Malam di Delanggu tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya rembulan tenggelam di balik gumpalan awan hitam yang menggantung di kaki Gunung Merapi, namun di area proyek Suikerfabriek Delanggoe, lidah-lidah api dari puluhan obor bambu dan desis lampu petromaks membakar kegelapan.
Adrian de Boer berdiri di tepi lubang fondasi. Angin malam berembus membawa bau tanah kering yang tersiram air, bercampur tajam dengan aroma minyak tanah dan peluh ratusan laki-laki.
Dua puluh empat jam telah berlalu sejak Mr. van Hoorn memberikan batas waktunya. Tinggal satu malam lagi yang tersisa sebelum peti-peti kayu berisi mesin Stork & Co. diturunkan.
“Tambahkan semen pasir di sisi timur!” teriakan Jan Jansen membelah derit roda-roda besi. Pria opzichter itu berdiri lima meter di seberang Adrian, kemeja abu-abunya basah kuyup oleh keringat hingga menempel kaku di punggungnya. Tangannya memegang bilah kayu panjang, menunjuk-nunjuk ke dasar lubang.
Di dasar galian yang dalam itu, tiga puluh kuli bumiputra bekerja dalam keheningan yang aneh. Mereka bertelanjang dada. Kulit punggung mereka yang cokelat mengilap ditimpa cahaya kuning petromaks yang bergoyang ditiup angin malam. Tak ada lagu, tak ada percakapan. Hanya ada bunyi sendok semen beradu dengan batu, serta napas yang memburu dari dada-dada yang kelelahan.
Adrian melangkah turun melewati tangga kayu rakitan yang licin. Tangannya menggenggam mistar kuningan dan benang sipat merah. Sepatu boot kulitnya, yang biasanya dipoles mengilap setiap pagi oleh Pak Kerto, kini tertutup lapisan semen basah yang mengeras menjadi abu-abu kusam.
Ia berlutut di dasar lubang. Dinginnya semen basah merembet menembus kain celana linennya.
“Kurangi dua milimeter di sudut ini,” kata Adrian pelan. Ia menunjuk gundukan semen yang masih lembap dengan ujung mistarnya.
Seorang buruh tua yang berlutut di dekatnya mendongak. Wajahnya yang legam dipenuhi garis-garis keriput yang dalam, bersimbah peluh dan debu semen. Matanya merah karena paparan asap lampu minyak tanah. Ia menatap Adrian sesaat, tanpa sepatah kata pun, lalu mengambil sendok batunya dan mengikis semen itu perlahan, mengikuti garis yang ditunjukkan Adrian.
Adrian memperhatikan jemari buruh tua itu. Jarinya kasar, pendek, dan kuku-kukunya hitam oleh tanah. Dengan ketelitian yang lahir dari kepasrahan, jari-jari itu menggerakkan bilah besi kecil, meratakan permukaan beton hingga persis sejajar dengan benang merah Adrian.
Ada rasa perih yang tiba-tiba menyengat di dada Adrian. Di Delft, angka dua milimeter adalah coretan pensil yang mudah dihapus di atas kertas kalkir bersih. Di tempat ini, dua milimeter berarti tiga jam kerja tambahan di tengah malam yang pengap, berarti otot-otot lengan yang membatu, dan napas-napas yang nyaris habis. Logika tekniknya yang sempurna dan dingin sedang diperas dari darah dan keringat manusia-manusia yang bahkan tidak tahu untuk apa gula sebanyak itu diproduksi.
“Meneer de Boer!” panggilan Jansen terdengar dari atas. “Bagaimana sisi utara?”
Adrian berdiri, menyapu lututnya yang kotor. “Sisi utara hampir rata! Jangan biarkan adonan semen terlalu encer!”
Ia melangkah melintasi lubang menuju sudut yang lain. Di sana, lampu petromaks digantung pada salah satu perancah bambu. Cahayanya berdesis keras, memancarkan warna putih kebiruan yang menyilaukan mata. Di bawah lampu itu, bayangan tubuh para buruh terlempar ke dinding-dinding batu kali, tampak raksasa, memanjang, dan bergoyang-goyang ganjil seperti sosok-sosok gaib yang terperangkap di dasar tanah.
Adrian meletakkan waterpass kuningan di atas permukaan beton. Gelembung udara di dalam tabung kaca kecil itu perlahan bergerak. Bergerak pelan, merambat ke kiri, lalu berhenti. Tepat di tengah. Adrian menarik napas panjang. Saluran udara di dadanya terasa melonggar sedikit. Permukaan beton itu kini benar-benar rata. Hukum fisika telah terpenuhi.
Namun, sebelum ia sempat menegakkan tubuhnya, sebuah suara kayu patah yang keras terdengar melengking dari bagian atas galian.
KREAK!
“Awas!” teriakan misterius bergema dalam bahasa Jawa dari arah kegelapan.
Sebuah balok kayu penopang perancah, yang lapuk akibat kelembapan malam, patah terbelah dua. Tangga kayu dan tumpukan batu bata di atasnya runtuh menyapu lereng galian.
Debu semen dan tanah membumbung tinggi. Dalam hitungan detik, suasana hening berubah menjadi kekacauan yang riuh. Suara batu-batu berat menghantam dasar lantai beton terdengar bersahutan.
“Lampu! Pegang lampunya!” jerit Jansen dari atas.
Salah satu lampu petromaks terjatuh dari gantungannya, menghantam lantai semen, dan pecah. Minyak tanah menyambar udara, menciptakan kobaran api kecil yang menyala beberapa detik sebelum padam, meninggalkan asap hitam yang menyengat hidung.
