Matahari sore menggantung rendah di atas pepohonan kelapa yang menjulang di batas timur Delanggu. Sinar jingga kemerahan membakar cakrawala, menimpa daun-daun tebu yang mengering di tepi jalan. Panas sisa siang masih terasa menyengat di permukaan kulit, membawa uap hangat yang keluar dari dalam tanah.

Adrian de Boer melangkah menyeberangi dua jalur rel kereta api yang meliuk kaku di timur kompleks Suikerfabriek Delanggoe. Sepatunya yang terbuat dari kulit tebal berderak pelan saat menginjak batu-batu kerikil tajam yang ditabur di sepanjang bantalan kayu rel. Di dalam saku jas linen tipisnya, tersimpan sebuah amplop cokelat tebal berisi beberapa keping uang perak gulden dan botol kaca kecil berisi cairan antiseptik dari pos medis pabrik.

Di luar jalur kereta, lanskap Delanggu berubah seketika. Bangunan bata kokoh, pagar besi, cerobong tinggi, dan bau minyak pelumas mesin lenyap begitu saja. Dunia industri yang bising berganti dengan jalan tanah sempit yang becek, diapit oleh rimbunnya rumpun bambu betung dan pepohonan pisang yang pekat.

Desa Gatak menyambut Adrian dengan keheningan yang serba tertahan. Di sepanjang lorong tanah yang ditudungi pepohonan rindang, berdiri pondok-pondok berdinding gedheg, anyaman bambu kusam, dengan atap jerami atau rumbia yang menghitam oleh jelutung dapur.

Beberapa anak kecil bertelanjang dada yang sedang bermain kelereng di atas tanah mendadak berhenti. Mereka menatap sosok Adrian dengan mata membelalak lebar. Ketika Adrian melangkah mendekat, anak-anak itu berteriak kecil lalu berlari ketakutan masuk ke dalam pintu rumah mereka yang terbuka separuh. Bagi mereka, seorang pria Eropa berjas bersih adalah lambang dari petugas pajak, pengawas perkebunan, atau ancaman dari pabrik.

Adrian memperlambat langkahnya. Bau tanah basah, asap kayu bakar, dan kotoran ternak memenuhi udaranya.

Langkah Adrian akhirnya terhenti di depan sebuah pekarangan kecil yang dinaungi pohon nangka tua. Di teras tanah yang sempit di bawah atap teritisan, tampak seorang pemuda duduk bersandar pada tiang bambu. Kaki kirinya terbalut kain kusam yang bernoda bercak darah kering dan debu semen abu-abu.

“Kasiman?” panggil Adrian pelan.

Pemuda itu terkejut. Ia menoleh cepat, lalu matanya membelalak kaget saat mengenali wajah pria di hadapannya. Kasiman berusaha berdiri dengan tergesa-gesa untuk memberikan hormat, namun rasa sakit yang menyengat di lututnya membuat pemuda itu meringis keras dan hampir terjatuh kembali ke amben kayu.

“Mboten usah berdiri,” cegah Adrian cepat dalam bahasa Melayu sambil mengibaskan tangannya. “Duduk saja. Jangan dipaksakan.”

Kasiman tertegun, tangannya yang gemetar mencengkeram tepi amben bambu. “M-Meneer… de Boer?”

Dari balik pintu bambu rumah yang remang-remang, sesosok tubuh muncul membawa baskom tanah liat berisi air hangat. Siti Marni membeku di ambang pintu. Pandangan matanya bertumbukan langsung dengan mata biru Adrian. Selendang luriknya terikat rapi di dada, menutupi kebaya kelam yang ia kenakan, dan rambut hitam pekatnya tersanggul sederhana di belakang kepala.

“Meneer… de Boer?” gumam Marni kaget. Suaranya halus, hampir tenggelam oleh desir angin sore yang menggesek daun-daun nangka.

“Saya datang melihat keadaan Kasiman,” kata Adrian ragu-ragu. Ia merasa canggung berdiri di tengah pekarangan tanah yang sederhana itu dengan jas linen mahal dan sepatu mengilapnya. “Bagaimana kakinya sore ini?”

Kasiman menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap langsung ke arah mata tuan Belandanya. “Sampun… rada mendingan, Meneer. Matur nuwun.”

Marni meletakkan baskom tanah liat di atas amben bambu dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia melangkah mendekati tempat Adrian berdiri, namun tetap menjaga jarak beberapa langkah di batas teras. Ada ketegangan samar di raut wajahnya: campuran antara rasa bingung, takut, dan kewaspadaan yang dalam.

“Kenapa Meneer kemari?” tanya Marni pelan. Bahasa Melayunya terdengar terbata-bata namun jelas. “Tempat ini tidak pantas untuk orang Belanda.”

Adrian menarik napas panjang. Udara di pekarangan itu terasa hangat oleh asap dapur warga. Ia mengeluarkan amplop cokelat dan botol obat dari saku jasnya, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu lapuk yang berdiri di teras.

“Ini kompensasi untuk Kasiman,” ujar Adrian datar. “Pabrik tidak memberikannya karena Jansen menganggap kecelakaan semalam adalah kelalaian pekerja. Tapi saya yang minta kamu bertahan di sana. Jadi saya membawanya sendiri. Di dalam botol ini ada cairan antiseptik untuk membersihkan lukanya agar tidak membusuk.”

