Kematian Arsen bukan saja membuatku perih. Di sekolah aku seperti mayat yang hidup. Terkadang aku berniat ingin berhenti dari pekerjaanku sebagai guru, pikiranku bimbang tak tentu arah seperti kapal di permainkan angin. Bayanganku sering tertumbuk pada masa lalu, disaat ia ada bersamaku di sekolah ini, tepat ketika duduk berdua menasihati anak itu. Ia mengangguk-angguk bukan berarti mengindahkan seruanku, pertanda aku masih gagal. Aku menangis sendirian di sini melihat bayangannya baru saja melintas. Kemudian duduk di dekatku seperti patung batu. Perjuanganku yang melelahkan membawanya menuju sinar yang terik sia-sia. Dia telah menempuh jalan yang redup. Sekarang mungkin ia tinggal dalam kegelapan, entahlah. Hanya Tuhan yang tahu. Aku telah gagal menunjukkan jati diriku sebagai seorang guru yang patut dicontoh. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia muridku melakukan perbuatan terkutuk seperti itu.

      Gara-gara dia aku sering  ribut dengan kepala sekolah. Aku tidak bermaksud membela yang salah ketika ia bikin gaduh, membuat kepala sekolah itu geram. Aku hanya ingin mendekatkan ia pada diriku, lalu memeluknya sepanjang waktu sampai ia tertidur pulas di atas pundakku melepas masalah yang membelenggunya, barulah aku masuk ke dalam hati anak yang kerdil itu setelah ia terbangun dari tidur yang nyenyak. Aku bersemedi di sana setelah memetik hatinya mengganti dengan hati yang baru. Aku yakin setelah semua beres kulakukan dia pasti bisa berubah menuju puncak keabadian yang membuat semua orang terkejut. Bahkan sekuntum bunga yang ada di taman sekolah ikut terheran-heran melihat Arsen berubah.

     “Kok bisa ya, Arsen yang selama ini nakal berubah drastis. Ia jadi anak yang disiplin sekarang. Patuh pada guru-guru walaupun jiwanya kritis. Memang benar seorang Asnul itu guru yang hebat. Pantas dapat penghargaan.” Setangkai bunga yang dipagar bernyanyi, napasnya yang berhembus mengalirkan nada puji-pujian untukku. Aku yang tersenyum sendiri merasakan manisnya kehidupan yang dulu getir membalut sekujur tubuhku. Astaga, pikiranku yang melayang jauh merusak konsentrasiku. Itu hanya sebuah angan-angan kosong yang takpernah jadi kenyataan. Dua minggu ini aku seperti orang yang stres. Atau mungkin memang benar-benar stres. Belajar di kelas aku tidak seserius seperti dulu setelah kematian Arsen. Ketika memeriksa tugas siswa, aku hanya membubuhkan banyak coretan seolah tidak mau banyak berkomentar tentang itu. Aku merasa sekolah ini, tempat aku mentransfer ilmu untuk siswa sudah tidak cocok lagi untukku. Bangku tempat aku duduk, dan tembok yang kokoh tempat aku biasa bersandar membaca buku seakan mengusirku dan memaksaku pergi secepatnya. Semua guru-guru yang dulu bersahabat, sekarang banyak yang apatis setelah melihat kelakuanku yang  menurut mereka terlalu berlebih-lebihan. Apakah ini perasaan yang terbesit  beberapa minggu saja dalam hati ini, kemudian layu dan hilang ditelan angin. Dugaanku tak beralasan. Kenyataannya semakin hari aku merasa semakin rapuh, seolah ada yang menggelincirkan kebahagiaanku di sini.

      Hari ini aku yang banyak termenung dipanggil kepala sekolah ke ruangannya. Aku siap datang denga hati yang hancur memenuhi panggilan itu. Sudah bisa kutebak bagaimana cara ia menyerangku. Ia tahu cara mengajarku jauh merosot. Untuk saat ini, aku sudah tidak bisa menyembunyikan kesalahanku sekecil apapun itu. Aku seperti orang dungu yang duduk menjadi patung dan pasrah menanti hujatan. Aku siap walaupun diperlakukan seperti binatang. Entahlah nanti aku berubah pikiran. Bagaimana pun ia berontak terhadapku tentang kepribadianku, hati kecil ini tidak bergairah lagi untuk melawan seperti sebelumnya. Pada hal aku tahu sendiri membela hak-hak dan kepribadian itu wajib hukumnya. Tapi sayang beberapa hari ini aku sepertinya tidak punya hak dan tidak punya kepribadian. Aku benar-benar layu.

