Udara malam di sekitar area penggilingan tebu terasa amat pekat dan menyesakkan. Bau manis nira tebu yang terfermentasi bercampur dengan aroma minyak pelumas panas dan kepulan asap jelutung yang keluar dari celah-celah atap seng. Suara derit roda gigi raksasa dan desis uap tinggi dari mesin penggilingan di kejauhan menciptakan irama yang tak pernah berhenti menekan dada.

Adrian de Boer melangkah tergesa-gesa di antara bayangan-bayangan hitam gudang penyimpanan logistik. Sepatu kulitnya diangkat pelan-pelan agar tidak menimbulkan bunyi gesekan di atas tanah pasir. Baru saja ia kembali dari pekarangan Kasiman dan Marni di Desa Gatak, menyeberangi jalur rel kereta dalam gelap malam. Ia bermaksud menyelinap masuk ke lorong samping kompleks pabrik untuk kembali ke rumah dinasnya tanpa menarik perhatian para penjaga.

Namun, saat ia berbelok di sudut gudang beras yang gelap, sebuah bayangan jangkung mendadak melangkah keluar dari kegelapan, tepat menghalangi satu-satunya lorong sempit menuju teras depan.

Adrian menghentikan langkahnya seketika. Jantungnya berdegup kencang di balik dada.

Mandor Jan Jansen berdiri di sana. Tubuhnya yang tinggi tegap mengunci jalan. Sepatu boot kulit tebalnya menginjak tanah dengan hentakan mantap. Di tangan kanannya, sebuah lentera badai dari kuningan mengayun pelan, memancarkan cahaya kuning kemerahan yang temaram. Cahaya itu memantulkan garis-garis keras pada wajah Indo-Eropa milik Jansen: mata kelabu yang dingin, kumis tebal yang melengkung kaku, dan rahang yang mengeras penuh amarah.

“Kau pikir kau bisa bergerak seperti hantu di tanah milik perkebunan ini, Meneer de Boer?” suara Jansen terdengar rendah dan berat, memotong kesunyian malam dengan ketajaman yang menakutkan.

Adrian menghentikan napasnya sesaat. Ia membusungkan dada dan mencoba merapikan jas linennya, menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik saku.

“Saya hanya melakukan pemeriksaan rutin di sekitar gudang, Jansen,” jawab Adrian berusaha terdengar tenang dalam bahasa Belanda. “Memastikan pintu-pintu belakang sudah terkunci sebelum penjaga malam berganti tugas.”

Jansen tertawa keras, sebuah tawa dingin tanpa rasa humor yang menggema sengit di antara dinding-dinding kayu papan gudang yang tebal. Ia melangkah maju dua tindak, memangkas jarak di antara mereka hingga Adrian bisa menghirup bau tembakau pekat dan aroma alkohol murah dari napas pria itu.

“Jangan membodohiku, Anak Muda!” bentak Jansen, suaranya naik satu oktav. Matanya menatap tajam persis ke dalam manik mata biru Adrian. “Aku bukan kuli bodoh yang bisa kau tipu dengan omong kosong pemeriksaan! Aku melihatmu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kau menyeberangi rel kereta dua jam yang lalu. Kau pergi ke perkampungan kuli di Desa Gatak, masuk ke rumah Kasiman!”

Suasana di lorong sempit itu mendadak membeku. Hanya ada desis halus dari sumbu lentera yang membakar minyak tanah. Rahang Adrian mengeras rapat. Keterlibatannya dengan keluarga Kasiman, keluarga buruh pribumi yang terluka di pabrik, kini benar-benar terbongkar di hadapan pria yang paling berkuasa atas para pekerja.

“Kasiman terluka parah karena kesalahan konstruksi balok penyangga di gudang semen!” balas Adrian, menanggalkan nada santunnya saat naluri keadilannya bergejolak hebat di dalam dada. “Kaki kuli itu patah, dan kalian menyalahkannya! Pihak perkebunan memotong gajinya, tidak memberinya ganti rugi sepeser pun, dan membiarkan adiknya mengemis bantuan. Apakah melihat keadaan mereka adalah sebuah pelanggaran?”

“Di perkebunan ini? Ya! Itu adalah pelanggaran berat!” Jansen menunjuk tepat ke dada Adrian dengan jarinya yang kasar dan ternoda tinta. “Tugasmu di sini adalah memasang mesin penggiling uap, mengatur tekanan ketel, menjaga efisiensi target produksi, dan mematuhi aturan pabrik! Kau dibayar mahal oleh perseroan dari Rotterdam bukan untuk menjadi pahlawan moral bagi kuli-kuli pribumi yang tidak tahu diri itu!”