Adrian terbatuk-batuk di tengah kegelapan yang mendadak pekat. Debu semen memenuhi tenggorokannya, terasa pahit dan kering.
“Seseorang tertimpa!” sebuah suara mengerang di dekat kakinya.
Adrian segera berlutut di antara reruntuhan kayu dan batu bata. Cahaya remang dari petromaks yang tersisa menyingkap sebuah tubuh yang terbaring miring. Itu adalah pemuda bumiputra berbekas luka bakar di lengan kirinya, pemuda yang tadi siang memegang benang sipat darinya.
Kakinya tertindih sebuah balok jati tebal yang menyangga papan adonan semen. Pemuda itu tidak berteriak, ia hanya merintih pelan sambil memegangi lututnya yang gemetar.
Tanpa berpikir panjang, Adrian membuang mistar kuningannya ke tanah. Ia merengkuh ujung balok jati yang kasar itu dengan kedua tangannya. Kayu itu berat dan kotor, serat-serat kasarnya menembus kulit telapak tangan Adrian, namun ia menahan napas dan mengangkatnya dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
“Jansen! Bantu! Bantu saya!” teriak Adrian dalam bahasa Melayu dan Belanda yang tercampur aduk.
Dua orang buruh tua melompat mendekat. Mereka ikut memegang kayu itu, menariknya ke atas dengan sapuan tenaga yang tersisa. Adrian memindahkan tumpuan balok, lalu dengan sekuat tenaga menggesernya ke samping.
Balok itu terhempas ke lantai semen. Pemuda itu memegangi kakinya yang memar, napasnya memburu keras. Adrian berlutut di sampingnya, memeriksa pergelangan kaki pemuda itu dengan jemarinya yang kini bernoda darah tipis akibat goresan serat kayu jati.
“Bisa berdiri?” tanya Adrian, suaranya gemetar.
Pemuda itu menatap Adrian. Di dalam keremangan malam yang pekat oleh debu, mata gelap pemuda itu memantulkan titik cahaya petromaks. Tidak ada amarah di mata itu. Hanya ada rasa terkejut yang dalam, terkejut melihat seorang pria Eropa berjas dan berpendidikan dari Delft berlutut di lumpur semen, mengotori tangannya sendiri hanya untuk menyelamatkan seorang kuli tanpa nama.
Pemuda itu menggeleng pelan, lalu mencoba tersenyum tipis di antara bibirnya yang gemetar. “Mboten napo-napo, Meneer… mboten napo-napo.”
Dua buruh lainnya segera merangkul pemuda itu dan membopongnya naik ke atas melalui tangga kayu yang tersisa.
Adrian tetap berlutut di sana untuk beberapa saat. Tangannya yang terluka terasa perih. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kotor oleh tanah, semen, dan noda darah. Di sekelilingnya, kuli-kuli lain kembali memunguti batu bata yang berserakan. Mereka kembali bekerja, seolah kecelakaan kecil itu hanyalah peristiwa sehari-hari yang tidak perlu dihentikan.
Jan Jansen turun mendekatinya, memegang bahu Adrian dengan kasar.
“Kau tidak apa-apa, De Boer?” tanya Jansen, napasnya memburu. “Kau tidak perlu melakukan itu. Mereka sudah biasa dengan kejadian seperti ini.”
Adrian menepis tangan Jansen secara halus. Ia berdiri perlahan, menatap ke arah tangga galian tempat pemuda tadi dibopong pergi.
“Mereka bukan mesin, Jansen,” kata Adrian pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara desis lampu petromaks. “Mesin tidak bisa merasakan sakit ketika bautnya patah.”
Jansen menatap Adrian dengan dahi berkerut, lalu menggelengkan kepala. “Terserah kau. Tapi lihat,” Jansen menunjuk ke arah dasar fondasi dengan lampu di tangannya. “Semennya sudah rata. Kita selesai untuk malam ini.”
Adrian memandang ke dasar lantai beton itu. Di bawah pijaran lampu, lantai semen itu berdiri tegak, kokoh, dan presisi. Tidak ada lagi deviasi lima milimeter. Esok pagi, peti-peti mesin raksasa bisa diturunkan di atasnya.
Namun, ketika Adrian berjalan menaiki tangga untuk keluar dari lubang galian, ia merasa kemenangan itu terasa tawar dan dingin. Ia berjalan sendirian menembus kegelapan menuju rumah dinasnya. Pukul tiga pagi. Jalan tanah Delanggu benar-benar sepi. Angin malam yang dingin berembus dari arah sawah, menerbangkan debu tipis di bawah pohon trembesi yang berdiri bisu di halaman rumahnya.
Di teras depan, sebuah lampu minyak kecil masih menyala, ditinggalkan oleh Pak Kerto. Adrian duduk di tangga teras, melepas sepatu boot-nya yang hancur oleh semen basah. Ia memandang langit malam yang mulai memucat di ufuk timur. Di kejauhan, cerobong bata merah pabrik gula Delanggu berdiri gagah, membelah garis langit seperti jari raksasa yang menunjuk ke kegelapan.
Ia merogoh saku jasnya, menyentuh surat Elisabeth yang kertasnya kian melengkung dan lembap.
Ia telah berhasil memenangkan waktu dua hari dari Mr. van Hoorn. Ia telah menegakkan presisi ilmu tekniknya di atas tanah asing ini. Namun saat ia menatap jemarinya yang tergores dan kotor, Adrian sadar bahwa sebagian dari dirinya yang dulu berangkat dari Pelabuhan Rotterdam telah tertinggal di dasar lubang fondasi yang pekat itu.
____________________
Erna Surya. Penulis dan Guru yang tinggal di Klaten.


0 Komentar