsen dengan rasa benci. Aku ingin meremas bibir kepala sekolah itu sampai doer. Ia yang berlebih-lebihan membuatku kesal. Ia lebih brutal dari Arsen. Sekarang aku siap perang mulut dengannya, tapi tiba-tiba inilah yang terjadi.
“Bapak salah. Para peminum, penjudi, prampok yang bertaubat. Mereka yang nakal dulunya tahu perbutan itu salah, dan mereka sengaja melakukannya. Karena hidayah Tuhan datang mereka menyesalinya. Memang mereka bukan anak nakal seusiaku, tapi kejahatan mereka melebihi yang dilakukan anak nakal sepertiku.” Aku menatap kepala sekolah itu. Hatiku bergidik mendengar kalimat-kalimat Arsen yang melawannya, dan mendahului pembicaraanku. Kata-katanya menunjukkan ia terbukti berani melawan kepala sekolah itu. Cara ia melawan seperti itu membuatku lega dan merasa bangga memiliki seorang murid permberani seperti dia.
“Dalam masalah ini, aku yang berbuat dan aku siap menanggung risikonya.” Semakin berani dia di depanku dan di depan kepala sekolah itu untuk membela haknya supaya jangan direndahkan kepala sekolah itu. Jarang ada seorang murid yang menunjukkan diri ia sebagai seorang yang bertanggung jawab, siap menanggung konsekuensi dari perbuatannya. Berbeda dengan Aarsen. Terkutuk atau tidak yang dilakukannya itu bukan soal.
“Lebih sepuluh tahun aku mengajar di sini, baru kali ini aku menemukan siswa sombong sepertimu Arsen.” Menunjuk-nunjuk anak itu.
“Bukannya Arsen sombong, Pak. Aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku, itu saja.”
Bukannya semakin tenang kepala sekolah itu. Ia langsung bangkit dari kursi melabrak meja, kemudian bermaksud memukul Arsen. Tangannya yang melayang hampir menampar wajah anak itu. Untung saja dengan gerak cepat aku bisa menepisnya. Aku tidak bisa membayangkan kalau saja ia menampar wajah Arsen sampai memar. Anak itu melapor pada orang tuanya. Orang tuanya melapor pada pihak yang berwajib. Kesimpulan terkahir, kepala sekolah mendekam di penjara, merasakan kedinginan.
Siswa siswi semakin banyak datang berbondong-bondong mengintip dari luar. Guru-guru lain sebenarnya sudah tahu masalahnya. Mereka memilih lepas tangan. Mereka datang ke sekolah khusus untuk mengajar dari jam yang sudah ditentukan, kemudian pulang setelah waktu habis, sesuai yang tercatat dan sudah mereka tandatangani setelah membaca surat perjanjian. Begitu mereka sampai di rumah, mereka menarik napas lega, sibuk dengan keluarga, dan melupakan masalah di sekolah, dan merasa persoalan sudah selesai. Mereka tidak mau tahu hal lain yang terjadi di luar sekolah. Mau bodoh atau tidak anak-anak didik mereka, serahkan saja pada Tuhan. Mereka yang menurutku angkuh dan sombong tidak mau tahu, sementara tidak ingin tahu. Kehadiran mereka yang aktif datang ke sekolah mengajar siswa-siswa, mereka rasa itu sudah cukup sebagai pendidik, seolah mereka sudah memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Aku bukan saja membenci perbuatan mereka. Ingin mengutuk dan membakarnya sampai debunya sekalipun takkubiarkan tersisa. Aku yang sudah perang di sini, malah mereka guru-guru lain duduk tenang-tenang di kantor.
“Mohon Bapak duduk saja, biar aku yang mengurus semua.” Aku sadar kesalahanku yang mendahuli kepala sekolah itu. Tak saeharusnya aku melakukan ini. Tapi melihat dia yang emosi, aku melangkah beberapa langkah di depannya, dan aku takpeduli. Aku memegang Arsen memberi perlindungan. Ketika itu aku mendengar seseorang mengetuk-etuk pintu dari luar. Ia mengucap salam, suara itu tak asing bagiku. Aku tahu siapa dia. Ia Laila dari kelas lain yang dari tadi menyaksikan konflik yang sengit dan menggigit ini. Ia tidak dipersilakan masuk. Keberaniannya yang membuat ia nekat membuka pintu yang tertutup rapat tapi tidak terkunci. Ia datang untuk melindungi Arsen, kekasihnya. Ia memeluknya tanpa rasa malu di hadapan kami kedua gurunya. Siswa lain memandang indah perbuatan terkutuk itu dari luar. Aku dengar, ada yang girang bertepuk tangan seolah memberi support. Aku gerah melihat perbuatan gadis yang dibutakan cinta itu. Dengan segera aku melepas pelukan yang dibumbui airmata itu. Sejak itulah, Laila yang melihat kelakuanku pada Arsen yang dikiranya aku membelanya karena menurutnya pantas dibela, ia percaya aku benar-benar sayang pada setiap murid termasuk Arsen yang sering bikin ulah.
Ia yang pernah masuk ke ruangan kepala sekolah waktu itu, hari ini ia menatapku dengan wajah pucat. Seolah ia datang kemari memberi kabar duka kepadaku sebagai seorang guru.
“Arsen mau bunuh diri, Pak. Aku mohon temui dia sekarang, Pak. Gagalkan segera rencana busuknya, Pak, jangan sampai ia mati.” Suaranya serak. Aku bagai disambar geledek. Sebiji peluru seukuran kelingking serasa menembus jantungku.
“Apa yang terjadi, Laila? Kenapa dia mau bunuh diri?” Aku memperhatikan lekat-lekat wajah perempuan itu yang masih lemas. Napasnya yang mendengus-dengus dan dadanya yang naik turun menandakan ia masih sulit memberi keterangan lebih lanjut. Aku harap ia jangan sampai pingsan lagi di sini, bisa memperkeruh suasana nanti. Aku yang disuruh menemui Arsen bergegas pergi dengan jiwa yang terburu-buru dan langkah yang cemas.
____________________
Depri Ajopan. Penulis dan guru asal Pasaman Barat (Sumbar) Sekarang tinggal di Rokan Hulu, Riau.


0 Komentar