Marni menatap amplop cokelat di atas meja, lalu beralih menatap tangan kanan Adrian yang masih terbalut kain kasa tebal akibat luka bakar dan goresan kayu semalam. Ia menyadari sesuatu: tuan muda Eropa yang menjadi pimpinan proyek mesin di pabrik ini telah berjalan sendirian menyeberangi rel, tanpa pengawal, tanpa delman, dan tanpa mandor, hanya untuk membawa bantuan bagi seorang kuli kasta rendah.

“Meneer juga terluka,” sahut Marni lirih. Matanya tertuju pada balutan kasa kotor di jemari Adrian.

“Hanya luka kecil,” balas Adrian sambil tersenyum tipis, sebuah senyuman langka yang jarang terlihat di pelataran pabrik. “Dua hari lagi sudah sembuh.”

Kasiman mengangkat kepalanya sedikit, menatap Marni lalu beralih menatap Adrian dengan wajah cemas. “Matur nuwun sanget, Meneer. Tapi… kalau Meneer Van Hoorn atau Mandor Jansen tahu Meneer kemari… mereka bisa marah.”

“Mereka tidak tahu,” potong Adrian tenang. “Dan mereka tidak perlu tahu apa yang terjadi di luar gerbang pabrik.”

Keheningan kembali melingkupi pekarangan kecil itu selama beberapa saat. Dari kejauhan, bunyi peluit lokomotif uap meraung panjang dan nyaring, menandakan kereta barang pembawa tebu dari arah Solo baru saja melintas menuju Stasiun Delanggu.

Marni melangkah pelan ke belakang rumah. Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah cangkir seng kusam berisi air putih hangat. Ia menyodorkannya kepada Adrian dengan kedua tangannya yang gemetar halus, sembari menundukkan pandangannya.

“Mboten gadhah kopi atau teh, Meneer,” kata Marni pelan.

Adrian menerima cangkir seng itu tanpa ragu. Dinding sengnya terasa hangat di telapak tangannya yang dingin. Ia menyesap air putih itu perlahan. Air itu berbau asap kayu bakar yang khas, namun terasa menyegarkan di tenggorokannya yang kering. Di tempat sesederhana ini, di antara bau tanah basah dan desir daun bambu, Adrian merasakan ketenangan aneh yang tidak pernah ia temukan di dalam rumah dinasnya yang megah namun asing.

“Marni,” panggil Adrian lembut.

Gadis itu mendongak pelan, menatap wajah Adrian.

“Terima kasih untuk bunga melatinya semalam,” kata Adrian.

Pipi Marni merona merah samar di bawah kulit cokelat langsatnya. Ia tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya mengangguk pelan sambil melipat jemari tangannya di depan kain sarungnya, menahan rasa canggung yang membakar dadanya.

Saat matahari makin tenggelam dan bayangan pohon bambu makin memanjang menutupi pekarangan, Adrian tahu ia harus segera kembali. Kegelapan di pedesaan Jawa datang dengan cepat dan pekat.

Ia meletakkan cangkir seng yang telah kosong di atas meja kayu, lalu memandang Kasiman dan Marni bergantian.

“Saya harus kembali ke rumah dinas,” kata Adrian. “Istirahatlah, Kasiman. Jangan bekerja dulu di galian semen sampai kakimu benar-benar pulih. Saya akan memberi tahu Jansen bahwa kamu saya tugaskan di gudang perkakas ringan.”

“Inggih, Meneer. Matur nuwun sanget atas kebaikan Meneer,” sahut Kasiman tulus, dadanya berdesir oleh rasa lega.

Marni mengantar Adrian sampai ke batas pekarangan dekat rumpun bambu betung. Langkah mereka beriringan dalam hening. Suara gesekan kain jas Adrian dan derak langkah kakinya berpadu dengan gesekan kain sarung Marni di atas tanah.

“Meneer,” panggil Marni saat Adrian hendak melangkah keluar menuju jalan tanah utama.

Adrian menoleh, menatap mata gelap gadis itu. “Ya?”

“Jangan sering kemari,” ujar Marni pelan namun tegas. Matanya yang jernih menatap Adrian dengan kejujuran mutlak yang menembus batas hierarki kolonial mereka. “Orang-orang di desa ini takut pada pejabat pabrik. Dan orang-orang Belanda di sana… tidak suka kalau Meneer dekat dengan kami. Itu berbahaya untuk Meneer sendiri.”

Adrian menatap Marni dalam-dalam. Ia bisa merasakan kebenaran dan kepedulian yang jujur dalam peringatan gadis itu. Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah dorongan batin memberitahunya bahwa garis pemisah antara dirinya dan dunia tempat Marni tinggal kini telah kabur secara permanen.

“Saya mengerti, Marni,” jawab Adrian halus. “Sampai jumpa lagi.”

Adrian berbalik dan melangkah mantap menyusuri jalan tanah menuju rel kereta api. Di belakangnya, Marni berdiri diam di tepi rumpun bambu, memperhatikan sosok tinggi berjas linen kram itu berjalan menjauh hingga akhirnya hilang ditelan keremangan senja dan kepulan asap sore Delanggu.

_____________________

Erna Surya. Penulis dan guru di Klaten