“PADAHAL MEREKA ITU MANUSIA, JANSEN!” suara Adrian akhirnya meledak, menembus deru mesin penggilingan di kejauhan. Ia tidak lagi gentar menghadapi sosok yang selama ini ditakuti oleh seluruh kuli pabrik. “Mereka bukan sekadar angka di buku laporan mingguanmu! Mereka bukan suku cadang yang bisa kau buang saat rusak lalu kau ganti dengan yang baru! Kau menutup mata pada penderitaan mereka hanya demi mengamankan bonus tahunanmu dari Van Hoorn!”

Percikan amarah yang membakar meledak di mata Jansen. Tanpa peringatan, tangan kirinya yang besar menyambar kerah jas linen Adrian. Dengan satu dorongan kuat, ia menyudutkan tubuh insinyur muda itu ke dinding kayu gudang hingga menimbulkan bunyi gemelutuk yang keras. Lentera di tangan kanan Jansen terayun liar, melemparkan bayangan-bayangan memanjang yang menakutkan ke dinding bata di sekeliling mereka.

“Dengar baik-baik, insinyur muda yang sok suci,” bisik Jansen tepat di depan wajah Adrian. Suaranya kini berubah menjadi bisikan rahang yang sarat ancaman mematikan. “Kau baru seumur jagung di sini. Kau baru tiba dua minggu dari Rotterdam dan merasa tahu segalanya tentang tempat ini! Kau tidak tahu apa-apa tentang bagaimana pabrik ini bertahan hidup! Satu kata dari mulutku kepada Administratur Van Hoorn tentang pembangkanganmu ini, dan kau tidak hanya akan dipecat secara tidak hormat, aku pastikan kau diseret ke kantor polisi di Surakarta atas tuduhan menghasut buruh dan membagikan barang perseroan!”

Adrian meremas pergelangan tangan Jansen yang mencengkeram erat kerah bajunya. Rasa sakit di telapak tangannya yang terbalut kain kasa tidak ia pedulikan lagi. Matanya menatap tanpa rasa takut sedikit pun, menatap lurus pada kegelapan di mata sang mandor.

“Lakukan saja, Jansen,” tantang Adrian dengan suara pelan yang bergetar penuh tekad. “Laporkan saya ke Van Hoorn malam ini juga. Tapi ingat, jika saya jatuh dan dipulangkan ke Belanda, saya pastikan seluruh catatan pembukuan ganda dan manipulasi jatah pemeliharaan ketel uap yang Anda sembunyikan di gudang perkakas akan sampai ke meja komisaris utama di Amsterdam.”

Cengkeraman Jansen pada kerah baju Adrian mendadak mengendur. Matanya melebar penuh terkejut, sebuah retakan besar dalam wibawa dominannya yang selama ini tak tergoyahkan. Jansen menyadari sesuatu yang mengerikan: insinyur muda yang ia anggap polos dan lugu ini ternyata diam-diam telah mempelajari pembukuan logistik pabrik dan menemukan kecurangan anggaran yang selama ini ia sembunyikan.

Selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa, kedua pria itu saling mengunci pandangan dalam diam yang mencekat. Hanya deru angin malam yang berembus di antara celah dinding kayu dan derit tiang bendera di halaman utama yang terdengar.

Perlahan-lahan, Jansen melepaskan cengkeramannya sepenuhnya. Ia melangkah mundur satu pijakan, menyapu kerah jasnya sendiri untuk mengembalikan kontrol diri yang sempat goyah.

“Kau bermain-main dengan api yang sangat besar, Meneer de Boer,” kata Jansen dengan suara yang kini sangat pelan, namun jauh lebih berbahaya daripada bentakannya tadi. “Kau pikir kau sedang menolong Kasiman dan adiknya? Kau pikir kau seorang penyelamat? Kau justru baru saja menaruh sasaran tembak di punggung mereka… dan di punggungmu sendiri.”

Jansen mengangkat lenteranya tinggi-tinggi, menatap wajah Adrian untuk terakhir kali dengan pandangan penuh dendam yang pekat.

“Kita lihat seberapa bertahan idealisme European-mu itu saat mesin giling utama diuji coba lusa,” tambah Jansen sinis. “Satu kesalahan kecil dari ketel uapmu, dan aku sendiri yang akan memastikan kau membusuk di dalam penjara.”

Mandor itu berbalik, melangkah pergi menyusuri lorong gelap. Bunyi boot kulitnya lambat laun menjauh dan tenggelam di balik bisingnya mesin penggilingan tebu yang tak pernah tidur.

Adrian bersandar lemah pada dinding kayu gudang yang dingin. Ia menghela napas panjang dan berat, membiarkan tubuhnya rileks sesaat. Tangannya merapikan kerah jas linennya yang kini kusut dan ternoda debu kayu.

Garis peperangan di Suikerfabriek Delanggoe telah ditarik secara terbuka. Dan Adrian tahu betul, setelah malam ini, posisinya di pabrik gula ini tidak akan pernah sama lagi.

____________________

Erna Surya. Penulis dan guru di Klaten