     Kenapa aku jadi orang lemah begini? Jangankan membela hak dan kepribadian orang lain, untuk membela hak dan kepribadian diri sendiri saja sepertinya aku tidak sanggup lagi berjuang untuk itu. Padahal aku tahu Tuhan tidak pernah bersama orang-orang kalah. Kalah dalam artian pasrah. Ia hanya bisa menunggu keajaiban turun dari langit. Padahal ia belum berbuat apa-apa, menyedihkan sekali orang seperti itu. Dan mungkin aku termasuk golong orang menyedihkan itu sekarang. Untuk saat ini, aku menjadi seseorang yang pasrah menunggu keajaiban Tuhan datang menolongku, tanpa kerja keras untuk melepaskan diri dari keterpurukan. Kalau ajaran sesat seperti ini kuikuti, aku tidak akan jadi siapa-siapa. Dan hari ini, aku yang dulu sering jatuh dan bangkit lagi, sekarang menjadi orang yang menyedihkan seperti ini. Aku tidak akan melawan, aku tidak akan berkoar, dan sedikit pun aku tidak akan berkomentar di depan kepala sekolah itu. Aku hanya duduk mendengarkan wejangan kepala sekolah yang mungkin akan mendiskreditkanku lewat mulutnya yang sering ingin aku remas itu. Pokoknya apapun yang ia katakan lebih baik aku memilih diam. Aku menarik napas lega, siap-siap diserang.

     “Mau minum kopi susu Nul? Biar aku pesan satu lagi ke warung sebelah,” tumben dia baik hari ini padaku, tapi aku tak tertarik menerima tawarannya. Dengan adanya segelas kopi susu atau minuman apapun terletak di atas meja, berarti memaksaku harus duduk lama di sini. Biar semakin leluasa ia untuk meruntuhkanku yang memang sudah runtuh. Aku menggelengkan kepala tak bersemangat, sengaja tidak meliriknya sedikitpun. Aku sengaja memperlihatkan kelakuanku yang buruk padanya, dan mungkin setelah ini jika aku tak tahan melihat kelakuannya menyerangku, bisa jadi aku menunjukkan  kesombonganku yang tak mau kalah dan sering ingin menang di depannya. Rasa-rasanya aku pantas sombong kepada orang sombong seperti dia. Bukankah seorang yang mulia pernah berkata, sombonglah kamu kepada orang sombong, sesungguhnya sombong kepada orang sombong adalah sedekah bagimu.

     Menurutku memang dia orang sombong, tidak mau menghargai pendapat orang lain. Selalu merasa pendapatnya yang paling benar yang harus dimenangkan sendiri. Sudah sering aku menghadapi dia dengan cara yang lembut. Tapi keangkuhannya yang menyebalkan semakin menjadi-jadi. Aku datangi dia dengan kekerasan, ia berusaha lebih keras lagi. Tarakhir aku pernah datangi dia dengan kesombongan yang membabi buta, ia menunjukkan kesombongan tingkat tinggi di atasku. Sampai saat ini aksiku belum berhasil menaklukkannya. Rasanya aku perlu mengulangnya kembali untuk melawan. Aku belum menemukan setitik kelemah lembutan pada wajahnya yang sering gelisah. Setiap aku berhadapan dengannya aku sering naik darah. Akhirnya kami bertengkar seperti bermusuhan. Terkadang ada saatnya aku tak bisa menahan emosi melawannya. Adapun kesombongan yang kuciptakan hanya untuk melawan kesombongan dirinya.

____________________

 Depri Ajopan. Penulis dan guru asal Pasaman Barat (Sumbar) Sekarang tinggal di Rokan Hulu, Riau.