Delanggu, Juli 1917

Peluit lokomotif terdengar sekali. Panjang. Lalu menghilang di antara derit roda yang mulai melambat.

Adrian de Boer belum beranjak dari tempat duduknya. Gerbong kelas satu itu hampir kosong. Seorang pria Eropa di sudut gerbong masih membaca koran De Locomotief. Di dekat jendela, seorang perempuan menenangkan anaknya yang mulai gelisah sejak kereta meninggalkan Solo.

Adrian mengeluarkan arloji dari saku rompinya. Pukul delapan lewat sembilan menit. Kereta datang tepat waktu. Ia menyukai ketepatan. Sejak menjadi mahasiswa teknik di Delft, ia percaya bahwa pekerjaan yang baik selalu dimulai dari waktu yang dihormati. Mesin tidak mengenal alasan. Mesin hanya mengenal ketepatan.

Arloji itu ditutup kembali.

Di sampingnya terletak sebuah koper kulit berwarna cokelat tua. Tidak besar. Isinya hanya pakaian untuk beberapa minggu, beberapa buku teknik, dan sebuah kotak kayu kecil berisi alat gambar. Tabung kulit yang berisi gulungan rancangan mesin ia letakkan di lantai, bersandar pada bangku.

Di saku bagian dalam jasnya tersimpan sepucuk surat. Ia mengeluarkannya perlahan. Tulisan tangan Elisabeth selalu rapi. Huruf-hurufnya tegak dan mudah dibaca.

Dokter berkata aku harus lebih banyak beristirahat.

Adrian berhenti membaca. Ia sudah hafal isi surat itu. Namun ada satu bagian yang selalu membuat matanya kembali ke halaman terakhir.

Jangan terlalu lama berada di Hindia. Anak kita akan membutuhkan ayahnya.

Ia menarik napas pelan. Surat itu dilipat kembali dengan hati-hati. Tidak ada bagian yang boleh kusut. Elisabeth selalu memperhatikan hal-hal kecil. Bahkan ketika membungkus bekal makan siang, sudut-sudut kertasnya selalu bertemu dengan rapi.

Kereta berhenti. Seorang kondektur membuka pintu gerbong.

“Delanggu, meneer.“

Adrian mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia turun sambil membawa koper di tangan kanan dan tabung gambar di tangan kiri. Peronnya tidak panjang. Bangunan stasiunnya sederhana. Dinding bercat putih. Atapnya rendah. Sebuah papan bertuliskan DELANGGOE berdiri di sisi rel.

Beberapa orang menunggu kereta berikutnya. Seorang pedagang menjajakan pisang rebus. Dua perempuan berkebaya membawa bakul anyaman. Beberapa buruh memindahkan peti-peti kayu dari gerbong barang. Tak seorang pun tampak tergesa.

Adrian berdiri sejenak. Udara terasa berbeda. Lebih hangat daripada Batavia. Lebih lembap daripada Semarang. Dan sama sekali tidak menyerupai musim panas di Rotterdam.

Bau batu bara masih tertinggal di udara. Di belakang stasiun, sawah membentang sejauh mata memandang. Air memenuhi petak-petak tanah. Matahari pagi memantul di permukaannya. Suara burung terdengar bersahutan. Di kejauhan, seseorang menggiring dua ekor kerbau menuju pematang.

“Meneer Adrian de Boer?”

Adrian menoleh. Seorang lelaki bertubuh tegap berjalan menghampirinya. Kumisnya dipangkas rapi. Seragam putihnya terlihat bersih meskipun ujung sepatunya telah dipenuhi debu.

“Willem van Leeuwen.”

Mereka berjabat tangan.

“Gezellige reis?” tanya Willem.

“Cukup baik.”

“Bagus. Kita tidak punya banyak waktu.”

Willem mengambil koper Adrian tanpa menunggu jawaban.

“Administratur berharap Anda sudah berada di pabrik sebelum tengah hari.”

Mereka keluar dari halaman stasiun. Sebuah delman telah menunggu di bawah pohon asam. Kusir melepas topinya ketika melihat Willem.

Perjalanan berlangsung dalam diam. Roda delman melewati jalan tanah yang masih basah oleh hujan semalam. Di kiri jalan, hamparan padi mulai menguning. Di kanan, beberapa petak tebu tumbuh rapat. Daunnya bergerak pelan ditiup angin.

Adrian memandang ke luar. Sesekali ia melihat petani bekerja tanpa alas kaki. Anak-anak berlarian di pematang. Perempuan-perempuan membawa ikatan rumput atau kayu bakar di atas kepala. Tak ada yang tampak memperhatikan delman yang lewat.

“Apakah semua lahan itu milik perusahaan?” tanya Adrian.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Warga. Sebagian disewa. Sebagian menjual tebunya ke pabrik.”

Adrian mengangguk. Ia kembali memandang ke depan. Beberapa menit kemudian, bangunan itu muncul. Cerobong bata. Tinggi. Belum seluruhnya selesai. Beberapa pekerja masih berada di bagian atas. Tali-tali pengaman menjuntai di sepanjang dindingnya.

“Itu yang pertama kali saya lihat sejak tadi,” kata Adrian.

“Semua orang juga begitu.”

“Pekerjaannya bagus.”

Willem menoleh sebentar.

“Anda menilai dari apa?”

“Susunan batanya.”

Delman terus bergerak. Tak lama kemudian bangunan utama pabrik mulai terlihat. Rangka baja berdiri di atas pondasi batu. Peti-peti mesin tersusun rapi di halaman. Puluhan pekerja berlalu-lalang membawa balok, pipa, dan perkakas.

Adrian memperhatikan semuanya tanpa berkata-kata. Inilah alasan ia datang. Inilah pekerjaan yang membuatnya meninggalkan rumah, istrinya, dan seorang anak yang belum pernah ia lihat.

Delman berhenti di depan gerbang. Adrian turun lebih dahulu. Ia belum sempat melangkah ketika merasa ada seseorang yang sedang memandanginya.

Ia menoleh ke arah jalan. Di bawah pohon asam, seorang gadis berdiri sambil membawa keranjang bambu. Tatapan mereka hanya bertemu sesaat. Gadis itu segera berjalan pergi. Adrian tidak mengenalnya. Ia pun tidak merasa perlu mengingat wajah itu.

Padahal, beberapa bulan kemudian, ia akan berharap pertemuan singkat itu tidak pernah terjadi.

____________________

Erna Surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten.